Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Kemarahan Para Tetua.



Skandal Dokter Rumah Sakit Anutapura.


Dr.Raehana dan Dr.Arka ferdiansyah (Skandal).


Pewaris tunggal Royal AT Corporation.


Pandangan Para Tokoh Masyarakat.


Batal Menikah. Rangga Aberald (Masih Cinta ?)


Semua tetua terlihat geram setelah melihat beberapa tajuk yang menjadi cover majalah dan berita terpanas. Termasuk Atmajaya yang kini sedang duduk di ruang kerjanya.


Ceklek


"Ayah..!" Sapa Rendy.


Tidak ada sambutan kecuali bantingan majalah di atas meja.


"Apa kau bisa menjelaskan apa ini ?!" Tanya Jaya dingin mengintimidasi.


Rendy menundukkan wajahnya.


"Jangan menunduk seperti itu !!" Hardik Jaya.


Membuat Rendy tersentak kaget dan mulai mengangkat wajahnya memberanikan diri menatap Ayahnya yang kini berubah sedikit beringas.


"Apa sebelumnya kau mengetahui hal ini ?!"


"Maaf Ayah..!!" Ucap Rendy.


"Aku tidak membutuhkan maafmu !!" Jawab Jaya dingin dan tegas.


"Jelaskan padaku ! apa yang sebenarnya terjadi."


Perlahan Rendy menceritakan dari awal hingga akhir. Dan bagaimana Ibu Rangga mencoba menekan Rena.


Tatapan Atmajaya menyalang saat mendengar keluarga Aberald kembali mengusik ketenangan putrinya.


"Mengapa kau tidak memberitahuku sejak awal ?"


"Aku hanya tidak ingin menambah masaah Ayah. Aku tahu akhir-akhir ini Ayah sibuk."


"Lalu mengapa kau membiarkan adikmu menginap di apartemen seorang pria ? apa kau tidak menimbang konsekuensinya ?!"


"Itu--"


"Cukup ! kau tidak perlu lagi menjelaskannya. Aku tahu, kau melakukan semua itu karna adik dan Ibumu." Terka Jaya.


Sekarang katakan padaku, apa yang akan kau lakukan dengan masalah ini ?!"


"Aku sedang berusaha menangkap dalang dari penyebar berita ini."


"Berapa lama kau akan menyelesaikannya ?!"


"Satu Minggu ! beri aku satu minggu Ayah ! aku akan berusaha !" Jawab Rendy penuh keyakinan.


"Baiklah, aku beri kau kesempatan satu minggu ! Jika dalam satu minggu kau tidak bisa menyelesaikannya, maka kau tahu konsekuensinya bukan ?!"


"Aku berjanji !"


"Baiklah, sekarang katakan padaku, diamana kau menyembunyikan adik cerobohmu itu huh ?!"


Rendy merasa ragu.


"Apa Ayah akan menghukumnya ?!"


"Tentu saja ! dia harus di hukum karna perbuatannya." Tegas Jaya.


"Tidak Ayah ! aku tidak akan memberitahumu !"


"Apa kau berani menantang keinginan Ayah ?!"


"Aku akan melakukan apa pun untuk adikku, aku mohon Ayah, beri dia kesempatan kali ini." Ucap Rendy memohon.


Bukankah selama ini dia tidak pernah membuat masalah ?! Jadi aku mohon tolong maafkan dia kali ini." Pinta Rendy.


"Lihatlah, kau memohon demi adikmu ! apa kau begitu menyayanginya ?!"


"Dia adikku satu-satunya, tentu saja aku menyayanginya dan akan melakukan apa saja untuknya."


"Baiklah, kali ini aku memafkannya !" Ucap Jaya tegas. Namun di dalam hatinya ia menatap haru pada Rendy, ia tidak menyangka anak angkatnya itu bisa menyayangi putrinya lebih dari dirinya.


"Kau boleh pergi !" Titahnya.


"Baik Ayah !!"


••


Di sisi lain Arka juga mendapat teguran keras dari Ayahnya.


"Apa ? sekarang kau mau pergi setelah membuat masalah ini ? apa sebenarnya yang ada dalam otakmu ?!" Bentak Dr.Ferdi pada putranya.


"Untuk sementara biarkan aku pergi ayah ! aku yakin para awak media akan berhenti memblok pintu masuk Rumah Sakit jika mengetahui aku tidak berada di sini."


Plaak..


Tamparan keras melayang begitu saja menerpa kulit Arka.


Aku merasa sia-sia telah membesarkanmu !!"


Ucapan Ayahnya membuat Arka mengepalkan kedua tangannya dengan sangat keras. Dari kecil hingga sekarang, Seberapa kuat pun dia berusaha menjadi yang terbaik untuk ayahnya, tetap saja. Dia masih belum di anggap.


Apa usahanya selama ini sia-sia ? Dirinya semakin bertekad untuk bisa melebihi Ayahnya suatu hari nanti.


Tanpa mengatakan apa pun Arka berbalik dan memilih pergi meninggalkan Ayahnya dengan amarah.


