Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 100



Saat hendak menyelimuti tubuh Rena, Rena terasadar, membuka matanya, dan sedikit terkejut menoleh ke arah sang pelaku, membuat wajah mereka tak sengaja saling bertemu dengan sangat dekat dan saling bertatapan satu sama lain.


(Suara musik)


Lagu yang sedang terputar, seakan menjelaskan perasaan mereka saat ini.


Dan kemudian masing-masing dari mereka teringat kembali kilas balik perjalanan cinta mereka. Saat itu adalah saat-saat bahagia.


Hingga keduanya tersadar.


"Eh, aku hanya ingin menyelimutimu !" Ucap Rangga, kemudian kembali ke tempat duduknya.


Ia mengalihkan wajahnya kesamping dan menatap ke jendela mobil.


Untuk sesaat Rena terdiam dan terus menatap lelaki di sampingnya itu. Dan perlahan kembali memejamkan matanya.


Sedang Rangga, ia terus mengatur nafas dan detak jantungnya yang terus berpacu sangat cepat.


(Ponsel berbunyi)


Rangga melihat ponselnya dan membuka pesan.


Itu sebuah rekaman CCTV yang dimintanya pada Reno.


Setelah memutarnya, ia semakin yakin kalau Arka telah menukar hasil tes DNA tersebut. Ia kemudian melirik Rena dan berfikir bahwa ini bukan saat yang tepat baginya untuk memberitahu hal tersebut.


Rangga menyimpan ponselnya kembali dan memiringkan tubuhnya,ia terus memandangi wajah Rena yang sudah tertidur pulas. Hingga akhirnya ia juga tertidur.


Akhirnya,mereka menghabiskan malam bersama di mobil tersebut hingga pagi tiba.


Rena membuka matanya pelan dan perlahan memperbaiki posisinya. Ia menatap sekitarnya dan melihat tidak jauh dari tempat mereka memarkirkan mobil, ada beberapa toko pakaian dan supermarket yang sudah buka.


Melihat Rangga yang masih tertidur. Perlahan ia membuka sabuk pengaman dan meraih tasnya, lalu keluar dari mobil tersebut dan pergi.


Setelah beberapa saat, akhirnya ia kembali dengan pakaian yang lebih rapi dengan beberapa belanjaan yang lainnya.


Ia kembali masuk ke dalam mobil. Melihat Rangga yang masih tertidur, ia menghela nafasnya lega dan perlahan meraih tangannya.


Dengan sangat hati-hati ia membuka perban yang melilit tangannya dan menggantinya dengan yang baru.


Setelah selesai, ia mengambil kertas kecil dari dalam tasnya dan menulis sesuatu, kemudian menempelnya di stir kemudi.


Untuk sesaat, ia kembali menatap wajah Rangga, ia sedikit tersenyum dan memperbaiki poni Rangga yang hampir menutupi matanya.


"Seharusnya kau memotong rambutmu.


Kau terlihat jelek jika rambutmu seperti ini." Ucapnya lirih. Sepertinya ia terbawa suasana.


Hingga ia tersadar dan menyudahi perbuatannya.


(Ponsel berdering)


Sebuah panggilan dari driver taxi.


Sebelumnya ia memang sudah memesan taxi saat berbelanja.


Rena bergegas keluar dan melihat sebuah taxi menepi. Tanpa berfikir panjang ia segera pergi dan menaiki taxi tersebut.


Sedangkan Rangga, ia yang sebenarnya sudah bangun sejak Rena pergi, kembali membuka matanya dan menatap kepergian Rena dengan taxi yang membawanya.


Ia terus menatap taxi itu hingga menghilang dari pandangannya. Dan teringat kembali saat Rena memperbaiki rambutnya.


("Seharusnya kau memotong rambutmu.


Kau terlihat jelek jika rambutmu seperti ini.")


Rangga terus tersenyum, kemudian melihat kertas yang menempel di stirnya.


"Jika tidak ingin maghmu kambuh. Habiskan makanannya dan minum obatnya.


Dan Terima Kasih atas tumpangannya, aku sudah membayarnya dengan mengganti perbanmu.


Ku harap sekarang kita impas ! jangan menemukan lagi !"


Rangga melirik ke arah sekantong makanan cepat saji dan beberapa buah, ia juga melihat ada sebotol obat magh.


Kemudian, ia melihat jeket yang sebelumnya di pakai Rena dan balmut yang sudah terlipat rapih. Melihatnya, ia merasa sangat bahagia.


