
Dor.. !
Suara tembakan tersebut membuat Reno dan Rangga berhenti dari pelariannya, dan menoleh menatap sang pelaku secara bersamaan.
Gilbert, yang juga telah menghirup asap tersebut merasa sedikit oleng dan tidak sanggup lagi untuk berlari, maka dari itu ia memberi kode pada bawahan yang lainnya dengan satu tembakan yang ia arahkan ke langit.
Mereka yang sebelumnya di tugaskan dan berpencar untuk menjaga area vila tersebut segera berlari ke arah sumber suara.
Baru saja mereka tiba, sebuah mobil Jeep melaju dengan sangat cepat mendekat ke arah Reno dan Rangga.
Beep.. beep..
Reno dan Rangga yang mendengar suara klakson tersebut segera berbalik.
"Ayo cepat naik !!" Seru Dicky mengendarai mobil.
Para bawahan Gilbert segera berlari dan berusaha keras untuk mendapatkannya, namun gerakan Reno dan Rangga lebih cepat dan segera masuk ke dalam mobil.
Sebelum Dicky melajukan mobilnya, mereka sempat melirik ke arah Gilbert yang telah tertunduk memegang lututnya mencoba menopang tubuhnya yang terasa lemas sambil menatap ke arah mereka.
Setelah itu mereka akhirnya meninggalkan area tersebut, menyisakan letusan-letusan tembakan yang tiada henti mengarah ke arah mereka.
"Aaaaaaarggh... !" Erang Gilbert kesal, tidak lama kemudian ia akhirnya terjatuh tidak sadarkan diri.
•••
Di sisi lain. Rumah Sakit Anutapura.
"Apa ? kau akan menikah ? bulan depan ?" Cecar Anggi sedikit terkejut mendengar ucapan Rena.
Apa kau benar-benar sudah yakin ?" Imbuhnya.
Rena menganggukkan kepalanya pelan.
"Ada apa ?" Tanyanya melihat ekspresi Anggi sedikit shock.
"Ah, eh tidak, tidak apa-apa, aku hanya sedikit terkejut mendengarnya." Dalihnya.
Ia menggigit bibirnya pelan, rasa khawatir tersirat di wajahnya.
Rena sedikit bingung melihat ekspresi Anggi yang seperti itu, seharusnya ia senang setelah mendengar berita tersebut. Tapi malah sebaliknya, ia melihat kecemasan di wajah sahabatnya.
"Eh--"
Ponsel berdering, membuat Rena tidak dapat melanjutkan kalimatnya dan ikut melirik ponsel Anggi yang terus berdering.
"Ini Arka,"Ucap Anggi memberitahu.
Rena hanya mengangguk dan tersenyum,
"Sebentar, aku akan mengangkatnya dulu." Ucapnya dan berdiri sedikit menjauh dari ranjang Rena.
""
"Tunggu sebentar, biar aku memeriksanya." Ucapnya kembali mendekati Rena.
""
Ia kemudian terlihat menggeledah isi tasnya.
"Apa yang kau cari ?" Tanya Rena.
"Flashdisk." Jawab Anggi.
Mengapa tidak ada ?" Lirihnya terus mencoba merogoh tasnya.
"Pelan-pelan, mungkin saja terselip." Ucap Rena dengan senyum.
"Tidak ada." Ucap Anggi.
Ia kemudian menumpahkan seluruh isi tasnya di atas ranjang tepat di hadapan Rena.
"Tidak perlu terburu-buru, lagi pula dia juga tidak akan menghukummu jika terlambat."
"Tidak bisa Ren, flashdisk itu sangat penting. Dia akan marah besar jika aku menghilangkannya." Jelas Anggi.
"Aaaah ini dia." Ucapnya setelah mendapatkan benda yang di carinya.
Membuat Rena juga ikut merasa lega.
"Aku akan kembali secepatnya." Ucap Anggi dan segera pergi keluar dari ruangan tersebut.
Rena yang melihat barang-barang Anggi yang berserakan hanya bisa berdecak pasrah dan memilih membantu membereskannya.
Ia memasukkan satu-persatu barang-barang Anggi kembali kedalam tas, hingga ia melihat satu anting yang terasa familiar.
"Em, aku seperti pernah melihatnya." Lirihnya menatap anting tersebut secara seksama.
Cukup lama ia memikirkan, hingga ia menyadari. Dan segera turun dari ranjangnya lalu berjalan ke arah lemari mini yang ada di ruangan tersebut.
Ia mengambil celana yang sebelumnya ia pakai saat di apartemen Arka, kemudian dengan cepat memeriksa sakunya.
"Dimana ?" Lirihnya saat tidak menemukan barang yang di carinya.
Rena berjalan dengan cepat mengambil ponselnya lalu menghubungi Rendy.
Tuuut..
"Kak, apa kakak yang mencuci pakaianku ?
Apa petugas loudry tidak menitipkan sesuatu pada kakak ?"
Ya, itu dia. Dimana kakak menyimpannya ?
Baiklah, terima kasih." Ucapnya, kemudian memutuskan sambungan telfon.
Ia kemudian segera mencari di mana Rendy menyimpannya.
Setelah mendapatkannya, ia segera menyandingkan kedua anting tersebut. Melihatnya, Rena sedikit terdiam di tempatnya, banyak pertanyaan yang kini muncul di benaknya.
