Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Tugas akhir



Keesokan hari nya di kampus aku memiliki revisian dari dosen ku untuk mengkoreksi skripsi ku yang di nilai masih ada yang kurang. Aku berdebat dengan nya meminta sebuah keringanan, namun dia meminta aku terjun langsung ke lapangan untuk membenarkan skripsi ku.


“Tapi pak Bali kan jauh saya boleh minta keringanan untuk mencari objek wisata yang persis ga pak selain Bali?” Ucap ku dengan terus menyodorkan skripsi ku yang baru saja di kembalikan dosen killer itu.


“Terserah kamu. Itu kan resiko kamu,dari awal kamu yang membuat judul skripsi itu,jadi kamu harus benar-benar mengerjakan tugas kamu dong. Kalau kamu mau cari pantai serupa ya itu terserah,saya tidak memaksa hanya saja jika nilai yang saya berikan tetap sama ya mohon maaf saja saya pun tidak bisa seenak nya memberikan nilai sama kamu” ujar Dosen menyebalkan itu sambil pergi meninggalkan ku yang terpatung di tempat ku.


Judul skripsi ku dari awal adalah Strategi Pengembangan Destinasi Pariwisata Pantai Nusa Dua bali. Kala itu aku dan para teman ku sempat KKN di Bali selama beberapa bulan. Dan kini aku harus kembali ke sana untuk membetulkan skripsi ku.


Ketika di kantin aku menghampiri ketiga teman ku dengan cemberut.


“Ih kesel banget deh gue,skripsi gue ga di terima dong” kesal ku dengan duduk di samping Sienna dan duduk berhadapan dengan Caca dan Sisil.


“Hah kenapa?” Tanya Sienna sambil terus menyantap snack nya.


“Ya ini katanya skripsi gue ada yang kurang lah,salah lah,apa lah”


“Ya iya lah orang lo selama di Bali malah liburan mulu bukan nya nyari bahan” ketus Caca melihat ku dengan kesal.


Ya dia memang benar. Selama beberapa bulan disana aku lebih banyak pergi menghilang untuk bermain di banding kan mencari bahan untuk tugas.


“Terus gimana ? Balik lagi ke Bali?” Tanya Sienna.


“Ya gimana lagi” lemas ku pasrah.


“Lo kabarin aja Aditya,dia kan lagi disana” ujar Sisil.


“Jangan,kalau Aditya tau dia ke Bali malah makin banyak maen mulu sama Aditya disana,terus malah di suruh nemenin emak nya buat ngurusin pernikahan dia” seru Caca dengan serius.


Aku mengkerutkan kening ku membayangkan jika seiya nya Mama Aditya tahu aku ke Bali pasti dia akan meminta ku untuk diam di rumah nya dan ikut mengurusi persiapan pernikahan ku dengan Aditya.


“Terus gimana?” Tanya Sisil.


“Ya udah jangan ngomong dulu aja sama dia” sahut Sienna.


“Ntar kalo Aditya tau gimana? Dia bisa ngamuk kalo tau gue disana tapi ga ngabarin dia”


“Ya lo mau ngomong sama dia pun terserah, tapi usahain dia juga jangan sampe ngomong ke orang tua dia kalo lo di Bali” ujar Sienna memberi masukan.


“Ya uda ntar aja gue kabarin Aditya di Apartemen” Ucap ku memikirkan lagi apa yang harus di katakan Aditya ketika nanti aku menghubungi nya.


Setelah pulang dari kampus. Aku dan ketiga teman ku langsung berpencar di dalam Apartemen,Caca mundar mandir mencari cemilan,Sisil mengganti pakaian nya dan Sienna merebahkan diri di sofa. Sedangkan aku bersiap menelepon Aditya berdiri di dekat jendela.


“Hallo” sapa ku kepada Aditya.


“Hay Bi”


“Kamu sibuk?”


“Tidak. Kenapa?” Tanya nya khawatir.


