
Hari bahagia ku pun tiba.
Pagi ini aku sudah di dandani sedemikian rupa oleh para perias profesional. Aku hanya duduk manis di depan cermin dan membiarkan tangan-tangan lentik mereka menghiasi wajah ku.
Sepanjang malam aku tidak bisa tidur karena memikirkan hari bahagia ku ini. Aku begitu tegang,aku masih tak percaya aku akan menikah dengan Aditya. Setelah begitu banyak rintangan yang telah kami lewati,setelah sempat juga kami berpisah akhirnya kami kembali dan memutuskan untuk menikah.
Aku merasa bahwa aku telah menjadi wanita yang paling bahagia sepanjang masa. Dan beginilah rasanya menjadi ratu sejagad ternyata,semua orang memperlakukan kita bak tuan putri,dan mereka memandang kita dengan penuh ke kaguman dan penuh ke haruan. Orang tua ku melihat ku begitu takjub,Mama ku hampir saja menetes kan air mata nya ketika melihat aku mengenakan baju pengantin Bali untuk acara adat,namun perias melarang Mama untuk menangis dulu karena riasan nya bisa rusak sebelum orang lain melihat.
Pagi ini untuk acara akad aku di pakaikan baju adat Bali yang sebelum nya telah aku coba di tempat sang designer itu. Aku begitu cantik dan begitu mempesona sekali,begitu juga dengan Aditya. Dia tampak tampan bak pangeran Bali yang memiliki ke tampanan yang begitu tak tertandingi.
Acara pernikahan kami di adakan tidak dengan adat Bali sepenuh nya,karena sebenarnya Aditya pun bukanlah dari keturunan Bali. Hanya saja Kakek dan Nenek nya sudah lama berbisnis di Bali,dan ketika melahirkan Mama Aditya,Nenek Aditya pun melahirkan nya di melbourn bukan di Bali,lalu setelah menikah dan hamil Mama dan Papa Aditya di minta Nenek dan Kakek untuk tinggal di Bali,sehingga Aditya lahir disini. Dan yang menginginkan kita untuk memakai baju adat Bali adalah Mama nya. Dia bilang ini semua hanya untuk menghormati dimana Aditya di lahirkan,dan kita mengadakan prosesi acara pernikahan dengan modern.
Setelah memakai baju adat Bali dan berfoto bersama di halaman Khayangan Estate aku dan Aditya hanya menjalankan beberapa prosesi adat Bali yang sederhana saja.
Mama Aditya akhirnya memutuskan untuk mengadakan pernikahan di Khayangan Estate yang adalah sebuah residensi private yang memiliki venue pernikahan di puncak tebing dengan panorama samudra hindia. Disana begitu luas dan begitu menakjubkan untuk di nikmati. Dekorasi yang di berikan orang tua Aditya pun tidak main-main. Dekorasi begitu indah dengan nuansa putih. Kursi-kursi yang berjejer rapih menghadap ke pemandangan laut,dan juga Althar yang di buat sedemikian rupa indah nya.
Kali ini aku telah memakai ball gown dress berwarna putih dengan model seperti baju putri dongeng. Perpaduan ball gown dengan kerah bermodel off shoulder berikut detail lengan kecil di kiri & kanan. Aku semakin mirip Princess Belle menggunakan gaun ini. Rambut ku di tutup dengan tudung putih yang menerawang,riasan wajah ku yang sederhana namun terlihat cantik ini di tutup oleh kain tudung itu.
Aku keluar dari kamar rias dan telah di sambut oleh ketiga teman ku yang telah memakai baju bridesmaids berwarna biru aquamarine. Mereka juga terlihat begitu anggun memakai dress itu dengan model baju yang berbeda beda.
“Dheb” panggil Caca memandang ku dengan membuka lebar kedua mata nya. Lalu dia menyisir penampilan ku dari kaki hingga kepala.
“Lo cantik banget” puji nya terlihat begitu excited.
“Thank you” jawab ku dengan haru.
“Gue sedih banget sih Dheb liat lo akhirnya menikah” ujar Sisil dengan dramatis.
“Semua ini juga berkat kalian,kalo kalian ga menguatkan gue,gue ga mungkin ada di titik ini bersama Aditya” ucao ku menatap ketiga teman ku ini dengan haru.
“Terutama elo Syen” ucap ku menatap Sienna dan memegang kedua tangan nya.
