Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 99



Rena yang merasa sedikit geli segere mengelak dan berusaha menjauhkan Arka darinya.


"Ada apa ?!" Tanya Arka.


"Mari kita sudahi hal ini." Jawab Rena dengan tenang.


"Tapi kenapa ?" Tanya Arka sedikit bingung.


Bukankah kita pernah melakukannya ?" Imbuhnya sembari mengecup lembut punggung tangan Rena.


"Kita tidak pernah melakukannya Arka, kita hanya hampir melakukannya." Jawab Rena.


"Tapi apa masalahnya ?"


"Setelah kejadian di villa, aku sadar dan juga mengerti, tidak seharusnya kita melakukan hal yang lebih di saat kita belum menikah." Jelas Rena.


Arka melepaskan rangkulannya dan menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa. Ia terdiam dan terlihat kesal.


Sedang Rangga, disisi lain ia tertawa bahagia, setelah mendengar Rena menolak ajakan Arka.


"Ka, aku ingin kau menghormati keputusanku." Ucap Rena mencoba memberi pengertian.


"Tidakkah menurutmu pikiranmu terlalu kulot ?" Ucap Arka.


"Aku tidak suka kau memandang rendah pola pikirku seperti itu !"Ucap Rena sedikit kesal.


Aku hanya menjunjung tinggi dan menghormati Ayahku, Ibuku dan nama besar keluargaku." Imbuhnya.


"Kalau begitu mari kita menikah !" Ucap Arka dengan menatap wajah Rena dengan tegas.


"Eh ?


Bukankah itu terlalu cepat untuk kita menikah ?" Jawab Rena sedikit terbata.


"Menurutku tidak. Mari kita menikah !" Ucap Arka kembali meyakinkan.


"Tapi aku belum siap untuk menikah !" Tolak Rena.


Arka kembali menghempaskan punggungnya di sandaran sofa dan memijat pelan pelipisnya.


"Apa karna kau masih mencintai Rangga ?!" Ucapnya dengn nada kesal.


"Apa maksudmu ?" Tanya Rena mengerutkan alisnya.


"Aku bisa melihatmu, kau cemburu saat Rangga bersama wanita lain bukan ?!" Ucap Arka sedikit membentak dan menatap tajam mata Rena.


Rena sedikit terkejut melihat Arka seperti itu, ini pertama kali Arka membentaknya. Meski begitu ia mencoba menenangkan Arka dan memegang tangannya.


"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Rangga !


Percayalah, aku mencintaimu !" Ucap Rena dan merangkul wajah Arka dengan lembut.


Mereka saling menatap, seakan mencari kebenaran dari mata yang tak akan pernah berbohong.


"Kalau begitu biarkan malam ini aku memilikimu seutuhnya !!"Ucapnya dan dengan cepat mendekap tubuh Rena dengan sangat erat.


"Arka, apa yang kau lakukan ?!" Ucap Rena mencoba menodorong tubuh Arka untuk menjauh. Namun kekuatannya terlalu lemah untuk pria seperti Arka.


Arka terus menyosor tubuh Rena, mengecup lehernya beberapa kali. Dan dengan kasar menghempaskan tubuh Rena, hingga ia terbaring.


Arka membuka kancing kemejanya dan segera melepaskan pakaiannya, lalu kembali mengecup tubuh Rena dengan sangat rakus.


"Arka.. !" Seru Rena terus mencoba untuk melawan.


Namun Arka menahan kedua tangannya dan mengungkungnya di bawahnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku Ren !


Aku sangat mencintaimu !!" Ucapnya dengan nafas yang tidak lagi beraturan.


Rangga yang sudah sedari tadi panik, mencoba membuka paksa pintu apartemen Arka.


"Arka.. jangan lakukan ini


Aku mohon !" Ucap Rena, Namun Arka tidak lagi mendengarkan.


Di saat Arka terus mengecup leher Rena. Rena dengan cepat menggigit bahunya yang sudah bertelanjang.


"Aaaarrgh..!" Erang Arka kesakitan.


Rena mengambil kesempatan dan mencoba untuk segera bangun, namun Arka segera mencekalnya.


Rena berbalik dan kemudian.


Plaaak..


Ia menampar keras wajah Arka, untuk sesaat ia menatap wajah pria itu dengan mata yang berkaca-kaca dan kemudian beranjak pergi.


"Kau ingin kemana ?"Tanya Arka dengan nada kasar.


"Aku akan pulang ! dan untuk saat ini, mari untuk tidak bertemu !" Jawab Rena kesal.


