Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 84



Setelah melewati beberapa hari yang cukup panjang.


Sekarang mereka disini. Duduk didepan semua wartawan yang tengah menunggu penjelasan dan jawaban mereka atas beberapa pertanyaan mewakili dari sekian banyaknya pertanyaan publik atas hubungan mereka yang sebenarnya.


Beberapa suara cepretan kamera terdengar bergema di ruangan tersebut.


Rena tampak gelisah dengan keadaannya yang sekarang, sudah lama sejak ia berdiri di depan sorotan kamera dengan pandangan beberapa orang seperti sekarang ini.


Rendy dan Arka yang mengetahui hal tersebut memegang telapak tangan Rena masing-masing, memebuat Rena reflek melirik kedua orang yang duduk disampingnya secara bergantian.


.


.


"Selamat siang semuanya, hari ini saya Raehana Khairani Atmajaya ingin mengkonfirmasi hubungan saya dan dr.Arka ferdiansyah." Ucap Rena kemudian menatap Arka dengan senyum.


"Benar bahwa kami memiliki hubungan dan telah resmi bertunangan sejak lama." Sembari mengangkat tangannya memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Dan disususl oleh Arka.


"Mengenai kami tidak pernah mengekspose hubungan kami ke publik. Menurut kami berdua ini adalah kehidupan kami, dan tidak perlu di ketahui atau menjadi konsumsi publik."


Waktu terus berputar, Rena mencoba sebisanya menjawab segla pertanyaan yang di lontarkan kepadanya.


Hingga acara itu akhirnya berakhir, dan mereka bertiga meninggalkan tempat tersebut di kawal dengan beberapa bodyguard.


Area Parkiran.


"Apa kau baik-baik saja ?" Tanya Arka ketika melihat Rena memejamkan matanya dan bersandar di sandaran kursi mobil.


Tidak ada jawaban.


Rena hanya menganggukkan kepalanya pelan.


Arka yang tidak ingin mengganggu segera menyalakan mesin mobilnya kemudian meninggalkan area parkiran tersebut.


Disisi lain.


Rangga yang berada di kantornya tidak sengaja melihat siaran langsung tersebut di TV.


Ia tidak menghiraukan apa yang di katakan Rena saat itu, dirinya terfokus menatap mata Rena yang terselip sebuah keraguan.


Sedang Reno yang melihat sahabatnya kini terpaku menatap layar TV tersebut hanya bisa mengangkat bahu dan menghela nafasnya pelan.


"Bukankah aku sudah memperingatkanmu ?!" Ucapnya sembari mendaratkan bokongnya di sofa.


Namun Rangga tentu saja mengabaikannya.


Reno tersenyum sinis.


"Aku tidak tahu, kalau kau akan sebodoh ini mencintai seorang wanita yang bahkan dia tidak lagi memperdulikanmu." Umpatnya pasrah.


"Tahu apa kau tentangnya ?!" Ucap Rangga sinis dan memilih pergi meninggalkan Reno yang terdiam melihat ekspresinya yang menakutkan.


Rangga sangat tahu bahwa Rena masih memperdulikannya, ia mengingat momen saat dia masih dalam keadaan koma di Rumah Sakit, dirinya tahu saat itu ia tidak sedang bermimpi. Ia selalu mendengar suara Rena dan bahkan merasa bahwa Rena memegang tangannya.


Kemudian ia mengingat kilas balik perjalanan cinta mereka saat pertama kali bertemu, bagaimana mereka saling menjahili, dan bagaimana akhirnya Rena meninggalkannya.


Jika di pikir-pikir, pengorbanannya saat itu semuanya menjadi sia-sia karna perbuatan satu wanita.


••


"Apa kau ingin makan sesuatu ?" Tanya Arka memecahkan keheningan.


"Emm.. aku sedang tidak lapar."


"Tapi kau belum makan apa pun sejak kita kembali dari villa."


.


.


"Apa kau bisa mengantarku ke rumah kakak ?!" Tanya Rena.


"Emm tentu saja..!" Jawab Arka dengan cepat.


Arka melajukan mobilnya menuju rumah Rendy.


Suasananya sedikit ambigu, hingga tidak terasa mereka telah sampai di parkiran kediaman Rendy.


"Terima kasih !" Ucap Rena sembari meraih tasnya dan ingin membuka pintu.


Namun Arka menyekalnya dan meraih pergelangan tangannya.


Rena terhenti dan terdiam di tempatnya.


.


.


.


"Soal semalam, aku benar-benar minta maaf !" Ucap Arka dengan nada bersalah.


.


.


Rena membisu, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan, hingga suara ketukan terdengar dari kaca jendela di samping Arka.


Arka menurunkan kacanya mobilnya.


