Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Kau Akan Bahagia



Pada akhinya John harus pulang membawa tangan kosong dengan kekalahan yang telak oleh Jeremy.


Dengan langkah yang gontai ia memasuki rumahnya dengan wajah yang muram. Melihat kedatangan Ayahnya, Rangga yang juga sudah mendapat pemberitahuan di ponselnya segera bergegas menghampiri Ayahnya.


"Papah..." Ucapnya sedikit panik.


Namun, setelah melihat ekspresi yang ditunjukkan Ayahnya, Rangga tak bisa lagi berkata apa-apa. Dirinya hanya bisa terduduk lemas di atas sofa.


John yang melihat putranya kalut dalam dilemanya hanya bisa menepuk pundak putranya.


"Maafkan papah Rangga, kali ini papah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untukmu." Ucapnya kemudian duduk di pinggiran sofa.


Cukup lama mereka terdiam, sampai akhirnya Mariah datang menghampiri Ayah dan Anak itu.


"Ada apa ? mengapa kalian terdiam seperti ini ?" Tanya Mariah. Kemudian duduk tepat di samping suaminya.


"Pah, apa yang di katakan Jeremy ?" Tanyanya kembali menatap harap pada suaminya.


"Dia telah menipuku !" Ucap John.


"Apa yang kau maksud menipu ? siapa yang telah menipumu ?" Tanya Mariah bingung.


"Jeremy !


Selama ini dia telah menipu kita." Jawab John kesal namun masih dengan intonasi tenangnya.


Kemudian ia meraih ponselnya dan memperlihatkan beberapa pemberitahuan di dalamnya.


Mariah yang melihatnya hanya membulatkan matanya dengan tangan yang gemetar tak percaya.


"Bagaimana ini bisa terjadi ? apa yang harus kita lakukan ? posisi putra kita sebagai calon CEO di perusahaan bisa terancam !" Tanya Mariah cemas.


"Semuanya ada pada keputusan Rangga !" Jawab John.


Rangga yang mendengar hal itu menatap tanya pada Ayahnya.


"Rangga akan tetap menjadi calon CEO tunggal jika dia bersedia menikah dengan Monica." Jelas John.


"Tidak !!" Jawab Rangga menolak.


"Kau harus memikirkannya Rangga, ini semua demi keluarga kita !" Ucap John.


"Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan wanita seperti itu ? dia bukan hanya menipuku, tapi juga membuat Rena membenciku !"


"Papah tidak akan memaksakanmu Rangga, papah hanya ingin kau memikrkannya lebih dulu sebelum mengambil keputusan !


Setelahnya, apapun keputusanmu, papah akan mencoba menerimanya. Papah hanya berharap kau mengambil keputusan yang terbaik untuk keluarga kita." Ucap John kemudian beranjak pergi.


"Mah.. ?!" Rengek Rangga meminta solusi dari Ibunya.


"Rangga, masa depan keluarga dan perusahaan kita ada di tanganmu ! mamah berharap kau memikirkannya dengan baik !" Ucap Mariah lalu pergi menyul suaminya, menyisakan Rangga dengan dilema yang ia miliki.


•••


Di sisi lain.


Setelah menghabiskan Dua Puluh Empat Jam lebih di dalam pesawat, akhirnya Rena dan Rendy tiba di Bandara Internasional John F Kennedy New York.


Terlihat dua orang Body Guard telah menunggu mereka di ruang Lobby. Rendy mengangkat tangannya, dan dengan cepat dua Body Guard tersebut segera mengambil bawaan mereka dan menuju area parkiran.



Di malam hari, Rendy yang telah selesai memasak untuk makan malam segera pergi memanggil Rena.


*Tokt**oktok*.


"Ren ?!" Panggilnya.


Namun tak ada jawaban.


Ia mencoba memanggilnya beberapa kali, namun tetap saja tak ada jawaban. Kamar itu hening seakan tak memiliki penghuni. Rendy yang merasa khawatir akan terjadi sesuatu pada adiknya segera membuka pintu kamar itu tanpa izin dari pemiliknya.


"Rena.. !" Ucapnya panik.


Namun kepanikannya tak beralasan. Gadis yang dikiranya akan membuat sesuatu yang buruk kini sedang tertidur pulas di atas kasurnya dengan sisa air mata yang sudah mulai mengering.


