Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 124



Satu Minggu kemudian.


Taman Rumah Sakit.


Rani yang mendorong kursi roda suaminya tidak sengaja berpapasan dengan Mariah yang juga sedang mendorong kursi roda suaminya.


John dan Jaya saling menatap dalam diam, hingga salah satu dari keduanya mengatakan sesuatu.


"Bisa kita bicara sebentar ?" Tanya John dengan tatapan yang di penuhi dengan tanda tanya.


Sejujurnya ia masih tidak habis pikir mengapa bisa Atmajaya melakukan semua ini, padahal dia sudah mengetahui rencana terselubungnya. Bahkan dia juga masih mencoba untuk menyelamatkannya setelah dirinya mencoba untuk membunuhnya.


Untuk sejenak Jaya terdiam, kemudian menepuk pelan punggung tangan istrinya memberi isyarat.


"Baiklah, kalau begitu Bunda tinggal sebentar." Ucap Rani dan berbalik pergi.


Mariahpun melakukan hal yang sama. Namun sebelum Rani benar-benar menjauh, Mariah berjalan dengan cepat dan meraih tangan yang sudah lama tidak bertegur sapa dengannya itu.


"Ran.."Ucapnya.


Rani spontan berbalik menatap sang pelaku.


"Aku rasa kita juga perlu bicara." Ucap Mariah ragu.


Rani kemudian mengembangkan senyumnya, tanda menyetujui permintaan Mariah.


Mereka akhirnya memilih sebuah kursi kosong yang ada di taman tersebut, yang posisinya tidak begitu jauh dari suami mereka.


"Ran.."Lirih Mariah sembari meraih tangan Rani.


Rani terdiam sembari menatap tangan mereka.


"Aku minta maaf atas semua kekacauan yang telah di lakukan oleh suami dan putraku.


Maaf kalau aku baru bisa mengatakannya sekarang. Seharusnya sejak dulu aku mengatakan hal ini, hanya saja aku sangat malu bila bertemu denganmu"Ungkap Mariah dengan air mata yang menggenang.


.


.


"Sejujurnya aku juga baru tahu apa yang sebenarnya di lakukan suamiku. Aku minta maaf soal itu." Ucap Rani sembari menyambut dan memegang erat tangan Mariah dengan senyum.


Mariah terlihat mengerutkan alisnya bingung, namun di detik berikutnya akhirnya mereka tergelak dan melanjutkan percakapan-percakapan selanjutnya.


.


"Apa kau tahu apa yang selalu membuatku kesal kepadamu ?!" Tanya John.


Jaya hanya terdiam.


"Sejak kecil hingga ia sekarat, Ayahku terus membandingkan diriku denganmu. Aku benci hal itu. Padahal akulah putranya, sedangkan kau, kau hanya putra sahabatnya. Tapi setiap kali ada sesuatu, dia akan terus memujimu.


Aku ingin melakukan semua ini, karna aku membencimu dan ingin membuktikan kalau aku jauh lebih baik darimu." Ungkapnya sembari tersenyum getir, merasa dirinya terlalu payah.


"Aku tidak tahu kalau ternyata pesan terakhirnya padamu pun menyuruhmu agar menjaga perusahaan yang telah di bangunnya." Imbuhnya merasa terlalu bodoh hingga tidak bisa di andalkan.


.


.


.


"Sekarang aku bisa mengerti mengapa Ayahku selalu membandingkan diriku denganmu. Itu karna kau memang pantas mendapatkannya." Ucapnya sembari menatap Jaya dengan ketulusan.


Terima kasih atas bantuanmu selama ini, dan terima kasih karna telah menyelamatkanku. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada Ayahku jika kau tidak menolongku saat itu." Imbuhnya.


Jaya menoleh menatap John, kemudian ia tersenyum. Ia jadi teringat pada masa kecil mereka yang Ayah mereka sengaja membuat permainan untuk mereka bertaruh. Dan buruknya, John yang selalu bermain curang tapi tetap saja selalu bisa ia kalahkan.


"Kapan-kapan apa kau ingin bermain catur denganku ?!" Tanya Jaya dengan senyum. Ia jadi ingin bermain lagi setelah mengingat kenangan itu.


John ikut tersenyum menatap Jaya dengan haru.


"Waktunya beristirahat.."Ucap Mariah dan Rani secara bersamaan sembari memegang kursi roda suaminya.


Mereka berempat akhirnya tertawa bahagia.


•••


Bendara.


Anggi yang sedang mengurus penerbangannya duduk menunggu antrian yang sedikit panjang.


