
Keesokan nya aku kembali ke kampus untuk menyelesaikan tugas ku.
“Dheb” Sisil tiba-tiba saja datang dan meloncat kehadapan ku.
“Apaan sih lo,ngagetin aja deh” kesal ku dengan kembali berjalan.
“Hehe. Hari ini ada kelas ampe jam berapa?” Tanya Sisil dengan tersenyum begitu mencurigakan.
“Kenapa? Mau ngajak gue hangout?” Ledek ku menebak fikiran nya.
Lalu dia kembali menunjukan sederet gigi nya.
“Nyengir aja lu kayak kuda” cibir ku menatap dia yang begitu aneh.
“Iya ayo dong mau yaa,Caca sama Sienna sekarang udah selesai kan kelas nya kalo lo udah ga ada kelas kita hangout yaa” pinta Sisil dengan terus menggoyang goyang kan tubuh ku.
“Iyaa iyaa gue harus bilang dulu sama Aditya,nanti dia ngomel lagi sama gue” lalu aku melihat raut wajah Sisil menjadi panik.
“Tapi jangan ajak Aditya Dheb,gue pengen hangout dengan tenang kali. Kan kalo ada dia nanti kita malah banyak yang ngeliatin” pinta Sisil dengan cemberut.
Aku mempertimbangkan dulu keinginan nya, dan mencari cara bagaimana meminta izin kepada Aditya agar aku pergi bersama teman-temanku.
“Gue coba telepon Aditya dulu” ucap ku mengeluarkan ponsel di dalam tas gendong ku.
Sisil terlihat begitu bahagia seperti anak kecil.
Aku mencari kontak Aditya dan langsung menekan perintah dial untuk menghubungi nya.
“Hallo” sapa ku ketika Aditya langsung mengangkat telepon nya.
“Hallo m” sahut nya. Suara bising Aditya terdengar seperti sedang dalam perjalanan.
“Kamu dimana?” Tanya ku.
“Aku ada urusan mendadak di Tangerang tapi tidak lama,aku mau ajak kamu kesana” ujar Aditya.
“Hah? ajak aku? Untuk apa?”
“Biar kamu tidak sendirian di apartment” jawab nya.
“Oh ngga Di. Aku mau ikut Sisil saja kalau gitu,aku mau ikut semua teman ku ke Mall hari ini” pinta ku sangat kebetulan.
“Ke Mall mana?” Tanya nya.
“Ke Mall..” ucapan ku menggantung menatap Sisil untuk menanyakan Mall mana dia akan membawa ku.
“Plaza Indonesia” bisik Sisil.
“Plaza Indonesia” ulang ku mengatakan nya kepada Aditya.
“Baiklah aku akan menjemput mu disana”
“Oke”
“Kabari aku jika ada apa-apa”
“Oke. Kamu hati-hati ya”
“Iya”
Lalu dia menutup telepon nya.
“Boleh?” Tanya Sisil dengan membuka lebar mata nya kepadaku dan dengan ekspresi yang siap untuk bersorak.
“Iyaa”
“Yess” teriak nya begitu bahagia.
Karena mungkin selama ini sulit untuk aku berpergian berempat bersama teman-teman ku seperti dulu. Sebab aku terlalu sibuk dengan tugas ku dan sekalipun aku bisa Aditya pasti selalu membuntuti ku.
“Ya udah yu tunggu di kantin” ajak Sisil dengan langsung menggandeng ku.
Sore hari kita sudah berjalan-jalan di Mall untuk menemani ketiga teman ku belanja dan bersenang senang.
“Ih heboh banget deh kalian,beli baju ko mahal mahal gini” ucap ku dengan kesal melihat mereka yang begitu senang menghambur hambur kan uang nya.
“Ya tapi kan kalian udah di pesenin baju khusus biar samaan”
“Iya itu kan cuma buat resepsi Dheb. Belum buat acara bridal to shower disana,terus acara malem hari nya. Terus acara pertemuan para artis nya. Kita kan perlu banyak baju bagus buat itu Dhebiiii” ucap Sisil dengan mengitung berapa pakaian yang harus mereka bawa.
“Emang acara nya selama itu ya?” Tanya ku dengan heran. Karena aku saja tidak tahu bagaimana rencana pernikahaan ku nanti.
“Ya iya lah. Keluarga Aditya itu bukan keluarga yang sembarangan Dheb,jadi kita harus bisa menyesuaikan antara pernikahan pembisnis rental mobil” sindir Caca menunjuk Sisil.
“Dan pernikahan pembisnis kaya” menunjuk ku.
“Tentu kita harus bisa membedakan Dheb” lanjut Caca dengan berkacak pinggang.
“Iya iya iya terserah lo” ucap ku.
