Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Merindukan Aditya



Setelah berbincang beberapa saat Andre dan Lucy berpamitan untuk pulang.


“Kita pulang dulu ya Dheb. Kamu perlu istirahat” ucap Lucy mengelus lengan ku dengan senyuman yang manis.


“Thank ya Lus”


“Secepatnya akan aku kabari tentang Danu. Dan ingat pesan aku tentang Aditya. Aku minta kamu bisa membicarakan ini dengan Aditya setelah kepala kalian dingin” ujar nya membuat ku memelototi nya.


“Kepala Aditya. Kepala ku sudah dingin dari sana ndre” ucap ku menangkis ucapan nya.


Andre tampak tersenyum dan dia mengelus kepala ku.


“Baiklah. Kita pergi, salam untuk semua teman kamu”


“Iya Mas Andre aku juga salam yaa!” Seru Sisil yang tiba-tiba muncul di dekat pintu dengan sumringah dan tangan nya yang terus melambai.


Caca dan Sienna langsung menarik nya masuk ke dalam dengan paksa. Caca menatap kami semua dengan kikuk dan dia terus menarik tangan Sisil untuk masuk ke dalam. Aku tahu,mereka pasti telah mendengarkan percakapan kami sedari tadi.


Andre tertawa melihat tingkah Sisil yang selalu terlihat lucu. Sementara Lucy terlihat bingung menatap semua teman ku sampai semua teman ku kembali masuk ke dalam rumah. Lucy lalu menatap ku dan ikut tertawa melihat tingkah teman ku.


“Bye Dheb” pamit Lucy.


“Bye”


Lalu setelah melihat Lucy dan Danu pergi aku segera masuk kembali ke dalam rumah.


Ketiga teman ku langsung meminta ku duduk di sofa dan terlihat sekali wajah penasaran tersirat di wajah mereka.


“Dheb. Gue mau ngomong deh” ujar Caca meminta perhatian ku.


“Lo percaya sama Lucy?” Tanya Caca dengan wajah nya yang begitu ragu.


Dugaan ku benar. Pasti mereka sudah mendengar pembicaraan ku.


“Kenapa emang nya?” Tanya ku dengan menatap nya heran.


“Dheb. Lo sadar ga sih? Dia itu udah pernah mencemarkan nama baik lo di mata semua orang. Bahkan dia juga udah bikin pekerjaan Aditya hancur kan waktu itu,lo inget ga sih?” Tanya Caca dengan kesal nya.


“Iya itu kan udah lama Ca. Lagian semua orang juga akhirnya tahu kan kalo apa yang di beritain tentang gue itu ga bener. Nama gue udah bersih saat itu juga” jawab ku dengan santai dan tenang agar semua teman ku juga mengerti.


“Ya tapi kan..” ucap Caca yang masih saja berfikiran buruk tentang Lucy,namun aku langsung menghentikan ocehan nya dan memasang wajah yang begitu malas.


“Udah deh. Gue percaya kok sama dia,gue tau dia udah pernah bikin masalah sama gue juga Aditya waktu itu,tapi gue bisa baca kok ketulusan Lucy untuk minta maaf dan dia benar-benar sesali semua nya”


“Lo yakin?” Tanya Sisil dengan raut wajah nya yang khawatir.


“Gue aja bisa percaya sama lo,kenapa sama Lucy ngga?” Jawab ku meledek Sisil yang pernah berkomplot untuk membantu Danu beberapa bulan lalu.


“Kok gue sih?” Ujar Sisil dengan cemberut.


“Ya makanya. Ga usah ragu sama penilaian gue. Gue yakin Lucy tulus bantuin gue kok. Dia tuh kesepian tau,dia ga punya temen”


“Iya tadi gue juga nguping itu. Kok bisa ya? Orang sekaya Lucy,secantik lucy, se-perfect Lucy bisa ga punya temen gitu” ucap Sienna yang pasti di tanyakan oleh semua orang yang mengetahui nya.


“Menurut yang gue tahu,dia itu broken home. Dan sebenarnya banyak kok temen dia,cuma ya sekedar teman gitu. Jadi kaya cuma pelarian di saat dia butuh aja baru dia cari. Sementara dia ga punya temen kaya kalian gini,yang bener-bener care,pengertian,dan selalu ada di saat susah maupun senang” ucap ku dengan tulus mengatakan nya sambil menatap wajah teman ku satu persatu.


“Aaahhh Dhebi” ucap Sisil dengan terharu lalu dia memeluk ku di ikuti Sienna dan Caca.


Kita berpelukan bersama dengan hangat dan begitu erat.


“Terus sekarang gimana ?” Tanya Sienna setelah kami melepas pelukan.


“Apanya?” Tanya ku.


“Lo sama Aditya? Lo masih mau diem-diem an kaya gini?” Tanya Sienna membuat ku kembali bersedih.


“Gue ga tau. Gue nunggu kepala dia dingin dulu Syen,gue ga mau berantem lagi sama dia”


“Ya udah. Kita makan dulu aja yaa,lo kan dari siang belum makan Dheb,dan baby lo juga perlu nutrisi yang banyak kan? Gue udah pesenin makanan yang banyak buat elo” ujar Caca membuat ku terharu.


“Thank you yaa aunty Caca” ucap ku dengan gemas.


“Duuhhh,aunty deh gue” ujar Caca dengan begitu senang.


“Gue ga nyangka loh lo bisa hamil secepat ini Dheb” lanjut Caca.


“Apalagi gue,gue aja ga nyangka gue udah mau jadi ibu 8 bulan lagi”


Kami semua pun tertawa dengan begitu bahagia. Namun hati ku terasa begitu kosong.


Aku merindukan Aditya. Bertanya tanya sedang apa dia disana,dan apakah dia juga merindukan ku? Aku sangat ingin sekali mendengar kabar nya,namun aku menunda untuk menghubungi nya hingga esok hari.


Malam menjelang,aku terbangun karena suara petir yang menggelegar membuat ku terkejut dan membuka mata ku dengan reflek. Aku langsung mendengar suara hujan deras di luar sana,beserta dengan petir dan di ikuti suara halilintar yang begitu kencang.


Aku gelisah,tidak bisa kembali tidur. Lalu aku membangunkan diri ku dan mengumpulkan segenap nyawa ku dahulu. Perasaan ku menjadi tidak nyaman,aku merasa gelisah dan tidak enak hati.


Aku turun dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar untuk mengambil air dingin di dalam lemari es Sienna. Aku mendengar suara langkah seseorang berdiri di depan pintu kosan. Aku menatap ruang tamu yang gelap,dan mendengar kembali suara langkah yang terdengar di luar pintu.


Tidak salah lagi,seseorang sudah berdiri di balik pintu rumah Sienna. Aku melirik jam di atas dinding,dan jam menunjukan pukul 02.30. Hati ku bertanya-tanya, apakah itu seseorang yang tengah ikut berteduh di teras rumah Sienna? Hati ku bergerak untuk mengintip orang itu.


Aku melangkah dengan perlahan mendekati pintu,melewati ruang tamu yang sudah gelap karena lampu di matikan. Lalu aku mendekati jendela dan menyingkapkan sedikit gorden di samping pintu.


Seorang lelaki bertubuh tinggi memakai baju putih dan sweater abu yang sudah basah kuyup dan rambut nya juga terlihat basah dia berdiri menunduk menghadap pintu kosan Sienna. Aku terkejut ketika melihat jelas wajah pria itu.


“Aditya!”