
Aku dan Aditya dengan begitu semangat nya pergi ke Bandara untuk pergi ke Sumba. Akhirnya kita bisa kembali ke Sumba setelah beberapa tahun lama nya,perjalanan itu yang hanya menempuh jarak 1 jam saja memakai pesawat. Pantas saja Aditya sering mengunjungi tebing favorite nya disana,karena dari rumah orang tua nya dia tidak perlu menempuh jarak begitu lama untuk pergi ke Sumba. Aku baru menyadari nya ketika aku tahu bahwa Aditya adalah orang Bali.
Papa Aditya menghadiahkan kami penginapan hotel yang begitu besar dan mewah di Sumba. Nama Hotel nya adalah Nihi Sumba. Hotel ini di gadang-gadang sebagai hotel terbaik se-Dunia oleh majalah Travel + Leisure di tahun 2017. Karena letak dari hotel ini yang berada di pesisir Nusa Tenggara Timur ini membuat siapapun yang menginap disana akan merasa seperti di pulau pribadi,karena letak nya yang tampak seperti ujung pulau membuat kita begitu di manjakan dengan keheningan alam dan indah nya pemandangan laut. Kanan kiri dan depan kamu bisa melihat pantai yang indah,dan juga semua fasilitas yang begitu private hanya bisa di nikmati oleh pengunjung hotel itu.
Kamar kami pun begitu mewah. Memang tidak ada Tv namun itu bukan lah masalah untuk kami yang menginap disini. Karena memang tidak ada sinya sampai ke hotel ini. Namun kita bisa sepuasnya untuk menonton semua keindahan alam dan panorama yang estetik di sekitar hotel ini.
Aku dan Aditya langsung menyimpan barang-barang kami di kamar lalu segera mengganti pakaian kami. Kami berdua akan menikmati mangata malam ini dengan berjalan-jalan di pesisir pantai yang begitu sepi dari pengunjung lain.
Angin kencang menyapu wajah kami,membuat rambut kami terapung-apung dan tubuh kami mulai terasa dingin.
“Akhirnya Sumba” ucap ku sambil terus berjalan di pinggir pantai merasakan air laut mengenai kaki telanjang ku.
Aditya terdengar tertawa kecil.
“Kenapa?” Tanya ku menatap nya heran.
“Papa benar, kita memang aneh. Padahal dia sudah menghadiahi kita untuk berlibur ke Jepang,tapi kita malah memilih Sumba. Yang sebenarnya kita bisa kapn saja pergi kesini” ucap Aditya merasa bahwa hal itu lucu.
“Kenapa kamu mau?” Tanya ku dengan mengangkat halis ku. Lalu dia menghentikan langkah nya dan menatap ku serius.
“Karena aku tahu,kamu pasti rindu ke tempat ini lagi. Tempat yang kamu bilang adalah tempat terindah sepanjang hidup mu,dan kamu menganggap Sumba adalah Surga nya Dunia,dan aku mau mengajak kamu ke tempat yang akan membuat kamu lebih bahagia” ujar Aditya.
Aku kembali menatap Mangata di hadapan ku. Cahaya bulan itu begitu besar dan terlihat begitu indah di banding kan aku melihat di pantai lain nya.
“Orang lain mungkin akan menganggap ini biasa saja,atau mereka akan menilai suasan ini akan sama saja seperti di pantai lain nya. Tapi mereka tidak akan pernah tahu,di Sumba mereka akan melihat bulan tampak begitu dekat dan terlihat lebih indah,apalagi bayangan nya yang terbesit di atas air laut persis seperti jalanan yang seolah meminta untuk membawa kita ke bulan sana” ujar ku dengan mengagumi keindahan nya.
Aditya ikut menatap Mangata di hadapan nya.
“Aku kira hanya aku yang menganggap Bulan lebih dekat disini di banding tempat lain nya” ucap nya sambio tersenyum.
“Kamu beranggapan seperti itu?” Tanya ku dengan heran.