“Thank ya buat semua nya. Gue ga akan pernah lupa dengan semua bantuan elo” ucap ku,lalu memeluk Sienna dengan erat.
“Udah yuk,lo udah di tungguin pangeran elo tuh di althar” ujar Caca.
“Kok gugup lo loading sih Dheb,tadi pagi kan kaliam udah acara adat dulu berdua,kok groggy nya baru sekarang” jawab Caca dengan mengkerutkan kening nya.
“Ga tau deh” jawab ku dengan wajah begitu gugup nya.
“Ya udah yuk,lo tenang yaa” ucap Sienna mengelus punggung ku.
Aku menghela nafas ku dengan dalam untuk menenangkan perasaan ku. Lalu Sisil memberikan buket bunga putih yang begitu cantik untuk ku bawa kehadapan Aditya. Aku berjalan dengan menyeret ball gown panjang ku.
Begitu pintu menuju venue terbuka,terlihat lah beberapa orang langsung berdiri di kanan dan kiri untuk menyambut kedatangan ku. Karpet berwarna putih pun menjulan panjang di hadapan ku menuju Althar. Aku melihat Aditya sudah berdiri di ujung sana dengan menaruh satu tangan nya di belakang. Dia begitu tampan dan begitu mempesona seperti pangeran dongeng,kulit nya yang putih rambut nya yang rapih di buat jambul,dan juga dasi kupu-kupu nya yang berwarna biru langit membuat dia begitu gagah dan mempesona sekali.
Aku berjalan dengan perlahan menghampiri Aditya. Aku terus menatap nya di ujung sana tanpa menghiraukan tamu undangan di kanan dan kiri ku. Mereka menatap ku dalam diam,suara musik yang tenang pun tidak ku dengarkan,fikiran ku dan tatapan ku hanya berfokus kepada Aditya di depan sana.
Dia menatap ku dengan begitu takjub,lalu aku melihat mata Aditya yang mulai basah hampir saja menangis. Dia melihat ku dengan begitu kagum,dia menangis dengan bahagia. Namun dia menyembunyikan air matanya, dia menyeka air mata yang hampir saja menetes di pipi nya dan kembali menatap ku.
Aku sudah berada di hadapan Aditya. Aku berdiri di depan nya dengan menatap dia penuh haru. Dia membuka kan tudung putih itu dan akhirnya dia kembali melihat bersedih.
Janji pun telah di ucapkan,aku dan Aditya sudah sah menjadi sepasang suami istri. Begitu riuh suara tamu undangan juga begitu kencang nya suara tepuk tangan di sekitar kami. Lalu Aditya mencium bibir ku dengan lembut di hadapan semua orang yang masih berteriak dengan riuh.
“I Love you Dhebi” bisik nya dengan begitu tulus.
“I Love You too Aditya” jawab ku dengan menatap nya begitu dalam.
Lalu kami berdua memberikan ucapan terimakasih kepada para tamu undangan yang terlihat begitu bahagia melihat aku dan Aditya. Setelah prosesi siang ini selesai aku dan Aditya di minta untuk melempar bunga putih itu ke belakang kami. Dan tamu-tamu muda kami sudah begitu antusias menunggu di belakang kami.
“Kita hitung sampai 3” ujar sang pembawa acara itu. Aku dan Aditya memegang bunga buket itu berdua dan membelakangi semua tamu yang sudah berdiri di samping kami.
“1…2…3”
Aku dan Aditya melempar nya begitu tinggi dan jauh. Lalu terlihat semua teman ku dan Aditya tengah berusaha mendapatkan buket bunga yang sedang terbang dan hampir terjatuh itu.
Karena lempran kami terlalu jauh,akhirnya buket bunga itu terlempar jauh ke belakang para tamu,dan sebuah tangan mendapatkan nya dengan mudah.
Andre. Dia mendapatkan buket bunga itu,dia menatap buket bunga itu dengan bingung. Andre membuat ketiga teman ku dan seluruh tamu undangan terlihat kecewa dan bersedih. Lalu Andre menatap ku dengan mengangkat halis nya dan menunjukan bunga itu kepadaku seolah dia bertanya ‘harus ku apakan bunga ini’ dan aku menjawab dia dengan menggedikan bahu ku lalu tersenyum melihat nya yang kebingungan.