
"Kau salah pah-am-!" Kalimatnya terhenti ketika seorang lelaki yang ia benci tiba-tiba saja muncul di hadapannya dengan merebut tubuh Rena dari pangkuannya.
"Apa yang terjadi padanya ?!" Tanya Rangga Panik
Kedua gadis itu hanya bisa saling melempar pandangan masing-masing.
"Hey ! aku bertanya pada kalian ! mengapa kalian diam saja ?!" Bentak Rangga
"Eh, itu- aku juga tidak tahu " Jawab Tika
Sepertinya bertanya bukan suatu yang tepat untuk saat ini, Rangga segera merangkul Rena dan mengangkatnya, membawanya menuju mobilnya.
"Bantu aku membuka mobilku !" Perintah Rangga
.
.
.
"Apa yang terjadi denganku ?!" Batinnya dengan dirinya yang masih setia dengan mata terpejam.
Perlahan pupilnya bergerak dan membuka matanya dengan pelan.
"Rena !"
Suara itu segera menyambut dirinya dengan suka cita.
"Apa yang terjadi denganku ?" Tanyanya pelan
Melihat anaknya telah siuman, Atmajaya segera menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
"Mengapa aku berada disini ?" Tanyanya bingung dengan sedikit menekan alisnya yang masih terasa nyeri.
"Sudah Tiga hari kau tidak sadarkan diri, mengapa kau selalu saja membuat Bunda khawatir ?!"
"Bun ! pelan-pelan bicaranya, kasihan Rena !" Jaya mencoba menenangkan Istrinya.
Beberapa menit kemudian.
Dr.Bima yang telah menjadi Dokter pribadi keluarga Atmajaya datang dengan terburu-buru, segera memeriksa keadaan Rena dan kemudian memberinya beberapa pertanyaan.
"Apa kepalamu masih terasa sakit ?"
"Ya ! kepalaku terasa berat dan sakit !" Jawab Rena dengan suara seraknya.
"Dokter, apa yang terjadi denganku ?" Tanya Rena, ia masih bingung mengapa dia tiba-tiba berada di rumah sakit.
"Apa kau tidak mengingat mengapa kau tiba-tiba jatuh pingsan saat Tiga hari yang lalu ?" Tanya Dr.Bima
Rena menggelengkan kepalanya
"Aku tidak mengingatnya sama sekali !"
"Apa kau tahu siapa mereka ?" Tanya Dr.Bima pada Rena
"Tentu saja, mereka adalah Ayah dan Bundaku !"
"Kalau Pemuda itu ?" Tanya Dr.Bima kembali dan menunjuk ke arah Rangga.
Rena terlihat lama memperhatikan Pemuda yang kini berada di depannya.
"Dia.. - ? siapa dia ?!" Tanya Rena bingung
"Ren ! jangan bercanda, ini aku Rangga !" Ucap Rangga meyakinkan.
Rena menggelengkan kepalanya, seketika ia merasa sangat sakit di sekitar kepalanya.
"Aakh..!" Ringisnya
"Ada apa sayang ?!" Tanya Rani dengan cemas
Dr.Bima hanya melirik Atmajaya, yang sedari tadi menatapnya.
"Bapak bisa ke ruangan saya sebentar ?!" Ajak Dr. Bima dan mendapat persetujuan dari Atmajaya.
••
"Ada apa ?" Tanya Jaya
"Saya harus menyampaikan bahwa keadaan Nn.Rena sedikit serius !"
"Apa maksudmu ?"
"Sepertinya Nn.Rena mengalami Amnesia Disosiatif !"
"Jelaskan yang lebih detailnya ! apa itu Amnesia Disosiatif ? dan mengapa putriku bisa mengalami hal seperti itu !" Titah Jaya dengan dingin
"Amnesia Disosiatif adalah salah satu penyakit dimana seseorang akan melupakan atau tidak mengingat sesuatu atau kejadian tertentu.
"Penyakit ini tidak sama dengan bentuk Amnesia biasa,yang melibatkan hilangnya informasi dari ingatan. Biasanya akibat dari penyakit atau cedera pada otak. Bapak tentu mengingat kejadian saat Nn.Rena mengalami cedera di kepalanya dua tahun yang lalu !"
Jaya terlihat menganggukkan kepalanya. dengan tatapan tajam menyimak segala penjelasan dari Dokter yang ada di depannya.
"Ada beberapa alasan mengapa seseorang bisa mengalami penyakit ini diantaranya, diakibatkan karna suatu kecelakaan kecil yang membuatnya trauma, atau bisa juga karna tingkat stres yang berlebih." Imbuhnya
"Apa kau yakin, kalau putriku mengalami Amnesia yang seperti kau katakan ?" Tanya Jaya
"Saya masih belum yakin 100% tapi kita bisa melakukan beberapa tes, seperti Electroencephalograms(EEG),neuroimaging, atau tes darah. Tes-tes tersebut berfungsi untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit neurologis atau penyakit lainnya dan efek samping obat-obatan sebagai penyebab dari gejala Amnesia Disosiatif !"
Jika tidak ditemukan penyakit fisik, Nn.Rena dapat di rujuk ke psikiater atau psikolog !"
