Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Hanya aku yang mengerti Aditya



Keesokan harinya,aku di sibukan dengan mencuci pakaian ku dan Aditya di laundry room. Aditya keluar dari kamar mandi di kamarnya dan mendapati ku yang sudah sangat sibuk keluar masuk kamar hanya untuk mencari baju kotor kami.


“Kamu ngapain?” Tanya nya melihat aku yang sedang mengumpulkan baju kotor di keranjang cuci.


“Menurut kamu?” Tanya ku dengan ketus.


“Baju kotor kan tinggal di laundry aja ke bawah Bi” ucap Aditya menghampiriku dan mengambil keranjang dari tanganku.


Aku kembali merebut keranjang itu.


“Buat apa kamu punya mesin cuci kalo ga pernah di pake sama sekali?”


Dia kembali merebut keranjang nya lagi.


“Ya untuk pelengkap Apartemen aku aja”


Aku berdecak kesal.


“Cucian nya cuma sedikit,lagian kasian mesin cuci kamu udah bedebu kaya gitu ga pernah di sentuh sama sekali”


“Dhebii...” panggil Aditya seolah dia memperingatiku untuk mendengarkan nya.


“Dii please,aku nyuci juga cuma tinggal pijit doang terus yang kerja mesin cucinya,aku cuma nunggu sampe kering,lagian kenapa aku ga boleh nyuci sih ?”


Aditya menatap ku dengan memikirkan sesuatu.


“Aku mau kamu cuma ngurusin aku,ga ngurusin hal hal kaya gini”


Aku menghela nafas begitu dalam.


“Udah ini aku urusin kamu,kamu mending makan dulu aja,ada cemilan aku siapin di meja pantry”


“Oke kalo gitu,aku bantu kamu nyuci dulu lalu kita ngemil berdua sesudah acara mencuci selesai” ucap Aditya dengan merebut keranjang cuci dariku dan pergi lebih dulu ke Laundry room yang berada di samping balkon.


Dia memintaku untuk menunjukan cara mencuci dengan mesin cucinya yang tidak pernah dia sentuh sama sekali. Hanya aku selama ini yang memakai mesin cuci ini,dari semenjak awal aku menempati tempat ini,aku selalu mencuci pakaian ku sendiri sementara Aditya mencuci ke tempat laundry yang sudah di fasilitasi Apartemen ini.


Dia memasukan semua baju ke dalam tabung mesin cuci,memasukan berbagai jenis sabun yang sudah aku beli lama sekali dan ternyata masih ada,lalu dia menekan tombol untuk memulai mencuci pakaian nya.


“Terus dia nanti berhenti sendiri kan?”


“Iya,kamu cuma tinggal tunggu aja sampai dia kering,terus jemur lagi”


“Buat apa di jemur kalo udah kering?”


Aku memejamkan mata ku mencoba menjelaskan dengan benar kepada crazy rich ini.


“Jadi kering nya itu ga terlalu kering,dia masih agak basah gitu jadi tetep harus di jemur”


“Berarti ga kering dong?” tanya nya yang begitu polos dengan ketidak tahuan nya dengan dunia percucian.


“Iya,tapi maksudnya tuh ga kering,duh gimana ya,ya pokoknya udah di cuci kalo masih agak basah gitu kamu tetep harus jemur,udah gitu aja jangan banyak tanya aku pusing”


Aditya tertawa melihat aku yang kebingungan.


“Oke oke aku minta maaf,ya udah kita cuci tangan dulu lalu makan cemilan yang udah kamu buat di pantry”


Aku menganggukan kepalaku.


Kita mulai makan cemilan ku yang sudah ku buat sendiri yaitu chesse roll,cemilan favorite ku yang mudah sekali untuk membuatnya.


Handphone Aditya bergetar di samping piring nya. Aditya hanya melirik handphone nya dan kembali makan, dia tidak memperdulikan siapa yang sudah mengirim pesan kepadanya.


“Siapa?”


