Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 139



Semua yang meyaksikan kejadian itu hanya bisa memberikan ekspresi yang berbeda-beda, mereka yang sangat tahu perjalanan cinta keduanya, merasa haru mengingat Perjuangan Rangga dari awal hingga akhir sampai mereka akhirnya saling merelakan satu sama lain.


Perjalanan cinta mereka yang terbilang tragis dan cukup rumit sepertinya akan berujung manis.


"Eh,buat kau saja." Ucap Rena melepaskan tangannya dari buket bunga tersebut.


Rangga tidak menjawab, dia masih mematung sembari menatap bunga yang kini sepenuhnya di tangannya.


Rena hendak berbalik dan melangkah pergi. Sebenarnya banyak yang kecewa dengan momen tersebut, termasuk sahabat-sahabat dari keduanya yang berharap mereka akhirnya akan bersatu.


Satu langkah...


Dua langkah...


Tinga langkah...


Dan..


"Ren." Seru Rangga.


Langkah kaki Rena terhenti saat mendengar seruan tersebut.


Seketika suasana di dalam ruangan terasa senyap tanpa suara, seakan menunggu sebuah momen, berharap apa yang mereka inginkan akan jadi kenyataan.


Dengan langkah yang tegas Rangga mendekat, bersamaan dengan Rena yang dengan anggun berbalik saat merasa Rangga sudah berdiri tepat di belakangnya.


Untuk sesaat mereka masih saling menyapa dalam diam dengan tatapan yang penuh dengan penyampaian.


Menit berikutnya, Rangga menjatuhkan lututnya sebelah, dengan buket bunga yang masih setia terpatri di tangannya.


"Raehana Atmajaya Lion. Maukah kau menikah denganku ?" Tanyanya dengan suara tegas dan lantang.


Momen ini membuat beberapa orang tua yang tadinya sibuk membicarakan hal bisnis mereka dari tadi akhirnya berpaling dan ikut menyaksikan momen tersebut. Tak terkecuali keluarga Atmajaya dan John.


John yang sedikit terkejut melihat tindakan putranya membisik pelan ke arah istrinya yang masih terpaku menunggu akhir dari momen tersebut.


"Apa sebelumnya kau sudah tahu kalau putramu akan bertindak seperti ini ?" Tanyanya penasaran.


Mariah terlihat menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku juga bahkan sangat terkejut dengan pengakuannya." Jawabnya tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun.


Rena terdiam untuk beberapa saat, butuh waktu baginya untuk memutuskan. Lagipula ini lamaran mendadak untuknya, walau sebenarnya dia tidak perlu lagi menanyakan kualitas Rangga ya sangat mencintainya sejak dulu.


Ia melirik ke arah Ayahnya. Dan berharap keputusannya tidak bertentangan dengan apa yang Ayahnya inginkan.


Atmajaya yang melihat putrinya menatap tanya ke arahnya, hanya bisa tersenyum dan mengangguk seakan menyampaikan pesan bahwa dirinya akan menerima apapun yang akan menjadi keputusan putrinya.


Rangga merasa lututnya yang terasa nyeri, sedikit mengernyitkan dahinya. Dia bahkan mulai putus asa, merasa bahwa kali ini dirinya lagi dan lagi akan mendapatkan penolakan penuh dari wanita yang selama ini tidak pernah sedikitpun sirna dari hati dan juga pikirannya.


"Ren, pliss.. beri aku kesempatan sekali lagi." Ucapnya mencoba meyakinkan.


Satu detik..


Dia detik..


Tiga detik..


Rangga sepertinya sudah hampir sampai di titik dimana ia harus menerima kenyataan pahit sekali lagi.


Baru saja ia ingin bergerak malas untuk berdiri dengan raut kecewa di wajahnya. Rena kemudian berucap membuatnya sedikit tersentak dengan jantung yang berpacu dengan sangat cepat.


"Aku mau !" Jawab Rena, ia memejamkan matanya, mencoba meredakan gejolak jantung yang juga berirama dengan sangat cepat.


Deg.


"Apa aku tidak salah dengar ?!" Tanya Rangga butuh kepastian dan berharap kalau ini bukan hanya imajinasinya saja.


Rena membuka matanya secara perlahan.


Deg.


Sekali lagi, jantungnya berdegup dengan sangat cepat, tatkala mendapati Rangga yang kini telah berdiri sangat dekat dengannya, dengan tatapan yang berbinar penuh harap.


"Bisakah aku mendengarnya sekali lagi ?" Tanya Rangga menginginkan kepastian.


Rena terlihat menarik nafasnya dalam, kemudian menghembus-nya secara perlahan.


"Rangga Aberald, aku bersedia menerima lamaranmu." Ucapnya sedikit menegaskan di setiap kalimatnya.


Dengan cepat Rangga memeluk tubuh Rena dengan sangat erat. Membuat semua tamu yang hadir menyaksikan momen tersebut merasa terharu, tidak sedikit dari mereka meneteskan air mata bahagia.


Jaya sedikit tersenyum, dengan Rani yang sejak tadi merangkul lengannya dengan mesra. Mereka terlihat sangat lega dan bahagia atas keputusan putri mereka.


Sedangkan Mariah, ia hanya bisa memeluk suaminya, menyembunyikan isaknya yang ingin lolos dari mulutnya. Betapa dirinya merasa haru, mengingat bagaimana perjuangan dan pengorbanan putranya selama ini.


