
Aditya mengajak ku ke supermarket di salah satu mall besar dekat Apartemen nya. Aku menyisir jajaran sayuran untuk mencari keperluan memasak ku. Aditya terus mengekor ku di belakang dengan tetap memakai maskernya,karena aku meminta dia untuk tetap menutup dirinya jika aku mau menuruti dia juga,dan dia melakukan nya.
Aditya terlihat begitu aneh sekali dengan sekitarnya.
“kamu kaya baru pertama kali ini belanja?” ujar ku menebak gelagat nya.
“Ya untuk apa aku belanja sayuran?”
“Kamu ga pernah masak?”
“Kalo kamu maksud makanan instan ya aku pernah”
“Ga pernah ada yang masakin kamu ?” Tanya ku mengingat aku pernah berfikir jika semua mantan nya pernah tinggal disana.
“Ngga,Apartemen ku di samping mall sini. Kalo aku mau makan tinggal pesan delivery atau langsung cari ke sini” ucapnya.
Lalu aku melanjutkan belanja ku,dan terus mendorong trolley menyisir rak rak disana. Dan sampai lah kita di tujuan kita, yaitu kepiting. Di bagian seafood yang begitu banyak di pajang di dalam freezer dan timpa dengan bulir bulir es batu.
“Mas kepiting nya ya” ucap ku kepada mas yang memakai baju putih dan topi koki.
“Boleh mba yang mana?” Tanya nya.
“Kamu mau yang mana?” Tanyaku kepada Aditya.
Dia langsung melihat dulu kepiting di dalam freezer sebelum memilih nya.
“Yang ini aja sama ini..laluu.. ini” dia begitu banyak menunjuk kepiting membuat aku bingung dan si mas penjaga disana juga hanya iya iya saja saat melihat Aditya menunjuk banyak sekali kepiting.
“Dii jangan banyak banyak dulu” ucap ku menghentikan nya sambil tersenyum kepada mas pegawai yang terlihat bingung itu.
“Kita masak untuk hari ini dulu ya, nanti kita bisa beli lagi kalo kamu mau”
“Kenapa?” Tanya nya.
“Diii…” aku terus memperingati nya untuk tidak melakukan hal yang konyol.
“Mas beli 4 aja yang besar ya” ucap ku membiarkan si mas pegawai saja yang memilih.
Setelah selesai membayar,dia membawakan semua belanjaan itu kedalam bagasi mobil nya. Dan benar saja Apartemen nya tepat di samping mall tempat kita berbelanja.
Apartemen nya begitu besar dan megah,membuatku begitu takjub dan terpaku. Aditya berjalan di depan ku,mengajak ku masuk ke dalam lift yang sekeliling nya adalah cermin. Lift itu memakai ID akses pribadi dengan lantai di no kamar yang di miliki si penghuni,jadi tidak sembarang orang bisa masuk kesini.
Ketika sudah sampai di depan pintu Apartemen nya, dia memasukan kode sandi yang berada tepat di samping pintu kamar nya. Dan lebih terkejut nya aku begitu masuk ke dalam Apartemen nya yang begitu luas dan megah. Begitu masuk aku sudah di suguhkan pemandangan yang indah di luar kaca nya. Dinding dia yang menghadap luar terbalut oleh kaca tembus pandang dan di tutup dengan gorden yang menerawang pemandangan ke luar jendela. Citylight begitu terlihat dari Apartement nya. Aku masuk dengan terperangah melihat sekeliling Apartement dia yang megah seperti rumah istana. Ternyata Aditya benar-benar artis,buktinya dia bisa memiliki hunian hebat seperti ini.
Aditya mengeluarkan segala barang belanja nya di dalam meja pantry kitchen yang berada tepat di samping pintu apartemen. Kitchen set nya pun begitu mewah dan elegant. Ada meja makan di dekat kitchen set. Di sebelah kanan ku ada sofa besar lengkap dengan meja dan tv yang besar. Ada pintu kecil di sebelah sana yang sedikit terbuka. Seperti tempat untuk berjemur dan mencuci yang cukup luas dengan atap nya yang terbuat dari kaca,mungkin bertujuan agar baju yang di jemur mudah kering.
Dan hanya ada satu pintu kamar di sebelah dapur. Itu sudah pasti kamar Aditya. Aku menghampiri Aditya yang sibuk mengeluarkan semua belanjaan ku.
“Kamu bisa masak nya?” Tanya nya terdengar ragu melihat ku.
“Kalo masakan aku ga enak kamu bisa beli lewat delivery kan?” Jawab ku sinis.
Dia duduk di kursi meja makan memperhatikan ku yang sedang mencuci semua bahan dan mengiris semua bawang. Aku mencari semua alat masak sendiri tanpa bertanya kepadanya.
Aku berusaha tak memperdulikan nya yang terus memperhatikan caraku memasak. Sesekali aku melirik nya dengan tajam,untuk melihat begitu mempesona nya dia ternyata. Aku akui, Aditya memang begitu tampan,jika saja dia tidak menyebalkan dan selalu bersikap dingin Aditya pasti akan terlihat sempurna sekali di mataku.
Akhirnya acara memasak ku sudah selesai. Semua alat masak sudah ku cuci bersih,dan meja makan pun sudah ku bersihkan. Lalu aku menyajikan semua makanan yang aku buat di atas meja makan.
Ada kepiting saus padang,kangkung oseng,karena menurut ku kepiting saus padang cocok sekali di makan dengan kangkung dan aku juga membuat appetizer cream sup untuk makanan pembuka nya.
Aku mengalaskan nasi sedikit dulu untuk nya dan aku membantu memotong motong kepiting nya di piring yang lain agar mudah untuk di santap langsung Aditya.