“Mama”


Aku mengangkat kedua halisku.


“Kenapa ga di baca?”


“Udah” jawab nya.


Iya dia hanya membacanya ketika handphone dia nyala dan pesan nya terpampang di layar terkunci.


“Dii, bales dulu dong”


“Mama cuma ingetin aku kalau pulang jangan lupa kabarin dia”


“Kamu mau pulang?” Aku kaget karena dia sama sekali belum bilang kalau dia akan pulang menemui orang tuanya.


“Iya”


“Kapan?”


“Besok”


Aku mengerecutkan bibirku,karena bisa-bisa nya dia tidak bilang dulu sebelumnya kepadaku.


“Ya udah besok aku nginep di rumah Sienna ya” ucap ku cemberut.


“Buat apa ? Kamu kan ikut” aku membulatkan mataku mendengar apa yang di katakan Aditya.


Aku menatap dia dengan tak percaya.


“Ikut?”


Aditya hanya menganggukan kepalanya tanpa menoleh ke arahku,dia terus menyantap cemilan di atas piring nya.


“Dii”


Aku sangat shock,kenapa dia tidak membicarakan dulu ini dengan aku. Aku belum siap bertemu orang tua dia yang begitu kaya raya itu.


“Dii”


“Hmm” gumam nya menyauti panggilan ku.


“Aku ga mau” rengek ku.


“Kenapa?”


“Aku belum siap” jawab ku dengan pelan.


Akhirnya Aditya menatap ku,dia menyimpan chesse roll yang sedang di santap nya dan menatap ku dengan seksama.


“Apanya yang belum siap?”


“Ya semuanya”


“Kamu ga perlu siapin apa-apa,kamu hanya perlu dateng kesana sama aku dan ketemu dengan kedua orang tua aku,itu aja”


“Dii,,tapi”


“Ya kalo kamu ga ikut aku ga jadi pulang,tiket bisa aku cancel”


Aku semakin terkejut mendengar dia yang sudah membeli tiket tanpa izin dariku.


“Kamu udah beli tiket?”


“Iya” enteng nya.


“Bukan nya kemarin kamu bilang,kamu mau ketemu orang tua aku?”


“Kapan?” Tanya ku begitu yakin aku tidak pernah berkata bodoh seperti itu.


“Kemarin malam,waktu aku minta kamu untuk bertemu orang tua aku dan kamu bilang 'oke' “


Aku mengingat lagi kejadian kemarin malam setelah selesai makan malam bersama teman-teman ku,Aditya menantang aku bertemu dengan orang tuanya,dan ya memang benar,setelah aku ingat,aku menjawab 'oke' untuk menunjukan aku tidak takut bertemu orang tua Aditya yang Crazy Rich itu.


Aku sedih mengingat hal bodoh itu.


“Tapi kan ga sekarang di”


“Ya terus kapan?”


“Ya nanti,kamu pulang aja dulu yaa,nanti kalau aku sudah siap aku pasti mau ketemu mereka”


Aditya kembali menyantap makanan di hadapan nya dengan malas.


“Kalau gitu,aku juga ga akan pulang sampai kamu mau ikut dengan aku kesana”


“Semua di tangan kamu,aku ga akan pulang ke Bali sampai kamu mau ikut juga,kalo kamu masih belum siap,ya tunggu sampai kamu siap”


“Ko jadi tergantung aku sih?”


“Ya karena aku udah bilang Mama kalau kamu mau ikut,aku ga mau pulang kesana tanpa bawa kamu”


Aku benar-benar sedih,yang aku takutkan adalah first impression orang tua Aditya saat melihat ku. Aku takut aku tidak seperti apa yang mereka harapkan,aku bukanlah dari kalangan artis,aku hanya wanita biasa yang tidak sengaja bertemu anak nya yang kaya raya ini.


“Apa yang kamu fikirin?” Tanya Aditya seolah dia tau aku sedang memikirkan sesuatu.


