
Dia berdiri begitu tampan dengan baju setelan jas nya yang berwarna putih. Kancing jas nya di biarkan di lepas, tangan nya masuk kedalam saku celana nya dan matanya begitu tajam menatap ku.
Aku kembali membalikan tubuh ku dan berusaha tak memperdulikan nya walaupun hatiku kembali berdetak begitu kencang. Aku memegang kuat tas kecil yang ku tenteng untuk menghilangkan rasa gugupku.
Aditya berjalan mendekati ku dan berdiri tepat di samping ku. Aku masih belum berani melihat nya secara langsung.
“Hay Dhebi” sapa nya berdiri di samping ku.
“Apa kabar?” Tanya nya membuat ku begitu panik.
“Aku baik, sangat baik. Bagaimana dengan kamu?”
Jawab ku dengan berusaha tenang memberanikan diri untuk menatap nya dengan memberikan senyuman palsuku.
“Aku juga baik”
Aku kembali menatap lautan gelap di hadapan ku,dan memikirkan apa yang harus aku katakan selanjutnya agar tidak terlihat kikuk di hadapannya.
“Oh iya, selamat ya atas pertunangan kamu hari ini” ucap ku dengan menyodorkan tangan ku memberikan dia selamat.
Matanya melirik sinis tangan ku. Dia memperhatikan ekspresi wajah ku yang tersenyum begitu terpaksa.
“Semua yang kamu lihat ini masih sama seperti dulu Dheb” ucap nya dengan tak menyambut tangan ku.
Aku melipat tangan ku dan memalingkan wajah cemas ku.
“Aku perlu bicara” ucap nya yang akhirnya membuat ku kembali tak nyaman.
“Maaf ,aku ga bisa. Aku permisi” ucap ku dengan hendak melangkah pergi.
“Aku perlu bicara. Jika perlu aku bisa hubungi Andre untuk minta izin”
Dia membuat ku tersentak kaget. Matanya begitu mengancam.
Bagaimana dia tahu aku disini bersama Andre? Jangan jangan selama ini dia tahu tentang aku dan Andre juga ?
“Bagaimana?” Tanya nya.
Aku menggelengkan kepala ku dengan kesal,dia masih belum berubah. Pemaksa dan selalu menyebalkan. Aku pergi mendahului Aditya pergi menjauh dari acara pesta itu, dan Aditya mengikuti kemana aku membawanya.
Aku dan Aditya duduk di kursi ayunan yang berada di bibir pantai,dan jauh dari acara pesta pertunangan nya.
Kami berdiam dulu untuk beberapa saat disana. Tak saling bicara dan tak saling menatap, kami hanya memandangi laut yang sama yang ada di hadapan kami. Suasana seperti ini terasa pernah terjadi dengan Aditya di samping ku.
“Apa yang mau kamu bicarakan ?”
“Sejak kapan kamu dekat dengan Andre?” Tanya nya tanpa menoleh ku.
“Bukan urusan kamu”
“Aku sudah tau sejak lama hubungan kalian Dheb. Aku pernah liat Andre membuat story seorang perempuan di pesisir pantai, dia menyorot sebuah tas kecil di samping nya yang aku tahu itu milik mu. Aku tahu persis tas itu hanya kamu yang punya, aku yang menambahkan lukisan pantai di tas itu”
Tas ku terbuat dari kanvas tebal sehingga dia bisa melukis sebuah pantai kecil di ujung tas itu. Aditya memang selalu iseng dengan segala hal yang tak pernah bisa ku duga.
“Lalu kenapa? Apa masalahnya?” Tanyaku dengan ketus nya.
“Kenapa kalian tidak segera menikah ?”
“Maksud kamu?”
Pertanyaan Aditya begitu tak masuk akal. Kenapa tiba-tiba dia menyuruhku untuk menikah?
“Ya kenapa kalian ga lanjutin hubungan kalian ke tahap yang lebih serius?” Ucap nya dengan memperjelas pertanyaan nya.
“Ini bukan urusan kamu Di, aku yang akan menjalani hubungan ini, dan aku juga yang akan memutuskan dengan siapa aku akan menikah”
“Tapi sepertinya kalian serasi”
Aditya benar-benar membuatku kesal.
“Sekali lagi itu bukan urusan kamu,aku yang tau mana yang cocok untuk ku dan tidak,kamu ga perlu ikut campur urusan aku”
“Iya itu maksud aku Dheb! kenapa kamu juga ikut campur dengan urusan aku?!” Ucap Aditya dengan berteriak.
Dia membuat ku diam dengan bingung.
Raut wajah Aditya berubah menjadi begitu menyeramkan. Dia terlihat begitu kesal. Aku tersentak dan terkejut dengan pertanyaan Aditya yang membuat ku panik.
“Hubungan ini aku yang jalani Dheb, aku juga yang akan memutuskan akan kemana aku bawa hubungan ini, kamu ga ada hak untuk ikut campur urusanku!” Ucap nya sedikit berteriak.
