
Kami memutuskan untuk berisitirahat di salah satu Resort yang berada di dekat desa sana,karena Resort ini akan menjadi salah satu titik inti di dalam film tersebut katanya,Resort megah ini akan menjadi salah satu tempat utama untuk kebutuhan film yang akan di buat,jadi kami akan merasakan Resort ini untuk satu malam.
Aku dan ketiga teman ku mendapatkan satu kamar yang begitu luas dalam satu ruangan, dan sudah ada 2 tempat tidur di dalam kamar itu. Begitu mewah dan nyaman.
Resort ini sudah pasti berbeda dengan kamar hotel kami yang berada di atas air laut itu,namun pemandangan yang kami saksikan sama saja yaitu pemandangan laut kepas,karena Resort ini berada di pesisir laut. Dan beda nya adalah Resort ini lengkap dengan fasilitas-fasilitas dalam satu gedung. Seperti tempat bersantai outdoor yang privacy menghadap pantai,tempat makan pribadi tepat di luar kamar, kolam renang yang berada di samping pantai berada di lantai bawah, juga tersedia tempat gym di lantai paling atas.
Ku nikmati malam pertama ku di Resort ini, dengan menyapa angin malam di luar kamarku. Bersandar di pagar pembatas dan menutup mataku membiarkan angin laut menyapu wajahku.
“Adit”
Aku mendengar seorang wanita di samping kamarku.
Itu Catelin,dia menghampiri Aditya yang baru saja keluar dari kamarnya yang berada tepat di samping kamarku.
Catelin melingkarkan tangan nya di leher Aditya begitu mesranya mereka.
“Besok jadi ke club kan ?” Tanya nya dengan menggoda Aditya. Dia begitu agresif, lagi-lagi membuatku tak nyaman.
Aku pura pura untuk tak memperhatikan mereka dengan memalingkan wajahku.
“Jadi” jawab Aditya dengan singkat.
“Terus malem ini?” Tanya nya lagi.
Malem ini? Apa yang akan mereka lakukan malam ini? Akan kemana mereka? Mereka sungguh membuatku geram dan kesal. Tidak ingin lagi aku mendengarkan percakapan mereka yang membuatku gerah ,aku lebih memilih pergi meninggalkan mereka berdua. Aku turun kebawah Resort dan mulai berjalan di pesisir pantai yang selalu membuatku tenang.
Semua teman teman ku sedang pergi keluar, mereka berbelanja ke pasar tradisional untuk membeli oleh oleh untuk di bawa pulang. Karena kesempatan kami disini tinggal beberapa hari lagi dan mereka tidak ingin pulang ke rumah tanpa membawa oleh oleh. Tentu aku tidak ingin ikut,dan hanya ingin diam disini menikmati Resort mewah ini,karena tidak ada orang yang akan aku berikan oleh-oleh termasuk keluargaku. Aku tidak biasa melakukan itu.
Ku mendengar suara langkah seseorang di belakang ku,langkah itu semakin dekat lalu berjalan di sampingku.
“Ngapain disini?” Tanyaku dengan ketus begitu melihat sosok Aditya di sampingku.
“Aku butuh jalan jalan” jawab nya dengan dingin.
“Ga bisa jalan jalan di tempat lain ?” Ketusku terlihat kesal namun tak di gubrisnya.
“Aku gamau ya sampe ada orang lain yang liat kamu disini, terus mereka mikir yang ngga ngga” sambungku.
“Maksud kamu Glenn ?” Tanya nya.
“Bukan” ucapku dengan menatap nya kesal.
“Catelin” ada yang aneh ketika aku menyebutkan mama Catelin.
Dia tersenyum terlihat senang,sambil menggelengkan kepalanya.
“Kamu cemburu dengan Catelin?” Aku langsung mengerutkan keningku mendengar omong kosong nya.
“Apa ? Cemburu? Untuk apa?” Tanyaku sambil memalingkan wajah ku,karena sepertinya wajahku bertolak belakang dengan ucapan ku.
“Karena dia cantik, seksi,putih,terkenal…”
“Aku ga pernah cemburu dengan fisik orang lain,atau siapapun status dia. Aku cinta diri aku apa adanya, aku ga pernah mau keliatan seperti orang lain,cukup jadi diri aku sendiri aku udah bahagia” ucapku berusaha meyakinkan nya bahwa semua yang aku katakan adalah benar.
Dia kembali tertawa, entah apa yang di tertawakan nya,ucapan ku? tingkah ku ? atau malah omong kosong ku? Karena memang sebenarnya aku merasa lemah di sandingkan dengan Catelin,padahal sebelum nya aku tidak pernah memperdulikan siapapun di sekitarku.
