
Beberapa minggu ini aku tak lagi melihat sikap posesif Aditya terhadap ku. Dia begitu berusaha untuk menahan emosi nya kepadaku, tak pernah mendengar dia membentak ku lagi. Aku senang dengan perubahan nya kini, karena itu aku pun berusaha mengerti dengan pekerjaan nya di luar sana. Aku tak lagi merasa cemburu dengan siapapun bersama Aditya,aku pun harus berusaha sabar dengan segala gosip miring yang menimpa nya. Aku percaya Aditya hanya mencintai ku.
“Hari ini aku ada acara kampus ya” ucap ku ketika aku dan Aditya tengan sarapan di meja makan.
“Kemana ?” Tanya nya.
“Ada penyuluhan dari kampus acaranya di hotel Intercontinental”
“Keren banget penyuluhan nya disana”
“Aku juga gatau, itu dari Zio. Katanya karena film ‘Surga Alam Negri’ kamu yang kemarin dapet sambutan yang bagus banget. Akhirnya komunitas MAPALA aku dapet kesempatan penyuluhan di hotel itu. Keren loh komunitas aku jadi terkenal gini”
“Sama siapa aja?” Topik yang aku berikan tidak akan penting untuk nya. Namun dengan siapa aku pergi tentu menjadi hal yang utama untuk dia tahu.
“Sama temen-temen aku di kampus lah” ketus ku.
“Ada Zio?”
“Ya ada lah di, dia kan ketua MAPALA. Kamu kenapa sih sensitif banget sama Zio, dia kan cuma temen aku kita ga ada apa-apa”
“Aku ga suka aja cara dia perhatiin kamu”
Lagi-lagi Aditya kembali membahas Zio yang selalu mengirim pesan karena dia khawatir dengan keadaan ku. Padahal Zio memang selalu bersikap seperti itu,bahkan bukan hanya kepadaku. Namun Aditya tetap tidak menerima alasan ku.
“Di, ga cuma aku yang dia perhatiin,semua temen dia juga dia selalu di perhatikan seperti itu”
“Oke oke oke, kabarin aku kalo sudah selesai”
Aku dan para teman-teman ku sudah sampai di hotel InterContinental. Ada sekitar 15 orang anggota MAPALA yang ikut serta dalam penyuluhan itu.
“Materi udah siapin kan Dheb?” Tanya Zio di backstage.
“Udah io, tapi kenapa ga kamu aja sih yang ngomong di depan”
“Udah deh Dhebi, lo nurut aja napa sih. Lagian kayak nya yang lebih terkenal sekarang tuh lo di banding gue. Lo kan sering banget di promote sama Mas Dias di IG nya. Artis-artis juga kayak nya dah kenal banget sama lo”
“Artis-artis yang di film itu doang io yang kenal gue, ga perlu lebay deh lo” ucap ku.
“Ya udah prepare dulu aja” ucap Zio sambil meninggalkan ku.
Acara penyuluhan di adakan di gedung serba guna hotel. Gedung ini begitu besar dan luas, sudah ada panggung kecil di tengah tengah ruangan, beberapa kursi dan meja bundar pun sudah tertata rapih. Yang mengadakan acara ini pun aku ga pernah tahu siapa. Karena Zio hanya meminta ku dan teman-teman ku datang penyuluhan di sini untuk mengisi acara.
Sudah ada beberapa orang yang berpenampilan rapih datang dan duduk di meja yang telah di tentukan.
“Dheb, gimana penampilan gue” tanya Sisil begitu heboh nya.
“Iya udah cantik” ucap ku.
“Gue mau nanya dong,acara ini sebenernya acara apa sih?” Tanya ku masih saja penasaran.
“Gue juga ga ngerti Dheb, kemarin kita di minta dadakan buat ngasih penyuluhan aja disini. Gua malah ga tau kalo acara nya di adain di hotel besar gini”
“Zio kok ngasih kerjaan ga jelas gini sih”
“Ya udah lah,lo cuma di minta kasih penyuluhan tentang alam kan. Lagian gue liat yang dateng bukan orang sembarangan deh Dheb, makan nya lo lebih profesional ya nanti kalo ngasih penyuluhan tentang komunitas kita” ucap Sisil.
“Gue deg deg an Sil” tangan ku mulai terasa dingin dan panik mengetahui orang-orang yang datang serapih ini.
“Relax Dheb relax lo minum dulu deh” ucap Sisil menyodorkan sebotol minuman kepadaku.
Acara pun telah di mulai. 2 orang MC telah naik ke atas panggung dan segera membuka acara. Aku dan semua anggota ku di minta untuk menunggu aba aba dari team panitia penyelenggara acara.
Beberapa sambutan sudah di dengar, dan ada sambutan untuk beberapa orang yang begitu penting dengan memutar sebuah video yang entah video apa itu.
“Siap-siap team MAPALA” seru seseorang di belakang backstage kami.
Semua team ku berdiri dengan rapih dan bersiap untuk menaiki panggung. Begitu panitia mengisyaratkan kami untuk naik, aku berjalan lebih dulu dan di ikuti semua team ku.
Suara tepuk tangan terdengar begitu meriah menyambut kami.
“Dan inilah komunitas MAPALA di Universitas Indonesia, wow cantik-cantik dan ganteng-ganteng gini ya” seru MC kondang ini yang begitu rapih dengan jas biru nya.
Aku dan semua teman ku berdiri berdampingan dan terus memasang senyuman terbaik kami.
“Siapa nih yang bernama Dhebi?” Tanya Mc yang lain nya.
Semua teman ku menunjuk ku dengan penuh semangat, dan aku hanya tersenyum malu melihat semua mata tertuju kepadaku. Salah satu Mc itu memberikan aku sebuah microfon.
“Jadi ini yang namanya Dhebi” sapanya.
“Iya hallo, perkenalkan nama saya Dhebi, senang bisa berdiri di sini mewakili teman-teman saya dari MAPALA” salam ku dengan menundukan kepada semua tamu undangan yang sudah hadir disana.
“Dheb, disini komunitas kalian ini sudah terkenal dengan perjalanan seru kalian di beberapa alam indah yang ada di negri Kita Indonesia ini. Nah mungkin kamu bisa cerita sedikit tentang bagaimana seru nya kalian mengikuti komunitas ini”
Aku menarik nafas dan tersenyum sebelum aku bercerita bagaimana seru nya komunitas ku. Aku bercerita dengan apa adanya. Menceritakan betapa seru nya kami ketika kami bersama sama menjajahi pelosok negri ini, mencari tempat-tempat yang indah di dalam hutan besar. Bahkan kami sering pergi keluar pulau untuk menikmati alam negri yang sama sekali belum di ketahui oleh orang.
Aku menunjukan beberapa fhoto pada infokus yang telah aku siapkan. Beberapa fhoto itu, adalah fhoto para anggota ku di beberapa tempat yang sangat indah. Tujuan kami adalah,agar masyarakat Indonesia mengenal lebih jauh negri kita, dan bisa tahu bahwa di Indonesia pun memiliki tempat yang indah tanpa harus ke luar negri.
“Dan ini fhoto kami ketika di NTT” suara ku tertahan ketika ku melihat sosok laki-laki yang berdiri di belakang para tamu undangan.
Jimmy. Dia memakai baju begitu rapih, berdiri sendiri dengan tangan di masukan di kedua saku celana nya, dia terus tersenyum melihat ku dengan ekspresi yang begitu kagum.
Lalu aku melanjutkan kembali bicara ku sampai selesai,berusaha untuk tak memperdulikan Jimmy di belakang sana. Walau sebenarnya aku heran kenapa dia ada disini.