Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 129



Sepanjang perjalanan, Rangga selalu saja mencuri pandang pada Rena. Ketika Rena sedang asik memilih sesuatu, dirinya malah asik menatap Rena dengan senyum. Ia masih tidak menyangka akan ada momen seperti ini dalam hidupnya.


"Ini fungsinya untuk apa ?" Tanya Rangga saat melihat Rena memilih produk pembalut.


Rena tersenyum mendengar pertanyaan Rangga.


("Hmm dia selalu saja tersenyum seperti itu, sangat anggun. Membuatnya terlihat semakin cantik saja.") Batin Rangga meronta tak tahan setiap kali melihat senyuman Rena yang mengembang.


"Apa kau yakin ingin mengetahuinya ?" Tanya Rena.


Rangga hanya diam tak menjawab.


"Ini namanya pembalut, biasa di pakai wanita kalau lagi PMS." Jelasnya.


Wajah Rangga terlihat mengkerut dengan alis bertaut saat mendengar penjelasan Rena. Membuat Rena tertawa kecil melihat perubahan yang ada di wajahnya.


"Bukankah semua ini sama saja, mengapa kau terlihat bingung untuk memilih ?"Tanyanya.


"Kau harus tahu, Mis V wanita tidak semua memiliki jenis kulit yang sama, ada beberapa mis V yang hanya cocok dengan produk tertentu, seperti yang ini." Jelasnya sembari meraih salah satu pembalut yang mengandung ekstrak daun sirih.


Kalau yang begini biasanya akan aman karna memiliki ekstrak daun sirih, dan tentu saja tidak akan membuat iritasi atau ruam." Jelasnya panjang lebar.


Rena mencoba menjelaskan perbedaan pembalut untuk PMS dan untuk wanita pasca melahirkan. Rena sengaja menjelaskan hal tersebut agar Rangga bisa tahu jika kapan-kapan Dara memerlukan bantuannya.


"Apa kau sudah bisa membedakannya ?" Tanya Rena kemudian.


Rangga mengangguk.


"Klo untuk PMS biasa pakainya yang berukuran sedikit pendek, dan kalau pasca melahirkan harus memakai yang berukuran sedikit panjang.Dan akan lebih aman jika pakai yang bersayap." Jawab Rangga dengan suara lantang sembari mengangkat pembalut tersebut satu persatu.


Sepertinya dia terlalu antusias, hingga tidak menyadari kalau Rena sebenarnya sedang mengerjainya. Dengan suaranya yang lantang, membuat beberapa pengunjung wanita menatapnya dengan ekspresi yang berbeda-beda.


Rena mengatupkan kedua mulutnya menahan tawa. Membuat Rangga akhirnya menyadari kebodohannya.


Ia terlihat memutar bola matanya merasa malu dan dengan cepat mendorong kereta trolinya meninggalkan Rena yang masih mencoba menahan tawa.


"Hei, tunggu aku." Seru Rena dan mendorong kereta trolinya menyusul Rangga.


"Kau sengaja mengerjaiku ya ?" Tanya Rangga yang kini mereka berjalan beriringan.


"Tidak,aku hanya mengujimu." Jawab Rena dan berjalan mendahului Rangga.


("Jika saja aku bisa terus seperti ini dengannya, aku pasti akan merasa sangat bahagia.") Batinnya sembari menatap punggung Rena yang sedikit menjauh.


Mereka yang sebelumnya sudah janjian untuk bertemu di restoran, akhirnya memutuskan untuk pergi bersama.


.


.


.


"Silahkan menikmati." Ucap pelayan yang baru saja meletakkan menu pesanan mereka.


Tanpa berpikir panjang, Rena segera menyesap jus segar yang di pesannya kemudian menghela nafasnya lega.


Huuuuft...


Rangga yang juga meneguk ice coffe-nya diam-diam menatap Rena dari balik gelasnya. Ia melihat leher Rena yang jenjang saat Rena mengikat rambutnya karna merasa gerah.


Saat Rena meneguk jusnya, entah mengapa ia juga ikut meneguk salivanya.