Akhirnya aku memilih untuk menuruti Aditya,bertemu orang tua nya di Bali. Sebenarnya aku takut,tapi Aditya meyakinkan aku jika semua akan berjalan dengan baik,dia berjanji tidak akan ada terjadi hal buruk disana. Jika sesuatu terjadi dengan aku,dia akan menjdi garda terdepan untuk melindungiku.


Kami mulai packing baju untuk persiapan kami pulang,kita membawa masing-masing 1 koper kecil untuk pergi. Berat sebenarnya aku untuk prepare,karena bukan hanya baju dan barang-barang saja yang harus aku persiapkan,tapi mental ku juga. Aku benar-benar takut bertemu orang tua Aditya,apalagi dengan gosip yang sedang beredar,apa mereka percaya itu hanya gosip ? Tapi Aditya selalu bilang,orang tuanya tidak pernah peduli dengan berita apapun tentang dirinya. Baiklah,aku akan mendengarkan nya.


Aku bagian melipat pakaian dan Aditya bantu memasukan nya kedalam koper agar rapih.


“Orang tua kamu apa bisa terima aku?” Tanya ku yang masih saja di hantui rasa khawatir.


“Orang tua aku tidak akan pernah ikut campur dengan wanita pilihan aku” jawab nya.


“Tapi aku tetep takut”


“Takut kenapa?”


“Takut kalo mereka merasa ga cocok sama aku” ucap ku dengan pilu.


Aditya tersenyum.


“Yang menjalani hubungan dengan kamu sekarang siapa?, aku atau orang tua aku?”


“Iya kamu”


“Ya sudah,ga perlu di fikirkan lagi,aku ga suka kamu banyak mengkhawatirkan hal yang ga akan mungkin terjadi”


Dia membuat ku diam tak lagi berbicara. Aku tahu dia sudah mulai kesal,dan aku tidak mau lagi banyak berdebat dengan nya.


Bell pintu Aditya berbunyi. Aku dan Aditya saling menatap.


“Biar aku” ucap Aditya sambil keluar dari kamar nya.


Aku kembali mem packing barang bawaan kita ke koper. Kita akan pergi selama 4 hari dan barang bawaan yang kami bawa tidak banyak,karena Aditya bilang jika kekurangan baju kita bisa membeli disana agar tidak repot-repot membawa banyak baju dari sini.


Aku tidak mendengar siapa yang sudah memencet bell malam-malam begini,jika bukan penghuni mungkin petugas,karena kalau tamu biasanya harus menghubungi resepsionis di bawah dan mereka akan menghubungi penghuni apartemen jika ada yang mau berkunjung. Lalu jika penghuni yang tidak menjemput,ya di antar oleh pegawai Apartemen ke kamarnya dengan kartu akses khusus.


Aditya juga tidak bersuara di ruang tamu,aku penasaran ada apa di luar kamar. Aku meresleting koper sebelum aku menghampiri Aditya di luar kamar.


Lucy. Dia sedang berdiri di hadapan Aditya dengan terlihat kesal. Lucy memakai blazer biru muda V neck yang memperlihatkan leher mulus dan kalung emas nya, juga rok yang begitu mini membuat kaki dia yang panjang dan mulus begitu terlihat indah. Dia juga memakai high heels untuk menambah kesan ke anggunan nya. Di tambah dengan rambut keriting gantung yang membuat dia lebih cantik dan menawan.


Aku dan Lucy terkejut melihat kehadiran satu sama lain. Dia menatap ku yang berdiri di depan pintu kamar dengan menggunakan kaos besar milik Aditya dan celana pendek yang hampir tertutup baju yang kupakai. Rambut ku juga di ikat messy dan sudah pasti penampilan ku dan Lucy jauh seperti langit dan Bumi.


“Ngapain dia disini?” Tanya Lucy dengan emosi melihat aku yang memakai pakaian Aditya.


“Dia tidur disini” dingin Aditya.


“Tidur disini?” Lucy menatap Aditya tak percaya.


