Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Overthinking



Aku dan semua team ku turun dari atas panggung, di ikuti suara tepuk tangan yang begitu riuh di dalam ruangan. Aku turun dan masuk kembali ke ruangan tadi.


“Oh god lo hebat Dheb” ujar Sienna memeluk ku bangga.


“Komunitas kita dapat sambutan hebat nih dari para tamu” sambung Caca ikut memeluk ku.


“Iya iya gue tau gue hebat” ujar ku begitu percaya diri.


“Bangga banget gue sama lo Dheb,ga nyangka gue punya temen pinter ngomong gini kaya lo”


Aku menggelengkan kepala ku mendengar ocehan mereka.


“Hay” sapa seorang laki-laki tampan dengan pakaian yang begitu rapih menghampiri kami.


Jimmy.


“Hay Mas Jimmy” sapa Sisil terpaku melihat Andrew di hadapan nya.


“Kamu hebat banget Dheb, salut aku sama kamu” ujar nya.


Aku tersenyum dan menganggukan kepala ku untuk ucapan terimakasih.


“Dheb, Kak Jimmy ini adalah orang yang minta komunitas kita untuk kasih penyuluhan disini” ujar Zio saat ikut menghampiri ku.


“Oh,” ucap ku masih saja bingung.


“Aku udah bilang kan, suatu saat aku pasti akan pakai komunitas kamu untuk acara aku”


“Tapi bukan nya project video klip ya waktu itu kamu bilang” ucap ku mengingat dia pernah meminta untuk referensi tempat video klip nya.


Teman-teman ku menatap ku tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Tatapan mereka seolah berkata ‘kok lo ga cerita sih’


“Iya itu hanya sebagian kecil aja, sebagian besar nya ya ini” ujar nya.


“Thank you jim, udah bantuin komunitas aku jadi lebih Up lagi”


“Sama-sama Dheb”


“Aku permisi dulu gabung sama yang lain ya”


Lalu aku menyeret semua teman ku untuk pergi meninggalkan Jimmy sebelum mereka melakukan hal yang konyol,dengan membuat snapgram atau meminta fhoto atau menanyakan hal-hal yang akan membuat ku malu.


“Dhebii, kok lo ga pernah cerita tentang ini sih Dheb” ucap Caca mulai mengintrogasi ku diuar gedung dan duduk di loby utama.


“Caa please, gue ketemu dia aja ga sengaja”


“Dimana?” Tanya nya.


Aku menatap Sienna dengan kebingungan, Sienna pun mengerti dengan raut wajah ku yang sedang meminta pertolongan.


“Waktu di Mall itu kan sama gue ya Dheb” seru Sienna membuat semua teman ku kini menatap nya.


“Di Mall?”


“Iyaa jadi waktu minggu kemarin kalo ga salah ya Dheb,kita kan lagi jalan di mall terus kita ketemu Jimmy di..” ucapan dia bergantung menatap ku.


“Di tempat makan” sambung ku


“iya waktu itu kita lagi makan di tempat makan jepang, terus dia dateng bareng temen nya, kita ngobrol dulu bentar tentang ini, dan Jimmy minta no hp gue di tempat makan itu dan bahas project video klip nya” begitu terbata bata aku berbohong kepada mereka demi menutupi kebenaran yang sebenarnya.


“Oh gitu” polos nya Caca begitu saja percaya.


“Tunggu” Sisil seperti berusaha memikirkan sesuatu.


“Kapan kalian ke Mall? Kok ga ngajak gue?” Tanya Sisil.


Aku dan Sienna kembali berpandangan. Aku menyerahkan kebohongan selanjutnya kepada dia, karena aku sudah tidak dapat ide lagi untuk mencari alasan lain kepada mereka ini.


“Itu ga di rencanain,gue minta temenin Dhebi waktu itu belii..” ucap Sienna memikirkan hal yang lebih masuk akal lagi.


“Baju buat kondangan iya” lanjutnya lagi sambil terus tersenyum begitu aneh nya.caca dan Sisil hanya mengangguk percaya.


Aku hanya bisa diam tak lagi bisa memberikan mereka kebohongan lain.


Acara pun selesai aku dan semua team ku pulang setelah acara makan sore disana.


“Dhebi” Panggil seseorang sebelum aku keluar gedung.


Jimmy. Dia berlari kecil mengejar ku.


“Dheb, thank you ya buat semuanya. Semoga setelah ini kita bisa kerja sama kalo ada kesempatan”


“Aku juga makasih yah, udah percaya in komunitas aku untuk ngasih penyuluhan”


Aku tersenyum manis kepadanya.


“Aku permisi ya” pamit ku untuk segera pergi dari sana sebelum ada orang lain yang memperhatikan.


“Euh tunggu Dheb”


“Ya” sahut ku menghentikan langkah.


“Boleh kapan-kapan aku ngajak kamu jalan ?” Pertanyaan nya membuat ku terdiam dan berfikir mengingat Aditya.


Lalu aku benar-benar pergi dari hadapan nya meninggalkan dia yang masih terlihat ingin menahan ku.


Tentu tidak akan mungkin suatu saat aku bisa pergi dengan nya. Andai Aditya tahu dia pasti akan begitu marah kepadaku. Dan selain karena Aditya,aku pun tak akan mau pergi dengan nya.