Dengan cepat ia mengalihkan perhatiannya dan meletakkan gelas coffe miliknya.


.


.


.


Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Sepertinya masih merasa canggung dan bingung memulai percakapan.


"Aku--" Ucap mereka secara bersamaan. Membuat keduanya tertawa kecil.


"Ladies first." Ucap Rangga kemudian.


Membuat Rena tersenyum.


"Aku hanya ingin mengatakan selamat untukmu karna tidak lagi akan menjadi seorang Ayah." Ungkap Rena. Saat ini dia sudah sampai pada tahap kedewasaan, sehingga mampu mengimbangi perasaannya yang terkadang labil.


Deg.


Mendengar ucapan Rena, mata Rangga sedikit membola.Namun di detik berikutnya ia menarik tipis bibirnya sehingga berbentuk senyuman kecil.


Rena terlihat kembali menyesap jusnya, mencoba menutupi kalau dirinya merasa nervous.


"Lalu kau, apa yang ingin kau katakan ?" Tanya Rena kemudian.


"Eh, jujur saja aku masih terkejut dan tidak menyangka akan bertemu denganmu disini. Bukankah seharusnya kau di London ?!"


Rena tersenyum.


"Kebetulan aku bisa menyelesaikan studiku dengan cepat, dan sebelum aku pulang aku lebih dulu meminta bantuan Rendy untuk membuat surat izin praktek dan membangun klinik di kota ini." Jelas Rena.


Rangga terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Aku tidak heran kalau kau bisa menyelesaikan studimu dengan cepat. Bukankah kau salah satu siswi berprestasi di SMA dulu ?!" Ucap Rangga mengingat kenangan tempo dulu.


Rena tertawa kecil.


"Manis." Lirih Rangga saat melihatnya.


"Apa kau baru saja mengatakan sesuatu ?"Tanya Rena ketika mendengar samar ucapan Rangga.


"Eh, tidak. Kopinya manis." Jawab Rangga mengalihkan sembari meminum Coffe-nya.


"Ohya, bagaimana kabar Moura ?"Tanya Rena.


"Moura, dia sudah kembali dengan keluarganya yang sebenarnya."


Rena terlihat mengangguk.


"Apa kau sudah tahu ?" Tanya Rangga menelisik.


Rena mengangguk pelan sembari menatap kosong ke arah luar jendela.


Sebenarnya saat di London dia tidak sengaja bertemu dengan Dicky. Dan saat itulah dia mengetahui kisah yang sebenarnya.


.


.


"Tidak.


Sejujurnya setiap kali aku menginjakkan kaki di kota itu, membuat aku tidak bisa melupakan kejadian Dua Tahun silam. Banyak hal yang aku lewati dikota itu, hingga bagaimana dia mati demi menyelamatkanku. Jujur saja, hal itu membuatku selalu merasa bersalah." Ungkapnya.


Untuk itu,aku ingin menjalani hidupku di kota ini dan mencoba membuka lembaran baru." Imbuhnya.


Untuk sesaat Rangga terdiam setelah mendengar penuturan Rena. Tidak salah jika Rena bisa terlihat lebih dewasa saat ini. Dia telah melewati hal-hal yang begitu sulit di hidupnya, sama seperti dirinya.


"Lalu, apa kau sudah punya pacar ?" Tanyanya kemudian.


Ukhuk ukhuk..


Rena yang sedang menyesap jusnya tersendat setelah mendengar pertanyaan Rangga yang secara blak-blakan.


"Apa kau baik-baik saja ?"Tanya Rangga sedikit panik sembari menyodorkan kotak tisu yang sudah tersedia di setiap meja.


Rena mengangguk sembari menyeka mulutnya.


"Aku... tidak punya." Jawabnya ragu dan sedikit nervous.


("Yes.") Batin Rangga. Ada kegembiraan yang terpancar jelas di wajahnya.


Namun tiba-tiba ponsel Rena berdering.


"Halo ?" Ucapnya setelah mengangkat telfon.