"Hei ! berhenti ! aku bilang berhenti ! Arka !!" Teriak Dr.Ferdi menghentikan putranya.


Namun Arka tidak menghiraukannya dan tetap melanjutkan langkah kakinya. Setidaknya dia sudah memberitahu Ayahnya kemana dia akan pergi.


••


Tidak jauh berbeda dengan Aberald. Setelah mengetahui apa yang telah di lakukan putranya, dengan cepat ia pergi ke Rumah Sakit melampiaskan amarahnya.


Ceklek.. Gubrak


Suara bantingan pintu yang sangat keras.


"Papah.. !!" Sapa Rangga sedikit terkejut.


Dengan cepat Aberald berjalan ke arah putranya dan.


Plaaak..


"Anak bodoh !!" Kesal John.


"Pah, apa begini caramu menjenguk putramu ?!" Tanya Rangga tersenyum kecut memegangi pipinya yang terasa sakit.


"Apa ?! kau berani mengajariku ? lalu apa yang kau lakukan sebelumnya ? menjadi pahlawan kesiangan ?!" Ucap John sedikit mengejek.


Rangga terdiam, ia kini tahu apa yang menjadi kekesalan Ayahnya saat ini.


"Bukankah Ibumu sudah memperingatimu untuk tidak mencampuri urusan keluarga itu lagi ?!


Lalu apa ini ?!" Ucap John membanting majalah di depan Rangga.


Rangga tersenyum tumpul ketika melihat foto Rena dengan seragamnya menjadi sampul majalah itu.


"Ini urusan pribadiku !" Ucapnya kini dingin.


"Apa ?!" Tanya John mengerutkan alisnya, tidak percaya melihat kekonyolan putranya.


"Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan ?!"


"Aku sangat sadar. Sebaiknya papah pulang saja !" Jawab Rangga tidak ingin melihat Ayahnya.


"Kau sudah berani membantahku ?!" Kesal John.


"Aku bukan Rangga yang dulu lagi !" Ucap Rangga memperlihatkan aura dinginnya sedikit menakutkan.


John sedikit bergidik melihat ekspresi dari raut wajah anaknya itu. Dia memang telah berubah !


Hening.


Detik berikutnya.


"Rangga, dengarkan papah. Tidak ada gunanya kau membantu gadis itu ! bukankah ini menjadi kesempatan kita untuk menghancurkan Atmajaya ?" Ucap John sedikit melembut.


"Apa papah pikir semudah itu menghancurkannya ?! Atmajaya tetaplah Atmajaya, dia adalah seekor singa yang sangat buas dan perkasa. Dia tidak akan goyah hanya karna masalah putrinya." Peringat Rangga.


"Setidaknya kita bisa menggoyahkan sedikit akarnya ! kita bisa menghasut beberpa pemegang saham di perusahaannya." Ide John.


"Apa papah pikir mereka selemah itu ?! Sudah berapa lama mereka bekerja sama dengan Atmajaya ? apa papah pikir dengan berita ini, itu sudah cukup menggoyahkan mereka ?!" Bentak Rangga.


John terdiam, dia benar-benar kalah berdebat dengan putranya kali ini. Walaupun ia merasa kesal, tapi setidaknya perubahan Rangga saat ini membuatnya bangga.


Putranya yang dulu penakut,ceroboh,keras kepala dan hanya bisa terus mengandalkannya, kini telah berubah menjadi sosok yang dewasa dan lebih cermat dari dirinya dalam menghadapi lawan. Ia telah memiliki jiwa kepemimpinan.


("Aku hanya berharap kedepannya kau bisa sukses mengalahkan para tetua seperti kami.") Batinnya.


Lagi-lagi suasana kembali hening.


"Apa kau masih menginginkan Rena ?!" Tanya John.


Rangga tersenyum tumpul.


"Aku mencintainya dan aku menginginkannya, tapi bukan berarti aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya." Jawab Rangga yang terus menatap wajah Rena di sampul majalah yang ada di tangannya.


"Baiklah, lalu bagaimana dengan kakimu ? aku dengar dari Ibumu kau sudah bisa berjalan." Tanya John mencairkan suasana.


"Sudah cukup baik. Mungkin dalam waktu lima hari kedepan aku akan keluar dari Rumah Sakit ini." Jawab Rangga sedikit cuek.


Melihat tingkah anaknya, John menghela nafasnya pasrah.


"Kalau begitu papah akan pergi ! sepertinya kau tidak mengharapkan kunjungan papah !" Ucap John sedikit merajuk.


"Sebaiknya begitu ! papah memang seharusnya pulang saja dan jaga kondisi tubuh papah !" Jawab Rangga dingin


Rangga tahu, sejak Kebangkrutan JA Group kondisi tubuh Ayahnya juga semakin melemah. Ia sudah di agnosis beberapa penyakit.


John menatap wajah putranya dan tersenyum tumpul, kemudian ia beranjak dan pergi meninggalkan ruangan itu di temani oleh perawat yang selalu mengikutinya.