“Apa maksud kamu Di?” Aku berdiri hendak pergi meninggalkan nya.
Namun Aditya menahan langkah ku.
Aditya terlihat begitu kesal melihat aku yang seolah tak mengerti apa maksudnya. Dia menggelengkan kepala nya dan berusaha mengatur nafas dan mengatur emosi nya.
“Mungkin selama ini kamu tidak pernah tahu alasan kenapa aku tidak bisa makan kepiting. Kamu tidak pernah tahu apa yang sebenernya terjadi,yang kamu tahu aku hanya tidak tahu cara makan kepiting kan Dheb?”
“Tapi alasan sesungguhnya adalah aku pernah hampir mati karena makan kepiting saat aku kecil dulu”
Aku shock mendengar hal yang baru aku tahu.
“Aku sampai di operasi demi mengeluarkan cangkang kepiting yang sudah menyangkut di tenggorokan aku Dheb, sejak saat itu aku trauma untuk memakan kepiting. Orang tua ku pun melarang keras aku untuk memakan kepiting, dan aku mengaku jika aku alergi makan kepiting demi menutupi kejadian sebenarnya kepada semua orang. Dan kamu tahu ? Beberapa bulan kemarin Lucy pernah membuatkan aku kepiting saus padang di Apartemen ku ,dan dia tidak memotong motong kepiting itu seperti apa yang kamu lakukan agar aku mudah untuk memakan nya”
Ya memang aku lah yang memberi tahu Lucy makanan kesukaan Aditya beberapa bulan yang lalu ketika dia menghubungi ku dan bertanya siapa aku sebenarnya.
Lucy mendapatkan nomor ku di handphone Aditya. Dia membaca semua isi pesan ku di Handphone Aditya secara terbersembunyi. Namun dia tidak pernah tahu bagaimana wajah ku,karena di handphone Aditya tidak pernah menyimpan foto ku. Aditya sering memotet ku, namun dengan efek siluet atau ketika aku sedang menatap matahari terbenam di pantai, itupun Aditya memotret ku secara diam diam di belakang. Aku takut jika handphone nya jatuh ke tangan orang lain dan orang itu melihat ada wajah ku di dalam handphone Aditya.
“Ya lalu? Apa hubungan nya dengan ku ? Lucy bisa saja tahu dari orang lain kan,bisa aja dia tau dari tua kamu”
Ucap ku berdalih dengan wajah yang begitu meyakinkan berusaha untuk membuat nya percaya.
“Orang tua mana yang ingin melihat anak nya hampir mati untuk kedua kalinya karena makanan yang aku makan. Mereka lah yang meminta aku untuk tidak pernah lagi memakan kepiting,dan meminta ku untuk tidak pernah mencoba lagi untuk memakan nya,dan bagaimana bisa Lucy tahu kalau aku bisa lagi memakan kepiting kalau bukan dari kamu ?”
Aku tak bergeming,tak lagi dapat mencari alasan.
“Dan kamu tahu bulan lalu aku terserang gangguan kecemasan di sebuah acara besar. Lucy membawaku sebuah ruangan kecil agar tidak ada orang yang melihat aku kesakitan. Dan aku liat dia menelepon seseorang di sudut ruangan dengan suara pelan, aku tidak tau dia sedang menghubungi siapa, namun ketika dia kembali dan menutup telepon nya Lucy memberikan aku pertolongan dengan metode 3.3.3 metode yang selama ini tidak bisa ku percaya selain di lakukan oleh kamu,dan lagi-lagi metode itu tidak berhasil di lakukan orang lain selain kamu”
Aku ingat saat Lucy menelepon ku dengan panik dan bertanya jika Aditya tiba-tiba sesak nafas di acara Gramy Award. Lucy tidak tahu harus berbuat apa sampai dia menelpon ku, dan aku pun memberi tahu dia agar memberikan pertolongan pertama kepada Aditya dengan metode 3.3.3 yang selalu aku lakukan kepadanya setiap kali gangguan kecemasan itu menyerang Aditya.
Aditya menatap ku penuh dendam. Aku diam tak bisa berkata apapun. Aku tidak bisa lagi membantahnya.
“Kenapa kamu lakukan ini Dheb?” Tanya Aditya yang sudah bisa menebak akal bulus ku dengan Lucy.
Aku menatap nya dengan wajah yang merasa bersalah.
“Aku cuma bantu Lucy agar dia mendapatkan seutuh nya rasa cinta kamu” jawab ku akhirnya.
“Selama ini Lucy selalu bercerita, jika dia selalu di perlakukan dingin oleh kamu. Dia mau di perhatikan kamu sama seperti kamu memperhatikan aku dulu. Dia cemburu dengan cara kamu yang terlihat begitu mengkhawatirkan aku jika aku tidak ada kabar, dia juga mau membuat kamu cemburu jika dia bersama pria lain, dia cuma mau kamu seutuhnya Di, apa salah aku bantu dia?”
