
Malam hari nya Lucy dan Andre meminta izin untuk pulang sebelum Aditya pulang. Aku mendapatkan pesan dari Aditya jika dia hari ini akan terlambat untuk pulang karena ada janji dengan client nya di luar kota.
Hari itu aku terus di hantui bayang-bayang Danu. Aku merasa bersalah kepadanya selama ini. Andai saja aku tahu sejak dulu siapa Danu aku pasti tidak akan pernah bersikap buruk kepadanya dan aku pun pasti akan menjadikan nya seorang teman seperti Andre sekarang. Aku baru mengerti dengan apa yang di inginkan Danu selama ini. Dia menginginkan aku memperlakukan nya seperti Andre, karena memang posisi mereka berdua begitu sama. Mereka orang yang sudah mencintai ku dan hanya peduli dengan kebahagiaan ku.
Ketika Aditya pulang,aku berusaha untuk menyembunyikan tentang Danu kepadanya. Namun ketika aku melihat raut wajah Aditya, dia terlihat gelisah bahkan dia terlihat tidak seperti biasanya. Aku menatap nya dengan bingung.
“Kenapa?” Tanya ku menatap nya dengan kaku.
Aditya terus menatap ku dengan dalam. Dia terus berdiri di hadapan ku tanpa sedikit pun menyapa selamat malam atau pun mencium dan memeluk ku.
“Jadi ini alasan kamu bertanya bagaimana perasaan ku ketika aku mengenal mu yang telah menyelamatkan ku di Sumba saat itu. Karena kamu juga sudah menyelamatkan Danu? Luka di kaki kamu, adalah luka yang kamu dapat ketika menyelamatkan nya?”
Aku diam dan mulai meneteskan air mata ku.
“Pantas saja Danu sampai seperti itu mengejar kamu Dheb. Dia pun memiliki kisah yang sama dengan ku. Bahkan dia sudah mencintai kamu sejak dulu” ucap Aditya membuat ku masih tak ingin menatap nya.
“Dari mana kamu tahu? Dia sendiri yang mengatakan itu?” Tanya ku.
“Aku pulang lebih awal hari ini, aku mendengar semua nya” aku menatap nya tak percaya.
“Aku perlu waktu untuk berfikir dan mencerna semua nya. Sikap Danu yang terlihat begitu mengkhawatirkan mu, dan kamu yang selalu menyembunyikan semua tentang Danu dari ku selama ini. Ternyata Danu adalah sebagian dari masa lalu kamu. Ini semua menjadi masuk akal”
Aku menghela nafas ku dan berusaha menangkan diri ku.
“Aku pun baru mengetahui semua nya dari Mira teman satu sekolah ku. Aku tidak pernah tahu bahwa laki-laki yang ku selamatkan nyawa nya ketika dulu adalah Danu. Dia tidak sedikit pun cerita tentang itu, dia hanya menjaga ku selama ini dan dia tidak bermaksud untuk merebut ku dari mu”
“Kamu memiliki perasaan kepada nya kan?” Tanya nya dengan menatap ku begitu tenang.
“Di..” begitu berat sekali aku untuk menjawab pertanyaan nya. Danu memang kerap mengganggu ku selama ini, dia memang sudah mengusik fikiran ku. Perhatian yang dia berikan begitu sama dengan Aditya dan aku memang selalu memikirkan nya kahir-akhir ini.
Aditya menyentuh pipi ku dengan lembut.
“It’s Ok Dheb. Aku mengerti dengan apa yang kamu rasakan sekarang. Andai saja aku terlambat untuk bertemu dengan mu, aku yakin Danu adalah orang ke dua yang tepat untuk bisa memiliki mu” ucap Aditya dengan penuh pengertian.
Aku menangis sejadi jadi nya mendengar ucapan Aditya. Lalu dia memeluk ku dengan begitu erat.
“Aku mencintai mu Dii” ucap ku di dalam pelukan nya.
“I Know. I can feel it” ucap Aditya.
Aku tidak menyangka jika Aditya bisa sepengertian ini dan bisa menerima semua tentang ku dan juga Danu. Aku pun tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan sekarang kepada Danu. Dia begitu misterius, dan aku tidak pernah berfikir aku akan menyesal karena mengetahui semua ini sangat begitu terlambat.
Keesokan nya di hari weekend. Aku sudah bersiap dengan baju olah raga ku untuk menjalani olah raga Ibu hamil di dalam apartemen Aditya dengan mengikuti gerakan di dalam Video yang ada di dalam layar tv yang besar itu.
