
Rena yang masih belum mendapatkan kabar dari Rangga sejak kemarin memilih melepaskan penatnya di dalam kolam renang.
Hingga beberapa saat lamanya dirinya akhirnya tersadar saat mendengar langkah kaki seseorang mendekat ke arahnya dengan terburu-buru.
Membuatnya segera naik ke permukaan.
"dokter, apa dokter baik-baik saja ?" Tanya Dara menampilkan raut penuh kecemasan.
Untuk sesaat Rena terdiam, dirinya sedikit bingung dengan pertanyaan wanita di depannya kini. Apalagi setelah melihat ekspresi Dara yang seperti itu.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Dara menjadi panik, hanya saja sebelumnya, saat dirinya baru saja menemui Mariah, ia tidak sengaja melihat Rena sedang berenang seorang diri.
Namun baru beberapa langkah ia menjauh, ia terhenti saat mendengar suara air yang tiba-tiba kembali tenang.
Membuatnya sedikit penasaran apa yang akan di lakukan Rena setelahnya. Namun dirinya malah di buat bingung saat tidak melihat Rena berada dimana pun.
"Apa dia masih dibawah sana ?" pikirnya.
Cukup lama ia menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa Rena akan keluar. Membuat Dara dengan terburu-buru mendekat ke tepi kolam untuk segera memastikan.
•
"dokter.." Seru Dara membuyarkan lamunan Rena.
Membuat Rena mengerjapkan matanya hingga beberapa kali.
"Eeh.. ?!"
"Apa dokter baik-baik saja ?" Tanya Dara sekali lagi.
Rena tersenyum.
"Aku baik-baik saja." Jawabnya.
Dara menghela nafasnya lega.
"Huuuft.. syukurlah."
"Ada apa ?" Tanya Rena sembari menepi untuk menghampiri Dara
"Eh ? tidak, bukan apa-apa."
Cukup lama mereka berdua diam, hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
"dokter.. !" Sapa Dara pelan.
"Emmm..?" Jawab Rena menoleh menatap Dara.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu ?" Tanyanya ragu.
Rena mengerutkan alisnya, namun kemudian ia tersenyum dan mengangguk.
"Sebelumnya aku minta maaf, aku mungkin tidak berhak untuk menanyakan hal ini pada dokter. Tapi... ini juga demi kak Rangga."
Mendengar Dara mengucapkan nama suaminya, Rena seketika berbalik dan menatap Dara dengan raut wajah yang serius.
"Apa dia mengatakan sesuatu padamu ?" Sela Rena penasaran.
Dara dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak." Jawabnya.
"Kalau begitu, pasti Reno." Terka Rena.
Dara hanya bisa tersenyum canggung, kemudian mengangguk.
"Bagaimana dokter bisa tahu? padahal aku belum mengatakan apapun."
"Wajahmu sudah menjelaskan segalanya Dara."
Dara yang mendengarnya hanya bisa tersenyum paksa.
Rena menghela nafasnya sedikit kasar.
"Aku tidak percaya kalau mulutnya ember juga. Padahal aku hanya bercanda." Umpatnya pelan.
Tanpa ia sadari, Dara sudah menganga dengan mata yang membola setelah mendengar pengakuan secara tidak langsung darinya.
"Jadi maksud dokter,,, yang..." Dara tidak dapat melanjutkan kalimatnya karna merasa shock.
Shock karna tidak menyangka suaminya menjadi bahan pelampiasan yang ternyata Rangga marah hanya karna sebuah kesalah pahaman semata.
Rena yang melihatnya sedikit bingung dengan perubahan wajah Dara.
"Ada apa ?" Tanya Rena.
Dara hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Apa dia membuat masalah lagi ?" Selidik Rena.
Dara menganggukkan kepalanya.
"Maafkan aku." Pinta Rena, ia tahu betul bagaimana Rangga terus menyusahkan Reno selama ini hanya karna masalah hidupnya.
Dara hanya bisa tersenyum paksa.
"Aku tidak tahu kalau dia akan menanggapinya sejauh ini." Jelas Rena sedikit menunduk.
"Apa dia tidak mengatakan sesuatu padamu ?" Tanyanya kemudian.
"Dia...-----" Dara mencoba menjelaskan dengan pelan apa yang sudah di lakukan Rangga di kantor dan mengapa Rangga bisa berpikiran sejauh itu pada Rena.
.
.
.
"Benarkah ?" Tanya Rena sedikit tertawa setelah mendengar cerita Rangga yang sudah membuat masalah di kantornya.
Namun menit berikutnya ia diam, dan merasa sedikit bersalah.
"Aku tidak tahu, kalau dia sangat trauma pada Arka." Lirihnya.
