Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Baju adat nikah di sumba



Keesokan nya, kami semua mengunjungi penduduk desa untuk berfhoto dan mempelajari segala sesuatu adat istiadat dari Sumba untuk mengakhiri perjalanan kami disini. Kita ke tempat yang Glenn kunjungi kemarin.


“Deb” panggil Glenn sambil berjalan beriringan di sampingku.


“Hey mas”


“Ga kerasa udah hampir dua minggu kita disini ya, thank you buat semuanya” aku tersenyum mendengar nya.


“Kita yang harus nya bilang makasih mas, karena udah ngajak kita liburan gratis kaya gini”


“Kita udah ngerasa tepat banget ngajak kalian kesini kok deb”


“Oya?”


Glenn mengangguk.


“Kalian itu begitu ramah,baik,penjelasan pun dapat di mengerti,juga tempat tempat destinasi yang kalian tunjukanpun begitu menakjubkan. Kalian bisa berbangga hati kalo seandainya nanti film ini udah di buat dan kalian liat semua tempat tempat yang ada di film itu berkat kalian yang me rekomendasikan” aku mengangkat kedua halis ku mendengar ucapan Glenn.


“Oh gitu ya” aku mengangguk lalu kami pun tertawa.


“Sebenernya tanpa kita juga kalian bisa kok temuin tempat ini mas”


“Tapi gak akan bisa kita dapet momment ini seperti dengan kalian”


Aku begitu tersipu malu mendengarnya. Kami terus berjalan mengikuti langkah Caca di depan sana yang memandu kami ke arah rumah adat di dalam kediaman pedalaman Sumba.


Aku merasakan ada yang memperhatikan ku di belakang sana. Entah itu Aditya atau yang lain nya. Karena memang kedekatan ku dan Glenn sudah menjadi bahan omongan mereka. Namun aku berusaha untuk tak memperdulikan itu. Biarlah mereka bergosip seperti apa yang mereka inginkan,aku tidak peduli.


Lalu sampai lah kami di sebuah gubuk besar, dengan banyak anyaman di dalam nya dan ada begitu banyak kain-kain tenun yang begitu indah terjajar rapih di setiap sudut ruangan. Itu adalah salah satu rumah pembuatan baju adat khas Sumba. Disana lah tempat kami untuk mencoba menganyam dan mencoba memakai baju adat Sumba.


Aku menyisir satu demi satu ukiran tangan di antara kain kain tenun ini. Begitu indah dan rapih, aku bangga memiliki mereka di negara ku ini, aku selalu mencintai buatan buatan tangan khas negri ini, salah satu kearifan lokal yang begitu menakjubkan yang bisa aku banggakan.


“Deb sini” Caca menarik tangan ku ke sebuah ruangan kecil.


“Lo coba baju ini deh kayak nya keren banget kalo lo yang pake”


“Manaa?” Tanya ku.


“Syen coba baju tadi kasih ke Dhebi deh”


Sienna mengambil salah satu baju yang tersimpan rapih di meja.


Warna nya memang bagus berwarna biru langit,warna kesukaan ku. Dengan jahitan nya yang rapih,terbuat dari kain tenun dan corak yang begitu estetik. Caca memaksaku untuk memakai nya,dia melepaskan tas ku, dan langsung memasang kan selendang tenun itu di tubuhku,juga memakai kan kain lain nya yang di jadikan sebagai rok.


“Kayak nya gak gitu deh pake nya” ujar Sienna,dia lalu membenarkan pakaian adat ini di tubuh ku. Aku terdiam membiarkan mereka menjadikan ku bonekanya.


Dan setelah selesai, mereka menyeret ku ke depan kaca di sudut ruangan.


“Waaawww keren banget kan Deb”


Memang benar,begitu cantik dan anggun, lengan nya yang terbuka,juga dengan balutan warna nya yang berpadu dengan kulitku ku yang cerah dan corak yang indah dalam balutan kain tenun nya membuat baju adat ini begitu cocok dengan ku. Ini baju adat terbaik yang pernah aku lihat,karena ini lebih seperti baju penting untuk adat Sumba.


Aku terus mengaggumi diriku di dalam cermin.


“Loh kok baju kalian sama” seru Mas Dias saat melihat ku kedalam ruangan.


