
Seperti yang diinginkan Rendy, Arka menerima usulan Rendy tentang pemindahan tanggung jawab Rangga saat ini.
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan pada Rangga, Arka akhirnya keluar dari ruangan tersebut.
Ketika berbalik setelah menutup pintu ruangan, ia tidak sengaja menabrak seorang anak perempuan hingga anak itu berhasil terjatuh.
Bruuk..
"Aduuh...!" Rintih anak itu sedikit kesakitan.
Dengan cepat Arka meraih anak itu lalu menggendongnya dan mendudukkannya di salah satu kursi tunggu yang ada di depan ruangan tersebut.
"Mana yang sakit ?" Tanya Arka sembari memeriksa tubuh kecil anak itu.
"Apa ada yang terluka ?" Imbuhnya sedikit panik. Ia sadar kalau dirinya tidak sengaja sedikit keras menabrak anak itu.
Gadis kecil itu terlihat memegang pinggulnya dan menyapu pelan kepalanya.
"Maafkan aku ya ? aku benar-benar tidak sengaja." Pinta Arka dengan wajah menggemaskan yang dibuatnya.
Gadis kecil itu hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
Dengan posisi berjongkok di depan gadis kecil itu, Arka mengusap pelan kepalanya.
"Emm, apa aku boleh bertanya ?"
Gadis kecil itu kembali menganggukkan kepalanya.
"Nama kamu siapa ?"
"Moura." Jawabnya dengan suara yang menggemaskan.
"Emm Moura sedang apa disini ?"
"Menjenguk Ayah."
"Lalu mengapa kau sendirian ? apa kau tersesat ?"
Moura menggelengkan kepalanya.
"Apa kau tahu dimana ruangan Ayahmu ?" Tanya Arka.
Moura menganggukkan kepalanya.
Arka kemudian celingukan melihat orang yang ada di sekitar mereka.
"Dimana Ibumu ? mengapa dia bisa meninggalkanmu sendirian di sini ?"
Pertanyaan Arka sontak membuat Moura tiba-tiba saja menangis.
"Waaa.. hiks hiks hiks.. waa haaa.. hiks.." Tangisan Moura pecah.
Arka semakin kebingungan di buatnya. Dengan cepat ia memeluk gadis kecil itu dan menepuk pelan belakangnya agar merasa tenang.
"Suuut.. suut.. tenanglah, aku akan menjagamu." Ucap Rangga mencoba menenangkan gadis kecil itu.
Ia terus mengulangi perkataannya, hingga tanpa sadar Moura terlelap dalam dekapannya. Merasa tak ada pergerakan yang di lakukan gadis kecil itu, Arka melepaskan dekapannya dan perlahan menidurkan Moura di pangkuannya.
Ketika melihat ekspresi Moura yang sangat menggemaskan saat tidur, tanpa terasa membuat Arka membuat lengkungan senyum di bibirnya.
"Menggemaskan. Tapi kenapa dia tiba-tiba menangis ?" Lirihnya sembari mengusap pelan pipi chabi milik Moura.
Arka tidak menyadari, bahwa aksinya sedari tadi telah menculik perhatian beberapa orang yang ada di sekitarnya, terutama kaum ibu-ibu dan juga perawat wanita. Bahkan seseorang telah mengabadikannya dengan memotret kebersamaannya dengan Moura.
"Wah.. Dr.Arka,sepertinya kau sudah bisa menjadi seorang Ayah !" Ucap seorang wanita yang kini berjalan mendekatinya dengan senyuman Jahilnya.
"Kalau begitu, maukah kau menjadi Ibu dari anakku ?" Tanya Arka dengan senyum menggoda namun terdengar sedikit serius.
Wanita yang tidak lain adalah Rena hanya bisa kikuk mendapat jawaban super dari lelaki yang kini ada di hadapannya.
"Ekhem.. !" Dehemnya.
Siapa anak ini ? sangat menggemaskan." Tanyanya mencoba mengalihkan topik sembari berjongkok di depan Moura.
Arka hanya tersenyum lucu melihat tingkah Rena yang kikuk. ia mendekatkan kepalanya dan menatap lekat wajah Rena.
"Mengapa kau tidak menjawabku." Tanyanya jahil.
Rena yang tidak berani menatap Arka yang sudah menatapnya dekat hanya bisa berusaha mengubah topik pembicaraan.
"Aku akan mencolok matamu jika kau terus memandangku seperti itu." Lirihnya, namun masih terdengar jelas di telinga Arka.
Arka hanya bisa menahan tawa, manakala mendengar umpatan yang berhasil keluar dari mulut gadis itu.
Jika dilihat, pemandangan saat ini sangat indah jika dibandingkan dengan pemandangan yang ada di taman Rumah Sakit. Arka yang sedang menidurkan Moura di pangkuannya dan Rena yang sedang berjongkok menahan malu karna tatapan Arka yang tidak berpaling darinya.
"Oowh.. romantisnya.." Ucap beberapa Perawat wanita iri ketika melihat adegan kedua dokter Rumah Sakit itu terlihat mesra.
"Mereka memang pasangan yang serasi." Ucap kepala perawat manakala juga mendapati pemandangan yang menyenangkan itu.
"Sepertinya aku cemburu pada Dr.Rena." Ucap salah satu perawat wanita yang berdiri tidak jauh dari kepala perawat.
Mendengar hal itu sontak membuat Jenniy kepala perawat memutar matanya dan memukul pelan kepala suster tersebut.
"Jangan pernah berpikir untuk merusak hubungan mereka." Kesal Jenniy.