“Dit kamu sadar ga sih aku masih tunangan kamu! Bisa-bisa nya kamu simpan wanita lain di apartemen kamu!” Teriak nya tak terima dengan apa yang di lihat nya.


Aditya terlihat begitu malas dengan apa yang di katakan Lucy.


“Tunangan itu cuma omong kosong Lus. Aku tidak pernah benar benar melakukan itu,semua yang aku lakukan itu karena keterpaksaan,karena kamu yang selalu menuntut itu,dan manager aku yang terlalu terpengaruh dengan bayaran besar kamu yang akhirnya membuat dia paksa aku untuk tunangan sama kamu kan ?!” jawab Aditya dengan penuh meluapkan semua emosi nya.


“Ngga Dit. Pertunangan kita itu bukan omong kosong, kita sudah mengikat hubungan kita,kita juga sudah mengumumkan pernikahan kita kan? Kamu ga bisa seenak nya seperti ini”


Lucy mulai dramatis dengan membuat wajah sedih dan mencengkamran baju Aditya dengan kedua tangan nya.


“Bukan kita, tapi kamu!”Kesal nya sambil menghempaskan tangan Lucy dari baju nya.


“Kamu yang sudah mengumumkan pernikahan bohong itu! Aku tidak pernah sedikitpun berfikir untuk bisa menikahi kamu”


Nafas Lucy terlihat begitu terengah engah,dia emosi mendengar apa yang di katakan Aditya. Lalu dia menatap ku begitu keji dan kesal,dia berjalan cepat menghampiri ku yang masih terdiam di ambang pintu kamar dengan tatapan nya yang begitu tajam. Ketika sudah begitu dekat Aditya menghadang Lucy,mencegah nya untuk lebih dekat dengan aku,dia takut jika Lucy akan bersikap kasar kepadaku.


Aditya menatap Lucy untuk memperingatinya agar tidak berani melakukan hal yang akan membuat Aditya marah,dan Lucy menatap Aditya dengan kesal.


Aku memegang lembut bahu Aditya dari belakang.


“It’s Ok Di. Biarkan” ucap ku dengan lembut dan penuh ketenangan.


Aditya melihat ku dengan khawatir,aku memberikan dia senyuman yang amat kaku agar dia bisa tenang dan percaya bahwa aku akan baik-baik saja.


Aditya membalikan badan nya dan membiarkan Lucy menghampiri ku,itu semakin membuat Lucy emosi karena melihat Aditya begitu menuruti ku.


Lalu aku berdiri tepat di hadapan Lucy dengan tenang,aku menghela nafas ku bersiap menunggu dia untuk mencaci ku.


“Semua ini gara-gara kamu!” Mulai nya dengan berteriak.


Aku tak gentar,aku diam dan terus mempersilahkan dia untuk berbicara semaunya.


“Karena kamu pernikahan kami batal,karena kamu, Kita tidak bisa hidup bersama. Kamu harus tau, aku sudah menunggu hari bahagia itu datang sejak lama Dheb. Aku tulus mencintai Aditya,aku ingin aku dan dia terus bersama. Aku selalu memperjuangkan segalanya untuk dia. Kamu harusnya bisa merasakan apa yang aku rasakan sebagai wanita”


Ucap nya dengan menangis dan penuh dramatis. Namun air mata nya tidak akan mempengaruhi ku lagi seperti dulu yang selalu membuat aku kasihan dengan dia.


“Kamu itu wanita baru yang hadir di kehidupan Aditya. Aku... aku yang sudah menemani dia dari 0 sampai bisa sebesar ini,harusnya aku yang ada menemani dia sekarang,bukan kamu”


Aku heran,apakah Lucy saja tidak tahu tentang orang tua Aditya ? Maksud nya,tanpa Lucy pun Aditya sudah bisa mendapatkan semuanya.


“Sudah selesai?” Tanya ku saat dia berhenti bicara.