Aku dan semua teman ku saling lempar pandang, dengan bingung mencari pakaian siapa yang sama dengan ku.


Dan begitu terkejut saat ku liat di luar ruangan,Aditya sudah memakai baju adat sumba dengan warna dan corak yang sama dengan ku. Lengkap dengan pengikat kepala ,juga pedang di pinggang nya,dia terlihat gagah. Dia pun sama terkejut melihat ku dengan pakaian yang senada dengan nya. Aku memalingkan pandangan ku yang terlihat kikuk.


“Sinih coba fhoto dulu kalian” pinta Mas Dias.


“Ngga mas, ngga usah?” Tolak ku sambil menggelengkan kepala dengan takut.


“Ini gak buat di sebarin kok Deb,cuma buat disimpen aja kalo kalo nanti baju ini perlu di pakai untuk keperluan shooting”


“Kalo gitu, Mbak Catelin aja ya,aku lepas baju nya sekarang”


“Dhebii, ayo bentar aja, itu bajunya juga cocok banget di pake kamu biar ga lama lagi”


Aku diam, kebingungan. Namun semua orang memperhatikan ku dan Aditya. Begitu juga Catelin yang hanya berdiam diri di samping Aditya. Dia sangat terlihat tidak suka. Entah kepadaku atau entah karena aku memakai baju yang sama dengan Aditya.


“Ga apa apa fhoto doang yuk cepet” pinta Mas Dias dengan memaksa.


Punggung ku di dorong oleh teman teman ku mendekat ke samping Aditya. Bukan hanya Mas Dias yang siap memotret kami, tapi semua ponsel teman ku sudah sedia untuk mengabadikan moment ini.


Aku hanya memalingkan wajah risih,tidak berani menatap kamera. Aditya hanya diam saja tak berbicara.


“Ayo dong Deb,liat kamera satu jepretan aja udah selesai, udah gitu kamu boleh ganti pakaian lagi”


Aku berusaha untuk tersenyum kedepan kamera. Namun sulit, terlihat sekali senyumku begitu di paksakan.


Tiba-tiba Aditya membuat ku terkejut, tangan nya langsung melingkar di pinggang ku dan di tariknya untuk lebih melekat ketubuhnya,membuatku langsung menatap nya dengan wajah syok. Aditya menatapku tanpa ekspresi, wajah nya begitu dekat dengan ku sampai aku bisa merasakan kembali nafasnya. Tangan nya yang halus begitu terasa di pinggangku yang terbuka. Aku terpaku melihat ketampanan nya. Entah sejak kapan aku sudah mengagguminya seperti ini.


Kami saling berpandangan cukup lama sampai akhirnya terdengar suara Mas Dias.


“Sip okee,thank you”


Aditya melepaskan tangan nya dari pinggang ku. Lalu dia pergi begitu saja membiarkan ku terdiam dengan perasaan yang tak karuan.


Teman teman ku langsung menyerbuku,


“Uuuuu deb,mimpi apa lo di pegang pinggangnya sama Aditya” seru Caca dengan hiperbolis nya.


“Apaan sih lo biasa aja deh” ujarku sambil melepaskan semua kain kain yang menempel pada tubuhku ini dengan kesal.


“Pinggang lo yang mulus di pegang Aditya tadi loh Dheb, oh my god beruntung banget sih lo,tau gitu tadi gue aja yang pake baju itu”


“Duh berisik deh kalian, cuma gitu doang kok heboh” ketusku dengan begitu kesal.


“Ini juga kan gara-gara kalian yang maksa benget pakein gue pakaian ini”


“Eh Deb Deb, lo tau ga ternyata baju yang lo pake sama Aditya itu ,ternyata itu baju adat nikah di Sumba” Seru Sienna membuatku membulatkan mata lebar-lebar dan mulutku terbuka tak percaya.


“Hah baju adat nikah?” Teriak ku terkejut. Sienna hanya mengangguk dengan sederet gigi yang di tunjukan nya.


“Lo kok ga bilang!” kesal ku.


“Loh emang kenapa ? Kan cuma coba doang Deb gue juga ga tau kalo itu baju nikah,keliatan nya ya biasa aja kan ga kaya baju nikahan gitu”


Aku berdecak kesal,dan segera melepaskan semua kain kain ini.