Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 104



Rangga baru saja tiba di ruang pengawas yang ada di kantornya.


Saat ia membanting pintu, kedua pria yang di tugaskan mengamati CCTV perusahaan terkejut ketika melihat sang pelaku. Mereka dengan cepat berdiri memberi hormat.


"Aku membutuhkan rekaman di area parkiran dan sekitarnya !"


Kedua orang tersebut dengan cepat memberikan arahan pada Rangga.


"Aku menginginkan rekaman satu jam sebelumnya." Jelas Rangga.


Salah satu dari mereka terlihat perlahan menggerakkan mouse dan memutar mundur secara perlahan.


Sayangnya dia tidak menemukan petunjuk apa pun dalam rekaman tersebut, membuatnya semakin kesal.


Sepertinya pria yang selama ini mengincarnya tahu betul tentang seluk beluk perusahaan dan tempat mana saja yang ia kunjungi.


Untuk sesaat dia terdiam, menatap layar tanpa berkedip. Dan seketika ia teringat akan Rena. Jika musuh yang mengikutinya selama ini bukanlah suruhan Atmajaya, sudah di pastikan Rena juga berada dalam bahaya.



Waktu terus berputar, hingga malam tiba, dan bulan menggantikan surya menerangi seluruh alam semesta.


Pukul 23.40.


Rangga terlihat berjalan memasuki gedung Rumah Sakit, dan tidak sengaja berpapasan dengan Rena yang juga baru saja memasuki gedung tersebut.


Rena yang melihat Rangga berjalan dan akan melewatinya menaikkan setengah tangannya ingin menyapa, namun aksinya terhenti saat Rangga hanya berlalu melewatinya tanpa menatapnya sedikit pun.


Sebenarnya, Rangga bukan tidak melihat Rena atau tidak ingin menyapanya.


Pada saat ia melewati pintu Rumah Sakit ia sudah melihat Rena lebih dulu. Hanya saja dia berpura-pura untuk tidak melihatnya. Rangga tidak ingin orang yang berusaha membunuhnya juga ikut menyakiti Rena.


Untuk sesaat Rena tertegun di tempatnya, ia merasa dirinya sangat konyol.


"Ada apa ?!" Tanya seseorang yang tiba-tiba mengejutkannya dari arah belakang.


Rena tersentak dan memutar tubuhnya menatap sang pelaku.


"Ah-tidak-bukan apa-apa." Ucapnya tersenyum hambar.


"Apa yang kau lakukan disini ?!" Tanyanya kemudian.


"Aku ? emmm menurutmu untuk apa aku datang kesini jika bukan jam kerjaku ?"


Rena sedikit melongo tanpa membuka mulutnya.


Membuat Arka tersenyum melihat tingkah Rena yang seperti itu.


Dia mengusap pelan pucuk kepala Rena lalu mengajaknya pergi menuju ruang kerja.


••


"Bukankah besok kau memiliki jadwal yang padat ? seharusnya kau menggunakan waktumu saat ini untuk beristirahat." Ucap Rena sembari meletakkan tasnya di atas meja.


Arka berjalan mendekati dan memeluk tubuh Rena dari belakang.


"Aku merindukanmu !"


Rena tersenyum dan berbalik menatap kekasihnya.


"Kita masih bisa bertemu di lain waktu !!" Ucapnya sembari memegang kedua pundak Arka.


"Apa Minggu ini kau senggang ?" Tanya Arka.


"Emmm entahlah, ada apa ?"


Arka terlihat berfikir kemudian berkata.


"Tidak, bukan apa-apa !" Ucapnya, lalu memeluknya dan mengecup pelan pucuk kepala Rena sembari menghirup aromanya.


Cukup lama mereka terdiam, hingga Arka mengucapkan sesuatu yang mana membuat Rena merasa bersalah.


"Tolong jangan buat aku terus merasa cemburu !" Lirih Arka.


Rena tahu dirinya salah. Ia semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan kepalanya di dalam pelukan Arka.