"Lakukan yang terbaik untuk putriku ! dan ingat ! tak satu pun yang boleh tahu tentang hal ini." Titah Jaya. kemudian berdiri dan pergi meninggalkan ruangan Dr.Bima.
••
"Apa kau benar-benar tidak mengingatku ?" Tanya Rangga sedikit menekan kalimatnya.
Rena hanya menatap kebingungan dan menggelengkan kepalanya.
"Dia adalah tunanganmu Rangga !" Jelas Rani dengan suara bergetar, menahan isak yang ingin lepas dari mulutnya.
"Tunanganku ?!" Tanyanya
"Rena, Tolong jangan menakuti Bunda seperti ini !"
"Ren, ini sama sekali tidak lucu !" Bentak Rangga, ia sudah merasa pusing dan tak terima di perlakukan seperti itu oleh Rena.
"Apa yang kau lakukan !"
Suara mengintimidasi itu menggema di setiap sudut ruangan.
Perlahan Rangga berbalik menatap asal suara tersebut.
"Om !" Lirihnya
"Apa kau ingin memperburuk kondisi putriku !" Bentak Jaya pada Rangga dan berjalan mendekatinya
"Aku,aku tidak bermaksud untuk seperti itu !"
Plaaak
Suara tamparan yang keras kembali membuat gema di setiap sudut ruangan.
"Yah !" Lerai Rani
"Ini semua karna perbuatanmu ! kau tidak pernah becus menjaga putriku !"
Rangga hanya bisa diam mematung di tempatnya. Dirinya juga tidak mengerti apa yang telah terjadi sehingga Rena mengalami hal yang seperti sekarang.
Rani yang melihatnya, sedikit iba dengan Rangga saat ini, ia sangat mengerti dengan apa yang di rasakan oleh pemuda itu. Dengan perlahan Ia berjalan mendekati Rangga dan menenangkannya sebisa mungkin.
"Rangga, tante tahu apa yang kamu rasa saat ini, tante minta maaf atas perlakuan om kepadamu !
"Tidak tante ! ini memang sepenuhnya salahku, aku tidak pernah becus menjaga Rena dengan baik." Sesalnya dengan wajah menunduk.
"Tidak ! kita semua belum tahu apa yang terjadi padanya, jangan menyalahkan dirimu sendiri.
Sebaiknya kau pulang dulu, tenangkan dirimu ! biarkan Rena beristirahat untuk beberapa hari !" Ucap Rani dengan lembut.
Sejenak, Rangga menoleh melirik Rena dengan lekat, dirinya berharap agar semua ini hanya lelucon untuk dirinya, dengan begitu, dia tidak perlu menyalahkan dirinya lebih, hingga sedemikian rupa.
("Apa ini sebuah lelucon untukmu ? ataukah sebegitu tidak berartinya kah diriku untukmu ? aku yang terus mengejar cintamu hingga kini, dan hanya inikah balasan untukku ? Semudah itukah untukmu melupakanku ? Kau bilang kau amat sangat mencintaiku seperti diriku yang mencintaimu, apa semua itu hanya sebuah kepalsuan ?") Batinnya
Dengan gontai, ia meninggalkan ruangan tersebut menyisakan Jaya dan Rani yang masih terdiam di tempatnya.
Namun, ia tidak akan diam saja melihat kekasihnya seperti itu. Dengan cepat ia pergi menuju ruangan pribadi Dokter yang merawat Rena selama ini.
.
.
"Apa Dokter tidak bisa memberitahuku apa yang telah terjadi pada Rena ?"
"Maafkan saya Tn.Rangga, Pak Jaya telah memberiku perintah agar tidak memberitahukan kondisi Nn.Rena saat ini pada orang lain." Jawab Dr.Bima dengan tegas.
"Tapi aku bukanlah orang lain, aku adalah calon suaminya ! sebentar lagi kami akan menikah ! mengapa aku tidak diperbolehkan tahu tentang kondisinya ?!"
"Ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai Dokter dari pasien agar tidak membocorkan hal pribadi atas diri pasien kepada siapa pun !"
"Aku akan membayarmu berapapun yang kau inginkan !" Tegasnya tanpa banyak basa-basi lagi, ia sangat tahu kalau Ayah Rena telah menjanjikan sesuatu pada dokter tersebut.
Seketika Dr.Bima menyalang menatap Rangga dengan dingin.
"Aku sudah cukup ramah padamu ! tak ada yang perlu aku katakan padamu dan aku sama sekali tidak membutuhkan uangmu !" Ucap Dokter itu dingin
"Ciih ! kau berbicara seperti itu seakan kau tak pernah mendapatkannya dari orang lain !"
"Cukup Tn.Rangga ! kau ingin mempermalukanku di ruang kerjaku sendiri ? kau cukup arogan dengan hal itu !"
Dengan cepat Dr.Bima mengangkat telpon untuk memanggil bagian keamanan.
"Tidak perlu repot untuk mengusirku ! aku akan keluar sendiri !" Ucap Rangga kemudian beranjak dan pergi keluar dari ruangan yang sangat sesak untuknya.
("Aku akan melakukan segalanya agar kau kembali mengingatku !") Batinnya dengan langkah yang besar nan tegas dengan kaki jenjangnya meninggalkan Rumah Sakit tersebut.