Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Ke khawatiran sebenarnya



Keesokan nya aku mengabari teman-teman ku jika aku sudah pulang dari Bali.


“Ya udah syukur deh kalo lo udah di Jakarta. Kapan lo ke kampus lagi? Selesein dulu kuliah lo napa Dheb” omel Sienna ketika aku menelepon nya di ruang tengah Apartemen Aditya.


“Iya gue bakalan ke kampus lagi senin depan” ucap ku dengan memakan cemilan di dalam toples yang aku taruh di lahunan ku.


“Hah? Serius lo?” Tanya Sienna tak percaya.


“Aditya ngebolehin lo buat kuliah lagi?”


“Dia ga pernah larang gue kali Syen”


“Iya tapi kan dia suka kaya hantu tiba-tiba muncul di kampus dan membuat gaduh seluruh kampus”


ledek Sienna mengingatkan masa-masa dulu ketika Aditya masih saja selalu mencari ku ke kampus dan menjadi pusat perhatian seluruh siswa disana.


“Haha sampai sekarang juga kaya nya dia masih bakalan bikin gaduh di kampus. Apalagi dia udah makin protective aja sama gue” mengingat kejadian Jimmy kemarin yang hampir saja berbuat ulah di sini.


“Iya sih. Ya udah deh,yang penting lo balik lagi ke kampus dan ketemu kita lagi”


“Dan ada satu hal lagi yang buat gue harus cepet-cepet selesein kuliah gue?” Ujar ku.


“Apa?” Tanya Sienna penasaran.


“Gue udah di lamar Aditya”ucap ku dengan perlahan dan begitu bahagia.


“What!!!” Teriak Sienna di sebrang telepon.


“Serius lo?” Tanya dia tak percaya.


“Iya”


“Dan lo pasti jawab iya dong”


“Ya iyalah Syen gue bahagia banget” ucap ku dengan melihat cincin yang begitu indah melingkar di jari ku.


“Wah gila sih parah lo Dheb. Wah ini anak-anak harus tau tentang ini,kita harus bridal to shower dulu nih”


“Yeee ya gue juga ga tau kapan rencana nya. Yang pasti sekarang gue harus selesein dulu kuliah gue Syen”


“Ya udah cepet-cepet lo selesein kuliah lo deh,kita bakalan siap bantu lo,gue juga rela kok ngerjain semua skripsi lo,bahkan gue bisa sogok tuh para dosen biar lulusin lo” semangat Sienna yang begitu menggebu gebu.


“Hahaha thank you Syen. Nanti kita ketemu ya buat ceritain ini”


“Oke kalo gitu gue tunggu kabar dari lo awas ya”


“Iyaaaa. Ya udah gue mau telepon nyokap bokap gue dulu ya, gue juga belom ngabarin mereka tentang ini” ucap ku.


“Oke bye Dheb. I’m happy for you” ucao nya membuat ku terharu.


“Thank you Syen. Bye”


“Bye”


Lalu aku menutup telepon nya. Aku menatap layar ponsel ku merangkai kata-kata sebelum aku berbicara dengan orang tua ku.


Lalu dengan segenap keberanian yang aku miliki aku langsung menelepon Mama.


“Hay Ma”


“Hay sayang sudah pulang?”


“Sudah Ma,aku di Apartemen Aditya”


“Syukurlah kalau kamu sudah pulang Nak. Aditya bagaimana sehat?”


“Sehat Ma. Papa mana?”


“Papa masih di kantor sayang,ada apa?”


“Ma. Dhebi di lamar Aditya” ucap ku tanpa banyak berbasa basi lagi.


“Di lamar?” Tanya Mama seperti ragu tidak sebahagia ketika aku memberi tahu Sienna tentang ini.


“Iya”


“Kamu terima?”


“Iya. Aku juga mencintai Aditya Ma,aku ingin menjalin hubungan kami dengan lebih serius”


“Sekarang Aditya nya dimana?” Tanya Mama.


“Nak. Biar Papa saja yang memutuskan akan merestui kalian atau tidak. Karena Papa selalu berbicara jika dia ingin yang terbaik untuk kamu”


“Iya Ma. Aku tahu itu” ucap ku dengan kecewa.


“Kapan Mama bisa bertemu dia?”