“Eh liat disana ada diskonan!!” seru Sisil menunjuk sebuah toko baju yang memajang sebuah papan besar bertuliskan ‘Sale up to 50%’ di depan toko nya.
Tampak banyak sekali pengunjung yang ada di toko itu dan aku begitu enggan untuk ikut beramai ramai disana.
“Ih itu barang branded Syen” seru Caca ikut terkejut.
“Ayo kesana” ajak Caca dengan menarik tangan ku.
“Eh ngga,ngga. Gue disini aja” ucap ku menahan diri ku.
“Ya udah tunggu kesini jangan kemana mana” pinta Sisil dengan menunjuk ku.
“Gue mau kemana emang?” Ledek ku.
Lalu mereka bertiga segera berlari ke toko itu dengan menenteng semua belanjaan mereka kesana.
Mereka meninggalkan ku sendiri di dalam toko baju yang super megah ini. Dan aku bingung apa yang akan aku lakukan disini, dan aku mencoba melihat-lihat baju di toko itu,walaupun aku tidak yakin akan membeli nya atau tidak.
Aku mengambil salah satu dress berwarna hijau tosca dan berukuran pendek selutut ku,lalu aku membawa nya ke depan cermin yang berada di samping change room. Aku menempelkan dress itu ke bagian depan tubuh ku untuk menilai apakah ini cocok untuk ku atau tidak.
“Baju itu cocok untuk mu”
Dengan tiba-tiba seorang pria bertubuh tinggi dengan jaket hitam nya berdiri tegap di belakang ku,dengan rambut nya yang di kuncir dia masih saja terlihat mempesona dan tampan walaupun memakai pakaian yang begitu santai.
Danu. Aku langsung berbalik menatap nya dengan terkejut. Dia balas menatap ku dengan senyuman nya yang manis namun memuakan. Aku hendak pergi dari sana dengan cepat namun Danu menarik ku masuk ke dalam ruang ganti pakaian yang berada di samping kami,lalu dia mengunci nya dan menyandarkan ku di dinding dengan kasar.
Sekarang dia mengurung kami berdua di ruangan sempit dengan cermin di samping kami.
Dia menatap ku begitu dekat dengan tatapan nya yang begitu dingin. Tangan nya menghalangi jalan keluar ku.
“Hay Dhebi” sapa nya.
“Sedang apa kamu disini?” Tanya ku dengan berusaha tenang.
“Aku sedang berjalan-jalan dengan teman ku dan aku melihat mu sendiri disini” jawab nya dengan terus menatap mata ku tajam.
Alasan nya benar-benar tidak masuk akal.
“Lalu kamu mau apa? Jika masih ada yang mau di bicarakan,katakanlah,aku sedang tidak ada waktu” ketus ku.
Lalu Danu tersenyum dengan bibir tipis nya yang begitu manis.
“Teman-teman mu pasti membutuhkan waktu yang lama untuk berbelanja di toko sana Dheb,dan aku yakin kamu pun pasti akan bosan menunggu mereka”
“Danu tolong. Biarkan aku pergi!” Pinta ku dengan terus menatap nya dengan kesal.
Lalu Danu menyentuh pipi ku dengan perlahan dan dia membelai belakang telinga ku dengan terus menatap ku dengan begitu sayu. Aku menahan rasa geli yang terasa di belakang telinga ku,dan bulu kuduk ku tiba-tiba merinding dengan sentuhan tangan Danu.
“Kamu begitu unik Dheb. Kamu terlalu cantik. Sulit untuk aku menahan rasa ingin memeluk mu setiap kali aku melihat kamu ada di sekitar ku” ujar Danu dengan menatap ku begitu lirih.
Dia menarik wajah ku dengan perlahan dan mendekatkan wajah nya begitu dekat dengan ku. Aku merasa terhipnotis dan terus diam mendengarkan lirihan nya juga merasakan sentuhan belaian tangan Danu.
Bibir nya begitu saja menyentuh bibir ku,dan terasa sekali dingin di bibir manis nya. Lalu aku membuka mata ku ketika aku tersadar bibir kami baru saja beradu. Aku membuka mata ku dengan lebar dan mendorong Danu sekuat tenaga. Dia terdorong ke dinding di belakang nya lalu memandang ku dengan dingin. Aku menatap nya begitu keji.
“Sampai kapan kamu tidak bisa memaksakan perasaan ku yang tidak akan pernah ada untuk mu” cibir ku dengan mata yang begitu benci karena sudah begitu kesal.
“Perasaan yang aku punya hanya untuk Aditya dan siapapun tidak ada yang bisa melunturkan nya termasuk kamu!” Ucap ku dengan menunjuk nya begitu tegas.
Lalu aku pergi dari ruang ganti itu dan segera berjalan cepat keluar dari sana sebelum ada yang memergoki ku dan Danu di dalam change room berdua.