Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Hari pertama menjadi istri di Apartemen



Beberapa hari telah kami lalui di Sumba dengan penuh ketenangan dan penuh kebahagiaan. Honeymoon kami telah begitu sukses kami jalani tanpa ada gangguang lagi dari siapapun,bahkan Aditya terlihat belum terlihat sibuk dengan pekerjaan nya sebagai CEO baru di perusahaan Kakek nya. Dia masih di berikan waktu oleh Papa nya agar kami bisa menghabiskan waktu dulu berdua dan setelah itu Aditya akan menjalani hari-hari nya sebagai seorang Bos besar di perusahaan Kakek nya.


“Liburan kita sudah selesai?” Tany ku dengan penuh kecewa ketika kita sedang berada di dalam kabin pesawat dan keadaan di dalam sudah gelap karena lampu di matikan.


“Masih belum puas?” Tanya Aditya menatap ku dengan dingin.


“Kapan kita akan mulai keliling Indonesia?” Tanya ku dengan penuh antusias.


Aditya tersenyum melihat tingkah lucu ku.


“Kita akan keliling Indonesia secepat yang kamu mau bi. Dan aku akan mengikuti semua keinginan kamu” ucap nya dengan manis.


Aku tersenyum mendengar nya. Lalu aku menyandarkan kepala ku di bahu Aditya.


Sesampainya di Bandara supir Aditya sudah menunggu kami berdua di depan area kedatangan. Aku dan Aditya berlari ke mobil penjemput kami karena tempat itu bukan lah tempat parkir mobil dan tempat itu hanya untuk drop off point saja.


Aku dan Aditya sudah berada di dalam mobil dan segera meninggalkan Bandara. Papa Aditya menelepon.


“Hallo Pa”


“Hallo Nak,Kamu sudah sampai di rumah?” Tanya Papa Aditya yang begitu terdengar oleh ku walaupun suara nya kecil di dalam Handphone Aditya.


“Belum Pa,kita masih di jalan tadi pesawat nya delay”


“Baiklah,selamat beristirahat. Salam untuk Dhebi,dan jangan lupa besok kamu ada bertemu dengan Investor”


“Iya Pa. Aku ingat”


“Ya sudah hati-hati”


“Baik Pa”


Aditya lalu melihat layar ponsel nya dan membuka sebuah pesan masuk dari Mama nya yang menanyakan bagaimana perjalanan pulang kami.


“Ada salam dari Papa” ucap Aditya tanpa melihat ke arah ku.


“Lalu besok ada apa?” Tanya yang sudah menguping pembicaraan mereka.


“Ada bertemu dengan Investor di kemang,kamu ikut ?” Tanya Aditya menatap ku.


Aku memasang wajah cemberut dan memelas.


“Diii,aku lelah. Boleh aku diam saja di Apartemen ?” Ucap ku memohon.


“Tidak mau ikut?” Tanya nya meyakinkan.


“Untuk apa? Hanya untuk menonton kamu berbicara dengan Investor mu ?” Tanya ku memebayangkan hal yang akan membut ku bosan.


Lalu Aditya hanya diam menatap ku dengan bingung.


“It’s Ok,aku tunggu kamu di Apartemen ya,aku akan masak makanan kesukaan mu”


Lalu Aditya tersenyum dan mengusap rambut ku.


“Baiklah”


Kami sampai di Apartemen dan segera membereskan barang-barang kami dan langsung tertidur.


Aditya keluar dari kamar nya ketika aku masih sibuk di dapur memasak sarapan untuk Aditya.


“Hay” sapa ku dengan menoleh nya sebentar dan kembali melihat pancake ku.


Aditya menghampiri ku dan memeluk ku dari belakang.


“Selamat pagi” sapa Aditya dengan manis dan mencium kepala ku.


“Pagi dii” jawab ku.


“Sudah siap?” Tanya ku tanpa menoleh ke belakang.