Aditya menatap ku sebentar. Dia menyicip dulu bumbu saus padang yang masih panas di pirig nya. Mendadak akupun takut, jika rasanya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan Aditya. Sendok sudah masuk ke dalam mulut Aditya,lidah nya mulai merasakan bumbu kepiting itu. Lalu dia terlihat begitu semangat memakan semua makanan ku. Aku tersenyum bahagia melihat nya.
“Kamu ngapain? Cepet makan” ucap Aditya saat melihat ku yang hanya mentap nya sambil tersenyum.
“Iyaa” jawab ku yang masih saja tersenyum bangga karena Aditya begitu lahap menyantap masakan ku.
Selesai makan,aku membereskan semua makanan yang tersapu bersih itu kedalam washtafel. Suara handphone ku bergetar ku lihat nama Zio di layar ponsel ku.
“Hallo io”
“Deb urusan lo udah selesai?” Aku melirik Aditya yang sedang menonton TV dengan santai di sebrang sana.
“Iya udah io kenapa?”
“Lo bisa ke kampus ga? Gue mau minta data yang kemarin dong”
“Loh Sienna kemana?”
“Dia udah pulang duluan tadi, gue kasian nyuruh dia balik lagi”
“Oh oke gue ke kampus sekarang”
“Sama-sama io” lalu aku menutup telpon nya, Aditya langsung menghampiriku dan mengerutkan kening nya menatap ku.
“Zio nyuruh aku ke kampus” ucap ku yang sudah mengerti dengan tatapan nya yang seolah bertanya ‘ada apa?’
“Ngapain?”
“Dia minta data yang kemarin”
“Sore-sore gini?”
“Biasanya juga sampe malem aku di kampus”
“Sama dia?” Tanya nya yang membuat ku mengangkat satu halisku.
“Ya sama siapa aja,lagian cuma tugas kampus doang kok gak ada yang lain lagi”
“Oke aku anter” lalu dia pergi ke kamar nya.
Aku menghela nafas begitu berat,tingkah Aditya selalu seenak nya namun yang membuat ku heran kenapa tak pernah bisa aku menahan nya.
Tak sengaja aku melihat handphone Aditya menyala di meja makan. Aku melirik pintu kamar nya yang masih tertutup memastikan dia masih di dalam kamar nya,lalu aku melihat siapa yang sudah mengirim pesan kepada Aditya tanpa menyentuh handphone nya.
Terlihat nama Lucy di layar ponsel nya dan sebuah pesan di bawah namanya.
-kenapa kamu sekarang jadi susah di hubungi sih dit?-
Lalu sebuah pesan masuk lagi masih dari Lucy.
-aku mau kita ketemu sekarang!
Seketika tenggorokan ku kering membaca isi pesan itu, aku membuka lemari es dan mengambil sebuah botol minum yang baru,aku meneguk nya begitu bersemangat. Lalu Aditya keluar dari kamar nya.
“Ayok” ajak nya.
Aku menganggukan kepala ku berusaha untuk tenang. Namun seperti nya raut wajah ku yang sedang tak nyaman begitu terlihat oleh Aditya.
“Kenapa?” Tanya nya.
“Hah ? Gak apa-apa, ayo cepet keburu malem” ucap ku sambil membereskan barang-barang ku ke dalam tas. Lalu handphone Aditya kembali menyala,membuatku terpatung sejenak melirik handphone dan melirik Aditya lalu kembali membereskan barang ku.
Aditya melihat siapa yang sudah mengirim dia pesan. Aku tak ingin memperlihatkan rasa penasaran ku kepadanya,jadi aku langsung pergi dari sana meninggalkan Aditya yang masih berdiri di tempat nya.
Di dalam lift aku masih terus diam membiarkannya. Aditya memperhatikan ku dengan bingung, aku yakin dia pun pasti sudah bisa menebak kenapa aku diam seperti ini, tapi kenapa dia tidak menjelaskan siapa yang sudah menghubungi nya itu. Entahlah,sekarang aku hanya merasa berhak tau juga tentang dia,bukan kah sekarang aku pacarnya ?
Jika saja aku yang ada di posisi nya,sudah pasti aku akan terus di cecer pertanyaan pertanyaan yang membuatku terpojok. Namun kepadanya aku begitu tak berani,aku lebih baik diam dan menunggu dia sendiri yang menceritakan nya.
“Makasih ya,kamu hati-hati di jalan” ucapku begitu kita sampai di kampus.
“Aku nunggu kamu disini” ucap nya yang lagi-lagi mebuatku kesal.
“Untuk apa?”
“Ya nunggu kamu selesai”
“Aku kan bawa mobil sendiri Aditya”
“Terus kenapa?”
Aku menghela nafas berusaha untuk tak terpancing emosi.
“Aku bisa pulang sendiri,dan lebih baik kamu pulang aja, besok kita ketemu lagi oke?” Ucapku membuat dia bisa mengerti.
“Aku ga mau,aku harus pastikan kamu ga sampe malem di kampus”
“Aku ga akan sampe larut malem disini”
“Ya udah kalo gitu cepet,kalo kamu berdebat sama aku disini malah makin lama” Aditya benar-benar menguji kesabran ku.
“Di emang kamu ga ada janji apa-apa gitu sekarang?” Tanya ku mengingat pesan yang masuk ke dalam handphone Aditya tadi.
“Janji apa?” Tanya nya heran.
“Ya apa aja, janjian sama orang mungkin, mau ketemuan atau apa gitu”
“Aku ga akan kemana mana” jawab nya terlihat begitu bersungguh-sungguh.
Aku menatap nya dan bertanya dalam hatiku,Apa benar dia tidak akan menemui sipapun?
Aku melepaskan seat belt ku dan segera keluar dari mobil nya.