“Di aku ada tugas lapangan ke Bali nanti untuk menyelesaikan skripsi ku. Tapi aku takut Mama mu tahu aku disana,Dan dia meminta ku untuk tinggal di rumah sementara aku ingin fokus dengan tugas ku” ucap ku dengan menggigit jari ku dengan tangan yang satu nya.


“Ke Bali ? Kapan?” Tanya Aditya.


“Secepatnya aku juga belum tahu kapan”


“Iya”


“Aku ada urusan ke Jogja malam ini,aku baru saja mau beri tahu kamu tadi. Aku pergi ke sana untuk beberapa hari,aku ga bisa nemenin kamu di Bali kalau kamu mau secepatnya kesini” ujar Aditya.


“It’s ok. Aku bisa sendiri disana,aku ada kenalan di Bali. Beberapa tahun lalu aku sempat KKN disana dan aku masih punya kontak nya jadi kamu ga perlu khawatir”


“Jangan!” Jawab nya dengan tegas dan dingin.


“Kamu tinggal di Villa ku dan ajak ketiga teman kamu diam disini” pinta Aditya memperintahku.


“Hah ajak teman aku tinggal di Villa kamu?” Teriak ku dengan refleks membuat ketiga teman ku melirik ku dan melempar pandang satu sama lain. Lalu mereka berlari menghampiri ku dengan kencang dan menempelkan telinga nya dekat dengan telepon yang masih terhubung dengan Aditya.


“Ngga Mereka lagi sibuk lagi pada ada kerjaan juga” ucap ku berdalih dengan terus mencari ruang untuk bergerak. Karena ketiga teman ku begitu bersemangat menguping pembicaraan ku dengan Aditya.


Semua langsung memelototi ku.


“Ih enak aja ngga kok Dit gue bisa” kesal Caca.


“Gue juga” sahut Sienna


“Apalagi gue” teriak Sisil.


“Ya udah. Besok aku pesan tiket untuk kalian ya,dan nanti di Bandara kalian di jemput supir ku untuk di antar ke villa” ucap Aditya yang hanya bisa di dengar oleh ku.


“Tapi Di…”


“Aku sedang meeting,nanti aku hubungi lagi” lalu Aditya menutup telepon nya.


Aku menatap layar ponsel ku dengan kesal,lalu menatap ketiga teman ku dengan begitu sinis.


“Kita jadi ikut ke Bali kan?” Tanya Caca sambil tersenyum dengan bodohnya.


“Iya” kesal ku dengan menyolot.


“Yeeeyyy” seru mereka loncat kegirangan sambil memeluk satu sama lain.


“Gak apa-apa kali Dheb,kita kan nemenin lo juga disana takut kenapa napa” ujar Sienna dengan begitu so perhatian.


“Ish. Gue disana mau ngerjain tugas kuliah kalau kalian ikut yang ada bukan nya tugas gue selesai tapi malah berantakan tau ngga” kesal ku.


“Ih gitu amat sih lo Dheb, tenang aja kali gue ga akan ganggu lo juga buat ngerjain tugas lo” ucap Caca.


“Gue mau liburan gratis aja disana mau jalan-jalan di pinggir pantai pake pakaian seksi terus berjemur” ujar Sienna dengan membayangkan apa yang di ucapkan nya.


“Ih iya gue juga mau kaya gitu” sahut Sisil.


“Beruntung banget ya kita berteman sama Dhebi, udah bisa tidur di Apartemen nya,di ajak makan gratis mulu sekarang di suruh ikut calon istri nya buat nugas ke bali lagi” Caca dan Sienna langsung tertawa dengan celotehan Sisil.


Semantara aku hanya mengangkat halis ku dan menggelengkan kepala ku merasa pusing mendengar mereka yang terlalu berlebihan.


“Serah lo deh serah kalian ya. Yang pasti di sana jangan ganggu gue buat nugas dan jangan berbuat ulah, gue ga mau acara gue yang niat fokus buat kelarin tugas malah berakhir berantakan gara-gara kalian” ancam ku dengan serius menatap tajam mereka.


“Oke” jawab mereka serentak dengan begitu bahagia.