Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Emosional



Pagi hari nya aku kembali membuatkan sarapan untuk Aditya. Tapi aneh nya pagi itu Aditya belum bangun tidak seperti biasanya. Dia masih tertidur di sofa ku dengan mengerubuni dirinya dengan selimut. Sofa ku tampak kecil untuk ukuran tubuh nya yang tinggi besar.


“Aditya bangun, ayo sarapan dulu”


Aditya tak bergeming,dia masih bersembunyi dalam selimut nya.


“Aditya” panggil ku. Namun dia tetap tak mendengar ku.


“Dii?” Aku mencoba menggoyangkan tubuh nya dengan hati-hati.


Dia masih tidak bergerak. Fikiran ku sudah kemana-mana aku takut sesuatu terjadi kepadanya. Aku menyingkapkan selimut dari kepalanya. Dan terlihat lah wajah Aditya dengan keringat yang bercucuran hebat dan giginya yang menggigil.


“Aditya!!” Kaget ku melihat dia yang sakitnya seperti menjadi lebih parah.


“Dii badan kamu kok panas lagi?” Aku begitu panik melihat dia yang kembali pucat dan gigi gemertak menggigil kedinginan.


Aditya mengerjapkan matanya dan melirik ku tanpa berbicara.


“Di kamu pindah ke kamar ya”


Dia tak mau mendengarkan ku dan terus kembali menarik selimut yang tengah ku pegang,dia kembali mengerubuni dirinya dengan selimut tak memperdulikan ku.


“Aditya pindah ke kamar!” kesal ku setengah berteriak.


Dia sama sekali tak menggubrisku.


Aku menarik nafas begitu dalam. Dan berusaha untuk mencari cara agar dia mau pindah ke kamar ku.


“Aditya kalo kamu ga mau pindah ke kamar,aku telepon supir kamu untuk jemput kesini!” Ancam ku dengan berteriak.


Dia langsung membuka selimut nya dan menatap ku kesal.


“Pindah sekarang!” Pinta ku dengan tegas dan emosi.


Dia bangun dengan perlahan dan menutup matanya menahan pusing yang terlihat begitu mengganggu nya. Dia memegang kepalanya sejenak lalu bangun dari sofanya dan berjalan secara hati-hati menuju kamar.


Terlihat begitu sakit sekali pusing yang di derita Aditya. Dia terus memegang kepalanya dengan kesakitan sambil berjalan. Dia terlihat sempoyongan tak bisa menyeimbangkan diri. Aku segera membopong Aditya melingkarkan tangan nya di leher ku dan membantu dia berjalan masuk ke kamar. Terasa sekali begitu panas tubuh Aditya sampai keringat begitu banyak keluar di tubuh nya.


Dia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur ku,karena sepertinya dia sudah tidak tahan lagi untuk berdiri. Aku mencoba menggeserkan tubuh nya untuk tertidur dengan posisi yang benar.


Aku menutup badan nya dengan selimut ku.


“Di kamu panas banget, aku panggilin dokter aja ya,aku takut sakit kamu malah makin parah” ucap ku dan hendak pergi dari kamar.


Aditya menahan tangan ku. Dia menggenggam begitu erat tangan ku.


“Aku ga perlu dokter Dheb,aku cuma butuh kamu” lirih nya.


Aku tersentak mendengar ucapan nya.


Kejadian ini pun sama seperti dulu ketika aku menemani nya pertama kali di Apartemen ketika dia terserang gangguan kecemasan nya,dan dia hanya meminta ku untuk diam menemani nya sama persis seperti sekarang.


Aku duduk di samping tempat tidur ku dan membiarkan dia terus memegang tangan ku.


Jika memang dengan berpegangan seperti ini membuat nya tenang aku akan membiarkan nya.


Gumaman kata-kata itu pun pernah aku ucapkan ketika aku dan Aditya berada di wahana Parasailing Adventure Sumba.


Aku melihat akhirnya Aditya sudah tertidur dengan pulas. Dan dengan perlahan aku melepaskan genggaman tangan nya untuk pergi ke luar kamar. Aku begitu hati-hati melepaskan jari-jari Aditya dari tangan ku. Namun bukan nya di lepaskan dia malah menarik ku kedalam pelukan nya.


“Aditya!!” Teriak ku memperingati nya.


“Sebentar saja Dheb sebantar saja” ucap nya dengan lirih,membuat ku diam membiarkan dia memeluk ku di dalam tidur nya.


Aditya menganggap ku seperti obat penenang untuk nya. Dia telah menganggap ku seperti dokter yang bisa langsung menyembuhkan nya. Dia bilang, tidak ada orang lain yang bisa mendapatkan hati nya selain aku. Lalu kenapa dia berani menyakitiku jika memang benar di mencintaiku?


Dan aku ingat ucapan Glenn yang mengatakan bahwa Aditya tidak pernah mau memiliki seorang kekasih sungguhan selama dia masih menjadi seorang artis. Apa ini alasan nya? Apa dia takut orang yang dia cintai pergi seperti ku? Tapi tetap saja apapun alasan nya, apa yang di lakukan Aditya itu tidak benar.