John mengelus pelan punggung istrinya mencoba menenangkan, sedangkan dirinya terlihat beberapa kali mencoba menyeka air mata yang menggenang di pelupuknya.


"Tapi Rangga, kau baru saja melamarku dengan tangan kosong." Rena berucap di sela pelukan Rangga.


Rangga yang tersadar segera melepas pelukannya.


"Maaf, soal itu. Aku tidak bermaksud--" Rangga tidak dapat melanjutkan kalimatnya saat Rena mengecup singkat bibirnya yang kering.


Cup.


Rena perlahan meraih kembali buket bunga yang masih terpatri di tangan Rangga.


Semuanya akhirnya tertawa karna melihat ekspresi Rangga yang di luar dugaan saat mendapat kecupan singkat dari Rena.


"Ia bertingkah seakan dirinyalah seorang gadis."


"Lihat wajah dan telinganya yang memerah itu, sangat menggemaskan bukan ?"


Bisik beberapa wanita paruh baya pada setiap pasangannya masih terdengar jelas.


Ekhemm..


Suara deheman yang sangat keras menggema di telinga Rangga, membuatnya tersadar dan menatap sang pelaku.


"Om.." Ucapnya sedikit terbata saat mendapati kalau Atmajaya telah berdiri tegak di sampingnya.


"Apa kau baru saja melamar putriku tanpa meminta persetujuanku ?!" Tanyanya dengan alisnya yang menukik sebelah.


Rangga seketika menggaruk daun telinganya merasa gugup dan canggung.


"Ayah.." Rena berucap memelas.


"Jadi bagaimana dengan pacarmu yang Jaksa itu ?" Tanya Jaya yang kini menatap Rena meminta penjelasan.


Benar, Rena belum mengatakan yang sebenarnya kalau dia tidak menjalin hubungan apapun dengan Adit.


"Dia.."


Rangga terlihat mengerutkan alisnya, sedangkan Jaya masih menatap dengan tegas menunggu jawaban.


"Apa kau membohongi Ayah lagi ?" Tanya Jaya.


"Maaf Ayah, aku tidak bermaksud untuk--" Rena tidak dapat melanjutkan kalimatnya.


Namun tiba-tiba suara Haigh hills dari seorang wanita menggema mendekat ke arah mereka.


"Yah, sudahlah. Berhenti mengintrogasi mereka." Ucap Rani menyela di antara mereka.


"Bukankah Rena sebelumya mengatakan kalau Dia dan Jaksa itu akan segera menikah ?" Tanya Jaya lagi, membuat Rangga sedikit gusar mendengarnya.


"Om.." Ucapnya.


Namun belum sempat Rangga mengucapkan kalimatnya, Jaya kembali menyela.


"Maaf Rangga, om belum bisa memutuskan kalau Rena sendiri tidak bisa bertanggung jawab dengan keputusannya."


.


.


.


"Ayah, aku dan Adit tidak memiliki hubungan apapun selain berteman, maaf jika Rena berbohong. "Sesalnya.


Dan Rena ingin menikah dengan Rangga." Tegasnya sembari meraih lengan Rangga kemudian merangkulnya.


Jaya membulatkan matanya sesat setelah penegasan Rena. Membuatnya akhirnya hanya bisa tersenyum menatap lekat ke arah putrinya, ia senang putrinya mengungkapkan keinginannya secara blak-blakan.


"Jadi, kapan kalian berencana untuk menikah ?" Tanya Jaya kemudian.


Rangga dan Rena saling menatap satu sama lain. Pada akhirnya Rangga bisa melihat masih ada keraguan di mata wanita itu.


"Sekarang." Jawabnya tegas.


Membuat semua yang mendengarnya terkejut.


"Rangga.. kau mulai lagi ?" Tanya Rena, sejak dulu dia tidak begitu suka dengan sifat Rangga yang suka mengambil keputusan secara sepihak.


Rangga yang tidak mengerti hanya bisa menatap tanya.


"Apa ?"


"Kau selalu melakukan segalanya dengan sesuka hatimu. Apa kau tidak menghargaiku ?" Jelas Rena.


"Maaf Ren, kali ini saja. Aku berjanji ini yang terakhir."


Rangga dengan cepat menarik tangan Rena ke altar pernikahan.


.


.


.


"Aku ingin kita menikah sekarang." Ucapnya setelah memberi isyarat pada Reno agar memanggil kembali sang pendeta yang sebelumnya telah menikahkan Rendy dan Tika.


"Bukankah ini terlalu terburu-buru ?" Tanya Rena, sejujurnya dia masih belum yakin dengan keputusan Rangga kali ini. Bagaimana bisa menikah tanpa persiapan ? sejujurnya dia juga butuh mental yang kuat.


"Aku takut Ren."


Rena mengerutkan alisnya tidak mengerti.


"Aku tidak ingin ada pertunangan lagi atau hal yang lainnya, aku takut kalau kau pergi lagi dariku. Aku cukup trauma akan hal itu." Ucap Rangga jujur.


Setelah penjelasan itu, Rena tidak lagi mengatakan apapun, hingga pendeta berdiri tepat di antara mereka bersiap untuk memberi pemberkatan.


"Ren, pliss.." Pinta Rangga.