
Beberapa hari telah berlalu. Danu sudah tidak ada lagi mengganggu ku bahkan menunjukan wajah nya di hadapan ku. Aditya sudah berhasil membuat dia menjauh dan tak lagi mengusik ku. Tak ada lagi pertengkaran dan kekerasan kali ini,Aditya benar-benar menghadapi Danu dengan penuh ketenangan.
Hari ini adalah hari wisuda ku. Akhirnya aku dan teman-teman telah berhasil menyelesaikan tugas kami dengan bersama-sama. Karena kami sudah sepakat,jika masuk saja kita bersama,berjuang bersama,dan sudah saling membantu,dan ketika lulus pun kita harus juga sama-sama agar tidak ada yang merasa tertinggal di kampus atau pun merasa kesepian. Aku bahagia akhirnya apa yang kita cita-cita kan terkabul.
Hari wisuda ku hari itu di hadiri oleh Mama dan juga Aditya,Papa sedang sibuk saat itu mengurusi proyek nya di Jogja.
Mama dan Aditya tampak bahagia sekali melihat aku memakai baju wisuda dan toga di kepalaku. Mereka bertepuk tangan paling kencang ketika aku naik ke atas panggung untuk penyerahan ijazah untuk ku. Aku begitu senang sekali akhirnya tugas ku di kampus ini telah selesai,dan keinginan ku untuk lulus tepat pada waktu nya.
Aku turun dari panggung dan segera menghampiri Mama dan Aditya.
“Selamat ya sayang” ucap Mama dengan tersenyum begitu bahagia sambil memeuk ku.
“Terimakasih Ma” jawab ku dengan balas memeluk nya.
Lalu aku menatap Aditya yang begitu tampan dengn pakaian yang begitu formal nya saat itu demi menghadiri acara wisuda ku.
“I proud of you” ujar Aditya memeluk ku.
“Thank you di” ucap ku dengan menempelkan kepala ku di dada bidang nya.
Lalu kami kembali duduk dan ikut menyaksikan teman-teman ku yang lain,yang belum naik ke atas pangging untuk penyerahan ijazah.
Dan setelah acara selesai aku dan ketiga teman ku berkumpul di loby kampus untuk pemotretan. Kita begitu bahagia dan bangga menunjukan toga dan medali yang kita pakai di depan kamera.
Aku sudah berbaikan dengan Sisil. Aku memang kesal kepadanya setelah tahu yang sebenarnya,tapi aku pun tidak terlalu menyalahkan Sisil tentang itu. Karena aku tahu kepolosan nya dan kecerobohan nya,dia terlalu gampang untuk di cuci otak nya bahkan bisa di tipu daya dengan mudah oleh orang lain,dan aku mewajari itu semua karena di sisi lain aku pun merasa bersalah,karena tidak bercerita yang sesungguhnya tentang Danu. Jika Sisil pun tahu,dia pun pasti tidak akan mau membantu Danu.
Kita sudah merayakan kelulusan bersama semua mahasiswa yang juga telah sukses lulus dan wisuda bersama-sama. Kita sudah mengadakan pemotretan satu angkatan dan juga melempar toga ke langit untuk men celebrate kelulusan kita.
“Gue seneng banget deh akhirnya kita lulus bareng-bareng” ujar Caca dengan penuh kebanggaan.
“Gue juga akhirnya gue bisa lulus bareng kalian. Karena dari dulu gue udah pesimis banget kalo gue bakalan telat lulus” ujar Sisil dengan cemberut.
“Gue juga heran sih kenapa bisa lo lulus bareng kita. Padahal gue berharap banget loh ngeliat lo luntang-lantung di kampus sendirian” ledek Caca membuat Sisil cemberut.
“Lo tega banget sih Ca,ih” kesal Sisil dengan menekukan wajah nya.
Dan membuat kita semua tertawa.
“Lo langsung ke Bali Dheb?” Tanya Sienna.
“Malam ini. Gue langsung terbang ke Bali prepare acara pernikahan gue sama orang tua Aditya disana” ucap ku mengingat besok aku akan di sibukan dengan persiapan pernikahan ku dengan Aditya.