“Aku sudah pernah memberikan kesempatan itu untuk kamu. Tapi kamu ga pernah bisa mempergunakan kesempatan itu dengan baik,kamu malah membuat Aditya semakin menjauh dari kamu Lucy” ujar ku dengan tenang tak berteriak sepertinya.


Lucy menggelengkan kepalanya seolah dia tidak terima dengan omonganku.


“Tapi andai saja kamu tidak lagi datang ke kehidupan Aditya, dia tidak akan pernah kembali mencari kamu Dhebi”


“Aku? Aku yang datang?” Aku menertawakan ucapan Lucy.


Ucapan nya begitu sama dengan apa yang pernah di katakan Andre ketika menyalahkan ku tentang Aditya yang datang kepadaku lagi.


“Aditya yang datang sendiri,bukan aku. Pertemuan kami kembali pun itu karena ulah kamu dan Andre kan ? Kamu sadar ? Apa yang kamu lakukan dengan Andre malah membuat kami kembali ? Dan kami harus berterimakasih sekarang atas semua ulah bodoh kamu” ucap ku membenarkan yang sudah pasti membuat dia marah karena aku mengatakan ‘bodoh’ kepadanya.


Dia terlihat begitu marah. Lucy melayangkan tangan nya dan hampir saja mengenai pipi ku jika saja Aditya tidak sigap menangkap tangan Lucy.


Lucy menghempas kan tangan nya dengan kesal menatap Aditya yang menghalangi nya untuk menampar ku.


“Jangan membuat aku marah” ancam Aditya.


“Aku ga akan pernah membiarkan orang lain melukai Dhebi lagi, siapapun dia” lanjut Aditya mengancam Lucy.


Dia menertawakan ucapan Aditya.


“Hebat kamu Dhebi. Kamu bisa menaklukan orang seperti Aditya” Lucy tertawa namun dia masih terlihat begitu sedih.


“Apa yang kamu miliki sampai membuat Aditya seperti ini?” Cibir nya.


Membuat ku diam, mengingat kembali derajat yang di miliki Aditya juga Lucy yang begitu jauh dengan ku.


“Kamu masih mau tahu apa yang di miliki Dhebi dan kamu tidak punya?” Tanya Aditya membantuku,karena dia tidak ingin aku terlihat rendah di mata nya perempuan ini.


Dan Lucy hanya diam menatap Aditya.


“Kesabaran dan pengertian”


Hanya itu? Aku saja tidak sadar jika aku memiliki sifat seperti itu.


“Dia memiliki kesabaran untuk menghadapiku, dia begitu sabar dengan pekerjaan ku,dia sabar melihat aku dengan wanita lain,dia pengertian,dia mengerti aku memiliki gangguan kecemasan dan dia bisa mengatasi juga mengobati saat sakitku menyerang,dia mengerti aku tidak bisa makan kepiting jadi dia membantu ku untuk bisa makan kepiting dengan gunting nya, dia mengerti indahnya pantai di malam hari,dia mengerti betapa tenangnya suasana pantai di malam hari bukan nya berjalan-jalan ke luar negri dan menghabiskan uang. Pertemuan kami sangat singkat,tapi dia bisa mengerti aku sepenuh nya,sedangkan kamu,4 tahun kita mengenal saja kamu ga pernah tau apa yang terjadi dalam hidup aku kan? Kamu malah minta bantuan Dhebi untuk membuat aku cinta sama kamu”


Aku tertegun mendengar ucapan Aditya yang begitu membandingkan antara aku dan Lucy.


“Hanya dia satu satu nya yang mengerti aku, yang bahkan orang tua ku pun saja tidak pernah mengerti aku sejauh itu”


Lucy tak bisa lagi membela dirinya. Dia hanya terus memikirkan apa yang di katakan Aditya dengan wajah nya yang masih saja kesal.


Lalu dia menatap kami berdua dengan tajam.


“Aku tidak akan pernah membiarkan kalian bahagia” ancam nya membuat ku takut.


“Coba saja” jawab Aditya dengan tenang.