
Rena yang telah berhasil melarikan diri dari pusat perhatian menghela nafasnya lega dan masuk ke ruangan peristirahatan dokter.
Ceklek
Anggi yang ada di dalam ruangan itu segera menatap orang yang baru saja membuka pintu.
"Ren.. " Sapanya.
Rena tersenyum dan kemudian menghampiri Anggi yang baru saja ingin memulai makannya.
"Kau masak apa hari ini ?"
"Em-lihatlah !" Ucap Anggi sambil menyodorkan kotak makan siangnya.
"Emmm sepertinya enak."
"Apa kau mau ?" Tanya Anggi.
"Em tunggu sebentar, biar aku mengambil bekalku juga." Jawabnya kemudian bergegas mengambil tasnya.
"Baiklah.. mari kita berbagi." Ucapnya setelah membuka makanannya.
Anggi hanya bisa trrsenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Walau semua orang mengatakan dia telah berubah,namun menurutnya Rena masih tetap Rena yang sama.
"Emmm, emm, sudah ku bilang, masakanmu jauh lebih enak dari masakanku." Puji Rena sembari mengunyah makanannya.
"Setiap hari kau terus memuji masakanku, aku sampai bosan mendengarnya." Ucap Anggi berkelakar.
Rena hanya bisa terkekeh mendengar kelakar sahabatnya itu. Walaupun di Rumah Sakit sebenarnya sudah menyiapkan makanan untuk para dokter, namun mereka masih lebih memilih membawa bekal sendiri. Menurut mereka makanan yang ada di Rumah Sakit terasa sedikit hambar.
"Oh, aku ingin memperlihatkamu sesuatu." Ucap Rena sembari mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Coba lihat." Sembari menyodorkan ponselnya yang kini menampilkan foto yang baru saja di ambilnya beberapa menit yang lalu.
"Siapa gadis kecil ini ?" Tanya Anggi.
Rena menampilkan ekspresi tidak tahu di wajahnya.
"Entahlah, mungkin anak dari salah satu pasien yang ada di Rumah Sakit ini."
Anggi hanya tersenyum lembut dan menyodorkan kembali ponsel milik Rena.
"Sepertinya dia sudah cocok menjadi seorang Ayah !" Ucap Rena sembari melirik jahil ke arah sahabatnya.
"Hei, apa maksudnya tatapanmu itu hah ?" Tanya Anggi merasa risih.
"Ayolah, mengapa kau tidak menjelaskan perasaanmu saja padanya ?" Tanya Rena yang kini menggenggam tangan Anggi sebelah.
Anggi menghela nafasnya.
"Ren, aku tidak ingin membahas ini lagi."
"Apa kau tidak ingin memperjuangkannya ? aku tahu kau mencintainya sejak kita SMA." Celoteh Rena sembari menyuapi mulutnya dengan makanan.
"Mencintai bukan berarti harus memiliki bukan ?" Jawab Anggi.
"Apa kau yakin ? bagaimana jika ada wanita lain yang merebutnya dari pandanganmu ? apa kau yakin akan baik-baik saja ?" Sindir Rena dengan senyum jahil.
"Aku tidak tahu, tapi jika itu dirimu maka aku akan baik-baik saja." Jelas Anggi.
Rena terdiam.
"Apa itu alasannya kau tidak berani menyatakan perasaanmu ?"
Melihat Rena menekuk wajahnya merasa bersalah, Anggi hanya bisa menghela nafasnya pasrah.
"Ren, aku ini wanita. mana mungkin aku menyatakan cinta pada seorang lelaki ? bukankah itu terlihat sangat rendahan ?
Sudahlah, tidak usah mengungkit hal ini lagi." Ucap Anggi.
Hening.
Ceklek
Pintu kembali terbuka, menampilkan sosok yang baru saja mereka bahas. Kedua orang yang ada di dalam ruangan itu sedikit tersentak manakala melihat orang yang baru saja mereka bahas, kini muncul di hadapan mereka.
