
Menjelang malam. Aditya mengeluarkan alat pemanggang yang berbentuk bulat berwarna hitamnya yang selalu tersimpan rapih di gudang penyimpanan dekat ruang laundry dan kini alat pemanggang itu akhirnya terpakai dan di simpan di ujung balkon. Balkon itu memanjang dan cukup luas,tiinggal menggeserkan pintu kaca yang di depan ruang tamu dan kita bisa menikmati pemandangan di balkon Apartemen Aditya. Kamar Aditya pun memiliki akses untuk langsung ke balkon,jadi jika mau keluar balkon dia tidak perlu ke ruang tamu dulu,tinggal geser saja jendela kaca besarnya,dan kita bisa langsung melihat keindaham citilight di balkon nya.
Caca dan Sisil sudah datang dengan membawa kantung belanjaan yang baru saja mereka beli di supermarket. Sebelum pergi Aditya memberikan kartu kredit nya untuk berbelanja, dan meminta mereka untuk membeli apa saja yang mereka mau untuk acara malam ini.
Malam itu cukup membahagiakan. Sahabat dan kekasih ku akhirnya bisa bersama dan mengenal lebih dekat. Aditya pun tidak merasa kaku berbincang dengan mereka,malah Aditya terlihat cepat akrab dengan teman-teman ku. Ketiga teman ku mulai memanggil Aditya dengan nama tidak lagi memakai ‘Mas’.
Setiap orang memiliki tugas masing-masing. Seperti memotong sayuran, membuat minuman,menyiap kan dessert dan aku membakar daging. Dimana-mana memang akulah yang selalu diberikan tugas terberat di setiap kegiatan.
Asap di pembakaran membuat mata ku perih karena terbawa angin. Mataku berair,Aditya menghampiri ku dengan sigap.
“Kenapa?” Tanya nya sambil memegang wajah ku.
“Asep nya perih kena mata aku”
“Aku saja yang bakar” pinta nya dengan menggeserkan badanku.
“Ga apa-apa aku aja di”
“Dhebi” panggil nya memperingatiku untuk mengikuti saja perintahnya.
“Iya iya iya”
aku mengangkat kedua tangan ku menyerah dan duduk bersama teman-teman ku menyiapkan salad sayur. Sementara Sisil membantu menyiapkan minuman dingin.
“Oh iya Dit, kata Dhebi kamu orang bali?” Tanya Caca.
“Iya”
“Bali nya dimana? Soalnya aku juga ada paman di daerah Nusa Dua”
“Oyah? Orang tua ku juga disana” jawab Aditya dengan terus membulak balikan daging tebal itu.
“Hah masa?” Ujar Caca tak percaya.
“Iya”
“Siapa nama orang tua kamu kali aja masih sodaraan sama aku hehe” ujar nya terlalu berharap.
Aku melihat Sisil tengah mencoba minuman buatan nya sendiri dengan berdiri di samping Sienna.
“Nama Ibu ku,Caterison”
Caca membulat kan matanya ketika Aditya menyebutkan sebuah nama yang terlihat tak asing untuk Caca.
“Hah? Caterison ?” Tanya Caca terkejut.
“Pemilik Hotel Hilton Resort itu?!”
Ucapan Caca membuat Sisil memuncratkan minuman yang baru saja masuk kedalam mulut nya,dia memuncartkan ke baju Sienna di samping nya.
“Sisiilllll” kesal Sienna dengan mengibas ngibas baju nya yang sedikit basah.
“Sorry sorry Syen,gue kaget” ujar nya membersihkan meja dan baju Sienna.
Aku pun di buat kaget dengan apa yang di katakan Caca. Aku bahkan baru tahu jika orang tua Aditya adalah Crazy Rich Bali. Aku sempat tahu tentang hotel besar itu,namun aku tidak pernah tau jika pemiliki nya adalah orang tua Aditya.
Caca menyenggol lengan ku dengan lengan nya,dia memainkan matanya seolah berkata 'beruntung banget lo'
Aku semakin insecure mengetahui itu. Namun Aditya malah terlihat santai menanggapinya. Lalu kenapa Aditya masih mau menggunakan Lucy untuk karir nya?
Acara barbeque pun di mulai. Semua makan dalam satu meja bundar di balkon apartemen Aditya. Dengan suasana malam yang dingin, bintang-bintang menghiasi langit kita,juga lampu-lampu kota yang menjadi pemandangan indah kami membuat acara makan malam kita begitu indah.
Kami tertawa bersama,berbagi cerita dan menceritakan kembali masa-masa ketika kami di Sumba dulu.
“Jadi.. kalian deket selama di Sumba?” Tanya Sisil.
Aku menatap Aditya yang terlihat menyikapi nya dengan biasa tanpa malu dan canggung.
Aku mengangguk dengan malu.
“Wow hebat ya, padahal pertemuan kalian terbilang singkat”
“Singkat banget malah” tambah Sienna.
