Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 110



••


Setelah menutup pintu, Arka seakan terfikirkan sesuatu dan kemudian mulai menggeladah setiap sudut lemari, meja, atau apa pun itu.


Hingga tangannya menyentuh sesuatu di bawah sudut meja.


Ia merunduk untuk memeriksanya, dan melihat sebuah alat penyadap berukuran kecil dengan lampu merah yang terus berkedip.


Matanya terlihat memincing dengan tatapan dingin. Ia melepaskan alat tersebut dan menonaktifkannya.


Matanya kemudian melirik ke seluruh isi ruangan, kemudian berdiri dan mencari ke segala tempat.


Sedang Rena, dia yang sudah merasa lebih baik , keluar dari kamar mandi. Namun alisnya tiba-tiba mengkerut ketika melihat seisi ruangan yang sudah berantakan seperti kapal pecah.


Ia berjalan mendekati Arka yang merunduk mencari sesuatu.


"Apa yang terjadi ?" Tanya Rena masih menatap seluruh ruangan.


Arka yang mendengar suara Rena segera berdiri dan berbalik.


"Ssssst... !" Ucapnya memberi isyarat dengan jarinya.


"Ada apa ?" Tanya Rena berbisik dengan ekspresi kebingungan.


Arka mengulurkan tangannya dan memperlihatkan beberapa alat penyadap yang telah di dapatnya.


Melihat hal itu membuat mata Rena seketika membola.


Pandangan Arka kemudian tertuju pada kamar tidur mereka. Ia bergegas berjalan memasuki kamar dan Rena yang masih belum tahu apa-apa hanya mengikuti dari belakang.


Benar saja, Arka kembali menemukan alat tersebut terpasang di sandaran ranjang dan dua di tempat yang berbeda.


Setelah memeriksa semuanya, ia menghela nafasnya lega dan duduk di atas ranjang.


"Siapa yang melakukan ini semua ? dan, bagaimana kau bisa mengetahuinya ?" Tanya Rena yang masih dengan suara berbisik.


Arka menengadah menatap wajah kekasihnya dan tersenyum kecil.


"Sini.. " Ucapnya sembari menarik tangan Rena dengan lembut.


"Kau tidak perlu mengecilkan suaramu seperti itu." Imbuhnya.


"Tapi, bagaimana jika masih ada yang belum di temukan ?" Tanya Rena sedikit khawatir dengan suara yang masih berbisik.


"Kau tenang saja, aku yakin sudah memeriksa semuanya." Ucap Arka meyakinkan, sembari mengusap pelan rambut Rena.


Setelah mendengar hal itu, Rena akhirnya menghela nafasnya lega.


"Em, kau belum menjawab pertanyaanku, bagaimana kau bisa mengetahuinya ? dan, siapa pelakunya ?" Tanya Rena penasaran.


"Rangga !!" Jawab Arka.


"Emmm ?!" Rena menatap tanya ke arah Arka.


"Tidakkah kau merasa curiga ? bagaimana Rangga selalu datang di saat ---" Arka tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tahu Rena pasti akan merasa malu jika dia terlalu berterus terang.


"Saat---?" Tanya Rena.


"Bagaimana dia bisa selalu mengetahui kau berada disini dan apa yang kita lakukan ?!"


Bahkan sejak malam itu, aku sudah memikirkannya. Aku hanya tidak menyangka dia benar-benar akan melakukan hal itu." Jelas Arka.


Rena tersenyum kecut.


"Sepertinya yang psikopat sebenarnya adalah dirinya !!"


Lagi pula, apa pikirannya secabul itu ? dia bahkan memasangnya di ranjang." Umpatnya


Matanya seketika membola.


Melihatnya Arka tersenyum.


"Mengapa kau terus membulatkan matamu seperti itu ?"


"Kamar mandi !!" Ucap Rena terperanjat dari tempat duduknya.


Arka yang mengerti segera berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


Setelah mencari cukup lama, mereka akhirnya menemukannya, dan segera menon aktifkannya. Lalu berjalan keluar dan duduk di atas sofa.


