Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Apa yang harus aku lakukan ?



“Kamu?” Tanya ku begitu terkejut.


Dia tersenyum begitu melihat ku di hadapan nya.


“Hay” sapa nya dengan manis,lalu dia menyodorkan tas ku.


Aku mengambil tas ku dengan perlahan karena masih terkejut melihat dia juga ada disini.


“Mau pulang juga?” Tanya Danu.


“Ya” sahut ku dengan singkat dan tanpa menoleh nya lalu menyelempangkan tas kecil ku.


“Berarti kita di penerbangan yang sama” ujar Danu.


Memang benar. Dia juga akan pulang ke Jakarta dan akan pulang ke Apartemen yang sama dengan ku.


“Sampai bertemu di Apartemen Dhebi” ujar Danu dengan tersenyum.


Aku menatap nya dengan shock dan tak bisa berkata apapun seolah mulut ku terkunci begitu rapat.


Apa maksud nya sampai bertemu di Apartemen?


Lalu aku segera pergi menyusul Aditya.


“Udah?” Tanya nya begitu melihat ku.


Lalu dia menggandeng tangan ku berlari masuk ke bagian pengecekan tiket.


Aku dan Aditya sudah masuk kedalam kabin pesawat. Kami mencari kursi kami,dan ternyata kursi kami berada di bagian tengah kabin pesawat. Aditya membantu ku mengangkat tas ku dan menaruh nya di bagasi tepat di atas kepala kami.


“Terimakasih” ujar ku.


Lalu seseorang di belakang kami menerobos kami dengan mendorong ku dengan kencang. Orang itu tak sengaja menjatuhkan tas yang di bawa nya terjatuh tepat di kaki ku yang terluka.


“Aww” teriak ku.


“Kenapa?” Kahawatir Aditya melihat kaki ku.


“Kena kaki ku yang terluka waktu itu Di” ucap ku dengan terus meringis kesakitan.


Luka ku memang sudah mengering. Namun tetap saja masih terasa sakit jika di tekan,apalagi ini tertimpa oleh barang yang begitu berat.


Aditya menatap pria yang menjatuhkan tas milik nya dengan tajam.


“Bisa hati-hati kalau jalan ? Tidak perlu tergesa-gesa seperti ini!” Ujar Aditya dengan begitu emosi.


“Saya minta maaf mas tadi saya takut ketinggalan pesawat”


“Kamu sudah di dalam pesawat,tidak perlu buru-buru seperti itu” kesal Aditya yang masih saja memarahi pria itu.


Semua orang tampak memperhatikan kami,aku begitu cemas takut ada yang merekam kejadian ini,dan Aditya tidak bisa menahan emosi nya,itu bisa sangat bahaya sekali.


Aku langsung menyentuh dada nya dengan lembut.


“Di udah, I’m ok” ucap ku menenangkan nya.


Namun Aditya masih terus menatap tajam pria itu.


“Di” panggil ku agar dia berusaha tenang.


“Mas ambil tas nya,dan duduklah” pinta ku untuk meminta dia segera menghindar dari Aditya.


“Baik Mbak, sekali lagi saya minta maafl” ujar nya terus menundukan kepala nya begitu malu dan takut.


Aku langsung meminta Aditya untuk duduk.


“Kaki mu benar baik-baik saja? Apa terasa sakit lagi ?” Tanya Aditya masih terlihat begitu khawatir.


Aku menggelengkan kepala ku.


“Tadi cuma sakit sebentar,sekarang udah baik-baik aja” ujar ku dengan begitu meyakinkan.


Dia menatap ku tak percaya.


“Tidak ada yang boleh melukai mu sedikit saja,jika sampai aku tahu ada yang membuat luka sedikit saja di tubuh mu aku akan mencari nya dan memberi mereka pelajaran” ujar Aditya begitu bersungguh-sungguh.


Aku semakin takut dan cemas jika Aditya tahu ada orang lain yang sudah mengganggu fikiran ku sampai saat ini,apa yang akan Aditya lakukan.


Pesawat mulai Take off. Aku dan Aditya mulai merasa lelah karena kurang nya istirahat kami,tidak sadar aku dan Aditya mulai tertidur di kursi kami. Beberapa menit kemudian aku mengerjapkan mataku,melihat sekitar ku. Pesawat masih terbang,dan aku tidak tahu berapa lama lagi kita mendarat. Aku sudah menahan rasa ingin buang air kecil ku dari sebelum aku tertidur,dan aku sudah tidak bisa lagi menahan nya.


