
Hari itu aku dan Aditya menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan menyusuri tempat-tempat baru di penjuru Sumba. Seperti air terjun di dalam hutan yang tersembunyi dan indah,air terjun itu sangat lebar namun dangkal,sehingga aku dan Aditya bisa berenang dengan bebas disana. Air nya pun berwarna biru begitu jernih. Suara air terjun nya pun begitu menggelegar membuat bising di sekitar kami. Banyak bebatuan besar di sana namun pohon-pohon besar menutup cahaya masuk untuk kami. Itu seperti island tersembunyi milik kita. Alam yang begitu bersahaja membuat kita bahagia berdua tanpa ada yang mengganggu.
Lalu sore hari nya,Aditya mengajak ku ke suatu desa yang sangat tak asing untuk ku dan begitu ramai dengan para pengujung yang juga baru datang. Acara adu tombak di atas tebing sebuah desa.
“Untuk apa kamu ajak aku kesini lagi?” Tanya ku begitu khawatir karena aku takut Aditya akan kembali berbuat nekat ikut dalam acara adu tombak itu.
“Kita hanya akan menonton” jawab nya.
“Tapi kan aku takut darah di,kamu lupa?” Tanya ku dengan menghentikan langkah ku ketika kita sudah hampir sampai di lapangan besar hijau di atas tebing.
Aditya menatap ku dengan begitu dalam,dia menggenggam tangan ku dan menarik nafas nya.
“Aku selalu percaya sama kamu bi. Aku ingin kamu juga percaya sama aku. Selama ini rasa takut dan trauma ku hilang ketika dekat dengan kamu,dan aku pun ingin kamu mencoba nya. Aku berharap semua rasa takut kamu akan hilang jika aku di samping kamu,sama seperti aku yang takut akan ketinggian namun kamu selalu menengakan aku dan aku bisa melawan ketakutan ku” ujar Aditya dengan begitu dalam.
Aditya memang benar selama ini memang aku lah yang selalu menenangkan dia dan membuat dia percaya bahwa semua nya akan baik-baik saja. Dan sekarang pun aku harus peracaya kepada nya karena aku juga begitu mencintai nya.
Aditya terus menggenggam tangan ku dan membawa ku untuk melihat acara adu tombak yang sudah banyak sekali penonton di sekitar nya.
Kita duduk di kursi yang berbentuk tangga itu seperti kursi duduk stadion. Kita duduk di antara para pengunjung dan turis yang juga ikut menonton acara yang hanya di lakukan bulan februari ini.
Acara adu tombak rupanya baru akan di mulai. 2 orang penunggang kuda sudah bersiap di antara dua sudut. Pakaian adat mereka sudah di pakai,tombak pun sudah di pegang oleh pemain beserta tameng bulat besar yang terbuat dari besi tebal itu.
Aku merasa takut,aku langsung menutup mata ku dengan tangan karena begitu tidak siap melihat mereka akan saling melukai. Aditya menyentuh tangan ku,dia tidak memaksa untuk aku melepaskan tangan ku. Namun sentuhan tangan nya Aditya membuat ku menatap nya dengan tenang.
“It’s Ok” ucap Aditya dengan begitu lembut.
Lalu dengan perlahan aku menurunkan tangan ku dari wajah ku,dan dengan tenang aku melihat acara adu tombak itu berlangsung. Seseorang sudah terluka namun darah nya masih kecil di lengan nya. Aku merasa mual namun Aditya terus mengelus tangan ku. Sehingga aku bisa menahan rasa mual dan pusing ku.
Acara adu tombak itu terus berlangsung dengan sangat sengit dan begitu sadis. Salah satu dari mereka ada yang terjatuh dan kaki nya berdarah,aku hanya merenyitkan dahi ku dengan terus menatap nya dengan menyipitkan mata ku. Mungkin ini bisa di sebut banak satu ketika salah satu lawab sudah kalah dan akhirnya penantang lain maju. Aku dan Aditya terus menyaksikan nya sampai beberapa jam berlalu. Dan kami memutuskan untuk pulang karena perut meronta ronta meminta makanan.
“Gimana?” Tanya Aditya saat kami sudah berada di salah satu Restaurant dan menunggu makanan.
“Apa?” Tanya ku balik bertanya dengan maksud nya.
Aku menggedikan bahu ku.
“Memang sudah tidak terasa mual,hanya saja aku masih merasa kasihan melihat mereka malah saling menyakiti” ucap ku dengan memikirkan begitu bahaya nya acara itu.
“Kamu asli Bandung kan?” Tanya Aditya membuat ku mengangguk dengan bingung.
“Iya” jawab ku dengan heran kenapa dia menanyakan asal istri nya yang sudah lama ia ketahui.
“Bandung itu kan Jawa Barat. Kalo tidak salah Jawa Barat juga memiliki tradisi bela diri yaitu Pencak Silat,bukan nya tradisi berkelahi itu juga saling menyakiti mereka ya?” Tanya nya membuat ku berfikir.
“Tapi kan di daerah ku dengan tangan kosong di,sedangkan disini dengan benda tajam” ucap ku tidak ingin kalah.
Lalu Aditya tertawa mendengar ucapan ku.
“Dheb. Negara kita itu Negara yang besar. Banyak sekali tradisi berbeda-beda di setiap provinsi dan pulau kita ini. Mereka memiliki cara tersendiri untuk melakukan suatu cara yang akan membuat mereka berbeda dari yang lain nya. Bahkan yang membuat nya pun adalah dari leluhur mereka yang memiliki suatu kepercayaan dengan setiap agama mereka masing-masing. Mereka hanya melakukan adat istiadat mereka bi,tidak mungkin akan saling melukai dengan parah atau pun membunuh. Dan adu tombak ini mereka pun hanya melukai di bagian yang akan cepat sembuh dan tidak merusak organ dalam mereka. Kamu lihat kan tadi, pemain di ganti setelah lawan nya terluka dan kena tombak. Itu pun selalu di bagian kaki dan lengan, karena katanya bagian itu tidak akan membuat mereka mati” ujar Aditya membuka wawasan ku lebih luas.
Aku menatap nya dengan penuh pengertian. Aditya begitu pintar juga sangat mengetahui tentang Negara nya ini. Dia tidak main-main saat dia bilang dia begitu mencintai Negri nya ini. Karena dia membuktikan bahwa dia banyak mempelajari tentang kehidupan di negara kita,bukan hanya menikmati nya.
Aku merasa malu dengan itu.
“Kenapa?” Tanya nya melihat ku yang malah cemberut.
“Aku malu sama kamu. Kamu begitu tahu tentang kehidupan mereka semua,tapi aku selama disini pun tidak pernah memperdalam ilmu ku tentang mereka. Aku hanya menikmati keindahan alam nya saja tanpa tahu asal muasal dan adat istiadat nya” ucap ku dengan jujur.
Aditya tersenyum dan menyentuh pipi ku dengan lembut.
“Mulai sekarang kita akan banyak mengelilingi Negri ini dengan memasuki kehidupan mereka” ucap Aditya menenangkan ku.
Aku tersenyum begitu bahagia mendengar nya. Akhirnya keinginan ku untuk bisa menikmati semua penjuru Negri ini akan segera terwujud. Dan lebih bahagia lagi karena aku akan melakukan nya dengan orang yang paling aku cintai selama hidup ku selain orang tua ku. Yaitu Aditya yang sekarang telah menjadi suami ku.