
“Lucy cantik sekali” ucap ku mengagumi kecantikan Lucy.
Ya hari ini adalah hari pernikahan Lucy dan Andre. Akhirnya setelah beberapa bulan menjalin hubungan mereka memutuskan untuk menikah karena dorongan dari ku dan dari Aditya. Selama ini mereka selalu mengatakan jika mereka selalu ingin memastikan jika keputusan mereka tepat untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius dan hari ini mereka sudah memutuskan untuk menikah.
Aku bahagia akhirnya melihat Andre di atas sana memakai jas pernikahan nya. Dan mereka berhadapan dengan penuh cinta dan tatapan mereka begitu sedih dan tak percaya. Aku tahu apa yang di rasakan mereka di sana,pasti mereka tidak pernah menyangka jika hari ini akan tiba,karena aku pernah merasakan nya juga.
Setelah resepsi di gelar Lucy dan Andre menghampiri kami semua di bawah dan aku memeluk Lucy dengan turut bahagia melihat nya.
“Lucyyyy” ucap ku dengan memeluk nya begitu erat.
“Dhebi” sapa nya dengan begitu bahagia.
“Thank you ya udah banyak berperan dalam hubungan ku dan Andre selama ini”ucap Lucy menatap ku begitu terharu.
“It’s Ok Lucy. Aku akan ikut bahagia kalau Andre pun bahagia” ucap ku melirik Andre di samping nya.
Aditya menyalami Andre dan Lucy.
“Selamat ya” ucap Aditya dengan singkat dan kembali melingarkan tangan di pinggang ku.
“Semoga bayi ku cepat memiliki teman” ledek Aditya dengan menyentuh perut ku.
“Ah tentu saja” ucap Andre dengan penuh semangat.
Aku senang dengan kehidupan ku yang sekarang. Aku merasa semua masalah sudah teratasi dan tidak ada lagi masalah yang menggangguku. Aku sudah tidak memiliki rahasia apapun yang aku sembunyikan kepada Aditya. Kami sudah benar-benar saling terbuka satu sama lain.
Ketika aku dan Aditya kembali ke apartemen seseorang menghampiri ku di dalam loby dan dia menyerahkan sebuah buket bunga kepada ku.
“Permisi Mbak Dhebi,ada kiriman bunga lagi” ujar pelayan apartemen yang sudah terbiasa mengirimkan sebuah paket kepada setiap penghuni apartemen nya.
“Terimakasih” jawab ku dengan manis dan mengambil alih buket bung aitu.
Bunga itu berwarna biru dan kiriman buket itu sudah tidak asing lagi untuk ku juga Aditya,aku sudah terbiasa dengan kiriman misterius nya bahkan Aditya pun sudah bisa menebak siapa yang mengirim nya.
“Makin kesini buket bunga nya semakin membesar” ledek Aditya melihat bunga yang kini ada di tangan ku.
Aku tertawa dengan ocehan nya.
Sesampainya di dalam apartemen handphone ku berdering dan aku tersenyum ketika melihat ketika melihat sebuah nama di layar ponsel ku. Aku tidak pernah menyangka jika orang ini akan membuat ku senang setiap kali dia menelepon ku.
“Hallo” sapa ku dengan tersenyum.
Aditya sudah tahu siapa yang menghubungi ku dan dia tidak memperdulikan itu.
“Hay” sapa Danu di sebrang sana.
“Kenapa kiriman bunga sekarang semakin membesar ?” Tanya ku mewakili pertanyaan Aditya.
“Agar kamu bisa menyimpan nya lebih lama sebelum aku mengirimkan bunga lain lagi” jawab Danu.
Aku tersenyum dengan ocehan nya.
“Bagaimana acara pernikahan Lucy dan Andre?” Tanya Danu yang sudah mengetahui acara pernikahan Andre dan Lucy.
“Berjalan dengan baik. Dan mereka mengucapkan terimakasih untuk hadiah yang kamu kirim”
“Bagaimana keadaan kamu?”