“Kalian nyusul kesana jadi nya kapan?” Tanya ku dengan menunjuk mereka.
“Kita pergi ses..” ujar Sisil yang belum sempat menyelesailkan ucapan nya langsung di senggol oleh sikut Caca.
“Kita pergi kayak nya hari H deh Dheb” sambung Sienna.
“Loh kenapa? Katanya mau bridal to shower gue dulu” ucap ku dengan planning mereka yang selalu di ceritakan kepadaku.
“Iya soalnya Caca ada urusan sama keluarga Caca di Lampung. Soalnya itu apa” ucap Sienna berusaha menjelaskan namun terlihat gelagat yang begitu mencurigakan.
“Sepupu Caca mau married katanya” sambung Sienna.
Caca langsung membekap mulut Sisil dengan raut wajah yang begitu kesal,dan dia tampak memelototi Sisil seolah memperingati.
“Sepupu gue yang satu nya lagi kan ada disana” ujar Caca membantu Sienna.
“Emang lo punya sepupu lain di Lampung?” Tanya ku menyelidik. Karena kita semua tahu persis tentang pohon keluarga Caca bahkan kita satu sama lain sudah tahu tentang kisah keluarga kami.
“Punya sepupu gue mah banyak dimana mana,gue kan baik orang nya Dheb. Jadi gue orang lain pun bisa gue anggep sodara gitu” ujar Caca dengan penuh keyakinan.
“Eh Aditya mana?” Tanya Caca mengalihkan pembicaraan.
“Dia nunggu di mobil sama nyokap soalnya rame banget disini” jawab ku menengok ke arah parkiran mobil.
“Nyokap lo disana juga?” Tanya Sienna.
“Iya”
“Ih ya udah sana,kasian nyokap sama Aditya nunggu di mobil kepanasan nanti mereka” ucap Sienna mengusir ku.
“Ya udah,peluk lagi sini peluk” ucap ku meminta pelukan yang terakhir sebelum aku keluar dari kampus ini dan sudah berstatus sebagai alumni.
“Thank ya kalian udah selalu temenin gue,dan menjadi sahabat yang sangat baik” ucap ku dengan manis menatap mereka dengan bangga.
“Aahhh Dhebi” haru Sisil dengan sedih.
“Jangan gitu dong gue kan jadi nangis. Gue jadi inget masa-masa kita disini,bahagia bareng,sedih bareng,terus makan di kantin bareng,liburan bareng,..”
“Udah udah udah kebanyakan bareng-bareng kita memang” potong Caca dengan lelah melihat dramatis nya Sisil.
“Lo lebay banget deh sih,kaya kita ga akan pernah ketemu lagi deh” sahut Sienna menanggapi dramatis Sisil.
“Ya tapi kan beda Syen, nanti kan kita bareng-bareng nya udah ga di kampus lagi. Kita udah beda jurusan juga nanti”
“Iya serah lo deh,kalo lo masih mau di kampus,balik lagi aja jadi mahasiswa sonoh,cari temen lain. Udah cape gue temenan sama elo” kesal Caca yang terlihat sudah mulai malas menanggapi Sisio yang selalu hiperbolis.
“Ih ga mau,gue pengen tetep temenan sama kalian sampe tua nanti” ujar Sisil dengan manja.
“Ih males” jawab Caca dengan mendelikan mata nya.
“Ah ya udah,gue pulang duluan yaa, pokok nya kabarin gue secepatnya kalo kalian udah mau ke Bali oke” pinta ku dengan melihat mereka semua.
Sienna menjawab dengan membuat lingkaran dari telunjuk dan jempol nya.
“Oke Dheb,aman” jawab Caca.
Dan Sisil masih saja terlihat sedih.
“Ya udah,bye kalian” pamit ku melambaikan tangan ku kepada mereka
“Bye Dhebi” sahut Sisil dengan masih saja bersedih.
Aku berjalan melewati siswa siswa yang tengah merayakan hari kelulusan mereka juga. Dengan mengabadikan moment memakai baju wisuda dan toga,dengan berpelukan berpisah bersama,dan ada juga yang tengah berfoto di studio buatan dengan background perpustakaan di belakang nya.