Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Hasrat



Saat seseorang merasa patah hati, dia akan terus menangis dan tersiksa oleh batinnya sendiri. Semua bayangan masa lalu akan terus berputar di ingatannya, seperti sebuah film yang tak akan pernah ada ujungnya, mengulang kembali kebahagaian yang pernah ada. Hingga terus menerus akan menyiksa hati dan juga pikirannya.


Menangislah jika itu membuatmu merasa lebih melegakan, tapi, ketahuilah menagis juga bukanlah solusi terbaik untuk menyelesaikan setiap masalah.


Bersabar, mengikhlaskan, dan berfikir positif untuk masa yang akan datang, itu akan lebih baik. Yakinlah, akan ada suatu hari dimana kau juga akan menemukan kebahagiaan sejatimu, tanpa memakasa diri dan kehendak orang lain.


Bukankah hubungan yang di landasi dengan sebuah keterpaksaan akan sangat tidak nyaman menjalaninya ? jangan pernah merasa dirimu telah di tinggalkan. Tapi, anggaplah dirinya yang tidak beruntung, karna telah menyia nyiakan cinta yang tulus darimu. Dan tentu saja, itu karna dia bukanlah takdirmu.


Monica yang sudah tiga hari mengunci dirinya di dalam kamar karna merasa sangat frustasi, akhirnya ia keluar untuk hari itu, setelah mendengar suara ketukan pintu bersamaan dengan suara seorang lelaki yang terus memanggil namanya.


Perlahan, pintu mulai terbuka. Ia terlihat sangat berantakan, rambutnya yang terurai kusut serta acak, dan pakaiannya yang sangat berantakan. Matanya sendu melihat seseorang yang kini berdiri di hadapannya. Sekali lagi, ia hanya bisa menangis pilu menatap lelaki itu, badannya sedikit lemas untuk bisa berdiri dengan baik. Ia begitu menyedihkan.


"Mon ! mengapa menyiksa dirimu seperti ini ?" Tanya Rangga sembari mendekatkan dirinya pada Monica.


"Untuk apa kau kesini ?!" Ucapnya kasar.


"Aku hanya menghakwatirkanmu, Paman Gilbert barusan menelfonku dan memberitahu keadaanmu." Ucap Rangga, yang kini tengah memegang kedua bahu Monica.


"Untuk apa kau peduli ? aku tidak lagi berarti untukmu !" Jawabnya di tengah sesegukannya, namun air matanya terus saja mengalir membasahi wajahnya.


"Mengapa kau berkata seperti itu ? tentu aku peduli, dan kau juga berarti untukku !"


Monica mengangkat wajahnya, menatap Rangga lebih dalam, ia masih melihat binar cinta dan kasih sayang di mata itu. Ia dengan erat menggenggam tangan Rangga.


"Kalau begitu tinggalkan Rena, hiduplah bersamaku. Aku bisa memberimu apa saja !" Ucapnya serius.


Mendengar ucapan itu, Rangga segera melepaskan tangannya dari genggaman Monica.


"Tidak Monica, aku tidak bisa meninggalkan Rena, aku sangat mencintainya, terlebih aku tidak pernah mencintaimu ! aku hanya menganggapmu sebagai seorang sahabat dan juga sauda--"


Monica yang tidak ingin lagi mendengar ucapan Rangga, segera menutup telinga dengan kedua telapak tangannya.


"Cukup Rangga ! cukup ! aku tidak ingin mendengarnya lagi." Selanya.


"Mon, mengertilah !" Ucap Rangga mencoba menenangkan Monica.


"Aku tidak bisa, aku sangat mencintaimu Rangga. Kau segalanya bagiku."


"Mon, cobalah membuka hati untuk orang lain, bukankah dulu kau juga sudah pernah mencobanya ?"


Monica menyingkirkan tangan Rangga dari bahunya.


"Mereka hanya pelampiasan, aku hanya mencintaimu Rangga !" Pekiknya


"Tapi Mon.."


"Pergilah Rangga, aku tidak ingin melihatmu lagi." Ucapnya tegas menyela ucapan Rangga.


"Tapi aku--"


"Pergi... !" Teriaknya memekik.


Rangga yang tidak bisa lagi berbuat apa-apa hanya bisa menuruti keinginan Monica, ia berdiri dan melangkah pergi dengan sejuta rasa bersalah yang terpasang di wajahnya.


Sebelum ia benar-benar pergi, ia kembali menoleh melihat sahabat kecil yang dulu selalu tersenyum ceria, kini terduduk lemah tanpa daya di atas dinginnya lantai meratapi nasibnya yang sedang patah hati. Ia segera melanjutkan langkah kakinya, ia tak tahan lagi menyaksikan ketanpa berdayaannya Monica, semakin ia melihatnya, semakin membuatnya merasa bersalah.


