
Aku mengerjapkan mataku,berusaha bangun dari tidur ku. Aku merasa posisi tidur ku tidak seperti biasanya.
Aku membuka mataku,dan begitu terkejut nya aku ketika melihat sosok Aditya di hadapan ku. Nyawaku seketika langsung terkumpul dan melihat sekelilingku mengingat dengan apa yang terjadi semalam. Aku tertidur saat aku menonton film dengan Aditya. Namun dia tidak membangunkan ku, dia malah membiarkan dirinya menjadi sandaran untuk ku tertidur.
Aku bangun dengan perlahan dari sofa,berusaha tak membangunkan nya. Lalu pergi ke kamar mandi yang ada di sampiing ruang laundry.
Aku menyiapkan sarapan roti untuk Aditya dan untuk ku. Sampai saat ini bahkan aku tidak tahu makanan kesukaan nya atau yang tidak di suka nya apa. Yang aku tahu hanyalah dia yang mulai menyukai kepiting dan tidakmau ada orang yang tahu, namun tidak mungkin kan aku menyedikan sarapan kepiting untuk nya di pagi seperti ini.
Aditya terbangun mendengar suara gaduh ku di dapur. Padahal aku sudah berhati-hati untuk tak menimbulkan suara yang besar yang bisa membangunkan dia. Namun sepertinya percuma, karena di dalam Apartement Aditya itu begitu sunyi dan bergema.
Dia membalikan kepala nya melihat suara apa yang telah membangunkan nya.
“Sorry, berisik ya” ucap ku ambil tersenyum bodoh.
Mata Aditya masih terlihat berat untuk di buka.
Dia melihat jam di handphone nya dan membenarkan duduk nya berusaha menyadarkan diri.
Aku terus mengoleskan selai di atas roti yang baru saja aku panggang untuk sarapan kami.
Aditya bangun dan langsung duduk di hadapan ku. Dia terlihat tampan walaupun baru bangun tidur seperti ini, memang tidak salah jika banyak yang mengagumi ketampanan nya.
“Kamu mau kemana hari ini?”
“Hah? “ pertanyaan nya,mebuyarkan lamunan ku.
“Rencana nya aku mau pulang kerumah, tapi ada tugas kampus dulu. Aku ga tau, kalo sempet ya aku pulang, kalo ngga ya pulang nya nanti lagi”
“Rumah kamu dimana ?”
“Bandung”
Lucu sebenarnya. Kita ini sepasang kekasih, namun tentang keluarga dan asal usul pun kita tidak tahu satu sama lain.
“Sendirian?” Tanya nya lagi,sambil menyantap sarapan roti yang baru saja aku buat.
“Ya sendirian, pake mobil”
Di hanya menganggukan kepala nya.
“Terus, orang tua kamu dimana ?”
“Di Bali” jawab nya.
Aku bahkan baru tahu jika dia orang Bali.
“Aku ada meeting siang ini, aku mandi dulu, terus nanti anter kamu pulang ke kostan” aku menganggukan kepalaku,lalu dia pergi masuk ke kamar nya.
Apa kita akan terus seperti ini? Tak menyempatkan diri untuk mengenal satu sama lain, atau bertukar cerita tentang kehidupan kita masing-masing, agar kita bisa mengenal lebih jauh menjalani hubungan ini dengan benar. Namun seperti nya Aditya belum ada waktu untuk untuk itu. Sudahlah, let it flow.
Kita sampai di depan kost an ku yang begitu besar. Kostan ini terhitung sangat megah, dengan furniture kamar yang begitu lengkap seperti Apartement. Ada kitchen set mini di dalam kamar, ada space untuk menjadi ruang TV sekaligus ruang tamu,ada 1 kamar untuk privacy ku,ada kamar mandi, bahkan di belakang nya ada ruangan kecil untuk mencuci pakaian. Bahkan ada basemant kecil di bawah kostan ku,karena hampir seluruh penghuni kost memiliki mobil pribadi.
“Aku masuk dulu ya” ucap ku sambil melepasan seatbelt ku.
“Kalo ada apa-apa kabari aku ya”
“Oke”
Aditya menarik kepalaku dan mencium lembut keningku. Dadaku bergetar hebat, dan sedikit terpaku melihat sikap nya yang manis ini.
Aku turun dari mobil nya sebelum wajah ku yang sudah memerah terlihat oleh nya. Aku melambaikan tangan kepadanya sebelum akhirnya Aditya pergi dari hadapan ku.
Aku berjalan masuk ke dalam kostan ku. Dan terkejut nya aku melihat Sienna yang sudah duduk di kursi ruang utama memperhatikan aku dengan senyum nya yang aneh dan terlihat centil sekali. Ruang utama itu berada di tengah-tengah kostan, gunanya untuk menjadi ruang tunggu atau pun ruang santai di dalam kostan.
