Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Hadiah dari mertua



Aku dan Aditya di minta untuk segera menghampiri keluarga ku di hotel Nenek nya di Nusa Dua karena mereka harus segera pulang dari Bali begitu pun dengan ketiga teman ku yang bermalam di hotel Nenek Aditya mereka juga harus pulang karena masih banyak tugas yang harus di selesaikan.


“Tunggu disini,aku mau urus check out nya” ujar Aditya meminta ku menunggu di depan loby dan duduk disana.


Aku menghilangkan rasa jenuh ku dengan memainkan ponsel ku.


“Permisi Nyonya” ucap seorang pelayan pria yang membawakan buket bunga besar berwarna biru di tangan nya.


“Iya” sahut ku dengan menengadahkan kepala ku dengan bingung.


“Selamat ulang tahun ini untuk Nyonya Dhebi” ujar pelayan itu membuat ku begitu terharu dan terkejut.


“Untuk ku?” Tanya ku tak percaya.


“Iya” jawab dia dengan begitu sopan.


“Terimakasih banyak ya” ucap ku dengan menatap pelayan itu dengan haru.


Pelayan itu membungkukan tubuh nya dengan tersenyum dan pergi dari hadapan ku.


Aditya kembali dan melihat ku yang sedang memegang sebuah buket bunga besar berwarna biru laut.


“Dari siapa?” Tanya nya tiba-tiba dengan raut wajah yang datar.


“Dari pelayan Estate” ucap ku dengan begitu bahagia.


“Di berikan dari pihak sini?” Tanya Aditya dengan mengkerutkan kening nya.


“Iya” jawab ku dengan terus menatap buket bunga indah dan wangi ini.


Aditya tampak memikirkan sesuatu menatap buket bunga itu.


“Ada apa?” Tanya ku menatap nya dengan bingung.


“Pemilik Venue ini mencoba merebut kamu rupanya” celoteh Aditya membuat ku tertawa mendengar nya.


“Seperti nya iya,kamu harus berhati-hati” jawab ku menjawab lolucon nya.


Aditya tersenyum dan mengajak ku pergi dari sana. Aku menggandeng tangan Aditya dan memeluk buket bunga besar ini di tangan yang satu nya.


Aku dan Aditya segera pergi ke hotel Nenek nya yang berada di Nusa dua. Semua keluarga ku sudah bersiap untuk pulang diam di lobby hotel dengan masih berbincang dengan Papa dan Mama Aditya.


“Sayang Mama pulang dulu ya” ucap Mama memeluk ku dengan lembut.


“Iya Ma,Mama hati-hati ya”


Lalu aku memeluk Papa juga,aku sangat menyayangi mereka. Bahkan sampai Sekarang pun aku masih saja merasa jika aku adalah gadis kecil mereka.


“Selamat menjalani kehidupan baru sebagai seorang istri Nak. Papa ikut bahagia dengan kamu” ujar Papa kepadaku yang masih memeluk tubuh besar nya.


“Terimakasih sudah mendukung setiap keputusan ku Pa” ujar ku dengan haru.


Papa memegang kedua pipi ku lalu mencium kening ku dengan lembut dan begitu bangga.


Lalu Papa dan Mama ku berpamitan kepada kedua orang tua Aditya.


“Pak Christ saya pulang ya” ujar Papa menjabat tangan Papa Aditya.


“Baik Pak Jordy,kita bertemu nanti di Jogja ya” ujar Papa Aditya dengan membicarkan bisnis nya.


“Saya juga pulang ya Bu Jessy” ujar Papa menjabat tangan Mama Aditya.


Lalu Mama ku ikut menjabat tangan nya.


“Aditya Papa pulang dulu ya” ujar Papa menyentuh bahu Aditya. Lalu Aditya mencium punggung tangan Mama dan Papa ku dengan lembut.


“Hati-hati Pa,nanti kita akan segera kabari kalian jika kita sudah pulang” tentu.