Hingga Anggi tiba-tiba datang, membuat Rena sedikit terkejut.
"Ren, kau mau kemana ?" Tanya Anggi yang melihat Rena yang berdiri.
"Eh, itu, aku baru saja dari kamar kecil." Dalihnya dan diam-diam memasukkan kembali sebelah anting tersebut di saku celananya.
"Oh. Sini biar ku bantu." Ucap Anggi berjalan mendekat.
Dengan tersenyum paksa, Rena mengangguk mengiyakan tawaran Anggi.
"Emmm."Rena mengangguk.
"Maafkan aku karna sudah merepotkanmu." Ucapnya manja.
"Tidak apa-apa."
Oh ya, tadi aku menemukan ini." Imbuhnya memperlihatkan satu anting di tangannya.
Anggi kemudian tersenyum dan meraihnya.
"Mengapa cuma ada satu ?" Tanya Rena sembari memperbaiki selimutnya.
"Satunya hilang." Jawab Anggi menyimpan kembali anting tersebut.
"Lalu mengapa kau masih menyimpannya ? bukankah itu sudah tidak berguna lagi ?"
Anggi tersenyum seakan mengenang sesuatu.
"Aku tidak bisa."
"Kenapa ? lagipula kau tidak mungkin memakainya hanya satu bukan ?" Cecar Rena ingin tahu.
"Walau aku tidak dapat memakainya, ini tetap berharga bagiku."
"Benarkah ? apa anting itu pemberian seseorang ?"
Anggi mengangguk pelan menatap kosong ke arah dimana ia menyimpan antingnya.
(" Mengapa ? mengapa itu sangat berharga ? apa itu pemberian Arka ? apa kau masih mencintainya ?") Batin Rena mencecar.
"Ada apa ? sepertinya kau sangat penasaran dengan anting itu." Tanya Anggi dengan senyum merekah.
"Eh ?"Rena mendongak.
"Tidak." Imbuhnya.
"Apa kau ingat dimana kau menjatuhkan yang satunya ?"
Anggi menggeleng.
"Aku tidak tahu."
Untuk sesaat mereka berdua terdiam dengan pikiran-pikiran yang ada di benak mereka masing-masing.
"Gi, ada yang ingin aku tanyakan." Ucap Rena kemudian.
" Apa ?"
"Apa kau masih mencintai Arka ?" Tanya Rena terlihat bersungguh-sungguh.
Membuat Anggi sedikit ternganga mendengar pertanyaannya.
"Apa maksudmu." Ucapnya kemudian dengan tawa paksa.
"Aku serius, apa kau masih mencintainya ?"
"Hahaa tentu tidak, mana mungkin aku masih mencintai laki-laki yang sudah menjadi pacar sahabatku ?"
Pertanyaanmu itu sedikit aneh." Imbuhnya.
Rena hanya bisa tersenyum paksa.
"Emm apa kau pernah main ke apartemen Arka ?!"
Mendengar pertanyaannya itu, Anggi menatap mata Rena tajam, menelisik dan mencari tahu apa yang sebenarnya yang membuat sahabatnya itu terkesan mencurigainya.
Namun jujur saja, ia sedikit terkejut mendengarnya, ia berfikir apa dia harus berbohong agar sahabatnya tidak merasa cemburu dan salah paham padanya.
"Hahaa kau ada-ada saja, buat apa aku main ke sana ? lagipula kalaupun aku kesana itu hanya masalah pekerjaan." Jelasnya.
Sebaiknya kau beristirahat, dan berhenti menanyakan hal yang konyol." Ucapnya sembari memperbaiki selimut Rena.
Rena tersenyum dan mengangguk, walau hatinya sebenarnya menyimpan kegelisahan.
("Mengapa kau harus berbohong ? atau, apa hanya aku saja yang terlalu curiga ?") Batinnya sembari memejamkan kedua matanya.
•••
Apartemen Rendy.
Mereka akhirnya sampai dan dengan kasar menjatuhkan tubuh mereka di atas sofa dengan lelah.
Ketiganya terdengar menghela nafas panjang dengan kasar.
Rangga kemudian teringat dengan mobilnya, begitu pula dengan Reno yang teringat akan ponselnya.
"Mobilku, Ponselku !!" Ucap keduanya serempak dan terperanjat.
"Aku sudah menyuruh seseorang mengurusnya." Ucap Dicky santai.
Keduanya akhirnya merasa lega dan kembali menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Apa yang sebenarnya terjadi ?" Tanya Dicky.
Rangga terlihat terdiam dengan tatapan kosong.
"Ayah Monica sudah tahu tentang perusahaan kita, dan dia menginginkannya." Reno menjawab.
"Apa !!" Dicky mengerutkan alisnya sedikit terkejut mendengar jawaban Reno.
Bagaimana bisa ? bukankah kalian belum mempublikasikannya di media ataupun di kantor ?"
Reno mengangkat bahu tak tahu.
Mereka berdua melirik Rangga secara bersamaan.
"Apa yang kau pikirkan ?" Tanya Reno.
"Aku hanya memikirkan satu orang dalam masalah ini."
"Siapa ?" Tanya Dicky penasaran.
Rangga menoleh menatap Reno yang juga tengah menatapnya penasaran.
"Dara !" Ucapnya.