
"Hey, maaf jika telah membuatmu menunggu lama." Ucap Rena.
"Tidak masalah." Jawab Adit dengan senyum menatap Rena. Kemudian melirik ke arah jam di tangannya.
Sepertinya aku harus pergi sekarang, ada beberapa kasus yang harus segera aku selesaikan." Ucapnya kemudian.
"Oh, baiklah. Senang bertemu denganmu." Ucap Rena
"Jam berapa jadwal penerbanganmu nanti ?"
"Mungkin tengah malam, sekitar pukul 01.00."
"Lalu, apa kau masih ingin tetap disini ?" Tanya Adit.
"Eh ?" Rena sedikit bingung mendengarnya.
"Aku akan kembali ke hotel lebih dulu." Jawabnya kemudian.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu."
"Em baiklah." Jawab Rena mengangguk setuju.
...****...
Tidak terasa sebulan sudah setelah pertemuan tersebut, Rena dan Rangga tidak pernah lagi bertemu setelahnya. Dan beberapa hari lagi Rendy akan menyelenggarakan pernikahannya bersama Tika.
Singapore.
Di dalam kamar apartemen dengan penerangan cahaya yang minim, terlihat sepasang kekasih saling berpelukan dengan sisa peluh yang masih membasahi keduanya. Kentara sekali bahwa mereka baru saja melakukan pelepasan dan entah sudah ke berapa kalinya mereka melakukannya.
"Apa kau lelah ?" Tanya lelaki tersebut sembari sesekali mengecup pucuk kepala wanitanya.
Wanita itu hanya mengangguk dan semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukan sang lelaki, membuat lelaki tersebut merasa bahagia dan senang karna mampu membuat wanita itu tak berdaya karena kekuatan yang dimilikinya.
"Sayang." ucap lelaki tersebut dengan suara yang menghangat.
"Eeemmm."
"Beberapa hari lagi Rangga mungkin akan datang mengunjungi kita, kau tidak apa kan ?"
Wanita itu terlihat berfikir sejenak, kemudian menengadahkan wajahnya menatap sang kekasih dalam diam.
"Apa kau masih belum siap ?" Tanya lelaki tersebut saat melihat keraguan di mata wanitanya.
"Apa dia sudah tahu kalau kita sudah menikah ?" Tanya wanita tersebut.
"Belum, aku sudah berjanji padamu tidak akan mengatakan kepada siapa pun jika kau merasa belum siap." Jawab lelaki itu sembari mengusap pelan pucuk kepala wanitanya dengan lembut.
Wanita itu terlihat menghela nafasnya pelan, kemudian bangun dan duduk dengan tenang sembari menarik sedikit selimut untuk menutupi tubuhnya yang bertelanjang.
"Ada apa ?" Tanya sang lelaki yang juga bangun dan memperhatikan wajah kekasihnya dengan seksama.
"Menurutmu, tidakkah aku sangat egois ?" Tanya wanita itu pelan.
Lelaki itu mengangkat alisnya sebelah.
"Selama ini kau terus menemaniku, dan terus menuruti apa yang menjadi keinginanku. Bahkan aku memintamu menutupi pernikahan kita dari sahabatmu."
Lelaki itu tersenyum, bahkan sangat manis.
"Sini, biar aku memelukmu." Ucapnya sembari menarik tubuh kekasihnya.
"Aku tahu, kau masih merasa bersalah pada Rangga, dan aku mengerti itu. Kau tidak bersalah sayang. Jika aku berada di posisimu saat itu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku tahu kau sangat menyayangi sahabatmu."
"Menurutmu, apa Rena masih membenciku ?"
"Entahlah. Tapi aku pikir sudah waktunya bagi kalian untuk bertemu. Aku yakin dia adalah wanita yang pemaaf dan juga bijak." Jawab lelaki itu yang tidak lain adalah Dicky.
Ya, Dicky dan Anggi.
Selama Tiga tahun terakhir, mereka menghabiskan waktu bersama di Singapore. Dan sekarang sudah berjalan Lima Bulan setelah hari pernikahan mereka di langsungkan secara tertutup. Bahkan Reno dan Rangga juga belum mengetahui akan hal itu.
Berbeda dengan sahabat Anggi, Anggi sempat mengundang Tika ke acara sakralnya tersebut. Namun ia meminta agar Tika tidak mengekspose pernikahan mereka ke khalayak ramai untuk saat ini.
Anggi terdiam, mencerna kata demi kata yang terucap dari mulut suaminya.
"Jadi bagaimana ? apa kau sudah siap bertemu Rangga ?" Tanya Dicky lagi ingin memastikan.
"Baiklah."
Dicky melepaskan pelukannya sesaat dan menatap dalam ke mata wanitanya.
"Apa kau yakin ?"
"Emmm.." Anggi mengangguk pasti.
Dicky tersenyum kemudian sekali lagi memeluk erat wanitanya, wanita yang entah sejak kapan ia cintai. Apakah sejak SMP ataukah saat SMA ? entahlah. Dia tidak ingin mengingatnya, yang jelas saat ini mereka telah resmi menikah.
•••
Beberapa hari yang lalu Rangga melakukan perjalanan bisnis ke luar Negeri tepatnya di kota singa (Singapore).
Sedangkan Rena, hari ini pesawat yang ia naiki baru saja mendarat dengan mulus di landasan penerbangan.
.
.
.
Rena yang sedang menarik kopernya mempercepat langkah kakinya dan menyambut pelukan Ibunya.
"Bunda.."