Tiba tiba seseorang mendekatiku,dia memakai pelampung dan dengan lembaran kertas di tangan nya.
“Kakak mau coba Parasailing Adventure?” Tanya nya sambil menyodorkan kertas yang di pegang nya.
(Parasailing Adventur ini adalah parasut yang besar yang menarik orang dalam jumlah lebih dari satu yang akan di tarik oleh Speed Boat dan akan merasa kita terbang di atas pantai.)
Aku membuka mulutku bahagia, karena sebelum nya aku pernah menemukan ini di Bali namun tidak sempat untuk mencobanya karena teman teman ku tidak ingin mencoba wahana extreme ini.
“Kak aku mau dong” seruku begitu senang.
“Mari kalian ikut saya” aku menahan langkah mas mas yang menyewakan Parasailing ini saat dia mengajak serta Aditya untuk mengikutinya.
“Kak,euh saya sendiri” ucapku karena aku tidak ingin mengajak Aditya untuk terbang bersamaku,aku ingin menikmatinya sendiri,lagian aku perhatikan sepertinya Aditya tidak tertarik dengan wahana ini.
“Maaf ka, Parasiling ini minimal harus berdua untuk bisa terbang”
Wajah ku berubah menjadi muram,aku menghela nafasku.
“Saya tidak tertarik” ucap nya dengan dingin sambil hendak pergi meninggalkan kami.
Aku menahan tangan nya. Aku memasang wajah manis ku kepadanya dan mendekati Aditya.
“Mas Adiii,masa ga mau cobain wahana ini sih? Ini seru loh mas” Aku berusaha menggoda nya dengan lemah lembut.
Dia melepaskan kacamata nya dengan kesal.
“Aku udah bilang jangan pernah panggil aku mas” ucapnya membuat penegasan.
“Okeee tapi mau ya naik wahana ini temenin aku ya? Please” ucapku memohon dengan membuat wajah gemas.
Dia tidak menjawab,wajah nya begitu jelas sedang berfikir menimbang sesuatu,dan akhirnya pergi dengan kesal mengikuti pria penyewa Parasiling ke tempat penyewaan. Aku pun bersorak pelan,dan mengikuti Aditya di belakang nya dengan riang gembira.
Begitu boats menarik parasutnya aku bersiap untuk terbang,dan dengan cepat kita berdua di hempaskan ke atas langit dengan parasut, aku berteriak begitu keras ketika kami merasa diri kami sudah terbang di atas awan.
“Gilaa keren banget” seruku sambil berteriak.
Aku merasa diriku terbang, semua pemandangan indah begitu jelas di atas sini, angin berhembus kencang,membuat kaki ku terhempas oleh angin kencang. Kami terus berpegangan kepada tali di pengaman di samping kami. Speed boats yang terus melaju kencang membawa kami ketengah laut.
Dan saat aku melihat Aditya,dia sama sekali tidak membuka matanya,dan terus berusaha tenang. Aku ingat sesuatu,aku takut dia di serang gangguan kecemasan disaat seperti ini,aku memegang lembut tangan nya.
“Di,gak apa apa, kamu buka mata kamu pelan pelan” ucap ku sedikit berteriak,karena hembusan angin membuat suaraku kabur.
Dia mengatur nafasnya secara perlahan, dia menggenggam tangan ku dengan erat,membuatku terkejut namun aku membiarkan nya. Jika dengan berpegangan seperti ini membuat dia merasa aman aku akan membiarkan nya.
Sedikit demi sedikit dia membuka matanya,lalu matanya terbuka lebar dengan senyuman yang lebar di bibirnya. Dia melihatku bahagia,akhirnya dia bisa melewati kecemasan nya. Dia terus tersenyum bahagia melihat pemandangan indah di sekitarnya. Aku mulai bingung dengan perasaan ku,kenapa aku merasa tenang melihat dia baik baik saja,dan kenapa aku bahagia melihat diapun bahagia seperti ini.
Speed boats terus di tarik berputar putar di tengah laut selama beberapa menit,lalu perlahan kami turun,kami mengikuti arahan dari penyewanya untuk melepaskan tali saat sampai di pantai. Kami membiarkan Parasiling mengambang di atas laut, dan kami menunggu Speed Boat menjemput kami di tengah tengah laut dengan terus mengapung di permukaan laut.
“Gila keren bangett” seru Aditya sambil berenang.
Ekspresi kebahagiaan nya terus terpancar di wajahnya membuat ku terhipnotis ikut tersenyum.
“Ini pertama kali juga buat kamu ?” Tanyaku
“Iyaa,aku takut ketinggian”
Ucapan nya membuat ku diam kebingungan dengan ucapan nya.