Sore hari nya aku kembali mengecek Aditya ke kamar dan memegang kening Aditya mengecek suhu tubuh nya. Lalu aku bernafas lega ketika merasakan suhu tubuh Aditya sudah menurun.


“Syukurlah suhu tubuh kamu udah turun”


Aku keluar dari kamar ku dan duduk merebahkan diri di sofa. Tidak lama terdengar suara ketukan pintu di luar Apartemen ku.


Aku mengerutkan kening ku bertanya siapa yang sudah berkunjung pagi-pagi begini. Dan yang pasti dia adalah teman satu Apartemen ku,karena akses masuk kedalam Apartemen adalah harus memiliki kunci lift masuk.


Aku mengintip nya dari lubang pengintip pintu.


“Astaga itu Amel” bisik ku dengan cemas.


Aku langsung menutup kamar ku dengan rapat agar dia tidak melihat ada Aditya di dalam kamar ku.


Lalu membuka pintu ku dengan berusaha untuk tenang.


“Hay Dheb” sapa dia dengan semangat nya.


“Hay mel” lalu dia memeluk ku dengan erat.


“Kenapa sih,tumben banget lo kesini?” Panik ku dengan berusaha menghalangi dia agar tidak masuk ke dalam Apartemen ku.


“Lo kemana aja sih kok ga masuk kerja akhir-akhir ini?” Tanya Amel dengan langsung menyerobot masuk kedalam tanpa permisi.


Aku tidak bisa menahan dia karena takut akan membuat dia curiga.


“Iya gue lagi ada urusan dulu mel, Pak Didit juga udah izinin kok”


“Iya gue tau, tapi ada yang cariin lo mulu ke kantor” ucap Amel sambil duduk dengan manis di sofa ku.


“Siapa?”


“Samuel Andreas Dheb ya ampun dia nyariin lo mulu kesanaaa” ujar Amel membuat ku terkejut karena dia begitu keras menyebutkan nama Andre sehingga aku yakin suaranya pasti akan terdengar ke kamar.


“Hah? Nyariin gue? Terus lo bilang apa?” Tanya ku dengan gagap.


“Ya gue bilang aja lo ambil cuti libur”


“Oh iya oke oke oke gak apa-apa biar gue aja yang kabarin dia nanti”


“Dia bilang sih nanti dia mau dateng juga kesini?”


“Hah? Dateng kesini?” Teriak ku begitu terkejut.


“Iyaa dia bilang gitu,wow dia udah sering ke Apartemen elo nih” ledek nya dengan wajah yang gatal.


“Apaan sih ngeres banget deh otak lo”


Omel ku dengan melemparnya dengan bantal bulu ku.


“Hahaha. Eh iya gue mau pinjem baju lo dong” ucap Amel beranjak dari duduk nya dan hampir saja mendekati pintu kamar ku.


Aku langsung menghalangi nya dengan berjaga di depan pintu.


“Bentar bentar bentar” aku menahan langkah nya membut Amel kaget.


“Baju yang mana ?”


“Baju yang warna abu itu loh yang waktu itu gue bilang pengen pinjem baju itu”


“Oh iya iya iya” ucap ku gelagapan.


“Baju nya gue laundry mel,ntar gue ambil dulu ke laundry ya terus gue anterin ke kamar lo”


“Oh gitu, ya udah deh gue tunggu ya”


Ucap nya sambil tersenyum.


“Salam sama Andre ya kalo kesini” ledek nya sambil tersenyum penuh arti.


“Apaan sih lo,kotor banget deh fikiran lo” aku terus mendorong dia ke luar apartment ku dan mengunci nya.


Aku bernafas lega memegang handle pintu itu,akhirnya Amel pergi dari sana tanpa dia tahu ada Aditya di kamarku.


Apa Aditya mendengar percakapan ku dengan Amel? Apa dia akan marah ?


Aku jadi merasa panik dan cemas ketika aku hendak masuk ke dalam kamar ku sendiri,aku takut dia akan marah saat tau Andre sering datang kesini.


Aku menghampiri pintu kamar ku dan membuka pintu secara perlahan,berharap Aditya masih tertidur pulas. Namun dugaan ku salah. Aditya sudah duduk di samping tempat tidur ku. Dia menatap ku tajam ketika melihat ku membuka kan pintu.


“Udah bangun?” Tanya ku kikuk.


Dia tak menjawab dan hanya terus menatap ku begitu menyeramkan.


“Mau aku buatin makan dulu?”


“Andre pernah datang kesini?” Tanya nya.


Ternyata benar,Aditya mendengar semua percakapan ku dan Amel tadi. Aku merasa takut dengan tatapan nya yang sudah seperti ini. Tatapan ini sangat aku kenali. Tatapan ini adalah tatapan yang amat ku benci.