"Sepi sekali.." Ucap Arka ketika melihat kedua sahabat itu saling membisu.
Karna tidak merasa enak, Rena segera mencairkan suasana.
"Eh-dr.Arka, apa kau juga ingin makan siang ?"
Arka berjalan mendekati.
"Sebenarnya aku baru saja selesai makan, tapi setelah melihat makanan yang ada disini membuatku ingin makan lagi." Jawabnya kemudian sedikit terkekeh.
Dengan cepat Rena menyodorkan bekal milik Anggi.
"Ini,cobalah. Rasanya sangat enak !"
Dengan cepat Anggi menendang kaki Rena di bawah meja.
Tuuk
Rena menatap Anggi yang sudah memelototinya. Anggi memberinya isyarat kalau dia tidak suka dan membuatnya merasa sangat malu.
"Emm enak !" Ucap Arka.
"Benarkan ?!" Tanya Rena membetulkan.
Bisa dilihat Anggi diam-diam tersenyum kecil mendengar Arka memuji masakannya.
Arka terus mengunyah dan mengangguk menjawab pertanyaan Rena. Setelah menelan makanannya, Arka kembali melanjutkan.
Mendengar ucapan Arka, Rena segera melirik ke arah Anggi. Ia kembali diliputi rasa bersalah.
"Tapi-" Ucapan Rena terpotong ketika Anggi berdiri untuk pergi.
"Eh-aku keluar dulu." Ucap Anggi beranjak dari kursinya dan bergegas pergi dari ruangan itu.
"Anggi.. !" Rena mencoba menahannya, namun Arka segera mencekal pergelangan tangannya.
Rena yang sangat merasa bersalah, menatap tanya ke arah Arka yang hanya menunduk menikmati makanannya.
"Mengapa kau melakukan hal ini ?" Tanya Rena sedikit marah.
"Apa yang aku lakukan ?" Tanya Arka tidak peduli dan masih setia menyumpal mulutnya dengan makanan yang ada di depannya.
Ia terus mengunyah, membuat Rena semakin kesal.
"Mengapa kau tidak peka ? apa kau tidak sadar dengan kesalahan yang kau perbuat ?"
"Aku merasa tidak pernah melakukan kesalahan. Aku mengatakan apa yang menurutku benar."
"Apa kau tidak memikirkan perasaannya ?!" Bentak Rena, ia merasa kesal melihat tingkah Arka yang seakan tak peduli.
Arka menghentikan makannya dan melepaskan sendoknya dengan keras.
"Lalu, apa kau tidak memikirkan perasaanku ?!" Bentak Arka kembali, ia tidak tahan lagi dengan sikap Rena yang seperti itu.
Rena tertegun di tempatnya menatap bingung ke arah Arka. Ia tidak menyangka kalau Arka akan membentaknya.
"Kau mengatakan aku tidak peka. Lalu apa kau peka ?! kau menyuruhku untuk mengerti dengan perasaanya. Lalu bagaimana dengan perasaanku ?! Apa kau mengerti ?!
Mengapa kau terus mempertanyakan cintaku ? Kau tahu jelas kalau aku mencintaimu. Mengapa kau terus memaksaku untuk bisa mencintai wanita lain ?!" Cecar Arka.
Dengan satu tarikan yang kuat, membuat Rena kini berada dalam pelukan Arka.
"Ren, tidak bisakah kau membalasnya ? aku hanya mencintaimu !" Lirihnya dengan lembut.
Hal ini membuat Rena bingung, di satu sisi ia menyukai Arka dengan pribadi yang baik, yang selama ini menemani dan menjaganya dengan baik sejak kuliah di Harvard. Tapi di sisi lain ada sahabatnya yang ia tahu lebih dulu dan sudah lama mencintai Arka.
Dirinya tidak memungkiri bahwa Arka adalah lelaki terbaik yang pernah ia kenal setelah Rendy kakak angkatnya.
