
Kediaman Aberald
Pria yang begitu di segani di wilayahnya, masih setia duduk di kursi empuknya, membaca dokumen yang masih menumpuk di atas meja.
Namun matanya teralihkan pada ponselnya yang berdering.
"Siapa yang menelfon tengah malam seperti ini ?" Gerutunya
Ia segera meraih ponselnya dan melihat nama yang terlampir di layarnya.
"Halo ! Ada apa Jaya ?! kau sangat jarang menelfon tengah malam seperti ini !"
"Tidak perlu berbasa basi John ! katakan padaku, apa kau sudah benar benar mengurus gadis itu ?!" Tanya Jaya dengan datar
Mendengar suaranya, John tahu, kalau dia sedang terintimidasi. Sesuatu pasti telah terjadi.
"Apa maksudmu ? bukankah aku sudah mengatakannya padamu beberapa bulan yang lalu ?"
"Apa kau ingin mempermainkanku John !" Tegas Jaya
"Maafkan aku, apa yang sebenarnya terjadi ?" Tanya John sedikit cemas
"Sepertinya aku terlalu baik padamu ! hingga kau membuat keluargaku seperti ini !"
"Maafkan aku Jaya, tapi aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu !"
"Kau tidak perlu berpura pura John ! bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk menjauhkan Rangga dari gadis itu ? sepertinya kau sangat menyepelekan ancamanku !
Kau belum melihat sisi gelapku John ! aku bisa melakukan apa saja pada perusahaanmu dan bahkan untuk keluargamu !"
"Tapi--"
Tut. Jaya memutuskan telponnya secara sepihak.
John yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya, hanya bisa terdiam menggenggam erat ponselnya. Terdengar giginya bergemeretak menahan amarah.
Ia beranjak dari kursinya, mencoba berfikir dan terus berfikir. Kali ini apa lagi masalahnya ? Jaya terdengar benar-benar mengancamnya. Ia mondar mandir di dalam ruangannya sendiri, sesekali memijat keningnya yang mulai terasa nyeri.
Beberapa saat kemudian, dia memilih pergi untuk menemui Istrinya, berharap mendapatkan solusi.
••
Di dalam kamar yang cukup luas, Mariah yang masih terjaga, memilih membaca sebuah majalah di sofa panjang yang ada di kamarnya, ia berbaring dengan masker yang masih menempel di wajahnya.
ceklek
Suara pintu terbuka
Mariah yang menyadari kehadiran suaminya, segera menghentikan aktivitas membacanya.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai ?" Tanya Mariah
Hening, tak ada jawaban. John hanya memilih duduk di ujung kaki Istrinya.
Baru kali ini suaminya mengabaikan pertanyaanya, karna penasaran, ia segera bangun dan melepaskan maskernya, kemudian memandangi Suaminya. Wajah itu terlihat gusar, entah apa yang dipikirkannya.
" Apa yang terjadi ? mengapa wajahmu seperti itu ?" Tanya Mariah
"Pah !" Mariah menepuk pelan pundak Suaminya.
"Aku tidak tahu, mengapa Jaya mengancamku kali ini !" Ucap John
"Apa maksudmu ?" Tanya Mariah lebih penasaran
"Aku baru saja mendapat telfon darinya, dan dia terdengar sangat murkah, sampai dia mengancam akan melakukan sesuatu pada perusahaan bahkan pada keluarga kita." Ucapnya
Mata Mariah membola mendengar ucapan suaminya.
"Apa dia sudah gila ? mengapa dia ingin menghancurkan perusahaan dan keluarga kita ? apa dia sudah lupa dengan perjodohan anak kita ?!" Seru Mariah
"Aku sendiri juga bingung, mengapa dia tiba-tiba menelfonku larut malam seperti ini dan mengancamku ?! apa kau tahu sesuatu ? bukankah tadi siang Rani datang kerumah kita ?" Sambil menatap ke arah Istrinya
Mariah terperanjat dari duduknya, menggenggam erat kedua tangannya. Ia mulai mondar mandir dengan gelisah, ia belum menceritakan kejadian tadi siang pada suaminya. Ia yakin, kemurkahan Jaya saat ini karna kemurkahan Rani yang menyaksikan Monica dengan bebas memasuki kamar putranya.
"Apa yang terjadi ? mengapa kau sangat gelisah ? apa kau mengetahui sesuatu yang belum aku ketahui ?!" Tanya John menatap Istrinya
Mariah menghentikan langkah kakinya, dengan sedikit ragu, ia kemudian duduk kembali disamping suaminya.
"Maafkan aku, seharusnya aku menceritakan ini lebih awal." Ucap Mariah
"Apa maksudmu ?" Tanya John bingung
"Tadi siang, saat Rani masih disini, Monica datang dan menyerbu masuk. Aku mencoba menghentikannya, namun terlambat. Ucap Mariah
Aku yakin, Rani pasti merasa sangat dilecehkan dengan perkataan Monica. Dan parahnya, ia melihat langsung bagaimana Monica dengan bebasnya masuk ke dalam kamar Rangga !" Imbuhnya
John yang mendengar penuturan Istrinya, hanya bisa menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, kemudian memijit keningnya yang semakin nyeri.
"Aku tidak tahu, kalau Rani akan semarah ini, dan melaporkannya pada Jaya." Sahut Mariah sambil memgang kedua telapak tangan suaminya.
John menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.
