Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 128



"Rena." Lirihnya.


"dr.Rena.."Ucap Dara ketika melihat Rena. Dia memegang perutnya dan berusaha untuk berdiri.


"dokter, apa anda mengenalnya ?" Tanya suster yang masih berdiri di sisinya.


Rena mengerjapkan matanya sesaat, lalu dengan cepat berjalan menghampiri Dara yang tengah kesusahan.


"Hati-hati." Ucapnya sembari memegang tangan Dara sebelah.


"dr.Rena.." Lirih Dara memandangi Rena dengan tatapan lekatnya.


Rena tersenyum kala mata mereka saling bertemu.


"Ada apa ? mengapa bisa sampai disini ?" Tanya Rena dengan lembut. Ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya dengan kedatangan Dara dan Rangga yang tiba-tiba. Dia tahu benar kalau mereka tidak tinggal di wilayah tersebut.


"Ceritanya sangat panjang." Jawab Dara sedikit cengengesan.


Rena terlihat mengangguk mengerti.


"Lalu,apa ada yang bisa aku bantu ?" Tanyanya kemudian.


"Anu,itu,tadi saat di perjalanan perutku tiba-tiba terasa sakit." Jelas Dara sedikit gugup sembari mengelus-elus perutnya.


"Kalau begitu tunggu sebentar." Ucap Rena kemudian berbalik menatap para pasien yang masih menatap ke arah mereka seolah penasaran dengan hubungan keduanya.


"Sebelumnya saya maaf semuanya atas ketidaknyamanan yang terjadi. Tapi bisakah sahabtku ini lebih dulu untuk diperiksa ? aku tahu mungkin ini terdengar tidak adil buat semuanya. Tapi saya mohon perhatiannya, mereka datang dari tempat yang jauh." Pinta Rena.


Sebagai gantinya, untuk hari ini saya tidak akan mengambil biaya sepeserpun dari semuanya (Gratis)." Imbuhnya.


"Apakah maksudnya kita akan di periksa secara gratis ?!"


"Bukankah tadi dr.Rena bilang mereka adalah sahabat beliau ?"


"Kalau begitu tidak masalah jika mereka lebih dulu masuk."


"Ia, lagipula usia kandungannya terlihat sudah sangat tua, takutnya terjadi sesuatu dengan bayinya."


Mereka terlihat berdiskusi satu sama lain. Dan akhirnya menyetujui permintaan Rena sebelumnya.


"Baiklah, Terima kasih atas kerjasamanya." Ucap Rena dengan senyum kemudian berbalik menatap Dara.


"Kalau begitu, ayo ikut denganku." Ucapnya.


Rangga yang sedari tadi diam, hanya bisa mematung. Ia tidak bisa memungkiri kalau dirinya masih terkejut, terlebih lagi dia terkesima dengan penampilan Rena saat ini. Memori saat pertama kali bertemu kembali terputar jelas di kepalanya.


Deg.


Bahkan jantungnya tidak bisa berhenti berpacu dengan cepat, sama seperti dulu saat setiap kali ia melihat wanita itu.


"Rangga.." Lirih Dara sembari menarik-narik pelan lengan kemejanya.


"Eh,iya." Ucapnya kemudian mengikuti kedua wanita di depannya.


.


.


.


"Bayinya sehat. Sepertinya ini hanya kontraksi awal."Ucap Rena.


Mata ketiganya terfokus pada layar monitor yang memperlihatkan bayi di dalam perut Dara.


Rangga tidak bisa menutupi kebahagiaannya kala melihat pemandangan langkah tersebut. Saat Monica hamil dulu, dia sama sekali tidak pernah menemaninya check up seperti ini.


"Apa aku bisa tahu bayinya laki-laki ? atau perempuan ?" Tanya Rangga antusias, matanya berbinar kala melihat bayi yang menggemaskan itu, dia bahkan mengambil ponsel dan memotretnya.


Rena yang memperhatikan Rangga sedari tadi hanya bisa tersenyum simpul, ada kecemburuan di hatinya. Dia bahkan menghayal jika saat ini dia berada di posisi Dara.


"dokter." Lirih Mira, asisten Rena.


"Eh, ya, tentu saja." Ucap Rena.


"Bayinya laki-laki."Imbuhnya kemudian setelah mengecek jenis kelamin bayi tersebut.


Rangga semakin senang mendengar hal itu.


"Sepertinya jagoan kecil ingin cepat keluar." Ucapnya tersenyum sumringah.


Membuat Dara yang mendengarnya ikut tertawa.


Rena meletakkan alatnya kembali kemudian mengambil beberapa tisu.


"dokter, biar saya saja." Ucap sang asisten.


Rena tersenyum.


"Tidak usah, kali ini biar saya saja." Jawabnya, kemudian membersihkan permukaan perut Dara dengan lembut.


"Selanjutnya mungkin akan lebih sering sakit, aku harap kamu bisa melewati fasenya dengan sabar." Jelas Rena.


"Ohya ?" Tanya Dara, wajahnya tertekuk seakan ngeri mengingat rasa sakit sebelumnya.


Rena yang melihatnya hanya bisa tertawa.


"Aku yakin kamu kuat. Kamu pasti bisa melaluinya. Lagipula aku akan terus menemanimu nanti, jadi kau tidak perlu takut atau kahawatir." Ucapnya memberi semangat


Tapi, itu jika kau ingin aku yang membantu persalinanmu." Imbuhnya.


Dara tersenyum.


"Aku sangat senang jika dr.Rena bersedia membantuku." Ucapnya antusias.


Rena tersenyum sembari membantu Dara untuk duduk.


"Kalian menginap dimana ?"


"Eh, sebenarnya kami baru saja tiba, tapi Reno sudah memboking kamar di penginapan untuk kami." Jelas Rangga.