Air mata ku mulai mengalir mengingat cerita Lucy yang begitu menyedihkan. Lucy terlihat begitu mencintai Aditya. Namun memang tidak mudah menaklukan hati Aditya yang begitu keras dan dingin.
“Tapi kamu malah nyakitin dia Dheb! Kamu malah merubah dia seperti kamu!”
Teriak nya dengan penuh emosi.
“Kalo kamu seperti ini kamu malah membuat aku mencintai sosok kamu yang ada dalam diri Lucy dan bukan mencintai Lucy yang sesungguhnya. Selama ini aku memandang Lucy sebagai diri kamu, aku ga pernah memandang dia seperti diri nya sendiri. Dengan tidak sadar, kamu sudah melukai hati Lucy”
“Melukai hati Lucy bagimana ?” Balas ku berteriak.
“Selama ini aku di udah tipu sama kamu dan Lucy. Selama ini kamu menjalin hubungan dengan Lucy dengan berkedok settingan. Aku memberikan kesempatan kamu untuk lebih leluasa menjalin hubungan dengan Lucy tanpa adanya aku di samping kamu,lalu kenapa kamu masih saja bersikap dingin dengan Lucy”
“Karena aku tidak pernah memiliki perasaan apapun kepada Lucy!!”
“Kalo kamu memang ga punya perasaan apapun kenapa kamu sampai bertunangan dengan Lucy sekarang?!”
“Karena aku masih dalam misi ku Dheb. Aku masih ingin tahu kapan Lucy akan berterus terang tentang semua kebohongan dia selama ini,ada sesuatu yang harus aku cari tahu sampai aku harus rela berbuat seperti ini” jawab Aditya yang benar-benar tidak aku pahami.
Apa maksud nya dengan misi ? dan kebohongan apa yang di lakukan Lucy hingga membuat Aditya rela melakukan hubungan lebih jauh seperti ini.
“Kamu gila Aditya. Bisa-bisa nya kamu mempermainkan dia sejauh ini” sinis ku.
“Aku udah bilang,aku ga pernah punya perasaan apapun dengan wanita lain selain kamu,apapun yang dilakukan Lucy tidak apa pernah bisa untuk merubah perasaan aku untuk nya,lalu kenapa kamu cape-cape mengurusi hubungan aku dengan Lucy?” Ujarnya.
Aku menggelengkan kepala ku dengan kesal.
“Kamu udah bener-bener gila Di,kamu udah keterlaluan, kamu ga bisa perlakukan Lucy seperti ini,Lucy udah begitu tulus sayang sama kamu,apa kamu ga bisa liat itu ? Dia bahagia dengan adanya kamu di sampingnya,dia jatuh cinta dengan cara kamu memperlakukan nya,kenapa kamu bisa jadi jahat seperti ini?” ucap ku dengan menunjuk wajah nya.
Aditya menangkap tangan ku yang telah berani menunjuknya dan menatap ku dengan tajam.
“Berapa kali harus aku katakan,semua yang kamu lihat ini hanya sandiwara,semua yang aku lakukan ini hanya acting,aku cuma sayang sama kamu Dheb,kenapa kamu pun tidak pernah mengerti itu ?” ucap nya dengan berbicara begitu dekat dengan ku.
“Cukup Di!” Emosi ku dengan menghempas kan tangan ku.
“Hubungan kita sudah selesai, aku tidak perlu lagi mendengarkan penjelasan apapun dari kamu”
Aditya mencengkram kedua bahu ku dan mendekatkan wajah nya.
“Tatap mata aku dan bilang kalo kamu benar-benar tidak pernah lagi memikirkan aku!”
Tatapan Aditya begitu tajam dan serius.
Selama ini aku memang masih selalu memikirkan Aditya. Bahkan sampai detik ini pun aku masih merasa sakit hati melihat dia bersanding dengan wanita lain. Namun aku tidak ingin dia mengetahui itu,aku harus berpura-pura tegar agar kebohongan aku pun tidak di baca nya.
“Aku sudah tidak perduli sama kamu, dan aku sudah tidak pernah memikirkan kamu lagi”Ucap ku dengan begitu jelas dan meyakinkan.
Mataku mulai basah, aku sedih karena harus melawan perasaan ku. Aku tidak ingin kembali dengan Aditya walaupun masih ada sisa perasaan dalam hatiku.
Aku menghempaskan tangan nya dari bahuku dan berbalik untuk meninggalkan nya namun Aditya dengan cepat menarik ku kedalam pelukan nya dia menekan wajah ku kedalam ciuman nya. Aditya memaksa ku untuk kembali mengingat ciuman yang manis itu di pinggir pantai yang dingin seperti ini.
Sejenak aku malah menikmati ciuman kami aku tidak tahu apa yang sudah merasuki ku. Aku merindukan nya merindukan pelukan nya dan merindukan ciuman nya. Lalu aku tersadar kembali ke duniaku, aku mendorong tubuh Aditya dengan sekuat tenaga memandang dia begitu keji dan berlari dari sana sambil memegang bibirku yang masih terasa manis bibirnya.