“Kamu fikir kenapa aku bisa setiap pagi buta berada di tebing sana kalau bukan untuk menikmati detik-detik bulan tenggelam dengan estetik nya” jawab Aditya mengingat kan aku kejadian di tebing Sumba dulu ketika aku mengikuti nya di pagi buta sekali.
“Masuk akal” ucap ku sambil menganggukan kepala.
Lalu aku memeluk nya dan bersandar di bahu nya. Tiba-tiba sesuatu terbesit di fikiran ku.
“Di. Kamu siap untuk menjadi Ayah?” Tanya ku dengan terus bersandar di bahu nya.
Aditya terlihat terkejut dan dia langsung menatap ku bingung.
Aku langsung menertawakan wajah panik nya.
“Belum di. Aku kan cuma nanya” jawab ku dengan terus tertawa.
Aditya menghela nafas nya dan menatap ku kesal.
“Kenapa? Kamu takut kalau memang iya aku hamil? Apa kamu belum siap?” Tanya ku menyelidik wajah nya.
“Aku hanya belum tahu bagaimana mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ayah yang baik. Aku belum pernah memikirkan hal itu sebelum nya,bahkan menikah pun aku tidak menyangka akan di umur ku yang ke 28. Kamu tahu Daniel Craig?” Tanya Aditya membuat ku berfikir.
“Mmhh. Pemeran James Bond?” Tebak ku.
“Ya. Dia menikah di umur 43. Padahal banyak sekali wanita cantik dan kaya mendekati nya,tapi dia memilih untuk tidak menikah pada awal nya. Karena dia menilai pernikahan hanyalah sebatas status saja, dan dia mengira dia tidak membutuhkan seorang istri untuk mengurus nya. Dia banyak bergunta ganti pacar selama itu,dia di kenal sebagai playboy kelas kakap,dan akhirnya di umur 43 dia baru menemukan wanita yang dia cintai dan dia merasa benar-benar ingin menikahi wanita itu. Dan aku sekarang berfikir,bahwa umur bukan lah patokan mereka untuk segera menikah dan memaksakan diri menikahi wanita yang tengah di cintai nya. Tetapi mereka harus menemukan dulu wanita yang benar-benar akan membuat naluri mereka tergerak dan hati mereka berkata ‘aku ingin dia menjadi istri ku’ barulah mereka akan menganggap wanita itu adalah orang tepat untuk di nikahi”
Ucap Aditya.
“Dan naluri kamu berkata aku adalah orang yang tepat?” Tanya ku dengan haru menatap nya.
“Kamu bukan hanya orang yang tepat Dhebi. Tapi kamu adalah satu-satu nya orang di dunia ini yang harus aku nikahi” lalu Aditya tersenyum dan memeluk ku.
“Jadi,tentang baby gimana ?” Tanya ku kembali ke topik kita sebelum nya.
Aditya terlihat menarik nafas nya yang begitu dalam dan terlihat bingung.
“Kalau aku minta kehamilan kamu di tunda bagaimana?” Tanya nya dengan hati-hati.
Aku tersenyum manis kepadanya.
“Aku tidak keberatan di. Yang keberatan pasti orang tua kita” ucap ku meledek orang tua kita yang meminta ketika pulang honeymoon nanti mereka ingin di hadiahi kabar gembira ini.
“Kita tidak perlu bilang jika kita menunda memiliki anak. Bilang saja aku terlalu lemah” ucap Aditya membuat ku membulat kan mata dan menyeringai menertawakan ucapan nya.
“Andai mereka tahu bagaimana kuat nya kamu” jawab ku dengan membahas hubungan kita ketika bercumbu.
Lalu Aditya mencium bibir ku dengan lembut dan menatap ku begitu dalam.
“I Love You Dhebi” bisik nya begitu dekat berbicara di depan wajah ku.
“I Love You too Aditya” lalu aku memeluk nya begitu hangat dan begitu erat.