"Bagaimana kalau untuk sementara kalian menginap di perumahan klinik dulu ? agar aku bisa selalu mengontrol keadaan Dara dan calon bayinya. Lagipula disana juga sudah tersedia dengan fasilitas yang dibutuhkan." Usul Rena.


"Ide yang bagus." Jawab Dara antusias, tanpa meminta persetujuan dari Rangga lebih dulu.


Rangga yang mendengarnya hanya menyipitkan matanya menatap Dara.


"Tapi itu tergantung Rangga." Ucap Dara kemudian.


Rena lagi-lagi hanya bisa tersenyum simpul menatap pasangan tersebut.


("Mengapa terasa sakit ?") Batinnya sembari meletakkan tangannya di dada. Namun segera di tepisnya.


"Baiklah,aku setuju. Sepertinya itu memang usulan yang baik, lagipula aku juga takut jika tiba-tiba terjadi hal buruk dengannya dan juga calon bayinya." Ucap Rangga sembari melirik ke arah Dara.


Deg.


Sekali lagi, jantung Rena terasa nyeri setelah mendengar ucapan Rangga.


("Mengapa kau harus cemburu ? dia hanya bagian dari masa lalu Rena.") Batinnya menegaskan.


"Mira, tolong antar mereka." Ucap Rena kemudian.


"Baik dokter."


"Terima kasih dr.Rena, aku sudah merepotkanmu." Ucap Dara yang sudah beranjak dari tempatnya.


"Tidak apa-apa, aku senang bisa membantumu dan Rangga." Jawab Rena.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Dara yang kini sudah merangkul manja lengan Rangga.


Rena hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.


Setelah mereka keluar, Rena memanggil dokter sebelumnya dan kembali memeriksa pasien lainnya yang sudah dari tadi menunggu.


Rena yang sudah kembali keruangannya segera masuk ke kamar mandi dan membilas wajahnya.


•••


Keesokan harinya Rena menyempatkan diri pergi berbelanja untuk kebutuhannya di sebuah supermarket terbesar di kota itu. Ini adalah rutinitas bulanannya jika stok sudah menipis.


Ia terlihat tengah mendorong keranjang trolinya dengan santai dan berhenti di depan rak yang berjijir begitu banyak produk susu.


Hingga tidak sengaja ia menabrak keranjang troli milik seseorang di depannya yang juga tengah sibuk memilih produk susu.


"Maaf." Ucap Rena sedikit terkejut.


"Tidak apa-apa." Jawab lelaki pemilik troli tersebut.


masing-masing hanya melihat isi troli mereka, sehingga tidak menyadari kalau orang tersebut adalah orang yang mereka kenal.


"Rena."


"Rangga." Ucap mereka bersamaan.


Rena kembali menatap isi troli milik Rangga, terlihat beberapa perlengkapan bayi. Begitupula dengan Rangga, ia melihat isi troli milik Rena yang sudah hampir penuh dengan cemilan dan beberapa kebutuhan sehari-hari.


("Seleranya tidak pernah berubah.") Batinnya saat melihat beberapa makanan kesukaan Rena yang tertumpuk.Tanpa ia sadari ujung bibirnya tertarik melengkung membentuk senyuman kecil.


"Apa kau ingin membeli susu untuk calon bayi ?" Tanya Rena kemudian.


"Eh, iya, tapi aku bingung tidak tahu harus memilih yang mana, aku tidak tahu kalau begitu banyak produk susu." Jawabnya sembari menggaruk daun telinganya yang tidak gatal.


Rena tersenyum. Ia kemudian memperhatikan beberapa produk susu bayi dan kemudian mengambil salah satunya.


"Semuanya sebenarnya sama, hanya saja ada beberapa produk tertentu yang sedikit memiliki keunggulan. Kau bisa mencobanya dengan yang ini dulu." Jelasnya sembari menyodorkan sekotak susu.


Kalau misalnya nanti bayinya tidak begitu suka atau tidak cocok, kau bisa menggantinya dengan produk yang lain." Imbuhnya.


"Ohya ? aku tidak tahu kalau bayi juga bisa memilih selera." Ucapnya disertai tawa kecilnya.


Rena hanya bisa tersenyum mendengarnya.


"Sebaiknya kau juga menyiapkan susu untuk ibu menyusui buat Dara." Ucap Rena sembari menyodorkan sekotak susu untuk ibu menyusui pada Rangga.


Rangga sedikit terkejut.


"Eh ? apa ibunya juga harus minum susu ?! bukankah seharusnya mereka yang memproduksi susu untuk bayi." Tanyanya sembari meraih kotak susu tersebut.


"Justru karena itu dia harus memenuhi asupannya dengan susu. Agar produksi ASI-nya bisa lebih banyak."


Rangga menghela nafasnya pelan.


"Aku tidak menyangka, kalau ternyata tidak mudah untuk menjadi seorang ibu." Ucapnya lirih.


"Kalau begitu, aku permisi dulu." Ucap Rena dan mendorong trolinya.


"Eh, Ren." Ucap Rangga.


"Ya ?!" Jawab Rena menoleh menatap Rangga.


"Bisa kita bicara sebentar ?" Tanyanya.


Rena terlihat berpikir, namun kemudian ia menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Kalau begitu aku akan menunggumu di restoran yang ada di depan." Ucap Rangga.


"Baiklah."


"Eh,bisakah aku meminta satu hal lagi ?" Tanya Rangga terlihat sedikit ragu.


"Apa ?"


"Bisakah kau menemaniku membeli kebutuhan Dara lainnya ? jujur aku sedikit malu jika berbelanja untuk perlengkapan wanita." Jelas Rangga sedikit malu.


"Emm.. okey." Jawab Rena menerima.