“Secepatnya. Aku juga disini melanjutkan kuliah ku dulu Ma,aku tidak mau kuliah ku selama ini sia-sia”


“Bagus lah nak. Selesaikan dulu kuliah mu dan baru kamu memikirkan tentang rencana pernikahan mu”


“Iya Ma. Nanti aku hubungi Mama lagi ya”


“Iya sayang”


“Bye Ma”


“Bye Nak”


Lalu mama menutup telepon nya.


Kini aku merasa gelisah karena aku takut orang tua ku tidak menyukai Aditya karena banyak nya gosip yang beredar tentang nya. Papa dan Mama itu sama seperti ku,sangat tidak menyukai tentang gosip-gosip para artis di televisi. Mereka juga menganggap kehidupan artis bukan lah urusan mereka yang harus mereka fikirkan. Itu lah kenapa aku bisa bersikap seperti ini,karena kedua orang tua ku menurunkan sifat seperti itu kepadaku.


Aku menaruh handphone ku di atas meja. Dan menutup wajah ku dengan kedua tangan. Aku menenangkan diri ku. Aku harus bisa kuat seperti Aditya,aku juga harus percaya semua akan berjalan seperti apa yang di harapkan.


Aditya datang ke Apartemen dengan membawa belanjaan bahan makanan.


“Hay” sapa ku dengan manis.


“Hay” jawab nya dan menaruh semua belanjaan di atas meja.


Aku menghampiri nya dan menaruh kepala ku di bahu nya.


“Apa ini?” Tanya ku ketika melihat dia mengeluarkan banyak begitu sayuran di dalam kantung belanja.


“Aku merindukan kepiting saus padang mu hari ini” ucap nya.


Aku mengangkat kedua halis ku menatap nya.


“Sebegitu enak nya ya kepiting buatan ku sampai membuat kamu jatuh cinta dengan masakan ku?” Ledek ku dengan ikut mengeluarkan semua bahan makanan disana.


“Ya mungkin tidak yang terenak yang pernah ku rasakan. Tapi aku tidak akan pernah mau makan kepiting di luar sana jika bukan buatan mu”


Aku tersenyum mendengar ucapan nya dengan tangan terus mengeluarkan bahan makanan.


“Kamu sudah mengabari orang tua mu?” Tanya Aditya membuat ku terpatung sejenak lalu bersikap seolah baik-baik saja.


“Sudah. Aku sudah menelepon mereka”


“Lalu bagaimana?”


Aku memikirkan jawaban yang bagus untuk membuat Aditya senang.


“Mereka menyerahkan semua nya kepada ku” ucap ku dengan penuh keyakinan.


Aditya memegang lengan ku dan menghentikan aktifitas ku yang terus berbicara tanpa menoleh nya.


“Aku begitu mengenal kamu Dheb. Aku tahu semua tidak baik-baik saja. Apa yang di katakan orang tua mu?” Tanya Aditya dengan penasaran dan khawatir.


Aku menatap kedua mata nya dengan mengerutkan kening ku.


Lalu aku membuang wajah ku untuk menyembunyikan raut wajah gelisah ku.


“Sebenarnya ini tentang Papa. Sejak dulu dia selalu meminta ku untuk mencari yang terbaik. Aku sangat tahu bagaimana Papa. Dia ingin mengenal pasangan ku dulu sebelum akhirnya dia memutuskan akan menerima atau tidak nya pasangan hidup ku” ucap ku akhirnya mengatakan ke Khawatiran ku yang sebenarnya.


“Lalu kamu tidak percaya aku?”


“Aku percaya kamu Di. Yang aku tidak percaya itu Papa” ucap ku dengan kesal.


Aditya membalikan badan ku dan melingkarkan tangan nya di pinggang ku.


“Aku udah janji kan jika semua nya akan baik-baik saja. Aku akan berusaha meyakinkan kedua orang tua mu kalau aku adalah pilihan yang tepat untuk menjadi pasangan hidup mu. Aku tidak akan berhenti berjuang untuk itu. Jadi aku minta kamu jangan mematahkan semangat ku” pinta nya dengan tulus.


Aku menatap nya dengan menyesal karena masih saja meragukan kepercayaan nya.


Aku menganggukan kepala ku dengan tersenyum.


Aku akan terus percaya kepadamu Aditya.