Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Permintaan Mama Aditya



Akhirnya Aditya mau untuk pergi menemui Nenek nya. Harus lebih ekstra tenaga aku meminta dia agar mau menuruti ku, aku tidak tahu akar mengapa dia tidak ingin menemui nenek nya sendiri, tapi aku melihat begitu besar harapan Mama Aditya agar dia mau menemui Nenek nya.


Kami sampai ke sebuah rumah besar yang tak kalah besar dari rumah orang tua Aditya sebelum nya. Namun rumah ini lebih terkesan ke Gaya Eropa Klasik dan megah. Dan yang lebih membuat ku takjub,adalah karena rumah ini berada dekat dengan pesisir pantai,namun sayang nya tertutup benteng tinggi di sekeliling rumah megah ini. Perlu berada di lantai 2 atau 3 agar aku bisa melihat lautan di sebrang sana.


Ketika turun dari mobil rasa gugup yang amat hebat menyerang ku. Tangan ku semakin dingin,dan jantung ku berdetak hebat.


Aditya menggandeng tangan ku,menatap ku dengan manis dan menguatkan aku. Kita berjalan masuk mengikuti kedua orang Aditya yang sudah lebih dulu berjalan di depan kami.


Beberapa orang pelayan menyambut kami dan menyapa kami di dalam rumah. Aku terus tersenyum dan membungkukan tubuh ku setiap kali para pelayan ini menyapa kami dengan ramah dan sopan.


Kita sampai di sebuah ruangan yang besar di lantai 3 paling atas. Seorang pelayan membuka kan pintu ruangan itu dan mempersilahkan kami berempat masuk. Aku dan Aditya terus berjalan di belakang Mama dan Papa mengikuti kemana mereka melangkah.


Begitu masuk ruangan besar itu. Aku melihat seorang perempuan paruh baya sekitar umur 75 tahun sedang duduk di kursi dan tengah menikmati sebuah minuman di cangkir yang dia pegang. Rambut nya ikal pendek dan ada beberapa rambut warna putih yang terlihat begitu jelas di antara rambut hitam nya.


Itu Nenek Aditya. Dia memakai baju berwarna tosca panjang dan berlengan pendek. Dia begitu terkejut ketika melihat kami datang.


“Aditya!” Panggil Nenek itu langsung menaruh teh nya dan berdiri dengan hati-hati di bantu oleh pelayan yang berada di samping nya.


Kami masuk berempat, namun yang di panggil nya hanya Aditya. Terlihat sekali Nenek nya begitu merindukan Aditya.


Papa dan Mama nya langsung bergeser ke samping,mempermudah Nenek melihat Aditya lebih jelas. Dia berjalan dengan hati-hati menghampiri Aditya dengan mata nya yang berkaca-kaca.


“Aditya” lirih Nenek nya begitu menyentuh kedua pipi nya dengan lembut.


Nenek nya begitu sulit seperti nya untuk mengungkapkan segala perasaan yang tengah ia rasakan,sehingga dia hanya terus menatap Aditya dengan sedih bahagia.


“Nenek merindukan kamu Nak” lalu dia memeluk nya.


Untuk kali ini aku tidak perlu menyikut Aditya atau memelototi nya agar tak mengacuhkan orang tua yang menyapa nya. Karena Aditya sudah langsung membalas pelukan Nenek nya dengan penuh kasih sayang dan kerinduan.


“Kamu apa kabar Nak?” Tanya nya setelah melepaskan pelukan nya , dan membelai rambut Aditya.


“Aku baik Nek. Nenek apa kabar?”


“Kabar Nenek lebih baik setelah bertemu kamu” Nenek nya sangat tidak bisa menyembunyikan rasa rindu dan bahagia nya bertemu Aditya. Sampai dia terus memeluk dan membelai wajah Aditya.


Nenek nya melirik ku akhirnya.


Aku dengan kaku tersenyum manis dan menganggukan kepala.


“Ini siapa?” Tanya nya


Aku bersyukur karena Nenek nya tidak mengetahui siapa aku sebenarnya. Berarti dia tidak melihat berita atau gosip gosip di dalam televisi nya.


“Ini Dhebi” ujar Aditya menyentuh punggung ku.


Aku memberikan senyuman terbaik ku kepada Nenek nya.


“Dia pacar mu?” Tanya Nenek nya terlihat tak percaya.


“Ya” jawab Aditya.


Aku mendekati Nenek nya dan mencium punggung tangan Nenek nya.


“Cantik sekali” puji nya dengan terlihat tulus menatap ku.


“Terimakasih”


Sepanjang hari kita hanya diam disana menghabiskan waktu dengan makan siang,berjalan-jalan di sekitar rumah yang besar ini,lalu melihat kolam ikan di taman belakang rumah.