“Gue malah ngira Dhebi mau sama Mas Glenn waktu itu” polos Sisil membuat semua mata memelototi nya.
Dia benar-benar tidak bisa menghargai Aditya. Namun Aditya malah terlihat menertawakan hal itu.
“Terus tadi Andre gimana Dheb?” Tanya Sienna mengingat aku belum bercerita tentang Andre tadi di rumah nya.
“Gue ga tau” ucap ku malas menanggapinya.
“Oyah?”
“Aku kenal Andre” ujar Aditya seperti mengingat sesuatu.
“Aku tahu,sebelum bertemu Dhebi dia sempat memiliki pacar bernama Anggita”
Aku ingat artikel yang di buat Andre beberapa bulan lalu. Dia menuliskan telah menemukan pengganti Senja. Mungkin itu adalah Anggita.
“Tapi ternyata Anggita malah memilih untuk menikah dengan pria lain. Dan itu membuat Andre marah. Andre berbuat nekat dengan mengirimkan sebuah video dia dan Anggita di sebuah hotel kepada calon suami nya, dan akhirnya pernikahan Anggita dan calon suami nya pun batal”
Aku merinding mendengar nya.
Aditya menatap ku dengan khawatir.
“Lucy dan Andre itu sama-sama punya sifat psikopat ya” ujar Sisil lagi lagi benar.
Aku semakin cemas mendengar itu. Aku khawatir jika Lucy dan Andre akan melakukan hal yang akan membuat ku lebih dapat masalah. Aku pun ingat ketika Andre berbicara kepada Lucy bahwa dia akan membawaku pergi jauh dan meninggalkan Aditya. Aku beruntung karena mendengarkan itu semua, dan aku beruntung Aditya selalu ada di samping ku.
Aditya menggenggam tangan ku. Dia tahu aku sedang gelisah. Dia berusaha untuk menenangkan ku,tatapan nya seolah berkata semua akan baik-baik saja.
Malam sudah semakin larut. Semua teman ku bergegas untuk pulang,walaupun sudah di tawari untuk menginap di apartemen Aditya tapi mereka memilih untuk pulang.
“Thank ya Dit udah mau ajak kita dinner enak malam ini” ucap Sienna.
“Iya, jangan sungkan untuk mampir lagi ya”
“Kalo kita di undang pasti kita dateng kok dengan senang hati” Jawab Caca dengan tersenyum.
“Iya apalagi kalo banyak makanan kaya tadi, kita pasti dateng walau ga di undang” ujar Sisil lagi-lagi membuat gemas kami semua.
Caca mengigit bawah bibir nya dan memicingkan mata menatap Sisil dengan tajam untuk memperingatinya.
“Gue makan juga lo!” Kesal Caca.
“Ya udah kita pulang yaa”
Mereka melambaikan tangan begitu keluar dari kamar.
“Bye semua. See you”
“Bye Dheb see you”
Aku dan Aditya masih menatap mereka yang menjauh dari lorong. Kami berdiri di ambang pintu menunggu mereka masuk kedalam lift.
Lalu aku berbalik untuk menatap Aditya dan melipat kedua tangan ku.
“Jadi.. anak Crazy Rich Bali ya?” Ledek ku.
Aditya hanya mengangkat kedua halis nya mendengar ledekan ku.
“Kenapa kamu ga pernah cerita tentang itu?”
“Apa kamu pernah nanya?” Ucap nya sambil menyelonong masuk kedalam Apartemen meninggalkan ku yang masih ingin mengintrogasinya.
Aku mengekor nya di belakang.
“Ya seengga nya kamu inisatif untuk cerita dong” kesal ku sambil menutup pintu.
Aditya menumpahkan air putih kedalam gelas nya di pantry dapur.
“Untuk apa?” Tanya nya sambil meneguk minuman nya.
“Agar kamu merasa aku crazy rich, dan kamu menjauh dari aku?”
Aku tidak mengerti bagaimana Aditya bisa berfikir seperti itu.
Aku cemberut mendengarkan hal yang benar pasti akan ku lakukan jika aku tahu sejak awal bagaimana latar belakang nya.
Aditya meneguk kembali minuman nya,lalu menyimpan gelas itu dan menghampiriku. Dia menariku ke dalam pelukan nya.
“Dengar aku Dheb,status aku tidak penting. Orang lain ga ada yang tau tentang asal usul aku, yang mereka perdulikan hanya aku yang sekarang, dan aku minta kamu juga hanya berfokus dengan aku,jangan fokus dengan hal lain”
Dia memegang wajah ku dengan kedua tangan nya agar aku bisa menatap matanya dengan seksama.
“Dan jangan coba-coba untuk pergi lagi dari aku setelah ini” ancam nya dengan bersungguh-sungguh seolah dia tau kalau aku akan pergi setelah tau siapa dia sebenarnya.
Aku tersenyum dan menganggukan kepalaku.