Suster itu hanya memanyunkan mulutnya dan melanjutkan pekerjaannya.
Di sisi lain Rena masih mengumpat Arka dengan beberapa perkataan yang kasar. Dan Arka tentu saja hanya bisa tersenyum karna sudah terbiasa mendengar umpatan itu dari gadis yang dicintainya.
"Semakin lama kau semakin galak !" Ucap Arka masih setia dengan senyum manisnya.
"Baiklah, sebaiknya aku pergi saja. Aku tidak tahan melihat senyumanmu itu. " Ucapnya kemudian berbalik.
Namun Arka segera mencekalnya dengan meraih tangannya.
"Apa kau malu ?" Tanyanya jahil.
Apa yang dilakukan Arka semakin membuat penonton mereka saat ini semakin gemas dan berhasil berseru manja.
"Oowh.. mesranya." Ucap beberapa Perawat.
"Aku juga ingin tanganku di pegang." Seru salah satu Suster menggoda.
Jenniy yang melihat tingkah bawahannya hanya bisa berdecak menggelengkan kepalanya dan memberi mereka cubitan kecil.
Hal itu semakin membuat Rena merasa malu dan memeaksa melepaskan tangannya dari Arka kemudian berjalan cepat sembari menutupi wajahnya dengan telapak tangan menjauh dari area tersebut.
Arka tersenyum lucu ketika melihat betapa geroginya Rena atas apa yang baru saja ia lakukan.
Namun tiba-tiba seorang Ibu menyadarkannya.
"Permisi.. !?"
Arka berpaling dan menatap tanya pada Ibu itu.
"Ada yang bisa saya bantu ?" Tanyanya.
"Dia... cucuku." Ungkap Ibu itu sambil menunjuk ke arah Moura.
"Owh.. maaf bu, aku hanya tidak sengaja menabraknya saat keluar dari ruangan. Hanya saja.. ketika aku menanyakan keberadaan ibunya, dia terus menangis. Aku mencoba untuk menenangkannya,namun dia malah tertidur."Jelas Arka.
Ibu itu tersenyum dan ikut duduk di samping Moura yang tertidur.
"Mengapa dokter meminta maaf ? seharusnya aku yang meminta maaf karna telah menyusahkan dokter."
"Dia tidak menyusahkanku, menurutku dia menggemaskan." Ungkap Arka.
"Dimana Ibunya ?" Tanyanya.
Ibu itu terlihat menundukkan kepalanya dan perlahan mrnatap wajah Moura yang masih tertidur pulas.
"Ibunya meninggal sebulan yang lalu karna sebuah kecelakaan, dan Ayahnya sampai sekarang masi terbaring koma." Ucap Ibu itu sembari menahan tangis yang ingin memecah.
Arka dengan jiwa kedokterannya, dengan lembut mengusap pelan bahu Ibu itu yang tidak lain adalah Ibu Rangga.
"Mengapa ibu membiarkan Moura keluar sendiri ?" Tanya Arka.
Mariah mengusap air matanya yang hampir terjatuh.
"Owh, sepertinya dia telah memberitahukan namanya.
Sebenarnya aku meninggalkannya di ruangan Ayahnya sebelum aku pergi menemui Dokter yang merawat Ayahnya.
Aku tidak tahu jika dia akan keluar sendiri, mungkin karna takut dengan Ayahnya." Jelas Mariah.
Arka sedikit bingung.
"Mengapa ia harus takut dengan Ayahnya ?" Tanya Arka sedikit ingin tahu.
Mariah hanya tersenyum hambar menatap ibah pada Moura.
"Ceritanya sangat rumit."
Moura yang samar-samar mendengar suara neneknya mengerjapkan matanya dan membuka perlahan kelopak matanya. Dengan cepat ia bangun dan memeluk Mariah.
"Oma.. "
"Moura, apa kau keluar mencari Oma ?" Tanya Mariah.
Moura menganggukkan kepalanya.
"Apa kau tidak takut jika tersesat ?" Tanya Mariah sembari melepaskan dekapannya pada Moura.
"Aku takut, tapi aku tidak takut lagi setelah bertemu Dokter yang tampan !" Ucapnya sembari menatap miring ke arah Arka.
Arka terlihat menggaruk kepalanya tersenyum malu mendengar celotehan Moura. Ia tidak menyangka akan merasa gerogi setelah di puji oleh gadis kecil seperti Moura.
"Kalau begitu, aku permisi dulu !" Ucap Arka gerogi beranjak berdiri dari duduknya.
Mariah menganggukkan kepalanya. Namun Moura segera meraih tangan Arka.
"Apa dokter akan menemuiku lagi ?" Tanyanya dengan tatapan permohonan.
Arka tersenyum menganggukkan kepalanya dan mengusap pelan puncuk kepala Moura.
"Aku akan menemuimu jika aku sudah selesai memeriksa pasienku yang lain." Ucap Arka.
"Janji ?" Ucap Moura memberikan kelingking mungilnya dengan tangan yang satunya.
Mariah tersenyum, ia sedikit heran melihat Moura dengan cepat bisa akrab dengan orang yang baru saja di kenalnya.
"Moura.. kau tidak bisa mengganggu Dokter." Ucapnya
Arka tersenyum dan meraih jari kelingking Moura dengan kelingkin besarnya. Entah mengapa ia merasa sangat senang dan bahagia setelah bertemu Moura.
"Aku berjanji !" Jawabnya.
Moura terlihat tersenyum puas dan melepaskan tangannya dari Arka.