•••


Siang yang kelabu, kini telah berubah menjadi malam yang gelap di selimuti semilir angin yang dingin merasuk hingga ke seluruh tubuh, entah mengapa, malam itu tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, seakan menyirami hati yang telah terluka.


Lampu yang selalu dibiarkan mati oleh pemiliknya, kini telah dibiarkan menyala, menerangi ruangan yang cukup besar, memperlihatkan seberapa hancurnya kamar itu sekarang.


Gadis itu kini telah memakai mini dres berwarna hitam tanpa lengan, menampilkan seberapa mulusnya kulit yang putih itu, dengan lekukan tubuh yang ramping, membuatnya terlihat sempurnah, bak model yang berdiri di atas landasan pacu. Ia perlahan mengambil satu persatu alat make up yang kini berhamburan di lantai.


Dengan perlahan ia merias wajahnya secantik mungkin, dengan rambut merahnya yang dibiarkan terurai, membuatnya terlihat semakin mempesona. Ada senyuman pahit yang terukir di bibirnya melihat pantulan dirinya di depan cermin.


Dengan cuaca seperti itu, ia melangkahkan kakinya pergi dan measuki mobilnya dan melaju membelah jalanan di ibu kota yang padat akan kendaraan. Hingga ia tiba di suatu club malam yang ramai dikunjungi oleh kaum remaja maupun dewasa.


Ia memantapkan dirinya melangkahkan kakinya masuk ke gedung itu, dan perlahan menikmati alunan music yang menggetarkan jiwanya. Ia terus bergoyang sepuasnya, hingga ia merasa lelah dengan tenggorokan yang mulai kering. Ia berjalan mendekati meja pelayan bar, dan meminta sebotol minuman beralkohol.


Waktu terus berputar, hingga waktu menunjukkan arah 01.00 dini hari. Ia terus meneguk minuman itu, hingga seorang lelaki mendekatinya.


"Kau terlihat sangat frustasi !" Seru lelaki itu.


"Apa pedulimu !" Jawab Monica yang sudah terlalu mabuk.


"Ya, aku tidak peduli, dan mengapa aku harus peduli ?" Jawab lelaki itu, yang juga menikmati minuman yang ada ditangannya.


Monica tersenyum sinis.


"Hem, semua lelaki sama saja !" Lirihnya


"Apa ? apa kau mengatakan sesuatu ?" Tanya lelaki itu mendekatkan kupingnya di dekat Monica.


"Ya ! ku bilang semua lelaki semuanya brengsek !" teriaknya


Lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya, tidak menanggapi.


"Apa kau sangat sefrustasi itu ?"


"Ya ! untuk apa kau bertanya ?"


"Bagaimana kalau malam ini kita bersenang senang ?!"


"Apa maksudmu ?"


Monica yang sudah sangat mabuk, hanya bisa pasrah, mengikuti lelaki yang sebenarnya pernah dekat dengannya.


Mereka berjalan keluar dari club itu, dan lelaki itu kemudian merogoh sakunya mengambil handphone dan menelpon, memesan sebuah taxi.


Butuh beberapa menit akhirnya taxi yang mereka pesan telah tiba, dan membawa mereka pergi, hingga berhenti di depan salah satu hotel.


Setelah melakukan pembayaran, lelaki itu menuntun Monica berjalan, masuk kedalam bangunan hotel tersebut.


••


Di dalam kamar yang sudah dipesannya, lelaki itu merebahkan tubuh Monica di atas kasur. Perlahan, mereka saling bercumbu, menikmati dinginnya malam, dan mengisi ruang hati yang telah kosong.


Cumbuan itu semakin menjadi, kala Monica mulai mendesah nikmat karna cumbuan yang tengah mendarat di leher dan bagian dadanya, dengan tangan yang kekar, menjajah bagian tubuh yang sensitif oleh sentuhan.


"Aaakh.. !" Desahnya memuaskan seluruh sanubarinya.


Hingga sesuatu yang tak terelakkan terjadi. Mereka berdua melepaskan seluruh pakaian yang mereka kenakan dan melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan malam itu.


"Aaaaaakh.. !" Desahnya kembali, membuat ruangan itu menggema dengan simponiy kenikmatan yang hakiki.


Setelah bergulat bersama di atas kasur yang empuk, akhirnya mereka tumbang, dan tertidur pulas menikmati sisa malam yang penuh sensasi nikmat dan menggairahkan.