"Sebenarnya aku sendiri tidak menyangka mengapa dokter bisa menjalin hubungan dengan dokter psikopat itu." Celetuk Dara sedikit memanyunkan bibirnya, saat dirinya mengingat-ingat bagaimana wajah Arka sebenarnya saat berhadapan dengan Rangga tanpa sepengetahuan Rena.
Rena hanya bisa tersenyum simpul, sampai saat ini dirinya juga tidak mengerti bagaimana perasaannya sebenarnya pada Arka. Apakah dia benar-benar mencintai lelaki itu, atau hanya karna dirinya nyaman karna Arka selalu mengerti dan selalu ada untuk dirinya.
Rena terlalu hanyut dalam pikirannya, hingga dirinya tidak sadar kalau Dara sudah memperhatikannya sedari tadi.
"dokter, dokter.." Ucap Dara sembari memegang pundak Rena.
"Eh ?"
"Apa dokter baik-baik saja ? wajah dokter terlihat sangat pucat." Tanya Dara.
"Oh, mungkin karna aku berendam terlalu lama." Jawab Rena asal. Kemudian mencoba untuk naik.
Sedang Dara, dia dengan cepat melesat mengambilkan bathrobe yang ada di atas meja.
"Ini." Ucap Dara sembari mengulurkan tangannya.
"Terima kasih." Ucap Rena dengan senyum meraih bathrobe tersebut.
"Apa dokter butuh sesuatu ?" Tanya Dara masih terlihat khawatir.
Rena menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu aku akan memanggil mamah." Ucap Dara ingin berbalik, namun Rena segera mencekal pergelangan tangannya, membuat Dara terhenti dan kembali berbalik.
"Aku tidak apa-apa Dara." Ucap Rena.
Dan.. berhenti terus memanggilku dokter, aku punya nama." Imbuhnya.
"Tapi..."Dara tidak dapat melanjutkan kalimatnya.
"Bukankah selama ini kau memanggil Rangga dengan sebutan kakak ? Kau bisa memanggilku dengan panggilan yang sama jika kau mau." Pinta Rena.
Untuk sesaat Dara terdiam menatap Rena dengan lekat.
Hingga akhirnya ia mengangguk dan tersenyum.
•••
Di tempat yang berbeda, Rangga masih saja duduk termenung di kursi kebesarannya.
"Apa kau baik-baik saja ?!
Mamah sudah mendengar semuanya dari Dara, jadi apa kepetusanmu ?" Tanya Mariah dengan nada khawatir.
Beberapa menit yang lalu Ibunya sempat menelfon dan menanyakan keberadaannya.
Flashback On.
"Aku baik-baik saja.
Menurut Mamah apa yang harus aku lakukan ?"
"Rangga, Mamah tahu kau sudah dewasa, sekarang saatnya kau yang memutuskan apa yang menurutmu baik untukmu, untuk Mamah dan juga Papah."Jawab Mariah.
"Bagaimana jika keputusanku akhirnya menyakiti semuanya ?" Tanya Rangga dengan nada suara yang terdengar berat dan lelah.
"Apapun itu, Mamah akan mencoba untuk menerimanya, meski pada akhirnya Mamah harus kecewa.
Dalam hidup Mamah, hanya satu keinginan Mamah."
"Apa ?" Tanya Rangga.
"Mamah hanya ingin melihatmu bahagia sayang."
Rangga terdiam cukup lama, ia berfikir dan mencerna segala ucapan Ibunya.
"Sayang, jika kau benar-benar mencintainya, maka kau harus belajar menerima segala kekurangannya, apapun itu.
Tapi, jika kau merasa tidak sanggup, maka lepaskan dia !
Kalian berhak bahagia, meski tidak bersama."
(Hening)
.
.
.
Apa Dara berada di sana ?" Tanya Rangga akhirnya.
"Ya, tadi Dara ke sini, tapi sekarang sudah pergi setelah membantu Rena beristirahat di kamarnya."Jawab Mariah.
"Memangnya apa yang terjadi ? ada apa dengan Rena ?" Cecar Rangga, kentara sekali jika dirinya sangat khawatir.
"Bukan apa-apa, dia hanya sedikit demam."
"Sejak kapan ? mengapa Mamah baru memberitahuku ?"
"Entahlah, kata Dara tadi Rena berendam terlalu lama di kolam. Mungkin pengaruh masuk angin." Jelas Mariah.
"Baiklah, kalau begitu aku akan segera pulang."
Tut.
Rangga segera berdiri dan meraih jasnya, namun baru saja ia mengambil beberapa langkah, dirinya terhenti berfikir sejenak kemudian memilih kembali duduk di kursi kebesarannya.
Flashback Off.