(Ponsel berdering)


(RenoX)


"Kau dimana ?!!" Bentak Reno.


Sesaat Rangga menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Aku ? aku sedang di depan pertokoan !!" Jawabnya.


Reno terdengar menghela nafasnya kasar.


"Kau masih sakit dan sekarang kau keluyuran ?


bagaimana jika orang itu kembali datang dan menyerangmu ?!


Katakan dimana posisimu sekarang ! Aku akan menjemputmu !!" Ucapnya terdengar kesal.


"Tidak perlu, aku akan kembali ke Rumah Sakit sekarang."


"Tapi--" Reno tidak dapat menyelesaikan kalimatnya saat Rangga memutuskan telfonnya secara sepihak.


Tut.


Rangga menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan area tersebut.


•••


Kediaman Atmajaya.


Rena baru saja tiba dan melenggang masuk ke dalam rumah.


"Ren.. kau darimana saja ?" Tanya Rani segera menghampiri putrinya.


"Ah Bun, apa kak Rendy tidak mengabari Bunda ?" Tanyanya kembali.


"Kakakmu hanya mengatakan kalau kau terjebak macet, dia tidak mengatakan kalau kau akan menginap." Jelas Rani.


Katakan padaku, dimana kau menginap semalam ? Ayah dan Bunda mencoba menghubungimu, tapi nomormu sama sekali tidak bisa di hubungi." Tanyanya kemudian.


"Eh, ceritanya panjang, lain kali akan ku ceritakan." Ucap Rena beralasan. Ia tahu Ibunya tidak akan berhenti bertanya.


"Emm, baiklah, kau pasti lapar, biar Bunda masakan sesuatu untukmu." Ucapnya mengusap pelan pundak Rena.


Rena mengangguk senyum, dan melihat Ibunya pergi menuju dapur.


•••


RS Anutapura.


Rangga akhirnya kembali di ruangannya dan kembali memakai pakaian pasien.


Lima menit kemudian.


"Kau dari mana saja ?!" Tanya Reno tiba-tiba masuk di susul oleh Dara dari belakang dan menutup pintu.


"Aku hanya keluar sebentar." Jawabnya mendalih. Ia tidak mungkin mengatakan kalau semalam ia ke apartemen Arka dan membuat masalah.


"Semalam kau kemana ?"


"Dimana lagi ? aku terus disini sepanjang malam !"


Reno sebenarnya tahu kalau Rangga sedang berbohong, dia hanya tidak ingin berdebat.


"Siapkan makanannya !" Titah Reno memberikan isyarat pada Dara.


Dara dengan cepat meletakkan rantang makanan yang di bawanya di atas meja.


Dara mengangkat wajahnya dan menatap bingung pada Rangga.


"Ada apa lagi ?" Tanya Reno.


Kau harus makan dan meminum obatmu segera !" Ucapnya kemudian.


"Aku akan makan yang ini." Jawab Rangga memukul pelan bungkusan yang di belikan Rena untuknya.


"Apa itu ?!" Tanya Reno.


Rangga tersenyum dan mengeluarkan makanannya, itu salah satu makanan cepat saji yang cukup buming saat ini, Donburi.


Reno berjalan sangat cepat dan meraih makanan tersebut.


"Hei.. kembalikan makananku !!" Seru Rangga.


"Kau tidak bisa memakan ini !" Ucap Reno, yng sebenarnya juga tergiur dengan makanan itu.


"Tapi kenapa ?!" Tanya Rangga tidak terima.


"Perutmu akan sakit. kau hanya harus makan bubur untuk beberapa hari !!" Titah Reno dan kemudian melihat donburi di tangannya.


Rangga yang tahu niat Reno sebenarnya, segera turun dari ranjangnya dan merampas kembali makanannya.


"Aku tidak akan rela jika kau memakannya !"


"Lalu siapa yang akan memakan buburnya ?" Tanya Dara mengangkat sebuah mangkuk.


"Dia saja !" Ucap Rangga dan Reno saling menunjuk bersamaan.


"Kau tidak bisa memakan makanan ini, jadi biarkan aku yang memakannya." Ucap Reno.


"Ini adalah pemberian Rena, aku tidak akan rela membiarkanmu memakannya !" Ucap Rangga.


Setelah mendengar ucapan Rangga, Reno melepaskan genggamannya.


"Apa aku tidak salah dengar ?" Tanyanya.