Butuh beberapa saat Rani terus memeluk putrinya seakan tidak lagi ingin berpisah.
"Kau terlihat kurusan sayang." Ucap Rani sembari melepaskan pelukannya.
"Masa sih ? sepertinya begini-begini saja. Tidak ada yang berubah." Jawab Rena menatap dirinya sendiri.
"Sini kopernya, biar kakak yang bawa."Sela Rendy sembari menarik koper Rena dari pegangannya.
Akhirnya mereka bertiga keluar dari bangunan tersebut, Rendy dengan sigap memasukkan barang-barang Rena ke bagasi, sedangkan kedua wanita tersebut sudah masuk ke dalam mobil lebih dulu.
Setelah menutup rapat pintu bagasi, Rendy dengan cepat masuk dan duduk di kursi kemudi, menyalakan mesin, kemudian melaju meninggalkan area tersebut dengan kecepatan sedang.
•
Kediaman Atmajaya.
Rena yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, segera melepaskan sepatunya kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Ia menatap langit-langit kamarnya, kamar yang menjadi saksi sejarah perjalanan hidupnya dari dua belas tahun yang lalu sejak Rangga pertama kali menyatakan cinta dan memaksanya untuk menerima. Tanpa ia sadari seulas senyum mengembang begitu saja di bibirnya. Hingga matanya secara perlahan terlihat sayu dan akhirnya tertidur pulas.
Rani yang masih ingin bercengkrama pada putrinya menyusul dan membuka pintu, namun setelah melihat Rena yang tertidur pulas, Rani menghentikan keinginannya.
Ia memperbaiki posisi tidur putrinya kemudian menyalakan pendingin ruangan dengan suhu sedang, memakaikan selimut, lalu keluar dan menutup kembali pintu.
Waktu terus berlalu begitu cepat, mentari tenggelam dan di gantikan oleh rembulan, menerangi kehidupan untuk sang penduduk bumi.
"Malam Ayah.." Sapa Rena saat melihat Ayahnya yang telah duduk di meja makan.
"Malam sayang."
Rena memberikan pelukan singkat pada Ayahnya sebelum akhirnya bergabung dan duduk di kursi yang tidak jauh dari Ayahnya.
Jaya menatap putrinya cukup lama.
"Apa kau habis sakit ? mengapa kau terlihat begitu kurus ?" Tanya Jaya terlihat sedikit khawatir.
"Tuh kan, Bunda sudah bilang, kau terlihat kurus sayang." Sambung Rani membenarkan.
Rendy yang tahu persisi kehidupan adiknya hanya bisa diam tak berkomentar. Sedangkan Rena, dia hanya tersenyum melihat ekspresi ketiganya.
"Tidak Ayah,Bunda. Aku memang sedang diet, jadi wajar kalau terlihat kurus." Jelas Rena.
"Apa bagusnya diet ? Ayah lebih suka jika kau berisi. Lihatlah, bahkan pipimu juga terlihat tirus." Ucap Jaya berkomentar.
Rena tidak menanggapi, ia hanya menggeleng kepalanya pelan dengan senyum, kemudian menikmati menu yang sudah di sendoknya tadi ke piringnya.
"Ohya sayang, kau belum memberitahu siapa dan apa pekerjaan pacarmu ?" Tanya Rani bersemangat.
Pasalnya beberapa hari yang lalu Rena sempat memberitahunya kalau dia sedang dekat dengan seorang lelaki, agar Ayahnya tidak lagi menodongnya dan merestui pernikahan kakaknya. Tapi saat itu Rena masih menggantung Ibunya saat wanita paruh baya itu bertanya tentang profil lelaki yang sedang dekat dengan putrinya.
Ukhuk, ukhuk..
Rena tersedak saat mendengar Ibunya mulai menginterogasinya.
"Bun, biarkan Rena menyelesaikan makannya dulu." Ucap Jaya mengingatkan.
Rena sedikit berfikir, kalau menunggu nanti Ibunya bertanya, maka dia tidak akan bisa menyelamatkan diri lagi.
"Eh, namanya Adit Bun. Dia seorang Jaksa." Jelas Rena, ia sedikit melirik ke arah Ayahnya. Dia ingin tahu bagaimana reaksi Ayahnya, saat tahu kalau dia dekat dengan orang yang paham dengan hukum.
"Benarkah ?" Tanya Rani antusias.
Rena mengangguk dengan senyum.
"Wah, kalau begitu, dia bisa menjadi pengacara yang handal untuk keluarga kita kelak." Celetuk Rani.
"Lalu kapan rencana kalian menikah ?" Tanyanya lagi.
Rena yang sudah menghabiskan makannya, sedikit gugup dengan pertanyaan Ibunya.
"Eh, bun, aku jawabnya lain kali saja ya.."
"Emm ? kenapa ?"
"Perutku sakit, aku naik ke atas dulu." Jawab Rena beralasan dan dengan cepat melesat menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.
"Ada apa dengan anak itu ?" Tanya Rani sedikit bingung.
"Bun, dia baru saja kembali, biarkan dia beristirahat dulu. Besok kita bisa menanyakannya lagi." Ucap Jaya menghentikan Rani yang mencoba untuk menyusul putrinya.
Rendy yang sedari tadi diam sembari mengunyah makanannya, merasa tidak enak pada adiknya.
Pasalnya, demi menyelamatkan hubungannya dengan Tika, Rena harus berbohong pada kedua orangtuanya, yang sebenarnya dia dan Adit tidak menjalin hubungan apapun, karna merasa tidak memiliki kecocokan. Dan Rendy tahu benar akan hal itu.