"Sepertinya kau harus mengganti kode pintumu !" Ucap Rena memperingati.


Arka terdiam dan hanya menatap Rena mengerti.


Kruuuk.. kruuuuk...(Suara perut kelaparan)


Arka memegang perutnya, kemudian menatap Rena dengan tersipu malu.


"Apa kau lapar ?" Tanya Rena berbasa-basi.


Arka menganggukkan kepalanya pelan.


"Baiklah, tunggu sebentar." Ucap Rena beranjak dan berdiri, berjalan masuk ke dalam kamar.


Setelah beberapa detik, ia keluar dengan kaos putih polos dengan ukuran sedikit lebih besar, beruntung dia selalu membawa pakaian dalam pengganti untuk berjaga-jaga jika dia harus bermalam saat sedang bertugas di Rumah Sakit.


Ia berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas. Dan melihat hanya ada beberapa potong daging sapi dan juga sayur selada yang hampir menguning.


Rena terlihat berfikir, dan mengambil semua yang ia butuhkan, lalu meletakkannya di atas meja.


Sebelum memulai semuanya, ia menguncir rambutnya dan menyelipkan sumpit di rambutnya yang sudah tergulung.


Arka yang melihat pemandangan itu sedikit terpesona dan melebarkan senyum kebahagiaan.


Sepertinya tahun-tahun kebahagiaannya akan segera tiba.


Ia kemudian mengingat sesuatu yang telah ia lakukan dan merasa bersalah.


Bukan hanya menaruh obat di dalam kopi yang ia berikan kepada Rena saat di Rumah Sakit, membuat Rena terus merasakan pusing.


Dia juga berencana ingin memberikan obat perangsang agar bisa melakukan sesuatu yang pernah tertunda, agar bisa memiliki Rena seutuhnya.


.


.


.


.


Baru saja Rangga memasuki gedung, ia seperti terfikirkan sesuatu dan segera memutar tubuhnya kembali menemui petugas sebelumnya.


"Pak.. !" Sapanya pelan.


"Ya ?!" Jawab petugas tersebut.


"Sebelumnya maafkan aku karna bersikap tidak sopan dengan bapak !" Ucap Rangga berbasa-basi.


"Waaaah.. bapak terlihat keren dengan seragam ini. Seharusnya semua orang harus merasa bersyukur karna bapak sudah menjaga wilayah ini dengan sangat baik." Pujinya, sembari membersihkan debu yang melekat di seragam petugas tersebut.


Membuat petugas tersebut, mengeluarkan senyum kebanggaannya.


"Aku bahkan merasa diriku lebih baik dari pada seorang polisi." Ucapnya lirih dengan senyum yang merekah.


Apa kau tahu ? sebulan yang lalu aku berhasil menangkap seorang penjahat yang bersembunyi di gedung ini.


Aku berusaha menyelidikinya selama beberapa hari, dan akhirnya mendapatkan bukti yang tidak bisa di temukan oleh seorang polisi." Kisahnya dengan nada sedikit berbisik.


"Waaaah benarkah ? bapak benar-benar hebat !!" Puji Rangga sembari memberi tepuk tangan.


Lalu, apa yang terjadi ?" Tanyanya kemudian.


Aku segera pergi memberitahu petugas kepolisian, dan membantu mereka dalam aksi penyergapan."


"Waaaah benarkah ?! seharusnya jabatan bapak sudah naik saat ini, karna telah memberikan rasa keamanan kepada para penghuni di gedung ini." Ucap Arka.


Tapi,,, apa bapak mengenal penghuni yang tinggal di unit 402 ?! Tanyanya kemudian.


Petugas itu terlihat berfikir sedikit lama.


"Eh, begini apa bapak mengenal dr.Arka ?!" Tanya Rangga memperjelas.


"Oooh, ya, saya mengenalnya. Ada apa ?"