"Halo dokter, pasien Dara." Jawab Mira yang ditugaskan mengontrol perkembangan persalinan Dara.


"Ada apa ?"


"Sepertinya pasien Dara sudah ingin lahiran, sekarang sudah pembukaan ke tujuh."


Rena yang mendengarnya sedikit terkejut. Pasalnya biasanya butuh dua atau tiga hari untuk seorang wanita siap melahirkan setelah mengalami kontraksi awal jika untuk lahiran pertama.


"Okay, aku akan segera kesana. Tolong persiapan segalanya dan jangan lupa untuk menelfon dr.Dewi." Titah Rena.


"Baik dokter."


Telfon Terputus.


"Ada apa ?" Tanya Rangga.


"Kita harus segera pergi, Dara akan segera melahirkan." Jawab Rena sembari mengalungkan tas di lehernya.


Mendengarnya, membuat Rangga juga ikut merasa panik.


"Bukankah kau mengatakan lahirannya mungkin saja besok ? mengapa tiba-tiba ? apa terjadi sesuatu pada bayinya ?" Cecar Rangga.


"Ini biasa terjadi, mungkin efek dari perjalanan jauh kalian."Jawab Rena.


Setelah itu mereka berpisah menuju area parkiran dan menaiki kendaraan mereka masing-masing.


.


.


.


Beberapa menit kemudian akhirnya Meraka telah sampai di perumahan klinik bersalin.


"dr.Rena." Sambut Mira.


"Dimana Dara ?" Tanya sembari berjalan masuk kedalam ruangan dan diikuti oleh Rangga dari belakang.


"Ada di dalam."


"Apa dr.Dewi sudah tiba ?"


Mira terlihat menggelengkan kepalanya.


"Belum dokter."


Rena dengan cepat meletakkan tasnya, dan masuk ke dalam kamar yang di tempati Dara.


Ceklek.


Saat membuka pintu, ia sedikit terkejut melihat pemandangan yang ada di depannya.


Dara yang berdiri memunggunginya sedang memeluk Reno dengan erat.


Untuk sesaat ia memutar bola matanya menatap Rangga yang kini telah berdiri tertegun di sampingnya.


"Ekhemm.." Ucapnya berdehem berusaha mencairkan suasana yang sedikit canggung.


Reno mengangkat wajahnya dan menatap Rena yang masih berdiri di depan pintu.


"dr.Rena." Ucapnya lirih dan dengan cepat melepaskan pelukannya pada Dara.


Rena yang masih diliputi rasa keterkejuan,segera mendekati kedua orang tersebut.


"Bagaimana ? apa rasa sakitnya semakin tidak berjeda ?"Tanya Rena yang kini merangkul Dara dan memegang tangannya sebelah.


Dara hanya bisa mengangguk.


"Okey, jangan panik. Rileks... dengarkan aku, tarik nafas yang panjang.. hembuskan secara perlahan." Ucap Rena mencoba memberi instruksi.


Dara melakukan apa yang di instruksikan oleh Rena. Hingga Mira masuk dan mendorong sebuah kursi roda.


"Kita akan ke klinik." Ucap Rena pada Reno dan Rangga.


Namun tiba-tiba dr.Dewi tiba dengan langkah yang tergesa-gesa.


"Dr.Rena." Ucapnya dengan nafas yang tak beraturan.


"Maaf karna aku memanggilmu di hari libur." Ucap Rena memelas menatap Dewi.


"Tidak apa-apa dokter, aku bisa mengerti." Ucap dr.Dewi.


Sebenarnya hal baik Dara lahiran di hari Minggu. Sehingga klinik sepi dari pasien.


"Okay, kalau begitu, tolong bawa Dara. Aku ingin berganti pakaian lebih dulu." Ucap Rena menyerahkan kursi roda pada bawahannya tersebut.


"Baik dokter."


Setelah semuanya pergi, Rena masuk ke ruangan pribadi miliknya yang ada di perumahan tersebut. Dan dengan cepat mandi lalu berganti pakaian. Setelah itu ia bergegas menyusul ke klinik bersalin miliknya.