“Kamu yakin akan melakukan nya?” Tanya Aditya melihat gerakan Olah Raga Ibu hamil di dalam video begitu menggelikan.
“Aku harus berolah raga Aditya, karena berdiam seperti patung setiap hari pun tidak boleh”
“Tapi apa tidak ada olah raga lain selain ini?” Tanya Aditya dengan masih menatap geli Video yang ada di dalam layar Tv nya.
“Sudahlah” ucap ku meminta Aditya untuk tidak memperdlikan nya.
Dan aku mulai mengikuti gerakan olah raga instruktur di dalam video, walaupun sedikit sulit harus banyak menggoyangkan pinggul tapi aku mencoba mengikuti nya.
“Ada telepon!” Teriak Aditya kepada ku.
“Lucy” jawab nya.
“Angkat saja”
“Aku tidak mau” jawabnya yang masih saja bersikap dingin kepada Lucy.
Lalu aku mematikan dulu tv nya dan mengambil alih handphone ku dari tangan Aditya.
Menatap nya dengan kesal dan mengangkat telepon itu.
“Dheb” panggil Lucy seperti sedang panik.
“Kenapa Lus?”
“Kamu tahu kalau Danu memiliki penyakit hepatitis B?” Tanya Lucy tiba-tiba,membuat ku mengkerutkan kening ku dan terkejut.
“Hepatitis B?” Tanya ku membuat Aditya pun ikut terkejut menatap ku.
“Aku dengan dari Papa ku kalau anak dari Pak Jem masuk rumah sakit dan dia harus menjalani operasi karena sudah di diagnosa jika anak nya terkena kanker hati” ujar Lucy membuat ku semakin tak kuasa untuk mendengar nya.
“Apaa?!”
Entah kenapa hati ku begitu sakit mendengar nya. Danu memiliki kanker hati. Penyakit yang begitu mematikan dan sulit untuk di sembuhkan. Padahal baru saja kemarin aku bertemu dengan nya di apartemen, dan meminta nya untuk menjauhi ku sekarang dia sudah masuk ruamh sakit dan di diagnosa memiliki kanker hati.
Aku mulai menangis dan menjatuhkan handphone ku begitu lemas, aku menjatuhkan diri ku di sofa dan menangis begitu sakit hati.
“Hallo Dheb..hallo”
“Bii…” panggil Aditya dengan khawatir dia memegang tubuh ku dan menyandarkan ku di sofa.
Aditya mengambil handphone ku yang terjatuh dan masih tersambung kepada Lucy.
“Hallo ada apa Lus?” Tanya Aditya menanyakan apa yang terjadi.
“Dit. Aku hanya memberi tahu tentang Danu yang sudah berada di rumah sakit karena kanker hati. Aku rasa Dhebi harus tahu ini,mengingat dia baru tahu tentang Danu kemarin”
Adiya terlihat tak kalah terkejut nya dengan ku. Aditya begitu khawatir melihat ku yang terus menangis dan tersedu sedu.
“Oke. Bisa beri tahu aku dimana Danu di rawat sekarang?”
“Di Rumah Sakit Sriwijaya dit, aku coba tanya dulu keadaan Danu kepada Papa ku dan aku akan segera menghubungi kalian nanti”
“Oke thank you” ucap Aditya sambil terus memegangi ku yang terus menangis.
“Tenang bii, kamu harus tenang. Kamu harus ingat bayi di dalam kandungan kamu” ucap Aditya terus menenangkan ku.
“Selama ini Danu tidak salah di, aku yang salah. Aku selalu bersikap buruk kepada nya, dan selalu meminta nya untuk menjauhi ku” ucap ku dengan terus menangis.
“Aku tahu bi”
“Dia hanya ingin menjaga ku,selama ini dia selalu mengawasi ku dari jauh. Yang dia inginkan hanya melihat aku bahagia walaupun tidak bersama nya. Sebelum menikah dia selalu meminta ku untuk mencoba membuka hati sebentar saja untuk nya,aku tidak tahu jika dia memiliki kanker dii” ucap ku dengan histeris dan terus menangis mengingat semua kejadian bersama Danu selama ini.
Selama ini Danu hanya menginginkan aku untuk membuka hati untuk nya walaupun aku tidak bisa membalas perasaa nnya seperti kepada Aditya. Danu hanya mencintai ku selama ini,dan dia hanya ingin merasakn aku membalas cinta nya. Tapi aku selalu mencemooh nya, karena aku sudah memiliki Aditya.