
Aditya terlihat berjalan dari jauh menghampiri ku dan Mama nya sebelum sempat aku menjawab keinginan Mama nya untuk membujuk Aditya mau melanjutkan bisnis Nenek nya.
“Hay” sapa Aditya menghampiri ku.
Aku terus tersenyum manis kepadanya.
“Hay”
“Sudah berbincang nya?” Tanya Aditya dengan manis sambil menyentuh pinggangku.
“Sudah” jawab ku manis.
“Bagaimana Nenek di dalam?” Tanya Mama nya.
“Nenek sudah istirahat di kamar” ujar Aditya. Lalu dia menatap ku.
“Ayok” ajak nya.
Aku mengerutkan kening ku.
“Kemana ?”
“Kita liat mangata”
Aku tertawa.
“Aku sudah menyaksikan nya disini dengan Mama” ujar ku sambil melirik Mama Aditya.
Aditya melirik Mama lalu menatap pemandangan pantai di hadapan nya.
“Dhebi kalau kamu liat disini kamu tidak akan pernah merasakan keindahan alam yang sebenanya”
“Kenapa?” Tanya ku mengangkat kedua halis ku.
“Karena disini kamu hanya bisa menyaksikan nya dengan mata mu saja,aku mau bawa kamu ke pesisir pantai”
“Oke” jawab ku sambil tersenyum.
“Ya sudah kalian jalan-jalan dulu saja” ujar Mama.
Aku menganggukan kepala ku dengan manis kepada Mama Aditya.
“Kita pergi dulu” pamit ku.
“Hati-hati ya nak” ucap Mama menyentuh lengan ku dengan lembat.
“Iya” jawab ku dengan manis.
Lalu aku dan Aditya pergi dari rumah itu.
Di depan rumah sudah tersedia mobil ferrari berwarna hitam terparkir tepat di depan rumah.
Seorang supir sudah menunggu di samping mobil dengan membungkukan kepala ketika melihat ku dan Aditya datang.
“Terimakasih” ujar Aditya kepada supir nya itu.
Aku masuk kedalam mobil itu dengan bingung. Bagaimana tiba-tiba mobil ini bisa ada disini.
“Kenapa pakai mobil?” Tanya ku ketika dia memasangkan seatbelt ku.
“Karena aku hanya ingin berdua saja denganmu” ujar nya dengan sedikit tersenyum lalu melajukan mobil nya.
Kita sampai di sebuah villa besar berada di pinggir pantai dan berada jauh dari pemukiman orang-orang.
“Villa siapa ini?” Tanya ku begitu masuk kedalam villa besar itu.
“Nenek” jawab nya sambil melangkah menjauh dari ku.
Dia pergi menuju bagian belakang Villa yang berada di pinggir pantai. Dia membuka pintu itu dengan lebar membuat ku bisa melihat pemandangan laut lepas di belakang sana. Aku menghampiri nya dan melihat begitu megah nya bagian belakang villa ini. Ada kolam renang di pinggir pantai,dan taman kecil untuk kita bisa bersantai disana.
“Waw di indah sekali” aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa takjub ku saat itu.
“Kamu suka?” Tanya nya dengan melihat ku tersenyum.
Aku menganggukan kepala ku lalu memeluk nya dengan erat.
“Aku sudah lama tidak ke pantai karena sibuk bekerja”
“Kenapa ? Bukannya Andre pernah mengajak kamu ke pantai juga?” Ledek nya menyinggung nama Andre yang membuat ku menjadi kesal.
Aku berdecak dan melepaskan pelukan ku,karena kesal dia masih saja membahas hal itu.
Aku pergi meninggalkan nya. Dan pergi ke samping kolam renang. Aku merasakan Aditya mendekati ku dan berdiri tepat di belakangku.
“Mau jalan-jalan di pantai?” Ucap nya di telinga ku.
Membuat ku tersenyum bahagia dan menganggukan kepala ku sekuat tenaga.
“Ayok” dia menggenggam tangan ku dan berjalan keluar villa lewat pintu belakang.
Aku dan Aditya berjalan di pesisir pantai. Aku jadi mengingat kembali kenangan ku dan Aditya ketika di Sumba dulu. Aku dan dia sering sekali berjalan di pesisir pantai seperti ini di malam hari. Namun dulu dengan perasaan yang saling tak acuh,berbeda dengan sekarang,kami berjalan beriringan dengan penuh cinta dan alas kaki.
“Kalau saja malam itu kamu tidak berbuat bodoh untuk jalan-jalan di pagi buta di Sumba..” ujar nya yang ternyata dia juga sedang mengenang masa di Sumba.
“Kita pasti tidak akan pernah seperti ini”
Aku tersenyum mendengar itu.
“Kenapa?”
“Karena malam itu aku baru tahu kalau ternyata ada juga orang yang amat sangat menyukai pantai,begitu terobsesinya dengan suasana pantai sampai dia mau keluar di pagi buta untuk menikmati angin malam di pantai”
Aku tersenyum mendengarnya.