Tentu saja Arka menolak dan tidak membiarkan nya pergi. Ia menarik tubuh Rena dan menyandarkannya ke dinding.


"Aku sudah mencoba untuk menahannya Ren. Tapi kali ini, aku tidak akan peduli ! aku tidak mau kehilanganmu !!" Ucapnya kemudian menarik baju Rena dengan sangat kuat, hingga pakaian itu robek dan merusak resletingnya.


Rena menggelengkan kepalanya dan menangis.


"Tidak Arka." Ucapnya pelan tanpa daya.


Saat tangan Arka terus meraba dan menyelipkan tangannya di dalam rok Rena, tiba-tiba seseorang memegang pundaknya dari belakang dan menghentikannya.


Bukkk..


Gedebukk..


Rangga memukulnya dengan sangat kuat, bahkan ia tidak memperdulikan luka yang di tangannya lagi.


Arka terpental sedikit jauh.


"Kau !"


Gedebukk..


Bruukh..


Keduanya terjatuh.


Arka memegang ujung bibirnya yang mulai melebam dan mengeluarkan darah.


"Kau, bagaimana kau bisa masuk ?!"


Flashback On.


Rangga tidak bisa lagi menahan dirinya, ia segera keluar dan menelfon seorang ahli yang bisa membuka kunci yang memakai sandi.


Aku sangat mencintaimu !!" Ucapnya dengan nafas yang tidak lagi beraturan.


Rangga yang sudah sedari tadi panik, mercoba membuka paksa pintu apartemen Arka.


"Arka.. jangan lakukan ini.


Suara Rena membuatnya semakin panik. Hingga seseorang yang di telfon akhirnya tiba dengan membawa sekotak peralatan.


Dengan airphone yang terus terpasang di telinganya, ia dapat mengetahui kalau saat ini Rena berada dalam bahaya.


"Apa kau tidak bisa lebih cepat ?!" Tanyanya sedikit membentak.


Orang itu mencoba melakukan yang sebisanya, hingga pintu itu akhirnya terbuka.


Rangga dengan cepat melangkah masuk kedalam apartemen tersebut, dan akhirnya menemukan Rena yang menangis tak berdaya di bawah kungkungan Arka.


Flashback OFF.


Rangga menatap Arka dengan tatapan yang menyalang, kemudian berjalan sangat cepat mendekati Rena yang mencoba memperbaiki pakaiannya, namun sayang, pakaiannya sudah rusak.


"Ren..


Rena.. !" Cegah Arka.


Rangga kembali berbalik dan sekali lagi memberinya pelajaran.


"Brengsek.. !" Ucapnya kesal dan menggertakkan giginya dengan sangat kuat.


Gedebukkh..


Rangga membawa Rena keluar dari tempat itu dengan sangat cepat dan memasuki lift.


Ia terus merangkul tubuh Rena. Namun Rena menjauhkan tubuhnya dari rangkulan Rangga. Ia menangis dan terisak pelan, kakinya masih gemetar karna syok dengan perlakuan Arka sebelumnya.


Rangga tidak bisa melihat Rena seperti itu, ia mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat.


Hingga mereka tiba di lantai dasar. Rena melangkahkan kakinya, namun dia kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh. Beruntung Rangga dengan cepat menangkapnya.


Tanpa mengatakan apa pun, Rangga mengangkat tubuh Rena dan membawanya keluar dari gedung itu dan masuk ke dalam mobil.


Rena menangis dalam diam. sedangkan Rangga, dia hanya diam menunggu Rena merasa baikan.


Cukup lama mereka berdiam di dalam mobil.


"Apa kau sudah merasa baikan ?!" Tanya Rangga memecah keheningan.


Rena menganggukkan kepalanya pelan.


"Terima kasih !" Ucapnya dengan suara serak.


"Aku akan pergi !" Imbuhnya kemudian bergegas membuka pintu. Namun Rangga segera mencekalnya.


"Biarkan aku mengantarmu pulang !" Ucapnya.


"Itu tidak perlu, aku akan naik taxi !" Ucap Rena menolak.


"Ini sudah sangat malam ! aku takut terjadi sesuatu denganmu."


"Aku bukan anak kecil lagi !" Jawab Rena.


"Ren, aku mohon. Dengarkan aku untuk kali ini saja." Ucap Rangga.


Aku hanya mengkhawatirkanmu !!" Imbuhnya kemudian.


Rena menoleh dan menatap wajah Rangga dengan seksama. Ia terlihat kembali meneteskan air matanya dan mengangguk setuju.


