
Pagi aku menyiapkan sarapan dulu untuk mengisi perut kami,karena sorenya kita harus sudah ada di Bandara, aku takut siang kita berdua tidak sempat untuk mencari makanan.
Aku membuat adonan pancake dan memanas kan teflon anti lengket di atas kompor tanam nya. Handphone ku berdering. Aku melihat nama di layar ponsel ku.
Mama. Aku langsung mematikan kompor dan mengangkat dulu telepon dari Mama.
“Hay Ma”
“Hay sayang. Kamu apa kabar?”
“Aku baik Ma. Mama sama Papa apa kabar?”
“Kita juga baik disini nak. Kamu masih di Apartement Aditya?” Tanya mama.
Semenjak ada gosip itu,aku jadi harus menjelaskan semua nya kepada Mama agar Mama dan Papa mengerti,dan mereka percaya kepadaku dan tidak peduli dengan apa yang di bicarakan orang lain tentang anak nya. Dan yang penting aku harus meyakinkan mereka jika Aditya adalah pria baik dan tidak seperti apa yang di bicarakan media.
“Masih Ma, nanti siang aku pergi ke Bali”
“Hari ini?”
“Iya”
“Apa orang tua nya tau tentang kamu?”
Aku tau Mama memiliki ke khawatiran yang sama dengan aku.
“Aditya bilang sudah” jawab ku dengan lemas.
“Orang tua nya sendiri yang minta aku untuk ketemu” ucap ku dengan tidak percaya diri.
Mama terdengar menghela nafas.
“Kalau ada apa-apa hubungi Mama ya”
“Iya Ma”
lalu aku diam,masih saja memikirkan bagaimana nanti nya setelah aku bertemu orang tua Aditya.
“Kenapa nak?” Tanya mama seolah tahu aku sedang memikirkan sesuatu.
“Ngga Ma, aku cuma nervous ketemu orang tua Aditya”
*“Nak. Mama yakin orang tua Aditya akan menerima kamu, karena Mama tau anak Mama ini adalah orang yang baaiik sekali. Dan kalau orang tua Aditya juga adalah keluarga baik-baik*,dia pasti menerima kamu apa adanya sayang”
Ikatan batin antara aku dan Mama memang begitu kuat. Dia bahkan bisa memberikan ku rasa percaya diri,tanpa dia ketahui itu semua sangat berarti untuk ku.
Aku masih belum mengatakan yang sesungguhnya kepada Mama siapa Aditya sebenarnya. Aku takut jika Mama tau keluarga Aditya adalah Crazy Rich yang di katakan teman-teman ku,aku takut Mama akan ikut down dan rendah diri.
“Iya Ma. Papa mana?”
“Papa masih di kantor”
“Ya udah aku lagi bikin sarapan. Salam untuk Papa ya ma”
“Iya nak. Kamu hati-hati ya baik-baik disana, salam untuk Aditya”
“Iya Ma”
Dan Mama menutup telepon nya. Aku kembali dengan pancake ku.
Aditya keluar dari kamar nya setelah dia mandi. Dia masih menggunakan baju polos nya dan memakai boxer . Dia mengusap usap rambut basah nya dengan handuk berwarna putih. Dia terlihat mengkerutkan kening nya sambil memainkan handphone.
“Kenapa?” Tanya ku sambil menumpahkan satu canting adonan pancake ke atas teflon yang sudah panas.
“Manager ku”
“Ada apa?”
Lalu dia duduk di meja pantry dengan masih saja menekukan wajah nya menatap handphone.
“Dia membatalkan semua kontrak yang sudah aku tanda tangani”
Aku terkejut mendengar nya.
“Kontrak apa?”
“Kontrak film”
Aku segera membereskan memasak ku. Menyimpan pancake di piring Aditya dan membuka lemari es.
“Kenapa bisa?” Sambil menenteng madu dan mentega.
“Lucy”
Aku terpatung ketika mendengar nama Lucy di sebutkan nya.
“Apa yang dia lakukan?”
“Lucy mengumumkan pembatalan pernikahan bodohnya di depan media. lalu dia menghubungi managerku dan bilang tidak akan terima produksi film lagi jika pemain nya adalah aku”
Lucy benar-benar kejam.
“Lalu bagaimana?”
“Ya aku ga akan lagi mendapatkan tawaran film, dan aku ga tau sampai kapan itu”
Dia terlihat tidak masalah menerima kabar buruk itu,dia terlihat biasa saja. Sedangkan aku begitu gelisah mendengar nya, Aditya kehilangan semua Job nya karena aku, dan kini aku merasa bersalah karena nya.
