
Aku kembali turun ke Cafe menemui teman-teman ku dengan perasaan yang masih tak percaya.
“Dhebii..” mereka menyambutku dengan panik.
Mereka langsung memberikan tempat duduk untuk ku.
“Gimana gimana?” Tanya mereka dengan tidak sabar.
“Ternyata mereka benar sekongkol” ucap ku dengan cemberut.
“Hah serius lo!” Kaget Sisil.
“Kita pindah yuk cerita nya jangan disini keburu mereka turun, gue males ketemu mereka yoo” ucap ku dengan bergegas membereskan barang-barang ku kembali.
Lalu kami semua pergi dari Cafe itu.
Malam harinya aku menginap di kosan Sienna. Di dekat kampus di komplek kos kosan yang memang di khususkan untuk perantau jauh yang kuliah di kampusku.
Sebenarnya itu adalah rumah kecil kecil,bukan seperti kos-kosan pada umumnya yang seperti rumah susun atau satu rumah di huni berapa kamar. Tetapi kosan itu berbentuk rumah mini yang menyediakan 1 ruang tamu,satu kamar dan dapur saja,namun rumah mini itu berjejer begitu banyak di dalam komplek itu,dan satu kamar nya memiliki halaman untuk memarkirkan mobil atau motor di luar.
Aku mengganti pakaian ku dengan baju tidur dan duduk di ruang tamu untuk menelepon Andre mengabari dia jika aku sedang di Jakarta.
“Hallo”
“Hallo Dheb kamu dimana ? Aku ke Bandung besok pagi seperti nya, malam ini aku masih di luar kota”
“Ndre aku di Jakarta”
“Di Jakarta? Dimana?” Terdengar dia begitu terkejut.
“Aku di kosan Sienna,aku tinggalkan dulu Apartemen aku beberapa waktu”
“Ya udah besok aku kesana ya, kamu jangan kemana mana”
“Iya, aku ga bisa kemana mana kalo kaya gini”
“Kamu ga ketemu Aditya kan?”
Aku mengerutkan kening ku.
“Untuk apa aku ketemu Aditya?”
“Hah? Ngga aku cuma nanya aja” jawab nya dengan gelagapan.
“Ya udah besok kabarin aku kalo mau kesini ya”
“Iya Dheb aku bereskan dulu kerjaan aku”
“Oke ndre”
Aku memikirkan Andre yang terlalu mengkhawatirkan ku jika sampai aku bertemu dengan Aditya. Dan seperti nya aku tidak perlu bercerita kepadanya tentang aku mendengar percakapan Lucy dan Jimmy di hotel tadi.
Esok hari Andre kembali menelepon ku dan menanyakan alamat rumah Sienna. Aku memberikan alamat lengkap kepadanya agar dia mudah menemukan rumah kos Sienna.
Andre datang dengan mobil nya dan memarkirkan nya di depan kosan Sienna. Aku menyambut Andre di depan kos yang berbentuk rumah kecil ini.
Dia tampak begitu tampan dengan kemeja santai nya berwarna putih dan dengan celana jeans berwarna telur asin,juga tidak lupa kacamata hitam yang selalu di pakai nya ketika bepergian. Dia tidak kalah tampan dengan Aditya yang memiliki dagu lancip dan mata bulat nya yang tampak seperti orang Rusia. Begitulah aku memandang Andre.
“Masuk. Sienna lagi keluar dulu sebentar”
“Iya” lalu dia mengikuti ku masuk duduk di sofa ruang tamu Sienna.
“Mau minum apa?”
“Apa aja”
Aku membawakan dia minum air dingin karena di luar terasa panas sekali.
“Dheb, aku kaget banget liat kabar kamu di berita”
Aku kembali sedih mengingat itu.
“Aku khawatir banget sama kamu, aku takut kamu malah banyak di hujat sama orang di luar sana”
“Aku memang udah di hujat sama semua orang, hanya orang-orang yang percaya aku yang tidak ikut menghujat ku seperti itu. Sahabat-sahabat ku,orang tua ku dan kamu” aku menatap dia ketika aku mengatakan bahwa dia adalah salah satunya yang percaya denganku.
“Aku tau Dheb, tapi aku harap ini yang pertama kali dan terakhir untuk kamu membuat kesalahan ya” ucap Andre yang membuat ku mengerutkan kening menatap nya dengan heran.
“Kesalahan ? Kesalahan apa ?” Tanyaku tak percaya dia malah menyalahkan aku.
“Aku juga ga tau kalau Aditya dateng ke apartement aku waktu itu,dia sendiri yang dateng dan maksa untuk ketemu aku”
“Tapi kalo aja kamu ga tanggepin dia,dia ga mungkin dateng terus ke kamu”
“Dia lagi sakit kan kamu tau itu”
“Iya aku tahu, tapi kamu bisa kan biarin aja dia, banyak kok rumah sakit di Bandung, kenapa dia harus cari kamu?”