Arka terus memeluk Rena dengan kasih, namun Rena segera mendorongnya.
"Maafkan aku Arka." Ucapnya kemudian berlari pergi meninggalkannya.
Arka yang tertegun di tempatnya karna mendapat penolakan dari Rena melampiaskan amarahnya pada meja yang ada di sampingnya, ia membenturkan kepalan tangannya dengan sangat keras kemudian pergi dari ruangan itu.
Sedangkan Rena yang terus berjalan melewati koridor Rumah Sakit, terus mencari keberadaan sahabatnya. Hingga ia terhenti di satu jendela besar di lantai dua Rumah Sakit.
Ia lelah, lelah dengan keadaannya. Semua hubungannya yang tidak stabil membuatnya sangat stres. Di sisi lain ada Arka yang terus menunggunya sedang di sisi lain ada sahabatnya yang juga telah lama memendam rasa pada Arka.
Belum lagi dengan menculnya Rangga kembali dalam kehidupannya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan jika Rangga telah sadar dari komanya dan mengetahui bahwa dirinyalah yang telah mengoprasinya.
Ingin rasanya ia pergi jauh dari hubungan ini, Tapi apakah dengan cara pergi akan menyelesaikan masalahnya ? sampai kapan dia harus terus melarikan diri ? Ia menghela nafasnya kasar. Hingga akhirnya ia melihat sahabatnya duduk di kursi taman Rumah Sakit.
Dengan cepat ia melangkahkan kakinya pergi menyusuli sahabatnya.
.
.
Anggi yang sedari tadi duduk termenung di tempatnya sedikit terkejut melihat tangan terjulur di depannya dengan sebuah es cream. Perlahan ia menatap sosok yang kini duduk di sampingnya.
"Maafkan Aku.. " Ungkap Rena dengan wajah memohon.
Anggi mengambil es cream yang terjulur untuknya.
"Mengapa kau harus meminta maaf !?"
Rena terdiam, ia tidak ingin salah mengangkat topik.
"Ren, untuk terakhir kalinya, aku mohon kau tidak membahas lagi tentang perasaanku pada Arka.
Aku merasa tidak memiliki harga diri jika kau terus melakukan hal yang seperti tadi. Aku memang mencintainya, tapi aku sama sekali tidak berharap kalau dia harus membalas cintaku.
Kau tahu jelas kalau sebenarnya dia mencintaimu, mengapa kau terus memaksanya agar mencintaiku ? bukankah aku terlihat menjadi sahabat yang buruk baginya ?." Terang Anggi.
Rena hanya terdiam mendengar ungkapan hati sahabatnya.
"Terima dia.. buka lembaran baru, dan lupakan Rangga !" Ucap Anggi menatap dalam pada Rena.
Seketika Rena merengek dengan suara yang nyaring.
"Heks heks.. waaa..."
Dengan Rena seperti itu membuat Anggi jadi kebingungan.
"Hei, mengapa kau menangis..?"
"Es criemnya.. " Ucap Rena yang kini meneteskan air matanya.
Anggi melihat es cream yang ada di tangan Rena yang kini sudah meleleh tinggal menyisakan stiknya. Ia tersadar kalau es criemnya juga mengalami hal yang sama, kemudian ia tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.
Ia menyangka kalau Rena menangis karna ucapannya, ternyata hanya karna sebuah es criem yang baru setengah ia cicipi harus terbuang sia-sia karna pengakuannya yang panjang.
"Waaa... hiks hiks..!" Rengek Rena kemudian memeluk Anggi, dan Anggi memabalas pelukannya.
Yang sebenarnya Rena menangis karna terharu dengan semua ungkapan sahabatnya. Ia tidak habis pikir bahwa Anggi akan mengorbankan perasaannya demi dirinya.
Rena tersenyum bahagia, karna telah memiliki sahabat terbaik di dunia ini. menurutnya Anggi bukan hanya sebagai sahabat tapi juga saudari baginya.