("Maafkan aku.") Batinnya.


Bruukh..


Sebuah suara yang berasal dari luar ruangan telah mengejutkan mereka.


Arka melepaskan pelukannya dan dengan cepat berjalan membuka pintu untuk memeriksa.


Mata Arka menelisik melihat sesuatu yang mencurigakan.


"Ada apa ?" Tanya Rena mendekati.


Membuat Arka segera berbalik dan tersenyum menatap kekasihnya.


"Tidak ada apa-apa, mungkin hanya seekor kucing !" Dalihnya.


Rena tidak terlalu menanggapi dan hanya mengangguk mengerti.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Pamitnya.


Rena mengiyakan dengan tersenyum mengangguk.


"Aku akan menunggumu di ruang istirahat !" Ucap Arka.


Sekali lagi, Rena hanya bisa mengangguk senyum.


Arka kemudian sedikit membungkuk dan menyondongkan pipinya.


"Apa yang kau lakukan ?" Tanya Rena mengerutkan alisnya.


Arka tidak mengatakan apa pun, dia hanya memberikan isyarat dengan jarinya untuk memberi kecupan di pipinya.


"Bagaimana jika ada yang melihat ?"


Namun sepertinya Arka tidak peduli. Membuat Rena menghela nafasnya pasrah.


Baru saja ia ingin mengecup wajahnya, Arka tiba-tiba saja berbalik membuat bibir mereka saling bertemu.


Mmuach..


Arka tertawa kecil kemudian melangkah pergi meninggalkan Rena yang masih tersipu menatap kepergiannya.


Dan akhirnya berbalik menutup pintu ruangan miliknya.


Di tempat yang berbeda, Rangga baru saja masuk di ruangan dimana Dara di rawat.


Sejak usai menjalani oprasi Dara belum juga sadarkan diri, membuat Rangga merasa cukup khawatir dan menyalahkan diri.


Dia berdiri menatap wajah yang kini terlihat pucat dan menyedihkan.


"Dasar bodoh !!" Umpat Rangga dengan suara lirih, lalu memegang telapak tangan Dara.


Ia kemudian menarik kursi dan duduk tepat di samping ranjang dimana Dara berbaring.


Waktu terus berputar.


Pukul 01.30.


Rena baru saja memeriksa beberapa pasien baru dan masih ada satu pasien lagi. Perawat yang mendampinginya sudah memberitahunya kalau pasien tersebut belum sadarkan diri sejak usai menjalani oprasi.


Mereka berjalan melewati koridor Rumah Sakit dan masuk ke area ruangan VVIP.


Saat membuka pintu, yang pertama di lihatnya adalah punggung Rangga yang sedang duduk tertidur bersandar di pembaringan.


Membuat Rena segera berbalik.


"Ada apa dok ?!" Tanya sang perawat tidak mengerti.


Rena melirik ke arah perawat.


"Tidak. bukan apa-apa." Ucapnya, kemudian kembali berbalik dan melanjutkan tugasnya.


Saat sang perawat hendak membangunkan Rangga. Rena dengan cepat mencegahnya.


"Sus.. !" Ucapnya pelan.


Sang perawat menatap bingung pada Rena.


Rena tidak mengucapkan apa pun, Dia hanya menggelengkan kepalanya memberi isyarat agar tidak membangunkan Rangga. Dia tidak ingin Rangga melihatnya ada di ruangan tersebut.


Perawat yang mengerti hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan dan perlahan melangkah memeriksa cairan infus yang tergantung.


Sedangkan Rena, dia hanya melihat perkembangan dan denyut jantung sang pasien di monitor, selain itu dia juga memeriksa bola mata Dara dan berlanjut memeriksa nadi di pergelangan tangannya.


Setelah semuanya selesai, pada akhirnya Rena meninggalkan ruangan tersebut.


Tepat saat perawat menutup pintu, Rangga membuka matanya kemudian bangun dan menatap pintu yang sudah kembali di tutup rapat.