"Apa dia selalu mendapat kunjungan seorang wanita ?"


"Ya, bukan hanya seorang. Sepertinya aku selalu melihat tiga wanita yang berbeda selalu mengunjunginya." Jelas petugas tersebut dengan nada sedikit berbisik.


"Benarkah ?"


"Ya, tapi satu di antara mereka adalah wanita yang sudah sedikit berumur !" Jelas petugas tersebut memberi isyarat pada wajah dengan satu tangannya.


Aku bertanya-tanya, apa mungkin mereka adalah seorang pasien VIP." Imbuhnya.


"Sepertinya bukan seperti itu." Ucap Rangga.


Karna salah satu temanku juga sekarang berada di apartemennya saat ini, dan aku takut jika terjadi sesuatu yang buruk dengannya." Imbuhnya dengan wajah penuh khawatir.


"Apa maksud anda ?" Tanya sang petugas dengan raut penasaran.


"Tapi berjanjilah padaku untuk merahasiakannya."


Sang petugas mengangguk setuju.


"Sebenarnya aku sangat berat untuk mengatakannya, dan merasa jijik. Tapi ini demi kenyamanan untuk semua penghuni di gedung ini.


Tadi pagi aku memergokinya membuang sesuatu di tempat sampah." Imbuhnya


"Aaaa.. karna itu tadi kau menggeledah tempat sampah ?!" Sela sang petugas.


"Yaaa.. dan aku menemukan ini !" Ucap Rangga mengeluarkan botol kecil dari saku celananya dan menunjukkannya pada si petugas.


Saat melihatnya, sang petugas langsung mengerti. Ia sangat terkejut dengan bola mata yang membola.


"Lalu, temanmu, apa yang akan terjadi dengannya ?" Tanya sang petugas dengan nada sedikit memekik.


"Maka dari itu, bisakah anda membantuku ?" Tanya Rangga memasang raut wajah memohon dan sedikit khawatir.


"Apa yang bisa ku bantu ?"


Anda harus membunyikan alrm kebakaran yang ada di gedung ini ketika aku telah memberi sinyal.


Tanpa ragu dan menunggu waktu lama, sang petugas mengangguk setuju.


.


.


.


Pukul 09.30.


Rangga yang sedari tadi memasang earphone di telinganya, tiba-tiba mendengar percakapan Arka dan Rena.


"Kau darimana saja ?" Tanya Rena saat melihat Arka yang baru saja masuk dengan rambut yang masih basah karna keringat.


"Aku dari tempat latihan gym !"


Ada apa ? Apa kau mencariku ?" Tanyanya.


"Emmm !!" Ucap Rena kembali duduk.


"Maafkan aku !" Ucap Arka dan duduk menghampiri Rena mengusap pelan rambutnya.


"Aku ingin mandi, apakah kau melihat pakaianku ?" Tanya Rena yang sebelumnya memang kesusahan mencari pakaiannya.


Sesekali Rangga tertawa kecut mendengar percakapan mereka, sembari mengunyah makanannya.


Hingga, ia mendengar Rena memanggil nama Arka berulang kali, dan kembali mendengar obrolan mereka di dalam kamar mandi.


Lagi-lagi ia mendesis kesal.


"Mengapa mereka harus bersama di dalam kamar mandi ?!" Gerutunya penuh kekesalan.


Dan pada akhirnya, ia mendengar suara orang yang saling bercumbu.


Rangga yang mendengar suara seperti itu panik dan merasa kesal.


Ia mendesis kesal dan segera berdiri, dengan panik memikirkan sebuah ide.


Setelah berfikir beberapa saat, ia mengambil tempat sampah dan membawanya ke balkon, lalu membakar beberapa yang bisa memicu asap yang tebal.


Sehingga petugas yang tadi di temuinya mengerti dan segera berlari untuk menekan alrm kebakaran.


Sedangkan Rangga, ia bergegas keluar dari apartemennya dan menekan bel pintu apartemen milik Arka.


Flashback off.