Waktu sudah menunjuk arah pukuk 10.08, Monica mengucek matanya pelan, netranya seakan perih akibat silau matahari yang kini masuk di ruangan itu. Perlahan ia merenggangkan tubuhnya,Ia merasa puas dengan tidurnya malam ini, entah sudah berapa lama ia tidak tidur senyenyak ini.


"Ekhem !" Lelaki itu berdehem.


Ia segera terperanjat setelah mendengar suara deheman dari seorang lelaki. Matanya seketika membola, melihat seorang lelaki yang sangat di kenalnya, kini berdiri di hadapannya, memasang kancing yang tersisa dari kemejanya. Namun, ia segera memalingkan wajahnya dan matanya kian membola, saat mendapati dirinya telah bertelanjang di balik tebalnya selimut putih, menutupi sebagian tubuhnya.


"Apa yang telah kau lakukan denganku ?" Tanyanya histeris


Lelaki itu hanya tersenyum sinis melihat tatapan Monica.


"Bukan hanya aku yang melakukannya, tapi kita !" Jawabnya, sambil melipat pelan lengan kemejanya.


"Apa maksudmu dengan kita ?" Tanya Monica kembali.


"Bukankah semalam kita menikmatinya ?" Jawabnya sinis


"Katakan yang sebenarnya ! apa maksudmu ?"


"Apa kau benar-benar tidak mengingatnya ? Aakh, sayang sekali ! padahal aku berharap agar kau terus mengingatnya, mengingat seberapa bertenaganya diriku, hingga membuatmu mendesah kenikmatan !" Ucap lelaki itu dengan senyum yang begitu licik.


Baru kali ini Monica melihat wajah yang rupawan itu menampilkan sisi gelapnya, dan terlihat begitu licik.


"Mengapa kau melakukan ini ?" Tanya Monica, yang tidak bisa mengerti lagi.


Lelaki itu hanya bisa terus tersenyum, dan perlahan mendaratkan bokongnya di atas kasur, menatap Monica lebih dekat.


"Jangan memasang wajah kecewa seperti itu, apa kau kecewa karna aku tak sebaik yang kau fikirkan ?"


"Aku tidak pernah berfikir, kalau kau ternyata seburuk ini !" Jawab Monica yang masih tidak bisa percaya dengan yang dilihatnya.


"Tenanglah ! ini akan menjadi rahasia kita berdua." Ucap lelaki itu


Aku hanya, sedikit kecewa mengetahui bahwa kau benar-benar tidak perawan lagi. Aku pikir perkataan temanku saat itu hanyalah sebuah lelucon." Imbuhnya.


"Apa maksudmu ?" Tanya Monica dengan alis yang sedikit mengkerut.


"Kau belum tahu bukan, alasanku mengapa aku tiba-tiba memutuskanmu !"


Itu semua karna, secara tidak sengaja aku mendengar beberapa gosip dari temanku, bahwa kau tidak perawan lagi, dan memberikan tubuhmu secara gratis pada lelaki yang menjalin hubungan denganmu !" Jelasnya


Monica terlihat semakin kesal dengan ucapan lelaki yang kini duduk di hadapannya. Matanya memerah, seakan siap untuk mencabik-cabik mulut lelaki itu.


"Sialan kau ! mengapa kau sangat berengsek huh !" Pekiknya


Lelaki itu hanya tertawa lucu melihat ekspresi Monica.


"Tenanglah ! kau tidak perlu semarah itu. Lagian, aku belum pernah menyentuhmu selama kita berpacaran. Anggap saja sekarang kau telah membayarnya." Ucap lelaki itu


"Anj** ! bang** ! mengapa kau sangat brengsek ! lalu bagaimana jika aku hamil ? aku sangat yakin kalau kau tidak memakai pengaman."


"Bagaimana bisa kau seyakin itu ?" Tanya lelaki itu sambil menyelipkan rambut Monica di belakang telinganya.


"Lelaki sepertimu tidak akan pernah memiliki persiapan seperti itu !"


Lelaki itu tertawa lepas mendengar jawaban Monica.


"Hahaa ternyata kau sangat cerdas Monica ! Ucap lelaki itu


Kau tenang saja ! kalau kau benar-benar hamil, anggap saja itu bonus dariku !" Ucapnya lebih lanjut.


"Apa maksudmu huh !" Teriak Monica


"Sssyut.. ! tenanglah ! kau tahu apa yang harus kau lakukan sebelum semuanya terlambat ! bukankah kau sangan menginginkannya ?" Jawab lelaki itu sambil mengangkat alisnya sebelah.


"Aku tidak mengerti !"


"Segera kau pasti akan mengerti ! sekarang mandilah ! aku akan segera pergi !" Ucap lelaki itu, kemudian beranjak pergi meninggalkan Monica yang masih terduduk bingung di tempatnya.