
Aditya menjemput ku tepat waktu. Dan kami berdua kembali ke Apartemen kami.
Sesampainya di Apartement aku langsung merebahkan diriku di sofa.
“Mama kamu sudah ada telepon?” Tanya Aditya setelah dia menutup pintu Apartemen nya.
Aku mengkerutkan kening ku menatap nya.
“Telepon? Belum” jawab ku.
“Tadi Mama kamu telepon aku dia nanyain kamu. Aku bilang kamu kuliah,dan dia minta kamu pulang dulu untuk mengurus undangan kalian disini. Siapa saja yang mau di bawa ke Bali? Dan baju apa yang harus mereka pakai?”
“Kapan?” Tanya ku.
“Ya kamu libur kuliah kapan?” Tanya balik Aditya.
“Besok” jawab ku.
“Ya sudah. Besok kita ke Bandung dulu”
“Baiklah” jawab ku dengan kembali terbaring di sofa.
Aku masih memikirkan Danu. Bagaimana jika dia masih mengganggu ku sampai aku menikah nanti. Apa yang harus aku lakukan jika akhirnya Aditya tahu jika Danu sudah mengusik ku dan dia marah karena aku tidak pernah menceritakan tentang itu. Aku begitu frustasi memikirkan itu.
“Kamu kenapa?” Tanya Aditya yang duduk di samping ku.
Aku membenarkan duduk ku dan mulai berbicara kepada nya. Namun aku masih takut menceritakan tentang Danu.
“Di. Sepertinya aku mau pindah ke Bali,kamu kan harus meneruskan bisnis kakek dan kamu pasti harus selalu siap ada di sana kan jika di perlukan?” Ucap ku berusaha meyakinkan nya, padahal alasan sebenanrnya adalah Danu yang sudah berhasil membuat ku tidak nyaman disini.
Aditya menyentuh pipi ku dengan lembut dengan raut wajah nya yang dingin menatap ku.
“Ini benar kemauan kamu? Atau ada alasan lain?” Tanya Aditya membuat ku tersentak mengingat Danu.
“Ini kemauan ku” jawab ku begitu serius.
Lalu Aditya tersenyum manis menatap ku lalu dia mencium bibir ku dengan lembut.
Aku terlalu mencintai nya,dan aku tidak mau ada orang lain lagi yang menghancurkan hubungan kami. Aku harus bisa menghindari semua masalah itu,aku tidak ingin lagi menghadapi nya.
Esok pagi buta aku bersiap untuk berlari di sky garden Apartemen ini. Aku memakai tank top hitam dan di balut dengan sweater merah,lalu memakai celana pendek untuk membuat leluasa gerak lari ku,aku juga menguncir rambut ku agar tidak menghalangi pandangan ku untuk berolah raga. Aku menatap Aditya yang masih tertidur pulas di tempat tidur nya dan keluar dari Apartemen secara perlahan.
Aku segera pergi ke sky garden untuk berolah raga. Masih gelap di taman sana dan masih tampak sepi mungkin hanya ada beberapa orang saja yang mau berolah raga di pagi hari buta seperti ini dan ini yang aku mau, berolah raga tanpa banyak nya makhluk hidup yang berkeliaran di luar sana.
Aku segera berlari mengelilingi track jogging yang ada di sekeliling sky garden itu. Sesekali aku menatap pemandangan lampu kota di sekeliling ku. Aku bisa berlari dan dengan menikmati pemandangan indah seperti ini. Melihat jalanan yang masih saja ramai,melihat bintang-bintang yang sudah mulai menghilang dan merasakan sejuk nya angin pagi itu menembus kulit ku.
Aku tersandung sesuatu di depan ku.
“Aww!” Teriak ku terduduk di track jogging yang terbuat dari tanah.
Aku melihat benda apa yang membuat ku jatuh. Ternyata ada batu besar yang menancap di samping track dan aku tak memperhatikan nya karena terlalu banyak melirik ke pemandangan di samping ku.
Aku memegang kaki ku disana dan melihat bekas luka yang masih saja terasa perih ketika terbentur seperti ini.
“Aw sakit banget sih” ujar ku meringis kesakitan sendiri.
Tiba-tiba seseorang berjongkok di hadapan ku,dia meletakan lutut kiri nya di tanah dan menyangga satu tangan nya di lutut sebelah kanan nya. Dia menatap ku dengan wajah yang begitu datar.
