Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 133



Setelah percakapan yang cukup panjang, ketiganya akhirnya meninggalkan restoran tersebut secara terpisah.


Sebenarnya Rena masih ingin menghabiskan waktu dengan sahabat lamanya itu, hanya saja Tika harus menolak karna harus segera kembali ke Paris. Sedangkan Rendy, dia pergi menemui klien yang sebelumnya telah membuat janji dengannya.


"Apa kau tidak bisa menginap semalam saja ?" Pinta Rena sedikit merengek memeluk lengan Tika, membuat Tika hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Rena.


"Maaf ya adik ipar, lain kali aku janji akan meluangkan waktu lebih lama denganmu."


"Janji ?!"Tanya Rena.


"Janji."


"Apa sudah selesai ? aku harus segera mengantar Tika ke Bandara." Sela Rendy sembari membuka pintu untuk Tika.


"Aku pergi." Ucap Tika kemudian cipika-cipiki pada Rena sebelum akhirnya masuk kedalam mobil.


"Kakak pergi dulu, kamu tidak apa kan kalau naik taxi ?"


Rena hanya mengangguk dengan senyum. Rendy mengusap pelan kepala adiknya kemudian bergegas masuk kedalam mobil dan memberi arahan kepada sang sopir yang akan membawa mereka pergi.


"Byyyyyy..." Ucap Tika melambaikan tangannya pada Rena.


Rena melambaikan tangannya hingga mobil itu melaju dan menghilang dari pandangannya. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil Taxi yang sudah sedari tadi menunggunya dan akhirnya membawanya kembali ke rumah pribadi miliknya.


•••


Pukul 20.30.


Rena yang sedang memainkan ponselnya di pembaringan seketika berfikir mencoba untuk menelfon Ibunya.


"Hai Bun.." Sapa-nya saat VC mereka terhubung.


"Hai sayang.. bagaimana kabarmu ?!" Tanya Rani segera.


"Baik Bun. Bunda bagaimana ? dan,, apa Ayah ada ?" Tanyanya dengan senyum.


"Bunda baik sayang, hanya saja Bunda sangat merindukanmu.


Ini Ayah." Ucapnya kemudian mengarahkan layar ponsel ke arah suaminya.


"Hai sayang, bagaimana pekerjaanmu ?" Tanya Jaya.


Rena tersenyum. Sedangkan Rani hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap suaminya. Dia sedikit kesal, bukannya menanyakan kesehatan putrinya, suaminya itu malah menanyakan masalah pekerjaan.


"Baik Ayah."


"Yah, apa kau tidak mengkhawatirkan putrimu ? seharusnya Ayah menanyakan kesehatannya bukan malah menanyakan pekerjaannya." Seru Rani dengan raut masam.


"Kan Bunda sudah bertanya tadi." Ucap Jaya tanpa merasa bersalah.


"Tapi kan beda.


Ah, sudahlah. Ren, tidak usah menanyakan kabar Ayahmu." Ucap Rani kesal dan menjauh dari suaminya, menikmati wajah putrinya seorang diri.


Rena yang melihat tingkah orangtuanya hanya bisa tertawa dan sekali-kali menggelengkan kepalanya.


"Sayang, kapan kau berencana kembali ? Bunda sangat merindukanmu." Ucap Rani kemudian.


"Emmm.. mungkin bulan depan."


"Benarkah ?" Tanya Rani dengan mata yang berbinar.


Jaya yang mendengarnya seketika meninggalkan aktivitasnya dan beranjak mendekati istrinya.


"Lalu bagaimana dengan klinikmu ?" Tanyanya sembari merangkul bahu istrinya.


Lagi-lagi Rani menatap sinis ke arah suaminya. Jaya yang mengerti akan sifat istrinya menoleh dan menatapnya dengan senyum yang mengembang.


"Masalah klinik gampang. Tapi kali ini Rena akan pulang ada syaratnya."


"Apa ?" Tanya keduanya secara bersamaan sembari menatap ke layar ponsel.


"Ayah setuju kalau Kak Rendy menikah dengan Tika."


Untuk sesaat Jaya dan Rani saling melempar pandangan, kemudian kembali menatap wajah putrinya.


"Apa Rendy yang memintamu ?" Tanya Jaya sedikit tegas.


"Tidak."