Aku berdiri dan langsung menuju toilet yang ada di belakang kabin pesawat. Aku berjalan melewati para penumpang yang tengah duduk di kursi mereka masing-masing. Ada yang tertidur,ada yang membaca,ada juga yang menonton film di layar kursi yang ada di hadapan mereka,dan ada juga yang memperhatikan ku. Hampir saja aku sampai ke toilet belakang,seorang penumpang di bagian paling belakang memegang tangan ku.


Aku terkejut begitu tersentak dengan tangan seseorang yang menghentikan langkah ku dengan berani nya.


Danu. Aku hampir lupa jika dia juga ada di pesawat yang sama dengan ku.


“Bagaimana kaki mu?” Tanya Danu melirik kaki ku dengan wajah nya yang begitu dingin.


“Kaki ku baik-baik saja. Bisa lepaskan tangan ku?” Jawab ku dengan ketus dan sedikit berbisik takut jika ada orang lain yang memperhatikan kami.


Namun sepertinya penumpang di samping Danu tengah tertidur dan di samping lain nya sedang sibuk membaca dan menonton.


“Kaki mu terasa sakit lagi?” Tanya nya seolah dia juga merasa khawatir.


Aku melepaskan genggaman nya sekencang mungkin.


“Tidak perlu mengkhawatirkan ku,karena sudah ada yang menjaga ku” sinis ku kepadanya lalu aku meninggalkan nya dengan perasaan yang begitu kesal.


Bisa-bisa nya dia berani memegang tangan ku di depan umum seperti itu. Bagaimana jika ada orang lain yang melihat nya dan malah menilai ku sebagai wanita yang tidak baik. Aku semakin cemas dengan Danu,dan apalagi dia berada satu Apartemen dengan ku. Walaupun aku tidak tahu dia berada di lantai yang mana dan kamar no berapa,namun tetap saja aku takut jika suatu saat bertemu dengan nya di Apartemen.


2 jam telah berlalu. Pesawat sudah mendarat di Bandara Jakarta. Aditya menyeret koper yang berisi baju-baju kami dan menaruh tas besar ku di atas koper nya.


“Supir kamu sudah di hubungi?” Tanya ku kepada Aditya.


“Sudah,aku minta dia menjemput ku 2 jam lagi tadi sebelum kita landing”


Lalu aku menatap jam ku.


“Tapi ini belum 2 jam, kita masih harus nunggu” ujar ku.


“Kita tunggu di Cafe disana ya” ajak Aditya menunjuk ke arah kiri kami.


“Baiklah” lalu aku mengikuti langkah Aditya,dan tiba-tiba seorang pria muncul dari depan kami.


“Hay” sapa Danu dengan berseri seri melihat ku dan Aditya. Dia juga tampak menyeret koper nya.


“Baru pulang juga ?” Tanya Aditya begitu terkejut melihat Danu.


“Iya aku baru landing” ujar nya.


“Kita berada di satu pesawat yang sama kalau begitu” ujar Aditya.


“O ya” seru Danu begitu meyakinkan jika dia terkejut.


“Lalu sekarang kalian pulang?” Tanya Danu.


“Ya kami berdua menunggu supir kami datang,kamimau menunggu dia di Caffe” ujar Aditya menunjuk Caffe yang akan kami kunjungi. Dan aku masih saja terus diam enggan untuk menatap Danu.


“Kalau begitu ikut saja dengan ku. Aku membawa mobil dan di parkir disini,kita menuju Apartemen yang sama kan?” Ujar Danu menawarkan diri.


Aku langsung shock dan menatap Aditya dengan panik.


“Oh tidak tidak. Tidak perlu,terimakasih ,supir kami sudah di jalan kan?” Ujar ku berusaha menolak tawaran nya dan menatap Aditya untuk berusaha memaksanya agar tidak menerima tawaran Danu.


Aditya memeriksa ponsel nya,dan dia melihat pesan dari supir nya.


“Dia baru berangkat dari Apartemen” ujar Aditya.


“Ya sudah kita bisa pulang sama-sama” ujar Danu.


“Baiklah”


Aku langsung memasang wajah begitu kesal menatap Danu. Andai saja Aditya tahu bagaimana sikap Danu selama ini,dia pasti tidak ingin menerima ajakan nya.