Danu. Dia memakai pakaian olah raga bercelana panjang dan berbaju pendek dengan resleting di depan nya. Rambut nya di ikat ke belakang dan dia terlihat sudah bagitu berkeringat di dahi nya.
Aku mengkerutkan kening melihat nya yang lagi-lagi ada di hadapan ku.
“Sini aku lihat” Danu berusaha memegang kaki ku.
“Jangan!” Seru ku menahan tangan nya.
“Aku baik-baik saja. Kamu bisa pergi?” Pinta ku dengan sinis.
Dia terlihat menghela nafas nya untuk menahan diri.
“Aku hanya mau menolong”
“Tidak perlu! Aku bisa sendiri” ujar ku berusaha berdiri walaupun masih terasa begitu sakit.
Danu tidak menyentuh ku sama sekali dan dia ikut berdiri diam di hadapan ku.
“Kenapa kamu selalu muncul di hadapan aku?” Tanya ku begitu kesal menatap nya.
Danu memasukan kedua tangan ke dalam saku celana nya dengan begitu keren nya.
“Kamu fikir aku tahu kamu juga jogging di pagi hari buta seperti ini?” Tanya nya membuat ku diam tak bisa menjawab.
“Aku juga tidak pernah meminta untuk selalu bertemu kamu ingat ?” lanjut nya.
“Tapi kamu bisa kan berpura-pura untuk tidak memperdulikan aku?” Pinta ku dengan ketus.
“Tidak” jawab nya dengan singkat dan jelas.
Aku tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi orang keras kepala seperti ini.
“Danu dengar. Aku sudah cukup lelah menghadapi hujatan semua orang di sekitar ku karena gosip miring yang tidak benar tentang aku. Dan aku tidak mau kembali mendapat hujatan itu hanya karena ada orang yang salah paham melihat ku dan kamu selalu bertemu seperti ini” ucap ku mencoba memberikan dia pengertian.
“Aku tahu. Tapi aku juga tidak bisa menahan diriku untuk selalu mendekati kamu jika melihat kamu ada di sekitar ku” ucap Danu dengan wajah dingin nya.
Dia melangkah kan kaki nya begitu dekat berdiri di hadapan ku. Membuat ku harus menengadahkan sedikit kepala ku untuk menatap mata nya dengan sinis.
“Aku menyukai mu Dhebi. Bahkan semakin kamu mengabaikan ku,membuat aku semakin menyukai mu” ucap nya begitu bersungguh-sungguh membuat ku semakin cemas.
Aku menatap nya dengan tajam dan dengan raut wajah emosi lalu hendak pergi meninggalkan nya. Danu menarik tangan ku dan mendekap ku dalam pelukan nya. Aku menghalangi tubuh ku dengan menekukan kedua tangan ku berusaha melepaskan diriku.
“Kamu terlalu unik untuk di abaikan. Bahkan seorang Aditya saja tidak akan pernah rela untuk melepaskan kamu” ujar Danu.
“Dan jika dia tahu kamu sudah berani bersikap seperti ini kepadaku dia tidak akan pernah membiarkan kamu untuk kabur” ucap ku berusaha menakuti nya.
Danu tersenyum sinis mendengarkan ucapan ku.
“Aku tidak akan pernah kabur. Bahkan aku rela bersaing jika dia mau” ucap Danu dengan begitu bersungguh-sungguh.
Dia masih memeluk ku dengan erat. Kejadian seperti ini pun pernah aku alami bersama Aditya ketika di pantai. Aditya hendak mengungkapkan perasaan nya kepada ku dan dia mencium bibir ku dengan lembut. Dan sekarang aku tersadar Danu sudah mendekatkan wajah nya di hadapan ku.
Aku mendorong tubuh Danu dengan sekuat tenaga ku sebelum dia berhasil mengusik fikiran ku dan berusaha menghipnotis ku untuk mau berciuman dengan nya.
“Dengar Danu. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau menerima kamu di dalam kehidupan ku,aku tidak akan pernah mengkhianati Aditya. Dan aku minta kamu menjauh sejauh mungkin dari hadapan ku,karena mulai sekarang aku akan berpura-pura untuk tidak pernah mengenal kamu selama hidup ku mengerti!” Ujar ku dengan sinis dan terus menunjuk nya.
Lalu aku segera pergi dari sana dan meninggalkan Danu yang masih terpatung di tempat nya menatap ku.