“Pulang nanti kalian harus segera memberikan kabar baik untuk kami ya” pinta Mama menatap Aditya dengan tersenyum jahil nya.


Aku mengkerutkan kening ku menatap Mama lalu menatap Aditya dengan bingung. Aku tidak mengerti apa maksud Mama.


Mama Aditya lalu tertawa dan memukuk kecil bahu Aditya.


“Benar Nak,kami harap kamu segera memberi kami cucu dengan cepat ya” sambung Mama Aditya,dan baru lah aku mengerti apa maksud mereka.


Lalu mereka tertawa bersama dengan bahagia,semantara aku dan Aditya tertawa dengan kaku saling melempar pandang.


“Heuheu iya Ma” jawab ku dengan tertawa yang kikuk.


“Baiklah kita pulang dulu ya”


“Iya Ma silahkan”


“Hati-hati Bapak Jordy dan Bu Jessy” ucap Mama Aditya ketika keluarga ku sudah meninggalkan hotel.


“Iya baik bu terimakasih banyak untuk jamuan nya” jawab Mama dengan berteriak dan melambaikan tangan nya.


Aditya memeluk ku dengan satu tangan nya dan mengusap bahu ku.


“Baiklah. Papa masih ada hadiah pernikahan untuk kalian” ujar Papa Aditya setelah melihat seluruh keluarga ku keluar dari hotel.


“Apa Pa?” Tanya ku dengan penasaran. Namun Aditya terlihat biasa saja dan hanya tersenyum melihat ku


Seorang ajudan Papa mendekati Papa dan memberikan amplop coklat polos kepada ku.


“Apa ini?” Tanya ku menatap Aditya dan Papa nya.


“Buka saja” ujar Aditya yang seperti nya sudah tahu apa hadiah itu.


Ketika aku melihat isi nya,itu adalah 2 tiket pesawat dan tiket hotel di Sumba untuk esok lusa. Papa Aditya meminta kita untuk honey moon disana,di hotel yang aku lihat begitu besar.


“Tiket ke Sumba!” Teriak ku dengan mata terbelalak.


“Ya. Papa juga heran kenapa Aditya menolak tiket ke Jepang dan malah meminta untuk tiket ke Sumba untuk hadiah pernikahan kalian. Padahal Papa sudah menyiapkan hotel terbaik untuk kalian disana” ujar Papa dengan begitu heran. Lalu Mama Aditya menghampiri Papa dan menyenderkan tubuh nya di Papa Aditya dengan mengelus perut Papa Aditya dengan mesra.


“Pa,aku tidak pernah mau untuk berlibur ke luar negri sekali pun aku bisa kesana. Karena keindahan kita di Negri ini juga tidak kalah hebat nya dengan mereka di luar sana. Lagian aku ga bisa berbahasa Jepang Pa” ucap ku dengan lucu membuat mereka tertawa.


“Lihat kan? Aku sudah yakin Dhebi pasti menolak nya” ujar Mama Aditya yang seperti sudah menebak semua itu.


Papa Aditya mengelus punggung istri nya.


“Yaa,jika seperti ini Aditya pasti akan lebih hemat Ma,dia tidak akan lagi boros menghabiskan uang nya” ucap Papa Aditya meledek Aditya langsung di hadapan nya.


Aditya terlihat tersenyum dengan manis tanoa berkomentar.


“Memang Aditya boros?” Tanya ku mengingat apa dia pernah menghamburkan uang nya selama dengan ku.


“Aku berhenti membuang uang ku ketika aku mengenal kamu,aku yakin kamu pasti akan banyak memarahi ku jika aku banyak membeli suatu barang yang tidak aku perlukan” ujar Aditya menebak karakter ku.


“Bagus lah kalau kamu bisa menyadari itu” jawab ku dengan begitu bangga nya bisa menaklukan Aditya.


“Mama bangga kamu bisa menaklukan hati Aditya Dheb” ujar Mama menatap ku dengan haru.


Aku tersenyum manis menatap mereka berdua yang kini sudah menjadi mertua ku.