Malam hari nya Aditya di minta untuk menemani Nenek nya di kamar,sedang kan aku menunggu dia di balkon lantai 3 untuk menikmati pantai di malam hari. Ah,aku sangat merindukan suasana pantai di malam hari.


“Hay Dhebi” sapa seorang wanita di belakang ku.


Itu Mama Aditya.


“Hay Tante” sapa ku.


Dia menghampiri ku sambil berdiri di samping ku ikut menikmati pantai malam di atas sini.


“Saya kan sudah bilang, jangan panggil saya Tante,panggil saja Mama” dia mengingatkan ku untuk ikut memanggilnya Mama seperti Aditya.


“Oh iya. Ma” ucap ku tersipu malu.


Lalu kami berdua menghadap ke depan, menikmati angin malam yang sejuk malam itu. Dan melihat mangata begitu terlihat jelas di atas sini. Mangata adalah bayangan bulan di air yang terbesit seperti jalanan.


“Dulu sejak kecil Aditya itu paling senang sekali main di sini di rumah Nenek nya” ujar Mama nya mulai bercerita dengan tetap memandang ke pantai di hadapan nya.


“Dia itu selalu senang jika di ajak main di pantai dengan Nenek. Apalagi ketika malam seperti ini, dia selalu senang menatap laut lepas di pesisir pantai walaupun gelap. Dia selalu berkata,jika suara ombak selalu membuat dia tenang, dan angin malam pun selalu membuat sejuk tubuh nya. Bahkan dia mengatakan itu semua ketika dia masih kecil”


Dia tersenyum mengingat kejadian yang di ceritakannya. Ternyata dari dulu Aditya memang suka dengan suasana pantai di malam hari sama seperti ku. Namun aku ingat saat pertama kali kita bertemu di pantai di malam hari, dia sepertinya tidak menikmati suasana malam pantai, dia malah terlihat tak acih,berarti saat itu dia amat begitu gengsi untuk menunjukan bahwa dia pun mencintai suasana pantai.


“Namun seiring berjalan nya waktu dia juga sering sekali berkata,’Aku ingin bebas seperti alam,aku ingin melakukan segala sesuatu atas dasar keinginan ku sendiri bukan karena keinginan orang lain”


Aku mengingat perbincangan aku dan Aditya ketika di tebing Sumba pertama kali kami berbagi cerita. Ucapan nya persis dengan yang di ceritakan oleh Mama nya ini, ternyata Aditya memang ingin bebas sejak dia masih kecil.


“Dan lalu tiba-tiba dia menjadi seorang artis terkenal seperti ini entah bagaimana pada awal nya. Tapi kami keluarga nya sama sekali tidak pernah ikut di sorot oleh media,dan tidak pernah ada wartawan yang menanyakan Aditya kepada kami, Aditya sangat hebat menutupi latar belakang nya sendiri”


Tebakan Mama nya tepat lagi. Fans nya pun mungkin tidak pernah tahu tentang orang tua Aditya. Karena jika ada yang tahu,Caca dan Sisil sudah lah harus memberi tahu ku tentang itu, karena mereka selalu update masalah arti-artis tanah air.


“Mama begitu kehilangan Aditya sejak saat itu. Tidak lagi mengenal nya. Dia sudah sangat berubah”


Aku masih diam memberikan kesempatan untuk Mama nya bercerita.


“Dia begitu tersinggung dengan amarah Papa nya sebelum dia pergi. Namun dia tidak pernah menyadari kami semua seperti ini karena kami tidak mau hampir kehilangan dia lagi”


Aku menatap Mama nya ketika dia mengatakan hal yang mengingat kan ku dengan kejadian Aditya hampir meninggal karena makan kepiting.


“Karena makan kepiting?” Tanya ku memastikan.


Mama nya menatap ku bingung.


“Aditya cerita tentang itu?” Tanya Mama nya begitu terkejut.


Aku menganggukan kepala ku dengan semu. Lalu Mama nya melihat ku dengan kagum.


“Padahal dia sendiri yang bilang jika tidak boleh ada yang tahu tentang ini bahkan orang terdekat nya sekalipun” ujar Mama nya.


Aku hanya tersenyum dan tidak ingin menjelaskan bagaimana aku tahu tentang itu.


“Aditya seperti nya begitu mencintai kamu Dhebi. Dia bahkan mempercayai kamu untuk tahu rahasia terbesar nya”


Aku tersenyum malu mendengar nya.


“Dhebi” aku melirik Mama Aditya ketika dia menyebut nama ku.


“Jika kamu bisa membuat Aditya memeluk Papa nya yang selama beberapa tahun ini mereka tidak pernah melakukan nya, apa kamu bisa membuat Aditya mendengar kamu untuk mau melanjutkan bisnis dari Nenek”


Mata ku membulat mendengar nya. Secara tidak langsung Mama Aditya meminta ku untuk membujuk Aditya melakukan suatu hal yang amat besar.