“Aku masih seperti ini. Terbaring lemah di dalam kamar rumah sakit dan masih menatap luar jendela ku” aku tertawa membayang kan dia disana yang pasti akan terasa bosan.
“Tapi kamu sudah mulai membaik kan?”
“Sepertinya sudah”
Lalu aku terdiam berharap jika dia akan benar-benar sehat. Karena sudah 3 bulan lamanya dia menjalani pengobatan disana dan dia sudah sadar setelah 2 minggu di rawat disana. Ketika dia sadar dia sudah lebih dulu mengabari ku dan mengucapkan banyak terimakasih karena sudah menyelamatkan nyawa nya sekali lagi.
“Kenapa?” Tanya Danu mendengar keheningan ku.
“Tidak. Hanya saja membayangkan bagaimana kamu disana tanpa ada orang yang bisa kamu ganggu seperti disini” ucap ku dengan penuh kebohongan. Karena sebenarnya aku sangat mengkhawatirkan nya disana dan berharap ida bisa cepat pulang.
“Tenang lah Dhebi. Aku akan pulang sebentar lagi,dan aku akan sehat. Aku akan menemui mu,dan berjanjilah jika Aditya tidak akan lagi menghajarku” ucap Danu dengan memberi peringatan kepada Aditya.
“Dia sudah tidak akan menghajar mu sekarang”
“Karena dia tahu aku sedang sakit kan? Jadi dia merasa kasihan” ucap Danu dengan begitu menyedihkan.
“Bukan. Karena dia tahu,kamu bukan orang jahat” jawab ku kini membuat nya terdiam.
“Cepat pulih dan cepat kembali”
“Baiklah” jawab nya.
“See you Dheb”
“See you Danu”
Aku menetup telepon nya dan menyimpan handphone di atas meja. Lalu Aditya keluar dari kamar dengan telah mengganti pakaian nya.
“Apa kata nya?” Tanya Aditya yang sudah mengetahui siapa yang sudah menghubungi ku.
“Dia bilang dia akan segera pulang dan kamu jangan sampai menghajar nya lagi” jawab ku mengutip apa yang di katakan Danu.
Lalu Aditya tertawa mendengar nya.
Aku menghampiri Aditya dan memeluk nya.
“Andai waktu bisa di putar,dan aku mengetahui semuanya lebih awal” ujar Aditya membuat ku menatap nya dengan begitu dalam.
“Tapi. Tuhan punya jalan sendiri untuk mempertemukan aku dan kamu di. Andai dulu yang mendapatkan aku adalah Danu,bagaimana dengan nasib mu? Aku tidak yakin ada wanita lain yang pengertian seperti ku” ucap ku dengan penuh percaya diri.
“Ya kamu benar. Pasti akan sulit sekali untuk aku mendapatkan wanita seperti kamu”
“Karena aku tidak ada dua nya,kan?” Ledek ku dengan kalimat yang sudah begitu banyak di dengar oleh telinga ku.
Lalu Aditya mencium ku dengan lembut dan aku melingkarkan tangan di leher nya.
Aku senang karena semua masalah akhirnya telah terpecahkan. Danu selalu menghubungi ku dan keadaan nya sudah semakin membaik walaupun masih dalam pemantauan dokter. Dia masih harus bersabar di sana dengan pengobatan yang khusus. Disini aku hanya terus menyemangati nya agar lebih semangat untuk sembuh dan memotivasi nya agar tidak menyerah untuk tetap hidup. Karena support adalah salah satu hal yang besar yang di butuhkan Danu sekarang,dan Aditya membiarkan Danu untuk selalu menghubungi ku jika itu membuatnya tenang. Dia sudah tidak lagi merasa cemburu atuapun risih terhadap sikap Danu yang kerap mengirimkan bunga dan menelepon ku setiap waktu. Malah Aditya selalu menanyakan bagaimana perkembangan Danu.
Aku bahagia karena semua sudah berjalan dengan baik. Dan aku tinggal menunggu lahir nya anak ini agar semua menjadi tambah behagia dan juga tenang. Dan kebahagiaan ku kini telah sempurna.