Dia takut ketinggian ?
Dan tidak lama speed boats kami datang dan kami langsung di tarik untuk naik kembali ke bibir pantai.
Aditya melihat wahana lain nya yang menarik perhatian nya. Rolling donut. Kami saling melempar pandang dan berusaha menyatukan fikiran kami, Aditya menarik tangan ku menuju wahana itu. Dan ya,kami jadi merasa hari itu adalah hari yang panjang untuk kami bersenang senang. Aku merasa bahagia sekali,dan merasa beruntung sekali bisa mencoba segala wahana yang ada disana bersama Aditya.
Wahana terakhir adalah flyboard aku membiarkan Aditya menikmati permainan itu sendiri sementara aku menunggunya di pinggir pantai. Flyboard ini adalah rocket air tersambung dengan sebuah alat berbentuk seperti jetski yang menyediakan daya dorong air di bawah kaki nya seperti iron man. Dia terlihat begitu mahir untuk seorang yang baru pertama kali mencobanya,dia menggunakan flyboard dengan begitu lancarnya. Aku terus tersenyum melihat dia yang begitu bahagia.
Dia selesai,dia berjalan mendekatiku dengan pakaian dan seluruh badang yang begitu basah.
“Udah puas?” Tanyaku saat Aditya menghampiriku.
“Udah cape” ucapnya sambil tertawa.
Kami berjalan kembali menuju Resort. Aku masih teringat sesuatu yang mengganggu fikiranku.
“Kamu katanya takut ketinggian,kok mau naik Parasailing?” Tanyaku.
“Tadinya aku gamau,tapi aku kasian sama kamu”
“Oooww kasian” ledek ku.
Dia hanya tersenyum.
“Kok bisa takut ketinggian?” Tanyaku lagi,Aditya memandangku menahan jawaban nya.
“Gangguan kecemasan aku banyak muncul kalo aku ada di ketinggian”
Dia kembali membuat ku diam,rasa bersalah kini muncul dalam diriku. Langkah ku terhenti ketika dia mengatakan itu.
“Kenapa kamu ga bilang ? Kita kan jadi ga perlu naik parasiling itu” dia ikut menghentikan langkah nya dan menatap ku begitu dalam.
“Entahlah. Aku juga ga tau kenapa aku ga bisa nolak keinginan kamu,aku juga ga tau kenapa kecemasan aku ga muncul saat bersama kamu”
Dia membuatku terpatung,membuatku terpaku,dan tidak tahu harus mengatakan apa untuk menjawab nya. Aditya melangkahkan kaki berdiri begitu dekat di hadapan ku.
“Dheb,kamu bisa buat aku tenang,kamu berhasil mengobati kecemasan aku,dan bahkan kamu bisa membuat aku lupa dengan semua ketakutan aku”
Dia semakin membuat ku bingung. Aku tidak tau apa yang harus aku katakan, aku memalingkan wajah ku dan hendak pergi menghindari percakapan yang selalu membuatku gundah ini,namun dia menarik tangan ku,dan melingkarkan tangan nya di tubuhku menjerat ku agar aku tidak pergi meninggalkan nya yang masih berbicara. Wajah kami hampir saja beradu jika aku tak menahan nya.
“Kenapa kamu bisa buat aku nyaman?” tanya nya, begitu dekat dia berbicara.
Tanganku berusaha membuat jarak antara aku dan dia,tapi dia terus merekatkan pelukan nya.
“Kenapa orang asing seperti kamu bisa masuk kedalam kehidupan aku dan mengganggu fikiran aku” ucap nya yang masih membuat ku diam.
“Andai kamu ga pernah bantu aku saat aku mengalami gangguan kecemasan,andai aja kamu ga pernah tau kalo aku berbohong tentang alergi makanan aku, andai aja kamu seperti yang lain yang tidak pernah peka dengan aku,semua ini tidak akan mungkin terjadi”
Aku masih saja diam dan termenung dengan setiap ucapan nya yang begitu mendalam.
“Ini semua salah kamu” ujarnya.
Lalu dia mencium bibirku lagi dengan lembut,dia sama sekali tidak memperdulikan orang orang yang ada di sekitar kami. Aku hanya diam menerima ciuman nya. Lagi lagi aku malah menikmatinya. Begitu hebat ciuman yang di berikan Aditya kepadaku,bibirnya begitu manis,dan lembut dan dia terus menggerakan bibirnya.
Entahlah apa yang merasuki diri ku. Aku pun merasakan begitu nyaman ketika di dekat nya, dan aku merasa jika hati ku selalu merasa berbeda jika melihat nya.
Apakah perasaan ini sudah tumbuh untuk nya?