"Hei.. apa yang kalian berdua lakukan disini ?" Tanya Rendy, yang sebenarnya sudah memperhatikan mobil mereka terparkir sedari tadi.


"Ah.. aku hanya mengantar Rena, katanya dia ingin kesini." Ucap Arka sedikit gerogi.


"Kalau begitu masuklah.. cuaca di luar sangat panas." Perintah Rendy.


Mereka berdua akhirnya keluar dari mobil dan berjalan memasuki kediaman Rendy.


"Selamat datang di rumahku Arka, ini pertama kalinya kau datang kesini bukan ?"


Arka tersenyum kemudian mengangguk.


"Silahkan duduk." Rendy mempersilahkan dan juga mendaratkan bokongnya.


"Waah.. kalau di pikir-pikir ini kali pertama Rena membawa laki-laki ke rumah ini." Imbuhnya berkelakar mencoba meledek adiknya.


Namun kali ini Rena tidak merespon. Ia malah pamit untuk tidak bergabung.


"Ka' aku ke kamar dulu." Ucapnya sedikit memperlihatkan wajah lesunya.


Rendy terlihat kebingungan.


"Emm bagaimana dengan--"


Belum sempat Rendy menyelesaikan kalimatnya, Arka segera memotongnya dengan pertanyaan yang lain.


"Bukankah ini edisi terbatas ?!" Tanya Arka mengangkat miniatur mobil yang masih tergeletak di atas meja.


"Eh, ya.. ini contoh baru yang dikirimkan pihak jepang. mungkin bulan depan sudah terpajang di shorum perusahaanku !" Ucap Rendy penuh semangat.


Ya, para lelaki memang kebanyakan akan bersemangat jika membicarakan tentang dunia otomotif.


Rena tidak menggubris lagi dan segera masuk ke kamarnya.


Arka melirik dari kejauhan.


Dan tentu saja di perhatikan oleh Rendy.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi di antara kalian ?" Tanya Rendy tidak dapat menahan keingintahuannya.


Arka menaikkan alisnya sebelah seraya menatap Rendy.


"Em.. ?!"


"Ahaha.. " Ia tertawa hambar.


"Tidak ada apa-apa !" Dalihnya.


Arka terdiam.


Di malam sebelumnya.


Flashback On.


Ini sudah malam ke delepan mereka menginap di villa yang ada di pulau terpencil tersebut.


Dan semakin mereka mengetahui kebiasaan mereka masing-masing semakin mereka menunjukkan ketertarikan tubuh satu sama lain.


Apalagi jika melihat tubuh Arka yang saat ini sedang berenang dengan bertelanjang dada. memperlihatkan tubuhnya yang ideal dan sixpack.


Rena yang duduk di salah satu kursi hanya bisa meneguk salifanya dan diam-diam mencuri pandang pada Arka yang saat ini menikmati renangnya.


Ya.. berenang telah menjadi olahraga favorit Arka sejak dulu dan menjadi rutinitasnya jika sedang senggang ataupun pada saat ia mengalami stres.


Rena yang tidak bisa lagi menahannya segera berdiri dan ingin beranjak pergi.


"Mau kemana ?" Tanya Arka tiba-tiba.


Rena menghentikan langkah kakinya.


"Aku bosan ! emm aku akan tidur !"


Benar, di tempat itu tidak memiliki signal. tidak bisa membuka internet ataupun untuk menonton acara TV. Pulau itu benar-benar terpencil. Jika tidak mengisinya dengan berbagai aktivitas, tentu saja akan membuat orang yang tinggal di pulau itu merasa bosan.


Hari-hari sebelumnya telah mereka isi dengan berbagai aktivitas, entah itu berkuda, memberikan makanan ternak, menjelajah hutan atau berkemah di luar villa.


"Bukankah ini baru jam 7 malam ?!" Ucap Arka kemudian duduk di tepi kolam.


"Cuacanya terasa dingin, dan aku semakin menggigil melihatmu basah seperti itu." Jawabnya berdalih.


"Benarkah ? tapi aku tidak merasa dingin sama sekali." Ucapnya yang kemudian mencipratkan Rena air dengan tangannya.


"Arka... apa yang kau lakukan !"Seru Rena kesal.


"Ayolah, ini sama sekali tidak dingin." Ucap Arka sambil tertawa.


Rena dengan cepat mengambil handuk dan mengeringkan pakaiannya yang sedikit basah.


Bisakah kau juga memberiku handuk ?!" Pinta Arka sedikit tersenyum.


"Tidak bisakah kau mengambilnya sendiri ?" Jawab Rena masih kesal.


Namun Arka tidak menjawab dan juga tidak bergerak. Membuat Rena menghela nafasnya pasrah.


Baru saja ia berjalan beberapa langkah ingin memberikan handuk, kakinya tiba-tiba tergelincir di sebabkan air yang yang berserakan yang di buat Arka.