"Hhhhmm, bagaimana bisa kau seteledor ini ? seharusnya, kau cepat memberitahuku, agar aku dengan cepat mengatasinya ! sekarang, aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa, bagaimana bisa Jaya bisa deluan tahu masalah ini dari aku ?!" Ujar John, yang masih menutup mata sambil memijat keningnya.
"Maafkan aku ! lalu, apa yang harus kita lakukan ?" Tanya Mariah
"Jangan tanyakan itu padaku sekarang ! kepalaku terasa ingin pecah hanya karna memikirkannya !"
Detik dwmi detik berlalu begitu saja.
Perlahan Mariah menarik suaminya,dan merebahkan kepala John di pangkuannya.
"Sini, biar aku memijatmu !" Ucapnya
"Apa aku harus menelfon Rani ?" Tanya Mariah
"Tidak, jangan sekarang, kau tahu persis bagaimana watak Rani. Jaya tak akan semarah itu jika bukan karna Rani. Dia memiliki pribadi yang sangat keras.
Kalau kau ingin menelfonnya, sebaiknya besok saja. Atau lebih baik, kalau kau ke rumahnya, dan bawakan dia hadiah. Kau sangat paham dengan apa yang menjadi kesukaannya bukan ?!" Imbuhnya
"Baiklah,
hmmp minumlah obatmu ! mungkin tekanan darahmu naik lagi." Ucap Mariah
"Sebentar lagi, aku masih ingin menikmati pijatanmu, setidaknya membuat bebanku sedikit berkurang." Jawab John
•••
Pagi hari, masih di keluarga Aberald.
"Pagi Mah, Pah !" Sapa Rangga, kemudian duduk di salah satu kursi meja makan.
Hening, tak ada jawaban. hanya ada bunyi dentingan sendok yang terdengar.
Rangga yang melihat suasana itu hanya menyudutkan bibirnya mengedikkan bahu, seolah tak ingin tahu. Namun John segera mengangkat suara.
"Apa yang di lakukan Monica di kamarmu kemarin ?" Tanya John
"Tidak ada, dia hanya membangunkanku !" Jawab Rangga sambil menata selai di atas rotinya.
"Apa semalam Rena menelfonmu ?"
"Tidak !" Jawab Rangga singkat.
John yang mendengar jawaban anaknya, menghentikan aktivitas makannya, dan menatap Rangga dengan tajam. Namun Rangga tidak terlalu menghiraukannya. Ia segera berdiri dan menjitak kepala putranya
Tak !
"Aaw !" Rangga meringis kesakitan
"Apa yang Papah lakukan ?!" Ucap Rangga, sambil mengusap kepalanya.
"Apa kau belum menyadari kesalahanmu huh !" Seru John, ia tidak habis pikir dengan kebodohan putranya.
"Memangnya apa kesalahanku ?"
John mengertakkan giginya, ia tidak tahan lagi melihat ekspresi anaknya yang cukup santai tanpa kesalahan.
"Dasar anak brandal ! mengapa kamu sangat bodoh huh ! apa kau tidak curiga mengapa Rena tidak menelfonmu ?" Teriak John
"Mungkin dia sibuk !" Jawabnya santai
Lagi-lagi John hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar
"Huuuft ! apa kau pikir Rani membiarkanmu berhubungan lagi dengan putrinya, setelah melihat kejadian kemarin ?!"
Rangga kemudian terkejut, ia terperanjat dari kursinya dan menatap tajam ke arah ayahnya.
"Apa maksud Papah ?"
John kembali duduk di kursinya
" Perusahaan dan keluarga kita akan terancam karna masalah ini !" Jawab John datar
Rangga segera merogoh ponsel di sakunya. Ia berniat ingin menelfon Rena.
Untuk beberepa saat, Rena belum juga menjawab telfonnya. Ia terus menekan nomor yang sama, namun, masih belum ada jawaban.
"Sial ! apa yang harus aku lakukan ?"
"Bukankah Mamah sudah menyurumu menelfon Tante Rani untuk minta maaf ?" Tanya Mariah
"Sejak tadi malam, aku sudah beberapa kali mencoba menelfon, tapi tidak satupun Tante Rani menjawabnya." Jawab Rangga frustasi
Rangga kembali menatap Ayahnya.
"Pah ! apa Papah memiliki saran ?" Tanya Rangga
"Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah menyudahi pertemananmu dengan Monica !" Jawab John masih dengan nada datarnya.
"Apa maksud Papah ? mana bisa aku menyudahi hubunganku dengan Monica ? dia adalah sahabatku sejak kecil, dan, bukankah Ayahnya adalah salah satu orang kepercayaan Papah ! bagaimana jika Ayahnya berbalik menyerang Papah karna telah menyakiti putrinya ?"
"Papah sudah memikirkannya, kau lakukan saja apa yang Papah perintahkan ! kau bisa membuat dia jauh darimu, tanpa perlu menyakitinya !"
"Tidak, aku tidak bisa ! sekuat apa pun aku menghindar, dia akan tetap mengikutiku ! aku telah berusaha untuk menghindarinya, namun lihatlah, dia bahkan datang ke rumah untuk mencariku !"
"Hmmp, gadis itu benar-benar menjadi bencana buat keluarga kita. Aku tidak menyangka keputusanku dulu akan menghancurkanku saat ini !" Ucap John frustasi
"Bagaimana kalau untuk saat ini kau tinggal di apartemen saja !" Sahut Mariah memberi ide
"Percuma, cepat atau lambat, Monica juga akan mengetahuinya." Jawab John
Meja makan tempat sarapan pagi yang seharusnya dinikmati dengan suka cita, menjadi meja diskusi yang panas dan mengkhawatirkan.