Rendy menghembuskan nafas lega melihat Rena baik-baik saja, meski raut wajahnya masih terlihat sedih. Dengan penuh kasih sayang ia memperbaiki posisi tidur adiknya lalu menyelimutinya.


"Kau pasti lelah dengan semua yang telah terjadi." Ucapnya sembari mengelus pelan rambut adiknya.


"Mulai sekarang, aku berjanji akan terus menjaga dan melindungimu. Akan ku buat warna di hidupmu kembali lagi."


Sungguh, saat ini ingin rasanya ia membanting atau menghapus foto itu. Namun dirinya tahu, itu bukanlah haknya. Sehingga dengan kesal ia segera menyimpan kembali ponsel itu di atas meja dan pergi meninggalkan ruangan itu setelah mematikan lampu.


Pagi harinya.


Jam menunnjukkan waktu 09.30.


Toktoktok...


"Ren, apa kau sudah bangun ?"


"Ya...!" Jawabnya di balik pintu.


"Ayo makan !" Ajak Rendy, kemudian kembali ke meja makan.


Ceklek (Pintu terbuka)


Mata Rena sedikit terbelalak melihat beberapa hidangan telah menghiasi meja makan.


"Apa kau memiliki tamu ?"Tanya Rena pelan.


"Tidak ?"Jawab Rendy singkat.


"Lalu, untuk siapa kau memesan makanan sebanyak ini ?"


"Untukmu !"


"Hei, apa kau pikir aku serakus itu akan memakan semuanya ? bukankah ini suatu pemborosan ?" Ucap Rena sembari duduk di salah satu kursi.


"Aku tidak tahu, makanan apa saja yang kau sukai, maka dari itu aku mencoba memasak semua yang sebisaku." Jawab Rendy sembari mengunyah stieknya.


"Apa ? kau-memasaknya ?" Tanyanya tak percaya.


"Semua ini ?" Sembari menunjuk hidangan yang kini berada di hadapannya.


Rendy hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Rena menghembuskan nafasnya pasrah, kemudian mengambil beberapa dan mencobanya.


Awalnya ia sedikit ragu untuk memakannya. Ia tidak percaya seorang lelaki seperti Rendy yang selalu di sibukkan dengan pekerjaan kantor akan bisa memasak dengan baik. Namun setelah melihat Rendy memakannya dengan lahap, ia dengan ragu memasukkannya ke mulutnya dan perlahan mulai mengunyah makanan itu.


("Emm bagaimana mungkin ? bahkan rasanya tidak beda jauh dari masakan Bunda.") Batinnya.


Melihat ekspresi yang di tampilkan Rena, Rendy hanya bisa tersenyum kecil kemudian menghabiskan makanannya.


"Cepat selesaikan makananmu, aku akan mencuci piring !" Ucap Rendy pelan kemudian beranjak pergi menuju dapur.


"Eh-Iya.. !" Ucap Rena kikuk.


Beberapa minggu kemudian


Rena akhirnya mendapat kabar dari sahabatnya, kalau Rangga telah resmi menikah dengan Monica. Mengetahui hal itu, Rena hanya bisa tersenyum hambar dengan tatapan yang mengandung kebencian dan juga kecewa.


"Apa kau baik-baik saja ?" Tanya Rendy.


Senyum getir.


"Hmmp aku bisa apa ? menangispun percuma." Ucapnya, kemudian berjalan ke balkon menikmati pemandangan malam kota New York.


"Kak..!" Panggil Rena yang kini sudah menganggap Rendy sebagai Kakaknya.


"Em..!" Sahut Rendy.


"Aku ingin kembali bahagia ! apa mungkin bisa ?" Tanyanya.


Rendy menatap dalam adiknya kemudian berkata.


"Tentu saja ! aku akan mewujudkannya untukmu,"


"Terima kasih.." Ucap Rena haru, kemudian memeluk Rendy. Ia tidak tahu harus bagaimana melewati harinya, jika tak ada Rendy di sampingnya.


"Kau akan bahagia.. !" Lirihnya sembari menepuk pelan punggung adiknya.


Kau akan bahagia Ren ! Aku berjanji." Sembari meneteskan Air mata.


Ia tahu kalau adiknya masih sangat terluka. oleh sebab itu, ia telah berjanji untuk dirinya sendiri, akan membalas semua hal yang telah di lakukan Monica dan Rangga atas adiknya.


"Kau Akan Bahagia."Ucapnya sekali lagi.