Rena kehilangan keseimbangannya, namun Arka segera berdiri dan menangkapnya. Sedikit lagi Rena akan terjatuh masuk ke dalam kolam. Ia dengan kuat memegang tubuh Arka dengan tangan lainnya memegang dada bidang yang sedari tadi membuatnya menelan ludah karna bentuknya yang sixpack.


Arka tersenyum melihat wajah Rena yang seperti saat ini, membuat Rena memutar bola matanya.


Melihat Arka tersenyum jahil membuat Rena menduga kalau Arka akan melepaskannya.


"Arka, jangan. Aku tidak ingin basah !" Pinta Rena.


Namun sepertinya Arka tidak ingin membiarkannya lolos, dan akhirnya melepaskan pegangannya, membuat Rena jatuh masuk ke dalam kolam.


Bruuaaach...


"Aaaaaaa.." Teriak Rena melengking.


Ia menahan tawanya sembari mengusap kepalanya dengan handuk yang sempat di raihnya di tangan Rena.


"Arka...!" Jeritnya kesal.


Nmaun Arka tidak menggubris, ia malah tersenyum puas dengan perbuatannya.


"Hei.. apa kau menertawakanku ?!" Seru Rena kesal.


Arka memalingkan wajahnya.


Rena semakin kesal dan akhirnya berenang mendekati Arka dan menariknya kembali masuk ke dalam kolam.


"Ren.. apa yang kau lakukan ?! aa aaakh.. " Seru Arka.


Bruuuuach..


"Kita impasss..!" Ucap Rena meledek dan kemudian tertawa.


Ia sepertinya sangat senang dan tidak menyadari kalau baju tidur yang dikenakannya telah menerawang karna basah. Membuat Arka meneguk salifanya dalam-dalam.


Arka segera kembali menepi, Ia bermaksud ingin mengambilkan handuk untuk Rena, namun lagi-lagi Rena menariknya dan memeluknya dari belakang menahannya untuk pergi. Sepertinya ia sangat menikmati dan tidak ingin Arka meninggalkannya sendiri.


Dan membuat Arka semakin tidak bisa menahan dirinya.


Ia berbalik dan menatap Rena dengan tajam.


Melihat tatapan itu membuat Rena sedikit terkejut.


("Apa dia marah ?") Batinnya.


"Ren, apa aku boleh tahu alasan mengapa kau sangat ambigu jika bercerita soal bercinta ?"


Rena meneguk salifanya karna gerogi.


"Mengapa tiba-tiba kau menanyakan hal seperti itu ?" Tanya Rena ragu.


"Aku hanya ingin tahu." Ucap Arka datar.


.


.


Mereka saling menatap.


"Entahlah.. !" Ucap Rena melepaskan pegangannya di pinggang Arka dan ingin berbalik pergi.


Namun Arka menyekal pergelangan tangannya dan menariknya sangat keras hingga tubuhnya terbentur di tubuh Arka.


"Bolehkah ?!" Tanya Arka pelan.


Rena tidak menjawab ataupun menolak. Entah saat ini ia malu atau gerogi. Namun ini bukan pertama kalinya Arka memperlakukannya seperti ini, tapi mengapa ia merasa kali ini sedikit berbeda ? hingga detak jantungnya berdegup sangat cepat. Ia tahu akan terjadi sesuatu jika ia tidak bisa mengendalikan dirinya.


Tanpa aba-aba Arka memeluknya erat dan mendaratkan ciuman yang sensasional di bibirnya.


Ia meraba punggung Rena dengan pelan membuat Rena bisa menikmatinya.


Hingga mereka berakhir di tempat tidur yang cukup luas.


Namun saat Arka siap ingin melakukannya, Rena tiba-tiba tersadar dan mendorong tubuh Arka sangat kuat.


"Maafkan aku !" Ucapnya segera memperbaiki bathrobenya kemudian berlari keluar dan masuk ke kamarnya.


Arka hanya bisa tercengang melihat Rena pergi begitu saja saat ia benar-benar merasa ereksi.


Pagi harinya ketika Rendy datang untuk menjemput mereka, Rena dan Arka sudah seperti itu. duduk berjauhan tanpa mengeluarkan kata sedikit pun.


Flashback off.


"Arka.. !" Seru Rendy.


Membuat Arka tersadar dari lamunannya.


"Apa yang terjadi ?" Tanya Rendy menelisik.


"Ah.. tidak ada ! kalau begitu aku pamit pergi." Ucapnya kemudian beranjak dari tempat duduknya.


Rendy tidak bisa menghalanginya.


"Baiklah.. !" Jawabnya.


Arka membungkukkan kepalanya kemudian berbalik pergi meninggalkan kediaman tersebut.