Pada akhirnya, mereka kembali bersama menuju kediaman Atmajaya.


Rena menatap langit malam yang terlihat mendung dan akhirnya menurunkan butiran air dengan cukup deras membasahi bumi.


Lalu lintas sedikit macet karna cuaca yang mulai memburuk. Angin bertiup dengan sangat kencang, merebahkan beberapa pepohonan dan tiang listrik.


Membuat mobil mereka tercebak macet yang berkepanjangan.


Rena terlihat gelisah di tempatnya. Sebelumya ia telah berjanji pada Ayahnya tidak akan pulang larut malam, dan seharusnya saat ini ia sudah berada di rumah.


"Sebentar, aku akan keluar untuk memeriksa." Ucap Rangga dan bersiap membuka pintu.


Namun Rena segera menahannya.


"Hujan di luar sangat lebat. Sebaiknya kita menunggu untuk beberapa saat !"


"Apa kau yakin ingin menunggu ?"Tanya Rangga.


"Emmm... " Ucapnya sambil menganggukkan kepalanya.


Di sisi lain. Arka yang melihat cuaca yang cukup buruk mencoba menghubungi Rena.


(Suara ponsel berdering)


Rena merogoh ponselnya di tas dan melihatnya.


(Dr. Arka)


Ia sedikit terdiam sebentar.


Rangga meliriknya dan melihat nama Arka naik di atas layar.


Ponsel itu terus berdering, namun Rena hanya terus memandangnya dengan diam. Kemudian ia menon aktifkan ponselnya.


Arka membanting ponselnya saat ponsel Rena tidak lagi dapat di hubungi.


Rena menatap kosong dalam diam.


"Apa kau baik-baik saja ?!" Tanya Rangga.


Rena menoleh ke arahnya dan sedikit mengangguk.


Tiba-tiba seorang petugas kepolisian datang menghampiri mereka, dan mengatakan akan sulit melewati jalur yang akan mereka lewati karna sedang terjadi kecelakaan.


Polisi itu Kemudian memerintahkan untuk menepikan mobil mereka dan berlindung.


Dengan hujan yang semakin lebat, polisi itu khawatir akan terjadi kecelakaan beruntun karna buramnya penglihatan.


Rangga yang mengerti dengan patuh menepikan mobilnya.


"Ga.." Panggil Rena.


"Emm... " Jawab Rangga menatap hangat wanita yang memanggilnya.


"Apa aku boleh meminjam ponselmu ?" Tanyanya sedikit ragu.


"Tentu saja.. !" Jawab Rangga dan meraih ponselnya.


Rena mengambil ponsel tersebut dan mencoba menghubungi Rendy.


Rendy yang baru saja beristirahat sedikit bingung melihat nomor baru naik di layar ponselnya.


"Halo ?"


"Halo, kak ?! ini aku." Sapa Rena.


"Rena ?! ada apa ?"


"Aku sedang berada di perjalanan dan mengalami macet. Bisakah kakak menghubungi Ayah dan memberitahunya ?!" Pinta Rena.


"Mengapa kau tidak menghubungi Ayah langsung ? lalu dengan siapa kau sekarang ?dan dimana ponselmu ?" Tanya Rendy beruntun. Ia sedikit cemas, apa lagi dengan cuaca saat ini.


"Ponselku kehabisan daya, aku memakai ponsel temanku." Jawab Rena dan melirik Rangga.


"Apa kau baik-baik saja ?" Tanya Rendy memastikan.


"Emm, aku baik-baik saja. Kakak tidak perlu mencemaskanku !"


"Baiklah kalau begitu, aku akan mencoba menghubungi orang di rumah."


(Panggilan terputus)


"Terima kasih." Ucap Rena menyodorkan kembali ponsel Rangga.


Rangga mengangguk senyum dan meraihnya.


Mereka kembali terdiam membuat keheningan.


Hingga beberapa saat Rena merasa mengantuk dan lelah, ia kemudian perlahan memejamkan matanya.


Rangga melirik Rena dan melihat pakaiannya yang pendek, memperlihatkan pahanya yang mulus.


Untuk sesaat Rangga meneguk salifanya dan kemudian teringat akan bantal selimut milik Moura yang ada di belakang kursi.


Dengan cepat ia memutar tubuhnya dan meraih selimut tersebut. Kemudian perlahan memakaikan Rena.


Saat hendak menyelimuti tubuh Rena, Rena terasadar dan membuka matanya sedikit terkejut menoleh ke arah sang pelaku, membuat wajah mereka saling bertemu dengan sangat dekat dan saling bertatapan satu sama lain.