“Sienna”
“Hay Dheb..” centil nya yang sudah terasa sekali jika dia akan banyak mengintrogasi ku.
“Lo ngapain pagi-pagi gini dah nongol di kostan gue?”
“Loh gue kan mau ketemu aja sama sahabat gue yang manis ini” ucap Sienna dengan centil.
Aku merenyitkan dahi ku mendengar alasan nya yang aneh.
“By the way, lo abis dari mana pagi-pagi gini udah keluyuran” sindir nya.
“Oh olahraga, tapi kok pakaian nya masih yang kemarin” ledek nya, begitu memperhatikan ku se detail itu.
“Gue males banyak cucian” sinis ku.
“Udah ah gue mau ke kamar , mau ikut gue atau mau diem disini”
“Ya ikut dong” Sienna masih saja terlihat centil dan terus saja tersenyum aneh.
Aku tahu persis tujuan dia menghampiri ku ke kostan untuk apa. Dia pasti ingin membahas masalah kemarin tentang Aditya. Aku sudah tidak bisa mengelak lagi kepadanya, aku pun sudah berjanji akan menjelaskan segalanya kepada Sienna, namun begitu tak sabar nya dia sampai harus menghampiriku ke kostan.
“Lo mau minum apa? Ambil aja sendiri ya, gue mandi dulu” ucapku ketika sampai di kamar ku.
Sienna langsung duduk di Bean Bag atau sofa empuk yang besar berbentuk bulat, yang berisikan styrofoam di tengah ruanganku. Biasanya sofa itu di pakai aku untuk bersantai sambil memainkan ponsel.
Selesai mandi handphone ku berdering di atas meja tv.
Aditya. Sienna melirik ku dan langsung menghampiriku.
“Hallo” sapaku begitu mengangkat telepon nya.
“Hallo, kamu udah sampe kampus?”
“Baru aja aku selesai mandi,kenapa?”
“Nanti malem kalo jadi ke Bandung, kabari aku ya”
“Oke”
Lalu dia menutup telepon nya.
“Apa katanya?” Tanya Sienna.
“Nanya doang gue jadi ke Bandung apa ngga tar malem” jawab ku sambil mengusap rambut basah ku dengan handuk.
Aku duduk di hadapan Sienna dengan malasnya. Sienna langsung duduk dengan tegap dan memegang lenganku.
“Sekarang lo ceritain semua nya sama gue, jangan ada yang di tutup-tutupin dan jangan berusaha buat bohongin gue lagi” ancam nya dengan serius.
Aku menghela nafasku, sebelum akhirnya aku menceritakan se detail-detail nya kepada Sienna. Aku yakin ini adalah saat yang tepat untuk ku ceritakan semua kepada Sienna, karena jujur, aku pun butuh seseorang untuk memandu ku, dan memberikan saran untuk segala kegundahan yang sedang aku rasakan.
Sienna adalah orang kedua yang tahu tentang hubungan ku dan Aditya,aku berharap dia bisa seperti Glenn,membungkam mulut nya untuk tidak menceritakan kepada siapapun tentang hubungan ku dengan Aditya. Aku memberikan sedikit pengertian kepada nya,tentang masalah Aditya dengan project film nya yang mengharuskan dia harus tetap terlihat bersama dengan Catelin,dan kalau sampai publik tau dengan hubungan ku dan Aditya,itu bisa menghancurkan project film nya,aku harap hal itu bisa membuat Sienna berfikir dua kali untuk menceritakan rahasia ku kepada siapapun itu.
“Tapi loe ga keberatan?” Tanya Sienna.
“Ya gue ga bisa keberatan lah Syen, loe fikir gue bisa apa ? minta Aditya buat jauhin Catelin?”
“Ya maksud gue, loe ga risih?”
“Gue mana bisa risih”
“Loe yakin loe kuat jalani hubungan kaya gini sama Aditya?”
“Maksud nya?”
“Ya loe harus mikirin,sampai kapan lo di sembunyiin terus sama Aditya? Sementara dia di gosipin sama cewe sana sini”
Aku diam mencerna pertanyaan nya.
“Ya sampai project film nya sukses dan selesai mungkin”
Aku saja tidak yakin dengan jawaban ku,tapi apa boleh buat,semua sudah terjadi dan aku hanya bisa menunggu sampai kapan Aditya akan menyembunyikanku.
Sienna menarik nafas nya dan menatap ku dengan pilu.
“Dheb, gue yakin banget sih lo bakalan kuat, tapi kalo seandainya ada masalah, lo bisa cerita sama gue ya” ucap Sienna.
“Gue cuma minta temen-temen jangan dulu sampe tau tentang ini ya Syen”
“Iyaa tenang aja, gue bisa tutup mulut kok”
Aku tersenyum mendengarnya dan memeluk manis teman terbaik ku ini.
Akhirnya aku memiliki teman untuk berbagi kisahku.