Aku dengan cemberut mengoleskan mentega dengan pisau kecil ke atas pancake yang berlapis 3 di atas piring Aditya.
“Ga perlu di fikirkan”
Ucap nya sambil meletakan handphone nya.
“Ga perlu di fikirkan gimana ? kamu kehilangan pekerjaan kamu Di”
“Lalu?” ucap nya menarik piring berisi pancake yang baru saja ku olesi mentega.
“Ya kamu ga dapat kerja”
“Aku udah ga peduli lagi”
“Tapi aku peduli, kamu kehilangan semua pekerjaan kamu karena aku” kesal ku terus menyalahkan diriku.
Dia memotong pancake itu dengan pisau kecil dan garpu nya lalu memakan nya sedikit demi sedikit tidak memperdulikan kekesalan ku.
“Aku rela kehilangan semua nya asal kamu ada disini setiap pagi membuatkan aku pancake yang enak seperti ini” ujar nya dengan memakan potongan pancake lagi kedalam mulut nya.
Dia tidak pernah menanggapi semua ini dengan serius, mungkin bagi Aditya semua masalah yang di hadapinya terasa mudah di atasi. Namun bagi ku tidak. Aku tahu dia anak dari orang kaya,aku tahu dia akan dengan mudah mendapatkan uang dengan latar belajang yang dia miliki. Tapi ini lain,entah kenapa aku merasa telah merusak cita-cita nya.
Siang itu,kami bersiap pergi ke Bandara untuk mengejar pesawat yang sebenarnya masih lama untuk terbang,tapi Aditya memang orang nya selalu on-time,dia tidak bisa terlambat atau ketinggalan pesawat,beda dengan aku yang selalu santai dan ceroboh.
Ketika kami sampai di parkiran Bandara,Aditya langsung tururn dari mobil dan membuka bagasi menurunkn koper dan tas kami,sementara aku terlebih dahulu memakai hoodie besar yang sudah ku siapkan,menutup kepalaku dengan kupluk,memakai kacamata hitam,dan memakai masker. Aku berusaha menutupi diriku dari dunia luar.
Aku turun dari mobil dan membantu Aditya membawa koper dari bagasi mobil. Aditya terkejut melihat aku yang begitu tertutup.
“Apa?” Tanya ku kepada Aditya yang hanya menatapku dengan aneh.
“Apa yang kamu lakukan ?”
Aku berusaha mengerti apa yang di pertanyakan nya. Dan aku melihat betapa aneh nya Aditya menatap penampilanku.
“Bersembunyi?”
“Untuk apa?”
“Ya sembunyi dari orang-orang,gosip aku masih panas dii”
“Gosip apa? Kamu merasa diri kamu salah? Kamu merasa diri kamu perusak hubungan orang?”
Aku diam menatap dia dengan kesal.
Dia membuka kupluk hoodie ku,melepas kacamata ku dan melepas masker dari wajahku.
“Aku udah lelah sembunyi” ucap nya sambil menyimpan kacamata dan masker ku di dalam bagasi.
Aku hanya diam menatap dia dengan resah.
“Aku udah gamau lari lagi,aku udah ga mau sembunyi lagi. Biarkan orang lain lihat kita bersama kaya gini,agar mereka semua tau kalau aku dan kamu memang memiliki hubungan. Aku ingin mereka tahu kalau cuma kamu yang aku punya sekarang”
“Dii..”
“Jangan bantah!” Ucap nya sambil menaruh telunjuk di depan bibirku.
“Aku mau kita go publish,aku ga mau berjuang sendirian,aku mau kamu juga ikut bantu aku untuk memperbaiki nama baik kita. Aku ga mau kamu di pandang buruk sama semua orang,aku ingin memberi pelajaran Lucy untuk ini. Kita harus bisa menghadang semua cacian mereka”
Ucap Aditya begitu bersungguh-sungguh.
“Aku sayang kamu Dhebi,aku mau hanya kamu yang di lihat orang sebagai kekasihku sekarang,aku ga mau lagi di cap playboy karena ganti-ganti perempuan,aku mau kamu selamanya”
Aku tak bisa berkata-kata,aku selalu tersihir jika Aditya sudah mencurahkan isi hatinya dengan begitu tulus.
“Apa selamanya itu lama?” Tanya ku dengan jahil.
Aditya tersenyum dia mencium bibir ku lalu memeluk ku.
Aku mencintai nya.