Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Argumen



Ceklek


Pak..


Suara bantingan pintu menggema di ruangan itu. Membuat sang pemilik mendongak dengan tegas menatap sang pelaku.


Namun seketika matanya kembali sayu saat melihat wanita yang ada di hadapannya kini terlihat lemah dan berantakan.


"Rani.. " Ucapnya sontak membuatnya seketika berdiri dari kursi kerjanya.


"Apa kau setega itu pada putrimu hah !" Seru wanita itu dengan lelehan air mata yang terus mengguyuri pipinya.


"Tenanglah." Ucapnya pelan dan berjalan ingin mendekati wanitanya.


"Jangan mendekat !" Hardik Rani.


Seketika pria itu berhenti membuat langkah dan mematung di tempatnya.


"Kau tahu Putriku adalah satu-satunya yang berharga dalam hidupku, dan lihat, apa yang sekarang ia lakukan karna ulah dari perbuatanmu.


tidak bisakah kau mengalah saja ?"


Biarkan dia melakukan apa yang di inginkannya." Imbuhnya


"Tidak Rani !" Jawab pria itu tegas.


Seketika Rani hanya tersenyum hambar.


"Heem.. lihatlah, kau terus membatu, jika kau terus seperti ini maka putrimu akan lebih membatu darimu !"


"Sayang, kau harus tahu, semua ini aku lakukan demi kebaikan dirinya dan keluarga kita. Jawab Jaya melanjutkan langkah kakinya mencoba menenangkan Rani.


Aku tidak ingin dia hancur dan menyesal atas keputusannya." Imbuhnya


"Apa maksudmu ? menyesal ? mengapa dia harus menyesal jika dia akan menikah dengan lelaki yang disukainya ?!"


Apa kau masih mencurigai Rangga atas hilangnya ingatan Rena ? bukankah yang pertama kali mendapati putriku adalah Anggi ? lalu atas dasar apa kau menyalahkan Rangga ?" Cecar Rani.


Jaya terdiam, tentu saja ia tidak akan murkah tanpa alasan, dan Rani tidak boleh mengetahuinya.


"Lihatlah, kau hanya terus diam membatu." ucap Rani kemudian pergi meninggalkan Jaya yang masih setia berdiri tegak di tempatnya.


•••


Kediaman Aberald.


"Mengapa setiap kali putri mereka terkena masalah, mereka akan terus menyalahkan putra kita ?!


Sudah Dua Tahun, dan bahkan di saat acara pernikahan sebentar lagi akan di langsungkan, mereka dengan seenaknya menggagalkan pernikahan ini secara sepihak.


Apa mereka benar-benar memandang rendah keluarga kita ?


Aku sudah cukup malu pada teman-teman arisanku. Bahkan sekarang aku menjadi bahan lelucon dari para Ibu-ibu pejabat."


"Tenanglah.. " Ucap John mencoba menenangkan Istrinya.


Sudah cukup Putraku berkorban dan terus mengalah, Rena bukan satu-satunya gadis cantik di kota ini. Putraku tampan dan juga berbakat, aku akan mencarikannya gadis yang lebih cantik dari Rena, dan tentu keluarganya tidak psikopat seperti keluarga Atmajaya."


"Apa kau yakin ?" Tanya John.


"Ya ! banyak gadis yang mengantri untuk bisa di peristri oleh Rangga. Rena bukanlah satu-satunya."


Dan mari kita lihat, bagaimana reaksi Putri mereka satu-satunya.


Jika mereka bisa melakukan apa saja untuk Putri mereka, maka aku akan melakukan apa saja untuk Putraku." Ucap Mariah dengan kesal.


"Tapi, bagaimana dengan perusahaan kita ?" Tanya John.


"Bukankah sudah Dua Tahun sejak kau menyelamatkan Perusahaan dari akuisisi ?! jadi tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan."


"Kau hanya tidak tahu,kalau selama ini Jaya terus memperhatikan dan memantau perkembangan perusahaan kita, bagaimana jika ia mendapatkan kekurangan pada perusahaan ? tentu saja itu tidak akan baik untuk kita.


Kekurangan dalam perusahaan adalah termasuk suatu kelemahan." Jelas John


Mariah memeperhatikan suaminya dengan seksama.


"Mengapa kau sangat takut pada Jaya huh ?!"


"Aku bukan takut padanya, hanya saja ia terlalu kuat untuk pengusaha sepertiku, Perusahaannya lebih dulu berdiri dari milik keluargaku, ia lebih dulu memiliki pondasi yang kuat dengan petinggi-petinggi yang selalu setia mendukungnya. Terangnya.


Jadi aku mohon, bersabarlah !" Pinta John.


Namun, kekesalan Mariah telah masih belum bisa mereda.


"Tapi, bukankah mereka sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan pernikahan ini ?" Ucapnya.


"Tunggu beberapa hari lagi, aku tahu, Jaya melakukan itu karna apa yang tengah terjadi pada Putrinya. Kita hanya perlu menunggu keputusan dari Rena.


Aku sangat yakin, Rena bisa lebih bijak dari orang tuanya." Ucap John meyakinkan.


"Kalau begitu, apakah aku harus pergi menjenguknya dan kembali memohon ?" Tanya Mariah.


"Tidak perlu, kita hanya harus perlu menunggu, dan peringati Rangga tentang hal ini, agar dia tidak membuat ulah lagi."


"Mengapa kau juga selalu menyalahkan Putramu ?!" Kesal Mariah.


"Aku tidak menyalahkannya, aku hanya ingin kau memperingatinya. Jawab John pasrah dengan kekesalan Istrinya.


Apa dia masih menemui Monica ?" Lanjutnya dengan pertanyaan.


"Entahlah, Putramu jadi sedikit pendiam sejak pesta pertunangannya dengan Rena Dua Tahun yang lalu, aku bahkan bertanya-tanya, apa dia bahagia dengan pilihan kita ? dan aku sedikit merasa bersalah karna melakukan perjodohan ini."


"Sudahlah, semuanya sudah terlanjur, kita hanya perlu menghadapi konsekuensi dari keputusan kita waktu itu. Seharusnya kita sudah memikirkan masalah ini akan terjadi. Mereka bukanlah keluarga yang sembarang untuk di singgung." Jelas John lelah.


Tidurlah, aku sudah terlalu lelah memikirkan semuanya !" Imbuhnya


"Hmmp aku sudah terlalu capek berurusan dengan keluarga mereka, semoga ini adalah yang terakhir kalinya." Ucap Mariah pasrah, kemudian menarik selimut dan mematikan lampu kamarnya.