Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Memulai Kebohongan



Hari minggu yang aku nantikan tiba. Pagi hari aku menunggu Aditya di meja makan untuk sarapan. Aditya sudah begitu rapih dengan pakaian formal nya.


“Jadi pemotreran?” Tanya ku dengan tenang.


“Jadi,ini aku mau berangkat”


“Oh oke, aku perlu ikut?” Tanya ku memancing nya lagi, karena biasanya jika pergi hanya untuk pemotretan Aditya selalu meminta ku untuk menemani nya.


“Ga usah, aku pergi sendiri saja” ucap nya sambil ikut duduk untuk sarapan.


Ternyata benar, Aditya memang tidak ingin aku tahu tentang penayangan film nya. Kenapa Aditya seperti itu ?


Setelah Aditya pergi dari apartemen, sekarang giliran ku untuk bersiap menyusulnya dengan pergi bersama semua teman ku.


Handphone ku berdering di saat aku masih sibuk mempersiapkan diri.


“Hallo”


“Hallo Dheb,lo dimana? Gue jemput kosan ya”


“Eh ga usah, gue udah OTW janjian di kampus aja ya” ucap ku panik ketika tahu Caca akan menghampiri ku ke kosan yang sudah lama sekali aku tinggal kosong.


“Ya udah cepetan dong,semuanya udah siap nih tinggal nunggu lo”


“Iya iya iya”


Aku menutup telepon nya dan segera pergi menyusul mereka di kampus. Sesampainya di sana aku langsung turun dari mobil ku dan berpindah ke mobil Zio.


Pakaian ku begitu rapih dengan memakai baju formal ala korea. Baju panjang berwarna putih dengan gesper perak di lingkaran perutku,dengan celana bahan berwarna pastel ala cutbray dan mamakai sepatu sneakers putih agar menambah penampilan kasual ku. Rambut ku biarkan tergerai indah,dan aku sedikit berdandan agar terlihat sedikit feminim.


Kita sampai. Aku turun dengan perasaan yang tak nyaman.


“Lo kenapa?” Tanya Sienna melihat tingkah ku yang aneh.


“Gak tau syen,gue kok degdegan ya dateng kesini, gue takut ketemu Aditya” ucapku setengah berbisik,karena takut jika teman-teman ku yang baru turun dari mobil mendengar percakapan ku dan Sienna.


“Ya gak apa apa dong Dheb,akhirnya kan lo pergokin dia kalo dia bohong”


“Ya tapi gatau kenapa gue degdegan aja gitu”


“Udah lah ayok”


Ucap Sienna menggandeng tangan ku masuk ke dalam gedung yang besar itu. Film perdana yang akan di tayang kan saat itu begitu privacy,dan di hadiri oleh tamu tamu hebat dan penting dalam sebuah perfilman yang tidak pernah aku mengerti. Namun kami di beri kesempatan untuk menghadiri penayangan itu karena aku dan teman-teman ku sudah terlibat dengan pembuatan film tersebut.


“Hallo Zio,Dhebi” sapa Mas dias ketika kami masuk ke dalam sebuah aula yang begitu besar.


“Hay Mas” sapaku sambil menjabat tangan nya.


“Hay mas,kalian datang tepat waktu ayok aku tunjukin tempat duduk kalian”


Masih begitu ramah sekali Mas Dias kepada kami,walaupun kami hanyalah tamu biasa.


Aku mencari sosok Aditya di sekitar ku namun dia sama sekali tak terlihat dimana pun, sampai kami ke tempat duduk kami aku terkejut karena ternyata Aditya sedang duduk di samping meja ku,dan dia tengah di gandeng oleh seorang wanita cantik dengan pakaian begitu berkelas dan itu bukan Cateline. Aditya juga sepertinya sudah melihat ku lebih dulu,karena wajah terkejut nya sama sekali belum hilang.


“Kalian bisa duduk di sini di samping para artis ini yang sudah tak asing lagi untuk kalian kan”


Aku dan teman-teman ku tersenyum berterimakasih kepada Mas Dias.


“Dan kenalin ini Jimmy” ucap Mas Dias mengenalkan seorang pria yang baru saja datang.


“Oh hay” sapa Jimmy.


“Kenalin Jim, ini team yang waktu itu gue ceritain”


Mas Dias mempersilahkan Jimmy ini menjabat tangan kami satu persatu.


“Dhebi” ucapku berkenalan menjabat tangan nya.


“Jadi ini Dhebi yang sering banget si sebut unik dan hebat itu”


Aku tersipu malu mendengarnya.


“Emang bener ya kamu berani banget terjun di ketinggian tebing di Sumba ? Aku liat tebing itu tinggi banget loh Dheb” ujar nya.


Aku hanya mengangguk manis tak menjawab nya. Dia terus menatap ku kagum,entah karena cerita ku atau karena penampilan ku yang memang berbeda hari ini.


“Ya udah duduk silahkan” ujar Mas Dias mempersilahkan ku duduk di meja samping Aditya dan teman-teman nya.