Aku masih menunggu Aditya di dalam apartemen untuk makan malam bersama. Namun seperti nya Aditya pulang terlambat karena ada meeting mendadak dengan team Management nya.


Aku duduk di sofa menonton Tv. Suara pintu apartemen terbuka, dan terlihat Aditya masuk dengan wajah nya yang begitu kusut.


“Hay” sapa ku dengan manis.


Dia menatap ku begitu tajam. Aku menghampiri nya dengan bingung.


“Kenapa di ?” Tanya ku sambil menyentuh wajah nya yang begitu terlihat kesal.


Dia menghempaskan tangan ku.


“Kamu kenapa sih?”


“Kenapa kamu ga bilang kalo acara kamu tadi siang itu acara yang di buat Jimmy” ujar nya sambil terus membuang muka dariku.


“Kamu tau dari mana?”


“Kamu ga liat,wajah kamu udah di pajang begitu banyak di Instagram dia” kesal nya.


Aku pun tidak tahu fhoto yang mana yang di maksud Aditya,karena aku tak menyadari jika Jimmy meng unggah fhoto ku di Instagram nya. Yang pasti tak ada fhoto ku berdua saja dengan Jimmy, karena aku tidak mau fhoto berdua dengan nya.


“Ya aku juga ga tau kalo ternyata itu acara dia”


“Ga mungkin kamu ga tau”


“Kamu fikir aku bohong”


“Iya bisa saja kamu bohongin aku kan, ga mau aku tau kalo kamu ketemu sama Jimmy”


Aku begitu kesal dengan Aditya yang selalu berlaku seenak nya.


“Aku ga tau kalo itu acara Jimmy dan aku ga pernah berusaha bohongin kamu” ucap ku dengan jelas dan tegas


“Mana mungkin kamu ga tau,Jimmy kan punya no kamu”


“Ya mana aku tau kenapa dia ga hubungin aku dulu. Kalo seandainya dia ada hubungin aku,aku udah pasti bilang sama kamu Di ga mungkin aku tutup tutupin”


“Alakh alasan” Aditya melempar tas yang di pegang nya dengan kesal.


“Kenapa kamu overthinking gini sih di?!”


“Aku ga mungkin overthinking kalo bukan kamu yang buat!” Teriak nya dengan penuh emosi.


Lagi-lagi sifat Aditya yang sebenernya kembali terlihat. Aku menahan tangis ku melihat dia yang terus meneriaku ku.


“Aku ga bohong di” ucap ku sambil terus menahan tangis.


“Kamu liat, sekarang wajah kamu di pajang di Instagram dia, dan media udah simpen fhoto itu untuk di sebar luaskan di semua sosial media!” ucap nya dengan terus berteriak dengan kesal.


Dia menghempaskan semua barang-barang yang ada di dekatnya. Makanan yang telah ku buat pun di lempar nya ke lantai. Aku mulai menangis dan takut dengan Aditya yang sudah emosi seperti ini.


Aditya mencengkram kedua lengan ku


“Kamu tau,wajah kamu udah mulai ter ekspos dimana mana dengan Jimmy aku ga bisa terus terus an liat itu Dhebi,kamu fikir aku rela liat kamu di gosipkan dengan dia hah?!”


“Lalu apa kabar dengan aku di?!” Teriak ku dalam isakan tangis.


“Apa kabar dengan aku yang selalu liat kamu bermesraan di Tv dengan wanita lain dan kamu selalu meminta aku sabar untuk itu”


Dia melepaskan cengkraman nya, dan berbalik dengan kesal mencerna ucapan ku. Dia mengusap kasar wajah nya dan mondar mandir terlihat tidak tenang.


“Kamu fikir hati aku terbuat dari baja yang selalu kuat melihat kamu dengan orang lain walaupun kamu selalu bilang itu tidak nyata?!” kini Aditya yang diam mendengar itu.


“Aku juga sama di, ga bisa terus terusan liat kamu seperti itu dengan wanita lain”


Kini Aditya mengatur emosi nya dan berusaha mendekatiku dengan tenang.


“Denger bhi,aku seperti ini karena sebuah pekerjaan,aku sudah berkali kali bilang kalo aku ga pernah ada perasaan apapun dengan mereka”


“Dan kamu fikir aku juga udah punya perasaan dengan orang lain ? Kamu fikir aku semudah itu punya perasaan sama Jimmy? Please di jangan egois. Kalo kamu mau di mengerti aku,kamu juga harus bisa mengerti aku dulu”


Aditya menyentuh wajah ku dengan lembut. Emosi nya langsung hilang seketika, kini dia begitu terlihat sedih dan khawatir.


“Dheb,aku minta maaf”


Aku membuang wajah ku dengan mengusap tangisku.


“Dhebi, maaf karena aku terlalu takut kalo kamu tidak bisa menjaga perasaan kamu untuk aku,aku terlalu takut kalo sampai ada orang lain yang ngerebut kamu dari aku Dheb”


Aku masih tak bisa berkata-kata. Aku masih shock dengan apa yang terjadi.


“Dhebii, aku terlalu sayang sama kamu sampai aku takut kehilangan kamu”


Ucap nya sambil memeluk ku dengan erat. Lagi dan lagi harus selalu ada teriakan dan barang pecah belah untuk menyelesaikan masalah nya. Dan lagi lagi aku memaafkn nya.