Ia tidak bisa menutupi, kalau dirinya juga sangat terpukul atas kematian Arka. Walau bagaimanapun ia berusaha untuk membencinya, tetap saja dirinya tidak bisa melakukannya. Terlebih dirinya juga merasa bersalah pada Rena sahabatnya.


Anggi menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dia tidak ingin orang menatapnya bingung karna tiba-tiba menangis. Hingga ia merasa tenang.


Tanpa berpikir panjang Anggi meraihnya dan menyeka air mata yang sudah membasahi wajahnya, hingga ia mengeluarkan cairan bening dari kedua lubang hidungnya.


Lelaki yang menyodorkan sapu tangan tersebut hanya bisa mengerutkan keningnya merasa sedikit jijik dengan apa yang di lakukan Anggi, walau sebenarnya dia sudah mewanti-wanti akan hal itu.


"Terima kasih." Ucap Anggi sembari menyodorkan kembali sapu tangan tersebut ke pemiliknya.


Lelaki itu sedikit menjauh sembari mengangkat kedua tangannya.


"Untukmu saja." Ucapnya.


Anggi mendongak menatap lelaki tersebut, sedikit lama ia terdiam menatapnya lekat.


"Apa sebelumnya kita pernah bertemu ?!" Tanya Anggi saat melihat lelaki tersebut merasa familiar.


Lelaki itu tersenyum.


"Mau berencana pergi ?" Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Anggi sebelumnya.


Anggi hanya mengangguk kemudian mengalihkan pandangannya dari lelaki tersebut.


"Mau kemana ?"Tanyanya lagi.


"Singapore."


Sebenarnya sudah sangat lama ia ingin berkunjung ke negara tersebut, hanya saja dia harus menundanya karna harus menjaga adiknya. Apalagi sejak Ayahnya meninggal, dia harus menjadi tulang punggung keluarga.


Namun setelah kejadian tersebut, dia merasa bahwa inilah saatnya untuk pergi.


"Bagaimana kalau kita pergi bersama ? akan lebih baik daripada pergi seorang diri."


Anggi sedikit terdiam, pikirannya masih berkelana mencari tahu siapa sebenarnya lelaki tersebut.


"Aku ingat sekarang, kau Dicky kan ?!" Ucap Anggi hampir berdiri dari tempat duduknya.


Dicky hanya tersenyum.


"Jadi bagaimana ? apa kau menerima tawaranku ?" Tanyanya.


Lagi-lagi Anggi hanya terdiam.


("Dia Dicky kan ? aku tidak mungkin salah. Tapi,,, apa benar dia Dicky ?") Batinnya.


"Jika kau setuju, kita bisa bertemu lagi di tempat ini." Ucap Dicky kemudian beranjak pergi.


"Tunggu, kau belum menjawab pertanyaanku." Ucapnya sedikit berseru.


Namun lagi-lagi Dicky tidak menjawabnya.


"Aku akan menjawabnya setelah kita bertemu nanti, itupun kalau kau mau menerima tawaranku." Ucapnya berseru kemudian berbalik dan melanjutkan kembali langkahnya.


•••


RS ANUTAPURA.


Sudah sepuluh hari setelah kejadian tersebut terjadi, Tapi Rena masih saja belum mengucapkan sepatah katapun setelah kejadian tersebut, dirinya hanya terus diam termangu dengan tatapan kosong.


"Sayang, ayo makan dulu." Ucap Rani sembari menyuapi bubur pada putrinya.


Tidak ada ekspresi atau jawaban yang diberikan Rena. Ia hanya akan membuka mulutnya memakan makanan yang di berikan kepadanya.


Rani yang melihat Rena yang seperti itu tidak bisa tidak menyembunyikan kesedihannya.


"Bund.." Ucap Rendy memegang kedua pundak Ibunya dari belakang.


Seketika Rani berbalik dan menangis dalam dekapan putra angkatnya itu.


Rendy hanya bisa menepuk pelan punggung Ibunya sembari menatap Rena yang terus diam menatap keluar jendela.


"Well you marry me ?"


"Aku mencintaimu."


"Bagaimana kalau kita menikah ?"


"Menikahlah denganku."


Suara itu selalu terngiang di telinga Rena, dengan Wajah dan senyuman Arka yang selalu saja bermain di pikirannya. Membuatnya kembali menitikkan air mata dalam diam.



Sedangkan Cindy, ia mengalami amnesia setelah kecelakaan itu dan masih dalam perawatan dengan status tersangka karna mengingat kondisinya yang belum stabil, hingga belum bisa di introgasi dan mengikuti sidang.


Elianor mencoba sebisanya untuk memohon pada keluarga Arka maupun Rendy yang menjadi saksi kunci dari kejadian tersebut, tapi semuanya menolak permohonannya, membuatnya tidak bisa berbuat banyak pada putrinya.