Dia sudah tak terlihat menggandeng wanita yang ada di samping nya itu. Dan sesekali dia melirik ku dengan panik dan risih.


“Ganteng kan Dheb?” Ujar Sisil menyenggol bahuku.


“Jimmy”


“Biasa aja” ucap ku dengan kesal, bukan karena Sisil terlalu berlebihan mengagumi Jimmy,tapi karna aku masih merasa kesal kepada Aditya.


“Iihhh dia ganteng banget tau Dheb, dia kayak nya naksir deh sama lo,liat aja gelagat nya ngelirik lo mulu”


“Apaansih Sil,udah deh jangan merhatiin dia mulu”


“Eh by the way, Mas Glenn mana ya. Bukan nya dia dulu pernah deket sama lo?” Tanya Sisil sambil meliuk liukan kepalanya.


Aku tak menggubrisnya dan terus menundukan kepalaku. Tangan Sienna menyentuh lengan ku lembut, aku melirik nya lalu dia tersenyum menyemangati ku. Hanya Sienna yang tahu masalahky ku dan dia melihat sendiri apa yang di lakukan Aditya terhadap ku.


Penayangan Film pun sudah di mulai. Kita semua diam memperhatikan film yang di putar selama 2 jam 15 menit. Film nya memang begitu bagus dan mengharukan. Aditya dan Cateline juga berakting begitu baik dan menakjubkan.


Kalo seandainya yang aku saksikan tadi kedekatan Aditya dan Cateline mungkin aku akan memaklumi nya. Namun perempuan ini sungguh berbeda,aku pun tidak tahu siapa dia? Wanita mana lagi yang sedang dekat dengan Aditya ?


Jimmy duduk tepat di meja belakangku.


Film pun selesai di putar. Dan sambutan untuk para pemain nya di persilahkan menaiki panggung.


“Sil,gue mau nanya dong” tanyaku di tengah pidato Mas Dias.


“Cewe yang di sana itu siapa? Dia bukan pemain kan?” Tanya ku setengah berbisik kepada Sisil yang biasanya serba tahu dengan dunia ke artisan.


Namun Sisil menggelengkan kepala nya dan mengerutkan kening nya.


“Namanya Lucy, anak Pak Purnomo, anak dari Ketua Riset Industri Film Indonesia” ucap seseorang yang nimbrung di belakang ku tanpa permisi.


Jimmy, dia menggeser kursi nya mendekatiku di belakang. Sisil menatap nya dan tersenyum sambil menundukan kepala nya untuk menyapa nya.


“Hay Kak Jimmy” sapa Sisil.


“Hay” balas Jimmy.


“Dia emang bukan artis, tapi dia selalu datang ke acara film yang di bintangi Aditya”


Aku begitu tertegun mendengar nama Aditya di sebut nya.


“Kamu sering ngasih referensi tempat untuk sebuah film ya ?” Tanya Jimmy dia mendongakan kepala nya melihat ku di samping.


Aku memalingkan wajah ku.


“Ngga mas, baru kali ini aja” ketus ku tak ingin terus bercengkrama dengan nya.


Lalu dia kembali bersandar di tempat duduk nya dan menjauhi ku ketika semua artis turun dari panggung nya. Aditya terlihat menatap ku begitu tajam,aku mendelikan mata ku ketika mata kami bertemu.


Selesai acara dan makan,aku dan teman-teman ku segera berpamitan kepada Mas Dias dan para artis lain nya.


“Mau langsung pulang aja?” Tanya Mas Dias.


“Iya Mas,aku ada perlu penting” ucap ku.


Aku dengan terpaksa bersalaman dengan Aditya dengan malasnya.


“Rumah kamu dimana?” Tanya Jimmy membuat Aditya melirik nya dengan tajam dan tidak ada yang menyadarinya selain aku dan Sienna.


“Disini aku nge kost mas di dekat kampus, rumah asli ku di Bandung”


“Oh Bandung” ucap nya sambil mengangguk.


“Hati-hati nih ada yang mulai modus kayak nya” ucap Mas Dias meledek Jimmy.


“Ngga gue cuma nanya doang, gak apa apa kan Dhebi?” Aku menggelengkan kepala ku sambil tersenyum manis kepadanya.


“Eh dia udah di incer sama Glenn tau” ujar Mas Dias memperingati.


Mas Dias tak menyadari ada Aditya yang memperhatikan di belakang nya.


“Glenn ga ada apa-apa nya buat gue” ucap dingin Jimmy sambil terus menatap ku.


Aku menundukan kepalaku dengan malu dan risih.


“Ya udah kita pulang dulu ya Mas. Mari Mas Jimmy”


“Euh jangan panggil aku Mas, aku bukan orang Jawa,panggil aku Jimmy aja kalau kita nanti ketemu lagi” ujar nya menahan langkah ku.


Aku tertegun mendengar kalimat yang tak asing di telingaku. Aku menatap Aditya di belakang dengan raut wajah yang tak bisa ku artikan.


Lalu aku benar-benar pergi darisana.