“Dan andai saja pagi itu kamu tidak ikut aku ke tebing,aku tidak akan pernah tau kalau kamu tidak pernah menyukai orang yang berprofesi seperti ku”
“Aku baru menemukan orang yang tidak menyukaiku”
“Jadi maksud kamu,seharusnya semua orang harus suka dengan kamu?” Singgung ku sambil tersenyum meledeknya.
Dia mengangguk mengiyakan pertanyaan ku.
“Aku kira,tidak akan ada orang yang menganggap remeh seorang aktris,tapi ternyata aku menemukan nya”
“Kamu yang selalu tidak peduli aku siapa,kamu yang tidak pernah peduli aku di sukai banyak orang,kamu yang tidak peduli aku begitu terkenal,kamu hanya sibuk dengan duniamu,tidak peduli aku ada di sekitarmu”
Aku tersenyum dengan malu kepadanya.
Aku ingat ketika aku meminta turun dari speed boat bersama nya karena tidak ingin terlihat semua orang jika kami telah bersenang senang bersama.
“Ternyata aku sudah menyukai kamu dari awal kita bertemu, dari awal kamu menyelamatkan aku di hutan,dari awal kamu tahu aku tidak alergi kepiting melainkan hanya takut memakan nya,dan ternyata aku sudah jauh menyukai kamu saat kita di tebing malam itu”
“Aku selalu menangkis perasaan itu,karena aku takut perasaan aku tidak akan berhasil,aku takut kamu tidak akan menerimanya, tapi ternyata,usaha ku tidak sia sia”
Dia menghentikan langkah nya.
“Kenapa kamu mau?” Tanya nya menatap mataku dengan serius.
“Mau apa?” Tanya ku,tidak yakin dengan apa yang dia maksud.
“Mau menerima aku”
Aku memikirkan sesuatu untuk menjawab nya.
“Karena kamu anak dari pengusaha kaya” ujar ku begitu meyakinkan.
Aditya malah tertawa mendengarkan nya.
“Kenapa?” Tanya ku heran sambil ikut tertawa dengan nya.
“Kamu mau aku percaya itu ?”
“Kenapa tidak percaya?” Tanya ku dengan mengerutkan kening ku.
“Aku mengenal kamu sudah lama sekali,bahkan aku bisa meyakini aku lebih mengenal kamu di banding teman teman mu” ujar nya begitu percaya diri.
“Jadi,kamu merasa sudah begitu mengenal aku?”
“Ya” ucap nya lagi dengan percaya diri.
Aku menganggukan kepala ku.
“Kamu tidak gila harta seperti wanita lain Dheb. Aku percaya itu,bahkan setelah kamu tahu siapa aku,kamu pasti berfikir untuk pergi kan ?”
Aku kembali tertawa dengan hal yang memang sempat aku fikirkan itu. Aku merasa semakin insecure mendengar Aditya adalah anak kaya raya di Bali,aku semakin merasa jauh dengan dia.
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Dhebi” ujar nya sambil melingkarkan kedua tangan nya di tubuh ku.
“Jangan pernah berfikir untuk bisa pergi lagi dari ku” ancam nya begitu serius memperingatiku.
“Jika tidak?” Tanya ku menjahilinya.
“Kamu tahu sendiri apa akibatnya” jawab nya.
Ya aku tahu sekali apa yang akan terjadi jika aku pergi lagi. Aku tidak pernah ingin membayangkan nya,karena itu pasti akan sangat menyeramkan.
“Baiklah” ujar ku.
Dia mencium bibir ku dengan lembut.
“Ada satu hal lagi yang bisa buat aku bertahan tanpa paksaan” ujar ku mengingat sesuatu.
“Apa?”
“Menuruti keinginan Nenek mu” ucap ku.
Lalu raut wajah Aditya berubah malas.
“Pasti Mama yang meminta itu?”
“Tidak. Aku sendiri yang mau”
“Tidak mungkin Dheb..” ujar nya sambil membuang wajah nya.
“Aditya” panggil ku dengan lemah.
“Nenek kamu hanya ingin kamu meneruskan usaha nya”
“Tidak Dheb”
“Di..” panggil ku lirih sambil memegang kedua pipi nya agar dia melihat ku.
“Semua ini untuk masa depan kamu. Kamu sendiri kan yang pernah berharap agar kamu di berikan kesempatan kedua untuk memilih jalan hidup. Dan mungkin inilah jawaban nya. Apa kamu masih mau mempertahan kan karir kamu sebagai artis setelah semua seperti ini?”
Dia menatap ku dengan dalam dan bingung. Dia seperti sedang mempertimbangkan ucapan ku, karena apa yang aku katakan ini benar adanya, dia tidak memiliki pilihan lain selain mencari jalan berbalik di bandingkan meneruskan karirnya sebagai artis.
“Aku mau”
Jawab nya tanpa terlihat terpaksa.
Mataku membulat melihat semudah itu membujuk Aditya.
“Asal kamu menemani aku”
Aku menatap nya dengan bingung.
Lagi-lagi dia meminta hal yang masih begitu berat untuk ku pastikan.