"Lalu, bagaimana kau mengetahuinya ?"


"Tahu saja, lagipula Tika adalah sahabatku." Jelas Rena.


"Ohya ?" Tanya Rani menyela.


Rena hanya mengangguk.


"Bunda ingat tidak dengan teman aku saat SMA dulu ?!"


Rani sedikit berfikir, selain Anggi...


"Oh... iya, Bunda sudah ingat."


"Rena, Ayah bukan tidak menyukai sahabatmu itu. Hanya saja, Ayah sudah terlalu berjanji pada teman Ayah untuk menjodohkan Rendy dan putri mereka." Jelas Jaya.


"Yah, yang akan menjalaninya itu kak Rendy, bukan Ayah. Lagipula mengapa Ayah berani berjanji dan mengambil keputusan secara sepihak sedangkan kak Rendy belum tentu menyetujuinya ?"


Jaya terdiam, yang dikatakan putrinya memang ada benarnya. Dia tidak berhak mengatur seluruh hidup Rendy. Hanya saja waktu itu dirinya terlalu senang bekerjasama dengan temannya tersebut sehingga dengan spontan mengiyakan keinginan keluarga itu.


"Ren, tidak bisakah kau membujuk kakakmu untuk menerimanya saja ?" Tanya Jaya.


Rena menggelengkan kepalanya.


"No... aku tidak mau. Lagipula ini bersangkutan dengan masa depan kak Rendy. Jika kakak mencintai Tika, maka aku akan mendukungnya."


Sesaat Jaya terlihat menghela nafasnya berat sedikit berfikir, kemudian beranjak pergi meninggalkan Rani yang masih terdiam memandangi Rena yang terlihat mengulum bibirnya cemberut. Rani sangat tahu kalau Rena sangat menghargai dan menyayangi Rendy walaupun mereka bukan saudara kandung.


"Sayang, apa kau jadi pulang ?" Tanya Rani mencoba mengalihkan perhatian Rena.


"Maaf Bunda, kalau Ayah masih dengan pendiriannya, mungkin aku tidak akan pulang." Jawabnya sayu dengan perasaan kecewa, ia tidak pernah berfikir kalau kali ini Ayahnya akan menolak permintaannya.


"Sayang, kau tidak perlu merasa sedih. Bunda janji akan membantumu membujuk Ayah." Ucapnya kemudian mengedipkan mata pada putrinya.


Rena yang tadinya cemberut, seketika tersenyum setelah mendengar ucapan Ibunya.


"Benar ya Bunda ?"


"Emmm.


Apa kau sudah makan ?" Tanya Rani kemudian.


"Emm sudah." Jawab Rena.


"Ya sudah, kalau begitu beristirahatlah."


"I Love you Bunda." Ucap Rena.


"I Love You sayang."


Rani yang ingin menyudahi obrolannya sedikit terkejut saat Jaya merampas ponselnya secara tiba-tiba.


"Rena.." Ucapnya memanggil putrinya.


Rena yang tadinya sudah meletakkan ponselnya seketika meraihnya kembali saat mendengar Ayahnya memanggil namanya.


"Iya Ayah.."


"Tentang permintaanmu tadi, baiklah, Ayah akan menerima permintaanmu, tapi Ayah juga memiliki satu syarat." Ucap Jaya sedikit tersenyum mencoba bernegosiasi pada putrinya.


Rena menaikkan alisnya sebelah, melihat ekspresi Ayahnya, perasaannya mengatakan akan ada hal buruk yang akan menimpanya.


"Apa ?"


Rani yang juga mendengar ucapan Suaminya merasa penasaran, kali ini permainan apa yang akan di mainkan suaminya ?


"Syaratnya kau juga harus menikah."


"Apa ??!" Ucap kedua wanita itu secara serempak.


"Ayah bercanda kan ?" Tanya Rena.


"Tidak, Ayah sedang tidak bercanda. Ayah hanya ingin bernegosiasi dengan putri Ayah, Jika putra Ayah tidak jadi menikah dengan Ranty, maka sebagai gantinya kau harus mau menikah dengan Radit."


Ranty dan Radit adalah saudara.


"No..!" Tolak Rena dengan cepat.


Jaya tersenyum.


"Kalau begitu tidak ada alasan bagi Ayah untuk membatalkan perjodohan Rendy dan Ranty."