Rangga tidak lagi menggubrisnya, ia duduk di salah satu sofa dan mulai menyantap makanannya dengan senyum sumringah.


Dara yang melihatnya cemberut dan meletakkan kembali mangkuk yang di pegangnya dengan kasar, lalu keluar dari ruangan tersebut.


Rangga dan Reno hanya bisa menatapnya bingung, namun Rangga tidak peduli dan kembali melanjutkan makannya.


"Hei, apa kau serius Rena membelikanmu ini ?!" Tanya Reno kembali dan duduk di samping Rangga.


"Emmm.." Jawab Rangga dengan mengunyah makanannya.


"Aku masih tidak percya !" Ucap Reno.


"Terserah !" Jawab Rangga. Ia makan dengan sangat lahap.


•••


Apartemen Arka.


Ting tong.


Arka membuka pintunya.


"Masuklah.. !" Ucapnya.


"Apa yang terjadi ?!" Tanya Anggi.


"Aku bertengkar dengan Rena !" Jawabnya dan duduk bersandar di sofa.


Anggi menatapnya dengan pasrah, ia terdengar menghela nafasnya kasar.


"Apa masalahnya ? ku pikir kalian akan melewatinya dengan bahagia."


Arka perlahan menjelaskan duduk permasalahannya.


Anggi membulatkan matanya sedikit terkejut.


"Apa kau sudah tidak waras ? bagaimana bisa kau melakukan hal itu pada Rena ?" Tanya Anggi terlihat kesal.


Kau sendiri sangat tahu bagaimana keras kepalanya dia, seharusnya kau tidak memksanya dengan melakukan hal seperti itu !" Jelasnya kemudian.


"Aku kesal karna dia masih saja melirik Rangga. Dan terus peduli padanya.


Kau tahu bagaimana aku sangat mencintainya dan tidak ingin kehilangannya." Jelas Arka.


Anggi terdiam mendengar penjelasan Arka.


"Tetap saja, kau tidak harus memaksakan dan memperlakukannya seperti itu, jika itu aku,maka aku juga akan melakukan hal yang sama." Ucap Anggi.


"Dimana kotak obatmu ? biar aku mengobati lukamu !" Tanyanya kemudian dan beranjak berdiri menuju dapur.


"Ada di lemari paling atas !" Jawabnya.


Anggi mencari dan mendapatkannya, lalu berjalan kembali ke sisi Arka.


Perlahan ia mengambil betadine dan mengaplikasikannya di tiap luka.


"Rangga pasti sangat kesal hingga menghajarmu babak belur seperti ini." Ucapnya pelan.


"Apa kau sudah sarapan ?!" Tanyanya kemudian setelah merapikan peralatannya.


Arka menggelengkan kepalanya.


"Tunggu di sini, aku akan memasak sesuatu untukmu !" Ucapnya dan beranjak dari sofa.


Arka mencekal pergelangan tangannya. Ia kemudian menoleh dan menatapnya.


"Terima kasih !!" Ucap Arka dengan tulus.


Anggi diam, dan kemudian menganggukkan kepalanya pelan.


"Sebaiknya kau segera meminta maaf pada Rena jika kau tidak ingin kehilangannya !" Ucapnya memberi saran kemudian pergi dan menuju dapur.


Perlahan ia memakai celemek dan mengikat rambutnya. Ia juga melepas kacamatanya.


Untuk sesaat Arka terhipnotis dengan penampilan Anggi saat ini. Kemudian dengan cepat tersadar dan memalingkan wajahnya mengambil berkas yang dia minta sebelumnya pada Anggi.


Saat Anggi tengah sibuk memasak, Ponselnya tiba-tiba berdering.


(Dr.Raehana)


Anggi sedikit ragu untuk mengangkatnya, tapi kemudian ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk mengangkat telfon.


"Halo !?" Ucapnya.


"Gi, kau dimana ?" Tanya Rena.


"Aku-aku sedang di rumah, ada apa ?!"


"Tidak, kalau begitu aku akan kerumahmu."


"Eh, jangan."


"Emm, kenapa ?"Tanya Rena.


"Aku sedikit sibuk,dan sebentar lagi aku akan keluar !"


"Kau mau kemana ?"


"Aku- aku memiliki sedikit urusan yang sangat penting.


Ren, sudah dulu, aku sedikit sibuk."


Tut.


Ia langsung mematikan telfon secara sepihak.