“Sudah” jawab nya sambil mengitari meja makan dan duduk di sebrang nya.


“Here we go” ucap ku sambil menaruh pancake itu di atas piring Aditya.


Lalu aku mengambil kan butter dan sugar syrup di dalam lemari es untuk di balur kan di atas pancake nya.


“Kamu tidak sarapan?” Tanya Aditya melihat ku yang hanya duduk manis tanpa piring di hadapan ku.


“Aku mau kamu dulu yang sarapan lalu menunggu kamu pergi kerja dulu dan baru lah aku yang sarapan” ucap ku denfan tersenyum bahagia.


Lalu Aditya tampak menyimpan lagi garpu dan pisau nya dengan raut wajah yang dingin menatap ku.


“Kenapa ?” Tanya ku heran.


Dia hanya menatap ku ketus dan melipat kedua tangan nya.


Aku memutar kan bola mata ku dan menghela nafas begitu berat.


“Baiklah,aku akan ikut makan” ucap ku sambil turun dari kursi dan mengambil piring baru di dalam lemari di belakang ku.


Aku mengambil sepotong pancake di piring besar itu dan menyimpan nya di atas piring ku,lalumengucurkan sugar syrup di atas nya. Barulah Aditya terlihat mau segera memakan pancake ku. Dia tidak ingin makan tanpa ku,hal seperti itu saja bisa membuat ku bahagia seperti ini,walaupun dia masih saja terlihat dingin dan ketus.


“Kamu selesai jam berapa?” Tanya ku di tengah sarapan kami.


“Tidak lama bi,mungkin hanya beberapa jam. Yang lama itu perjalanan nya” jawab Aditya membuat ku menganggukan kepala.


“Kalau mau ke supermarket jangan beli terlalu banyak bahan,beli seperlu nya saja,nanti kamu susah untuk bawa belanjaan nya dari bawah ke Apartemen. Nanti belanja besar biar bareng aku”


“Iyaaa” jawab ku mendengar pinta nya.


Setelah sarapan kami selesai Aditya bersiap untuk pergi. Aku membantu mebenaroan dasi juga memberikan tas laptop yang berisi banyak berkas di dalam nya kepada Aditya. Lalu Aditya mencium kening ku dengan lembut.


“Aku pergi dulu ya” pamit nya dengan manis.


“Iya” jawab ku dengan tersenyum begitu bahagia lalu Aditya pergi berjalan keluar Apartemen sambil menutup pintu kembali.


Siang hari nya aku langsung bersiap untuk pergi ke supermarket di samping Apartemen ini untuk berbelanja bahan masakan yang akan di hidangkan sepulang kerja Aditya. Aku berbelanja dengan tenang memilih buah-buah an dan sayuran yang segar lalu membawa nya ke depan kasir. Aku mengingat pesan Aditya untuk berbelanja seperlu nya dulu,karena dia tidak mau melihat aku kesusahan menenteng kantong belanja dari supermarket ke atas kamar Apartemen nya. Aku memakai akses pintu belakang untuk jarak lebih dekat menuju supermarket dan kembali pulang pun aku memakai akses pintu belakang juga.


Akses pintu belakang Apartemen ini hanya di pakai untuk para penghuni Apartemen yang memiliki kartu akses kamar pribadi nya. Aku hanya menge tap kartu itu di sensor pendeteksi lalu kunci pintu itu bisa terbuka dengan sendiri nya. Bagian loby belakang itu terlihat cukup luas dengan ada tempat funggu nya juga dan lebih nya adalah memiliki bar mini untuk bersantai para pengunjung disana.


Aku terkejut ketika melihat sosok pria menjengkelkan sedang duduk di Bar sana dan menatap ku dengan datar tanpa ekspresi sedikitpun. Dia memakai kaos polos hijau army celana longgar besar dan juga sepatu sneakers hijau. Aku terpaku melihat dia yang juga sedang menatap ku dengan wajah dingin nya.


Danu.