Rani yang mendengarnya hanya bisa menatap suaminya dengan tangan bersedekap.


"Permainan apa lagi yang sedang Ayah mainkan ?!" Tanyanya dengan ekspresi datar.


"Tidak ada. Anggap saja ini permainan keberuntungan." Jawabnya dengan santai.


"Ayah ! apa tidak ada syarat yang lain ?" Tanya Rena bingung. Jika dia menolak, tentu saja Rendy akan tetap menikah dengan Ranty, dan Tika pasti akan merasa hancur. Tapi jika dia tetap ingin membantu, maka konsekuensinya adalah masa depannya.


Dia tidak ingin di jodohkan untuk kali keduanya. Lagipula di dalam peta kehidupannya, belum ada perencanaan untuk menikah tahun ini atau lima tahun berikutnya, jadi bagaimana bisa dia menerima tawaran Ayahnya ?


"Tidak, hanya ini persyaratan Ayah. Lagipula sebagai wanita, umurmu sudah cukup matang untuk menikah."Jawab Jaya. Sebenarnya dia merasa kasihan dengan kehidupan putrinya saat ini, itulah sebabnya dia harus memutuskan.


"Tapi Ayah."


"Ayah akan memberimu waktu untuk berfikir." Ucap Jaya.


"Apa tidak ada keringanan yang bisa aku dapatkan ?" Tanya Rena.


"Keringanan seperti apa yang kau inginkan ?"


Untuk sesaat Rena memutar otaknya untuk berfikir. Dia tidak ingin kembali terjebak dalam sebuah hubungan karna perjodohan.


"Aku tahu Ayah meminta syarat ini agar aku segera menikah, walaupun Ayah sebenarnya tahu kalau aku belum mau menjalin hubungan seperti itu."


Jaya terlihat mengangguk senyum mendengar ucapan putrinya. Dia senang karna akhirnya putrinya mengerti dengan apa yang sedang di fikirkan-nya.


"Aku tidak mau menikah dengan anak teman Ayah itu. Tapi sebagai gantinya aku akan mencari sendiri pria yang akan aku nikahi."


Jaya terlihat mengerutkan alisnya, begitupula dengan Rani. Untuk sesaat Rani menatap suaminya, kemudian menatap ke layar ponsel.


"Sayang, apa kau sadar dengan ucapanmu ? sejak kapan wanita mencari pria untuk dinikahi ?" Ucap Rani sedikit bingung mencoba mengintropeksi perkataan putrinya.


Rena tersenyum.


"Sejak saat ini. Lagipula ini sudah jaman modern Bun, segalanya bisa saja terjadi. Dan aku akan mencari priaku." Jelas Rena dengan senyum, dia juga bermaksud ingin menyambut permainan Ayahnya.


Sedangkan Jaya, dia yang sangat mengerti dengan sifat putrinya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Permintaanmu terlalu beresiko sayang. Sepertinya Ayah tidak bisa menerimanya, bagaimana kalau kau bermain curang dalam permainan ini ?"


Rena terdiam. Dia tahu kalau Ayahnya sudah bisa membaca apa yang akan dia lakukan.


"Begini saja, Ayah akan menyetujuimu untuk memilih priamu sendiri. Dengan syarat, Ayah hanya akan memberimu waktu dua bulan.


Jika dalam waktu itu kau masih belum menemukan pria yang kau inginkan, maka kau harus menerima keputusan Ayah jika kau tetap ingin kakakmu menikahi sahabatmu."


"Okay, Setuju." Jawab Rena setelah memikirkannya cukup lama.


"Ya sudah beristirahatlah, Ayah dan Bunda juga ingin beristirahat." Ucap Jaya mengakhiri obrolan mereka.


"Eemmm." Rena hanya bisa mengangguk dengan senyum simpulnya.


Tut.


"Yang benar saja ? dimana aku bisa mendapatkan pria yang bersedia menikah denganku dalam waktu dua bulan ?!" Ucap Rena merasa frustasi merutuki dirinya sendiri.


Sedangkan Jaya, dia hanya bisa tersenyum karna berhasil menjebak putrinya. Yang pada dasarnya dia tidak pernah benar-benar berniat untuk menjodohkan putra temannya itu dengan putri kesayangannya. Dia melakukan semua ini agar Rena kembali membuka diri pada seorang pria.