“Aku ga sejahat itu Ndre biarin dia yang lagi sakit dan dia hanya ingin aku yang merawatnya. Aku tau Aditya begitu tertekan dengan masalah yang dia alami, aku tau dia terpaksa bertunangan dengan Lucy”
“Siapa bilang?” Tanya Andre berusaha menyangkal dugaan ku.
“Dia sendiri yang cerita? Dheb jangan pernah percaya omongan dia. Aditya itu cuma berusaha buat bikin kamu iba, kamu itu terlalu polos untuk percaya dengan omongan orang lain” lanjut nya.
“Aditya ga pernah ngomong itu, aku sendiri yang melihat nya” ucap ku mengingat perbincangan Lucy dan Jimmy kemarin,yang memperlihatkan Lucy begitu terobsesi dengan Aditya.
“Melihat apa?”
“Melihat kegundahan yang di alami Aditya, dia tidak pernah mau menerima telepon dari Lucy selama di Apartemen,kemarin Lucy datang ke hotel pun Aditya tidak mau menemuinya,dia juga selalu mengeluh dengan pekerjaan nya. Dia memang tidak pernah cerita jika dia terpaksa melakukan semua itu, tapi aku bisa melihatnya”
“Dheb please, jangan hanya karena kamu melihat itu semua kamu jadi menilai seolah dia peduli lagi sama kamu”
“Ga cuma itu. Dia juga udah nolong aku waktu di hotel” ujar ku mengingat Jimmy yang hampir saja berbuat kurang ajar kepadaku.
“Kalo bukan karena Aditya, Jimmy pasti sudah berbuat kurang ajar di kamar hotel ku”
“Jimmy?” Tanya nya dengan raut wajah yang bingung.
“Iya Jimmy, dia ikut Roadshow saat itu, dan Jimmy sering sekali menggangguku bahkan dari dulu, dan puncak nya waktu malam terakhir di hotel,Jimmy mabuk berat dan dia datang ke kamar hotel ku berusaha masuk tapi aku menahan nya dan Aditya datang menolong aku”
“Jimmy berani macam-macam sama kamu?”
Aku menganggukan kepala ku dengan raut wajah yang kesal mengingatnya.
Wajah Andre berubah marah mendengar itu. Aku memeperhatikan wajah nya yang seperti memikirkan sesuatu.
“Kenapa?”
“ngga” ucap nya kembali tersenyum dengan terpaksa.
Andre menyembunyikan sesuatu,aku bisa merasakan nya.
Lalu Sienna datang dan bergabung dengan kami. Aku tak lagi membicarakan tentang Aditya di depan Sienna. Kami mengalihkan pembicaraan kami kepada hal lain.
Malam harinya aku masih bermalas malas an di ruang tamu Sienna dengan laptop di depan ku,menghilangkan jenuh dengan menonton film.
“Dheb lo yakin ga mau keluar?” Tanya Sienna.
“Gue gamau dulu keluar Syen,gue males di liat orang dengan aneh”
“Hah ga usah di fikirin lah tentang itu Dheb,katanya lo ga peduli,katanya lo mau biarin orang lain menilai lo sesuka hati mereka”
“Iya,tapi malem ini gue lagi cape dengerin ocehan mereka”
Sienna menyerah,dia tak lagi mengajak ku keluar.
Seseorang mengetuk pintu rumah Sienna.
Aku dan Sienna saling melempar pandang.
“Caca sama Sisil masih di kampus kan ?” Tanya ku memastikan.
Lalu Sienna menganggukan kepala. Dengan cepat aku dan Sienna berlari mendekati pintu dan mengintip lewat jendela siapa yang sudah bertamu sore hari ke kosan nya.
Itu seorang pria memakai baju biru tua lengan panjang yang di tarik sampai sikut dan bercelana longgar, kulit nya begitu putih pucat dan wajah nya yang tampan namun dingin tengah berdiri menunggu pintu di buka.
Aditya.
Aku dan Sienna terkejut dan langsung membuka pintu.
“Aditya?”
“Kenapa disini?” Tanya nya membuat ku heran.
“Harusnya aku yang tanya kamu kenapa disini?”
“Aku cari kamu”
“Terus tau dari mana aku disini?”
“Dari kampus kamu”
Mataku membulat mendengar nya.
“Kamu ke kampus?!”
“Iya”
“Mau apa?”
“Mencarimu”
Aku menghembuskan nafas begitu berat melihat sikap nya yang masih saja menyebalkan.